LOGINSebagai anak tunggal yang akan menjadi pewaris The Layn, hidup Drew Layn terlalu sempurna. Dia tampan, kaya raya, dan bisa menaklukkan wanita mana saja yang diinginkannya. Meski begitu, dia punya kriteria khusus, yaitu perempuan berkaki jenjang. Suatu ketika Drew bertemu Daisy, seorang perempuan berkaki pendek yang arogan. Tentunya Daisy tidak termasuk tipe Drew. Namun, rupanya perempuan itu berhasil membuat dia penasaran dan bertanya-tanya, bagaimana rasanya mengencani perempuan arogan seperti Daisy? Ternyata semua tidak semudah yang Drew bayangkan. Daisy jelas berbeda dari semua perempuan yang berhasil dia dapatkan hanya dengan menjentikkan jari. Membuat Daisy jatuh dalam perangkapnya butuh perjuangan, karena perempuan itu tidak menyukainya. Meski tampan dan kaya raya, dia adalah laki-laki yang sombong. Dan itu menyebalkan bagi Daisy. Akankah Drew berhasil membuat Daisy bertekuk lutut seperti wanita lain yang pernah ia kencani? Dan berhasilkan Daisy jatuh dalam perangkap buaya darat kelas kakap seperti Drew?
View MorePrologue.
_____ Alpha Akkar Silver, the Northern ruler of the Denilis Pack looked around his palace one day and a tear fell from his eyes. The kingdom he had ruled for years failed to get better and he had heard the disgruntled reports from his people.He needed resources to be able to maintain his position as an Alpha, else, the rumors that went around saying he was bad luck would in no time vote him out of the throne.
So he set out, without informing anyone -even his wife, to the southern part of their world to seek help.
The Southern and Northern Islands had never beheld a reason to encounter each other. This was because the Southerners were considered predators and the Northerners, prey. The Southerners were ruled by demons and not just any demon, the incubus demons - that fed on women's lust especially while they slept. They were sexual predators.
Reaching the South, Akkar headed to the palace of their King requesting a meeting. He was approved and he proceeded to meet King Cody, King of the South.
"I thought I was being bamboozled when I heard about your arrival" King Cody strode into the throne room with three naked women running after him.
Akkar studied the pattern in his shoes, wolf's loyalty running through his veins. He never saw any other woman naked besides his wife.
Cody, seeing how distracting it might be to this Northern ruler in his throne room, dispersed the women.
"What brings you here?"
"I run the North. You must have heard about me…"
"The only thing I heard about the North is their poverty."
Akkar let out a dry chuckle trying not to show how hurtful the statement sounded. In one minute, he had explained his predicament to Cody. Even when he was desperate for help, he tried not to sound out of power.
"And what do we get in return after giving you sustenance and equipment?"
"What do you want?" Akkar asked.
"Your daughter" Cody smirked. "That is the only fair bargain. Your daughter must be the most sought-after in the North, your beloved too, so that makes me want her." He played with his chin, his eyes fixated on Akkar.
Akkar didn't have any children, but he needed to strike this pact with the demon.
"I'm afraid if you can't let me have her…this deal never happened" Cody had raised himself from his throne seat but was stopped by Akkar's voice.
"She is still little," Akkar said to him. Only one person came to his mind, and it was Lumi, his brother's two-year-old daughter who was very dear to his heart. "My daughter is just a child, you can't have her."
"Demons don't age, remember? I do not care if she is just being taken out of her mother's womb. I'll always be here, waiting." King Cody snickered.
"Accepted," Akkar said with little to no hesitation. If Cody wanted to have Lumi to himself in exchange for giving him all the power in the world, Akkar didn't see it as something grave. "She has to be of age…" he stated his condition. He wasn't going to let this sex god take advantage of Lumi at a very young age.
As they agreed, Akkar set off back to the South. Getting home, he called his brother Kato. "The South reached out with a war proposal" he lied.
"A war?" Kato panicked. "We are out of resources, if the South war with us, they will win."
"And that is why I went there to make a truce."
"You went to the South? You opened the borders!"
"They were going to open it forcefully anyway, I had to do all I could to protect my people!" Akkar couldn't meet his brother's eyes as he kept up with the lies.
“How was it? What was your negotiation?" Kato asked.
"Lumi. He wants Lumi."
Kato opened his mouth, but he could not find words.
“It was what he wanted, he specifically asked for your child. I tried to back out of the deal because there was no way I was letting him take your daughter but he was very persuasive." Akkar said lying through his teeth.
“But how did he know I had a daughter?” Kato asked him and Akkar sighed, this was something he thought Kato would never ask, with how doting his brother was he didn’t expect him to question the deal.
“They are demons Kato, they know everything but relax, they won’t take her yet, not until she is older”
“Those perverted demons" Kato cussed. Even when the deal was a lot for him to handle, he always had his brother's side and he would support anything to keep the peace of the North.
Months after the deal was made there was a loud cry in Akkar’s kingdom as his wife Laurel put to bed, a beautiful baby girl that was immediately visited by the goddess and marked 'Virgin of the Moon' entrusting their family with such an important duty.
The birth of this child brought prosperity and everything Akkar and the North ever needed and he regretted ever going to the South to so for such ridiculous help from Cody.
“Even if I could turn back time, I couldn’t because it’s too late now”
Akkar said to Kato when they were alone.
“What do you mean?”
“I would not have made the deal”
“Because we have our little miracle?”
“Yes but..”
“No buts Akkar, come the next few years the south would be coming for Lumi, that is what we should focus on, you don’t back out from a deal, the consequences are grieved”
Kato said and Akkar nodded, in his heart he hoped the South forgot about the deal but his brother encouraged him to focus on making his daughter, Kaliya everything the moon goddess wanted her to be.
The Virgin of the Moon was a sacred title given to Kaliya by the goddess. As long as she remained untouched and pure, she was destined to keep the peace of the kingdom and serve as an intermediary between wolves and the goddess.
“Aku—““Please sayang, jawab iya. Pleaseee….” Lagi dan lagi, hanya Daisy yang bisa membuat aku memohon seperti ini.Daisy tidak lagi menatapku. Sepertinya dia bingung memberi keputusan.“Aku janji tidak akan melukaimu kembali. Aku janjiii….” Aku terus membujuk Daisy.Daisu menarik napas panjang. “Oke!”“Oke? Apa maksud dari jawaban singkatmu itu.” Aku tak sabaran.“Aku akan menikah denganmu.”Jawabam Daisy membuat hatiku lega. Aku sampai berdiri dan lompat kegirangan. “Hei Drew, kalau kau menyakiti hati adikku lagi. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Mengerti!” Calra mengancamku.Tapi aku tidak takut, karena aku tidak akan melakukan hal itu lagi. “Tidak akan.”***Selesai bicara mengenai pernikahan yang sudah disetujui oleh semua orang.Kami sekeluarga makan siang di rumah Daisy. Carla sudah menyiapkan makanan enak, berhubung dia sangat jago masak.Aku tidak berhenti membawa tangan Daisy ke bawah meja dan terus menggenggam tangannya.“Drew, lepasin tanganku. Gimana caranya aku bis
Aku keluar dari pintu dan berusah mengejar langkah Daisy. Lantas aku menggenggam tangannya agar kami terlihat romantis di depan semua keluarga.“Nah, ini dia calon pengantin kita sudah tiba,” ujar Ibu bersemangat.Melihat raut wajah mereka semua, sudah pasti kalau Kakaknya Daisy mengizinkan kami untuk menikah.“Hai, semuanya….” Aku menyapa hangat.“Kau habis dari mana?” Carla menatap Daisy. “Rambutmu kelihatan berantakan sekali.”Aku merasakan sentuhan tangan Daisy semakin erat. Mungkin dia gugup. “A-aku—““Tadi kami habis dari salon,” tukasku.Alexa langsung tertawa. Aku memelototi si nenek sihir itu.“Salon mana yang membuat rambutmu berantakan, Daisy?” Kreen melipat tangan di dada.“Ya ampun, memangnya ada yang salah dengan rambut Daisy? Kalian tidak lihat ya. Kalau ini adalah model rambut terbaru. Ini sedang trend!” Aku terus mengalihkan pembicaraan.Daisy mencubit perutku.“Lebih baik kalian duduk dulu,” ucap Ayah.Aku membawa Daisy duduk di sebelahku.“Jadi, setelah pembicaraan
TOK TOK TOK!Ciuman kami terlepas. Alexa sudah berada di sebelah mobilku.Sial!Daisy jadi salah tingkah dan kembali duduk di kursinya sambil mengancing semua kemejanya. Sedangkan aku membuka jendela mobil.“Apa?” Aku memelototi Alexa kesal.“Sabar lah, brody! Kenapa kau lakukan itu sekarang, di mobil. Dasar bodoh!” Alexa memukul kepalaku.“Aduh!” Aku meringis. “Kau kenapa sih?”“Kau yang kenapa? Kau lakukan itu di mobil? Kau harus cari kamar hotel yang mewah. Bukan di mobil, dan di depan rumah Daisy pula. Dasar tolol!” Alexa memukul kepalaku lagi.“Heeeei, kau ini!” Aku ingin sekali membalas Alexa. Tapi, dia sudah menjewer telingaku.“Aduh, aduh! Sakit.” Aku meringis lagi.“Alexa, maaf, aku tidak bermaksud—“ Daisy berusaha menjelaskan. Karena sepertinya, dia merasa tidak enak hati. Atau mungkin, dia merasa menyesal telah melakukan hal itu denganku tadi.“Tidak masalah cantik. Aku suka melihat adikku yang mulai ganas! Dan aku suka, kau membalas permainan ganas adikku juga. Yang menjad
Mobil yang aku kendarai akhirnya sampai di depan rumah Daisy.Selain itu, aku juga melihat ada mobil orangtuaku, dan mobil Alexa yang ikut terparkir di halaman rumah Daisy.Ternyata, mereka lebih cepat dari yang aku duga.Padahal, aku hanya ingin mengirimi pesan singkat di grup keluarga.[Drew : Keluarga-keluargaku yang terhormat dan tersayang. Aku ingin minta bantuan kalian untuk ke rumah Daisy dan membicarakan tentang pernikahan kami kembali dengan kakaknya. Karena, Daisy si keras kepala ini masih menolak menikah denganku. Um, sebenarnya, dia mau. Tapi malu-malu kucing. Jadi, mohon bantuannya. Aku dalam perjalanan]“Kenapa ramai sekali di rumahku?” Daisy menatap bengong rumahnya sendiri.“Yap. Karena ada keluargaku,” jawabku enteng.Daisy mengerutkan dahinya. “Keluargamu? Apa yang keluargamu lakukan di rumahku?”“Berdongeng.” Aku menatap wajah Daisy yang sudah serius. “Tentu saja ingin membicarakan acara pernikahan kita, sayang.”“Atas izin siapa? Kau selalu bersikap sesuai kehendak
“Daisy?”Aku menatap wanita di hadapannya sekali lagi. Memperhatikan lekat-lekat dari atas kepala hingga ujung kaki. Dia menggunakan seragam sama persis seperti yang digunakan oleh para pelanar yang duduk di lobby tadi.“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku untuk memastikan.Sepertinya, Daisy juga be
"Kasih aku waktu untuk berpikir ulang. Paling tidak satu minggu,” ujar Daisy."Satu Minggu? Kau gila!" Tentu saja aku yang bisa gila nantinya."Lima hari.""Tidak, tiga hari. Aku hanya ingin menunggu waktumu tiga hari. Aku menerima keputusanmu, apapun itu. Tapi dengan syarat, jangan larang aku untuk me
“Drew, lepasin aku…. kemana kau akan membawaku pergi!” Aku terus membawa Daisy sampai masuk ke dalam lift. Daisy terus mengoceh tanpa henti, membuatku tidak tahan untuk tidak melumat bibirnya. Untunglah, hanya ada kami berdua saja di dalam lift ini. Daisy meremas kemejaku dan tidak bisa berkata apap
“Aku ….” Daisy menelan ludah. “Yah, kau benar. Aku lagi melamar pekerjaan di sini. Memangnya kenapa?” Kini Daisy balik berteriak padaku. Membuatku heran dan mengingat pasal satu. Jika wanita salah, maka yang marah tetap wanita. Jika wanita bikin kesalahan, wanita akan tetap menganggap lelaki itu sal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore