MasukTiara merasa hidupnya sial luar biasa ketika dilamar seorang juragan jengkol berperawakan Rahwana. Demi terbebas dari kungkungan pernikahan yang tak diingankannya, Tiara berniat bikin Bima Sena Dwijaya, sang Rahwana, menyesal tujuh turunan karena telah memilihnya. Akankah Tiara berhasil membuat Bima menceraikannya atau sebaliknya, bertekuk lutut karena cinta sang Rahwana? Sanggupkah Bima bertahan menghadapi Tiara yang ternyata menyimpan banyak luka masa lalu di balik sikap menyebalkannya? Apakah benar Tiara adalah Mutiaranya Sang Rahwana?
Lihat lebih banyakElena’s POV.
“Where is it?” I hissed as I searched my handbag for my keys when a thought hit me. “I must have left it at Ryan’s place, since I slept at his place and went to the office from there.” I mumbled So I turned round and got back into the car, driving over to my boyfriend’s house. “Thank God he is at home.” I said as I parked my car at the side of the road and run-walked to his front door which surprisingly was locked. “But his car is here!” I said as I decided to use the back door The back door was unlocked, thank God. The moment I entered into the living room, the rhythm of some low sweet thumping was beating within my ears, married with gasps and moans that made my stomach twisted. What the hell? Heart pounding as I moved forward, keeping low behind the half-wall separating dining area from the couch. I could see it perfectly from there, but the angle hid me perfectly. And there they were, Ryan my boyfriend for two years, balls-deep in Mia, my best fucking friend since college. Mia's legs were hooked over his shoulders, as he hovered above her. Ryan who was sweaty, fucked her with rough and deep thrusts. Mia clawed at his back wailing like a p**n star, 'Oh fuck, Ryan, yes! Harder, dont stop!' I just froze. Bile rose in my throat. This couldn't be real. Veins were all over Ryan’s forehead , sweat running down his chest slamming into her like an animal. 'God, Mia, you're so much tighter than Elena,' he grunted between thrusts. The betrayal cut through me like glass as my chest heaved. I took a silent step backward, leaving through the back door before they could sense my presence. It was a blur going home. Tears rushed down my face, my knuckles turned white due to how hard I gripped the steering wheel. How could they? Ryan and Mia-my rock, my confidante. I drove into my driveway, but before I could get out of the car, my phone buzzed. Dad. 'Elena, honey,' Richard's voice was steady but strained when I answered. 'I didn't want you hearing this from anyone else. Your mom... she signed the papers today. The divorce is final.' My mind reeled. 'What? Dad, why now?' He sighed heavily. 'Sorry baby…but don't worry papa still lo-' He got cut off, and the world tilted. I could not go into my house and pretend all was fine when my boyfriend just admitted my best friend is better than I am and my parents just got separated due to my mom fucking another man and blessing the internet with it. I did a U-turn out instead, heading straight for the pulsing lights of Club Vortex downtown. If pain was coming for me, then drowning will be it in booze. I grabbed a bar stool and ordered tequila shot after tequila shot-burning down my throat and increasingly blurring those edges of betrayal by alcohol. I didn't even notice a man had sat next to me till he spoke. 'Rough night?' His voice was low, concerned, dark eyes scanning my face. I turned, meeting his gaze—strong jaw, broad shoulders straining his shirt. Anonymous, perfect. If he cheats, I’ll cheat back…but unlike him…I’m not dumb enough to get caught. 'Yeah,' I slurred, leaning in too close, my hand brushing his thigh. 'And I need to forget it. No strings. Just tonight. Make me feel something else. I’m clean I promise you… please.” He hesitated, glancing around the crowded bar. 'Hey, slow down. You sure? You seem upset—maybe talk about it?' I shook my head. “It was with my best friend. I’ll pay you.” I mumbled and brought out my card. He sighed and took my hand, leading me out of the club and few minutes later, we were in his hotel room. The door barely clicked shut before I was on him, yanking his shirt open, buttons scattering. Clothes hit the floor . I knelt down to take his thick cock from his pants, already hard and leaking with pre-cum. I took it all in by sucking the head deep. 'Fuck, yeah,' he said while pulling my hair to face-fuck me at a slow pace. Then he lifted me into the air then turned me to face the bed thereby bending me over. He lined up his cock and thrust into me brutally and deep with no warning. I cried out at the burning stretch as it filled me up. He pounded me hard as one hand held my hip and the other reached around to rub my clit in tight circles. My walls clenched around him, pleasure building fast replacing the ache in my chest. He buried himself to the hilt, cock pulsing as he flooded my pussy with hot spurts of cum, groaning and the release triggered my own climax, waves of pleasure crashing over me. He collapsed beside me, breathing ragged, and within minutes, his eyes drifted shut, chest rising and falling in sleep. I lay there, his seed cum out between my thighs, when the question hit me. Who was he?Bagi Bima, hal tersulit memahami Tiara karena wanita itu begitu tertutup. Tiara hampir tak pernah menceritakan dirinya sendiri dengan sukarela. Bahkan pertanyaan-pertanyaan Bima pun seringnya hanya dijawab sambil lalu. Sejujurnya, Bima hampir tak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan Tiara setiap kali mereka bertengkar, pun saat insiden malam itu.Tiara seperti bawang yang harus dikupas Bima selapis demi selapis untuk mengenal wanita itu. Tak masalah bagi Bima. Hanya saja dia ikut merasa lemah dan tak berdaya saat Tiara menenggelamkan diri dalam lautan luka dan sama sekali enggan menerima uluran tangannya.Sudah seminggu sejak insiden malang itu, seminggu pula tawa dan keceriaan Arjuna tak terdengar di rumah sejak Bima membawa bocah polos itu menginap ke rumah kakek neneknya, papa mama Bima. Lelaki itu sengaja melakukannya agar Tiara bisa menenangkan diri dan fokus kepada Anisa.Tiara juga semakin pendiam. Tidurnya menjauh dan enggan disentuh Bima. Namun be
“Astagfirullah… Den Juna!” "Non Tiara! Nyonya!" Sambil berteriak memanggil Tiara dan Bu Tardi, Bik Yam bergegas mengangkat bantal yang menutup wajah Anissa. Di sampingnya, Arjuna terlihat kesal melihat adiknya ternyata masih bisa menangis. Bocah empat tahun itu beringsut ke pojokan, melihat Bunda dan neneknya yang masuk. Dia memang belum memahami apa yang terjadi, tetapi instingnya sepertinya memberi isyarat bahwa dia harus waspada. "Ada apa, Bik?" Tiara bertanya sambil mengambil Annisa dari dekapan Bik Yam. Melihat napas Annisa tersengal, Tiara mendadak panik. “Ya Allah, Nissa… kamu kenapa, Nak?” "Bik, Nissa kenapa?" Suara Tiara mulai meninggi. "Anu, Neng. Tadi wajah Anissa ketutup bantal!" Dengan sedikit takut dia memberanikan diri menceritakan kondisi Anissa saat tadi ia temukan. Mata Tiara langsung nyalang. Sepertinya dia dapat menduga bahwa itu perbuatan Arjuna. "Juna! Kamu apakan adikmu, hah!" Samb
"Arjuna! Hentikan suara mobil-mobilan kamu itu. Apa kamu nggak lihat kalau adikmu sedang istirahat?""Tidur sendiri sana di kamarmu. Bunda harus tidurin Anissa sekarang.""Handuk baru itu bukan punya kamu, Arjuna! Itu punya adikmu! Kembalikan!"Rasanya Bima sekarang tak asing lagi dengan suara Tiara dalam nada tinggi, marah-marah dan mengomel sepanjang hari. Kehadiran Anissa merampas kewarasan bundanya. Tiara sering uring-uringan. Terutama kepada Arjuna.Bima memutuskan mengambil cuti panjang agar bisa menemani Tiara di rumah dan menjaga Arjuna. Laki-laki kecil berusia empat tahun itu pasti sudah menyadari kalau perhatian bunda kini tidak lagi utuh untuk dirinya. Ada adik Anissa tempat bunda melimpahkan semua sayang. Dan Arjuna mulai merasa kehilangan.Suasana rumah mulai terasa tidak senyaman dulu. Anissa dengan kondisi fisik kecil dan lemah, membuat Tiara over protektif dalam menjaga Anissa sehingga Arjuna merasa terabaikan.Hanya saat Bim
Dua garis.Tiara menyodorkan test pack pada Bima dengan lesu."Aku nggak mau punya anak lagi, Bim.""Tapi kita nggak akan membuangnya, Tiara. Ini hadiah cinta kita. Jangan ditolak ya, Sayang."Tiara menghela napas dalam. Tak berdaya.Hari berganti minggu, pada kehamilan kali ini Bima harus benar-benar menyimpan banyak stok kesabaran untuk menghadapi Tiara.“Bimaaa! Mandi sana! Kamu bau jengkol. Aku gak su- ....” Belum kalimat itu selesai, Tiara sudah menunduk dan memuntahkan kembali segelas susu ibu hamil yang sebelumnya susah payah diteguk untuk mengisi perut.“Tapi aku hari ini enggak nginjak kebun apalagi pegang pohon sama buah jengkolnya, Sayang!” Bima menciumi tangan, pakaian hingga rambutnya sendiri.“Keluaaar!” pekik Tiara keras meski tubuhnya sebenarnya tak berdaya. “Kamu pilih aja, mau ngurus jengkol atau ngurusin aku!”Pasrah, Bima melangkah keluar kamar sebelum T

![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak