เข้าสู่ระบบTerdapat tiga jalur jalan menuju puncak gunung Lawu yang dilalui para kereta putri raja.Damayanti bersama Waruna dan Barong melesat menggunakan jalur selatan, melalui lembah dan pedesaan.Sementara putri Kanaya bersama Ariani dan Arakenda memacu kuda menggunakan jalur barat melewati pegunungan hutan bambu.Dan terakhir putri Anandya bersama Jantaka melesat menggunakan jalur timur melalui hutan berkabut.Ketiga jalur itu sama-sama berbahaya karena selalu terdapat penyamun dan perampok, terlebih di hutan-hutan juga terdapat banyak siluman yang kerap menyerang kepada siapa pun yang lewat.Saat pertama memasuki wilayah hutan, Jantaka dan Putri Anandya langsung dihadang oleh siluman kodok, mereka berjumlah puluhan mengepung kereta kuda berniat memangsa putri Anandya.Beruntung Jantaka masih bisa menghadapi mereka dan membunuh semuanya.“Berani menghadang perjalanan kami maka matilah bayaran untuk kalian!” umpat Jantaka sembari meludah pada salah satu mayat siluman.Kemudian dia mengambil
“Berhenti di sana kau orang asing!” seru 2 orang prajurit jauh sebelum memasuki wilayah kerajaan.Kotoplak! Kotoplak! Kotoplak!Arga memperlambat laju kudanya.“Apa paman memanggil saya?” tanya Arga sopan.“Cepat turun dari sana, kau orang asing!” prajurit tadi membentak Arga.“Orang asing? Apa mereka tidak mengenaliku?” gumam Arga dalam hati.“Maaf paman, aku buka …,”“Cepat turun!” apa kau ingin kami hajar?” prajurit yang lain ikut membentak.Arga tidak dapat menjelaskan siapa dirinya karena terpotong oleh prajurit tadi.Karena tidak ingin mendapat masalah, pemuda itu pun mau tidak mau langsung turun dari punggung Liwa.Baru saja Arga menyentuh tanah dan berniat menjelaskan kembali siapa dirinya, sebuah pukulan keras telah lebih dulu bersarang di tengkuknya.Brak! Hegh!Arga melenguh kemudian terjatuh.“Apa-apaan ini …. Hegh!” Kali ini Arga langsung tidak sadarkan diri karena menerima pukulan kedua yang jauh lebih keras.“Apa benar bocah ini si Arga pengurus kandang kuda?” tanya pra
Malam telah berlalu digantikan pagi yang baru saja kembali.Meski langit masih mendung tertutupi awan salju, tetapi upacara kedewasaan untuk para putri raja harus dimulai.Waruna telah siap di atas kereta tanpa atap yang mirip seperti gerobak rumput milik Arga.Namun bedanya, kereta itu ditarik oleh dua kuda perang berukuran besar.Di sampingnya terdapat seorang pendamping kusir yang tiada lain adalah pendekar berbaju merah yang pernah Waruna kalahkan pada pertandingan pertama sayembara.“Kau jaga putri Damayanti, biar aku yang mengendalikan kuda,” ketus Waruna pada Barong.“Ka-ka—kau? Aku bukan bawahanmu mengapa kau memberi perintah padaku,” sergah Barong tidak terima.Tetapi Waruna tidak bersuara lagi selain tatapan membunuh yang dilemparkan ke arah Barong, membuat pendekar berbaju merah tersebut langsung terdiam seribu bahasa tidak berani lagi berkata-kata.Jika Waruna mendapatkan Barong sebagai pendamping kusir, maka Ariani mendapatkan Arakenda sebagai pendampingnya.Murid dari pe
Di dunia awan, angin berhembus semilir membuat siapa pun yang berada di sana akan merasakan kesejukan seperti tengah berada di bawah rindangnya pohon di saat teriknya siang.Tetapi bagi seorang pemuda tampan berbaju lusuh, dunia itu tidak ubahnya seperti kehampaan tak berujung. Sunyi, senyap, tiada seorang pun di sana.Sebelum suara tidak berwujud menampakkan diri menyapanya dengan kata yang membingungkan.“Hahaha, kau sepertinya memang bukan manusia biasa anak muda, sayang ingatanmu ternyata terkena segel dari jurus seseorang.”“I-i—itu? Si-si—siapa kau? Mengapa membawaku kemari?” teriak Arga terbata.“Hahaha, aku tidak membawamu, tetapi kamu sendiri yang datang kemari,” jawab suara tersebut.“Ak—aku? Ti-ti—tidak mungkin!” teriak Arga.“Si-si—siapa kau, cepat katakan!” tanya Arga mencoba tegar.“Aku tidak akan mengatakan siapa diriku sebelum kau memanggilku guru,” sergah suara asing.“Aa—apa? Guru? Tidak mungkin! Aku belum pernah berguru, dan ingatanku masih ada tidak pernah tersegel
Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid
Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda







