เข้าสู่ระบบTak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.Clarin tidak lagi mempersulit pihak lawan. Dia mulai membahas proses penandatanganan kontrak serta revisi naskah.Jessica terus memperhatikan perkembangan di forum. Saat melihat penulis itu membuat unggahan permintaan maaf, dia langsung teringat pada permintaan Clarin agar hasil peninjauan akhir dikirim ulang lewat WhatsApp.“Clarin, kamu mau menandatangani kontrak buku itu?” tanyanya dengan wajah agak muram.“Iya.” Clarin mengangguk. “Penulis itu bilang sebelumnya dia terlalu terburu-buru. Sekarang dia sudah meminta maaf padaku dengan tulus. Kami sudah berdamai dan sedang membahas kontrak.”Jessica menggertakkan gigi dalam hati.Buku itu sama sekali tidak sepadan dihargai Rp90.000, bahkan Rp60.000 pun ketinggian.Dia menetapkan harga Rp90.000 semata-mata untuk membuat Clarin jengkel. Tak disangka, demi bisa menandatangani kontrak, penulis itu sampai merendahkan diri dan meminta maaf secara terbuka.“Kualitas buku itu biasa saja
Clarin mempertanyakan dengan suara berat, “Kak Jessica, setahuku sesuai peraturan perusahaan, buku baru dengan harga di atas Rp120.000 harus diajukan ke pemimpin redaksi utama untuk ditinjau.”“Kamu sedang mimpi, Clarin?” Jessica mencibir dingin. “Buku dengan harga di atas Rp60.000 harus ditinjau oleh pemimpin redaksi, sedangkan buku dengan harga di atas Rp120.000 itu hanya perlu diajukan ke pemimpin redaksi utama jika pemimpin redaksi menilai harganya memang layak di atas Rp120.000. Kalau pemimpin redaksi merasa nggak bisa kasih Rp120.000, maka buku itu pun nggak perlu diajukan ke pemimpin redaksi utama.”“Jadi, dua buku itu hanya bisa dikasih harga Rp70.000?” Clarin mengonfirmasi ulang.“Ya.” Jawaban Jessica tegas tanpa ruang tawar.“Baik. Aku akan menghubungi penulisnya,” kata Clarin.Jessica adalah atasannya. Dia tahu betul Jessica sengaja mempersulitnya, tapi dia juga tak berdaya.Pelaporan melewati atasan langsung adalah pantangan besar di dunia kerja. Dia tidak mungkin melewati
Clarin membuka tautan unggahan itu, mendapati tulisan yang menuduhnya memanfaatkan status dirinya sebagai perempuan untuk menjadi editor kanal pria, menarik banyak penulis pria agar mengirim naskah kepadanya. Setelah menikmati keuntungan gender, dia mulai berlagak dan bersikap arogan sampai-sampai bersikap dingin terhadap penulis-penulis biasa.Pihak tersebut mengklaim bahwa ketika dirinya mengirimkan naskah barunya kepada Clarin, Clarin langsung menyindirnya dan merendahkan karyanya. Setelah itu, Clarin menyatakan mau menerima naskahnya dengan sikap terpaksa. Namun, setengah bulan berlalu tanpa tanda tangan kontrak. Jelas sekali Clarin sengaja menggantungnya untuk menguras kesabarannya sampai menyerah.Dia juga mengaku pernah bertemu Clarin secara langsung. Katanya, suara Clarin lumayan bagus. Namun, penampilan Clarin hitam, jelek, dan gemuk. Dia pun menyerukan agar semua orang berhenti mengirim naskah kepada Clarin.Unggahan itu disertai beberapa tangkapan layar percakapan yang diamb
“Nggak boleh matikan jaringan,” kata Clarin sambil menciutkan lehernya dengan takut-takut. “Terkadang saat buku penulis berada di fase yang sangat krusial, keadaan darurat bisa terjadi kapan saja. Saat itu, mereka akan langsung meneleponku lewat WhatsApp. Aku harus segera menanganinya.”Sebelumnya pernah terjadi razia besar-besaran. Sebuah buku penulis terseret isu konten sensitif, kebetulan editornya mematikan ponsel kerja karena akhir pekan.Pihak berwenang tak bisa menghubungi editornya, sehingga pada akhirnya pun Dodi yang dipanggil untuk mengurusi masalah ini.Setelah kembali ke perusahaan, Dodi murka besar dan memarahi seluruh tim editor tanpa kecuali.Carles yang keinginannya tidak terpuaskan hanya bisa berkata dingin, “Baik!”“Pak Carles, apa kamu marah?” tanya Clarin pura-pura bodoh.“Nggak!” Carles menyangkal dengan gigi terkatup rapat.“Oh .…” Clarin mengangguk pelan. “Aku pikir kamu marah, jadi bermaksud menghiburmu.”“Heh!”Carles kesal sampai tertawa dingin, lalu membalik
Clarin memasukkan piring, sumpit, dan panci ke dalam mesin pencuci piring, merapikan dapur hingga bersih, lalu kembali ke kamar.Dia mengecek petunjuk perawatan kebaya, mencucinya dengan tangan, kemudian mandi dan keramas.Setelah mengeringkan rambut, dia berbaring di tempat tidur sambil membaca novel di ponsel.Sebagai seorang editor, kesehariannya bukan hanya menerima naskah, membaca dan mengedit, berkomunikasi dengan penulis, mengurus kontrak, serta menghadiri rapat divisi. Dia juga harus selalu memantau dinamika novel di berbagai platform, seperti buku mana yang sedang populer. Dia akan membaca buku tersebut, lalu menganalisis kenapa bisa populer.Kemudian, dia memperhatikan penulis mana yang karya lamanya akan segera tamat atau siapa yang berencana membuat buku baru. Dia akan mengirimkan hasil rangkumannya kepada mereka, sekalian membahas soal penandatanganan buku baru.Clarin tenggelam dalam bacaannya, sampai-sampai tidak menyadari kapan Carles kembali ke kamar.Baru ketika Carle
“Aku sudah tonton video yang kamu putar ulang ini sebanyak tujuh sampai delapan kali,” kata Carles.“…”Setelah menyadari bahwa Carles sudah cukup lama memperhatikannya belajar menyanggul rambut, wajah kecil Clarin langsung memerah.Carles melangkah ke belakangnya, mengambil tusuk konde perak dari tangannya. Kemudian, dia menggenggam rambut Clarin menjadi satu dengan tangan yang lain. Dalam dua tiga gerakan saja, rambut Clarin sudah tersanggul rapi.Clarin terbelalak kaget. “Kanapa kamu langsung bisa?”“Model rambut ini sangat sederhana, cuma beberapa langkah saja,” jawab Carles dengan nada tenang.Bagi Clarin, kata-kata Carles memang tidak menyakitkan, tapi sangat memalukan.Dia mengeluh lesu, “Menurutku juga kelihatannya gampang. Mata sudah paham, tapi tangan sama otak nggak mau kerja sama .…”Ucapan itu membuat Carles nyaris tertawa.Ujung bibirnya sedikit terangkat. “Kebaya ini pas di badanmu?”“Hm, ukurannya pas sekali. Nih, lihat .…”Clarin berdiri, lalu mundur beberapa langkah a







