Share

Bab 123

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 23:50:03

"Ini semua data yang kamu minta, Satrio. Aku harus mengambil risiko besar demi menyalinnya dari peladen pusat," bisik Maya dengan napas yang sedikit memburu.

Malam telah turun di kantor Shine Group. Sebagian besar lampu di koridor utama sudah dipadamkan oleh petugas keamanan, menyisakan ruang rapat kecil di sudut lantai 8 yang hanya diterangi oleh pendaran remang cahaya dari lampu jalanan luar yang menembus jendela kaca besar.

Maya berdiri di dekat meja kaca panjang, kedua tangannya mendekap e
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 126

    "Satrio, tunggu sebentar. Ini jalan ke arah mana lagi? Kenapa kita malah berbelok ke arah deretan gedung tinggi?" tanya Ningrum, suaranya dipenuhi keheranan yang amat sangat saat sedan mewah inventaris kantor itu melambat di sebuah persimpangan besar.Sepasang mata bulat milik gadis desa itu menatap bingung ke luar jendela. Hari sudah benar-benar gelap, dan lampu-lampu jalanan ibu kota telah menyala benderang. Jalur yang mereka lewati saat ini dipenuhi oleh jajaran gedung pencakar langit yang megah, sangat bertolak belakang dengan jalanan sempit berdebu menuju area pemukiman padat tempat kontrakan sederhananya berada.Satrio memutar kemudi dengan santai, mengarahkan moncong mobilnya memasuki lobi sebuah gedung apartemen menara kembar yang sangat eksklusif. "Kita tidak langsung pulang ke kontrakannmu, Ning. Aku ingin membawamu mampir sebentar ke tempat tinggalku saat ini," jawab Satrio tenang sembari menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk lobi yang dijaga oleh beberapa petugas k

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 125

    Matahari sore meredup, menyisakan semburat warna jingga yang memantul di kaca depan sebuah mobil sedan mewah. Di depan gerbang sebuah pabrik tekstil yang padat, ratusan buruh mulai berhamburan keluar setelah bel tanda berakhirnya jam kerja berbunyi nyaring. Di antara kerumunan pekerja yang tampak lelah, sosok Ningrum berjalan perlahan dengan tas kain sederhana di pundaknya. Satrio yang sejak tadi menunggu segera mengarahkan kendaraannya mendekat, lalu menurunkan kaca mobil sembari memberikan isyarat agar gadis desa itu segera masuk. Kehadiran mobil mewah di depan pabrik tersebut seketika mencuri perhatian puluhan mata memandang, membuat beberapa rekan kerja Ningrum berbisik penuh rasa ingin tahu dan kagum.Ningrum bergegas membuka pintu dan duduk di samping Satrio, wajahnya tampak sedikit memerah karena merasa menjadi pusat perhatian. "Maaf ya, Satrio, kalau membuatmu menunggu lama. Tadi antrean absen pulangnya agak panjang," ucap Ningrum sembari merapikan anak rambutnya yang sediki

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 124

    Keesokan hari, langkah kaki Satrio terdengar mantap dan bergaung kuat di sepanjang koridor lantai tertinggi gedung Trust Corp. Di dalam tas kerja yang dibawanya, tersimpan lembaran-lembaran dokumen gelap, sebuah bom waktu yang siap menghancurkan seluruh imperium bisnis milik Tanya. Pertemuan rahasia bersama jajaran dewan direksi Trust Corp pagi itu berjalan sangat menegangkan, namun berakhir dengan kendali penuh di bawah Satrio. Menghadapi bukti-bukti valid mengenai aliran dana ilegal, pencucian uang, dan manipulasi pajak berlapis yang disodorkan Satrio di atas meja sidang, para petinggi Trust Corp tidak memiliki pilihan lain selain bertekuk lutut. Tanpa perlu pertumpahan darah atau drama pengadilan yang panjang, Satrio berhasil memaksa dewan direksi untuk menandatangani klausul penyerahan seluruh aset dan anak perusahaan mereka kepada Shine Group demi menyelamatkan diri dari jeratan hukum korporasi.Keberhasilan luar biasa ini membawa guncangan besar di lantai bursa dan manajemen

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 123

    "Ini semua data yang kamu minta, Satrio. Aku harus mengambil risiko besar demi menyalinnya dari peladen pusat," bisik Maya dengan napas yang sedikit memburu.Malam telah turun di kantor Shine Group. Sebagian besar lampu di koridor utama sudah dipadamkan oleh petugas keamanan, menyisakan ruang rapat kecil di sudut lantai 8 yang hanya diterangi oleh pendaran remang cahaya dari lampu jalanan luar yang menembus jendela kaca besar. Maya berdiri di dekat meja kaca panjang, kedua tangannya mendekap erat sebuah map kulit hitam tebal ke dadanya. Gerak tubuhnya tampak gelisah, sesekali matanya melirik ke arah pintu kayu yang tertutup rapat, khawatir jika ada staf malam yang lembur atau petugas keamanan yang memergoki pertemuan rahasia mereka.Satrio, yang sejak tadi bersandar dengan tenang di tepi meja kerja, perlahan menegakkan tubuhnya. Ia melangkah mendekati Maya dengan gerakan yang begitu halus namun penuh wibawa dominan. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat pada wajah Maya yang

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 122

    Akhirnya kamu datang juga, Satrio? Dua hari ini rasanya kantor ini sepi sekali tanpa kehadiranmu," rajuk Adirah begitu pintu ruang kerja Satrio tertutup rapat pagi itu. Adirah, sekretaris boss besar dengan seragam kerja yang ketat, langsung melangkah mendekat tanpa memedulikan jarak profesional mereka. Sepasang matanya menatap Satrio dengan binar kerinduan yang mendalam. Ia meletakkan sebuah map kerja di atas meja, namun gerak tubuhnya justru condong ke arah Satrio, menguapkan aroma parfum vanila yang manis dan memikat ke seluruh ruangan. Satrio mengulas senyum tipis, senyuman khas yang selalu berhasil menundukkan hati wanita. Ia menanggalkan jas hitam mewahnya, menyampirkannya di sandaran kursi empuknya, lalu menduduki kursi tersebut dengan wibawa seorang pria yang memegang kendali penuh. "Ada beberapa urusan kampus yang harus kuselesaikan, Mbak Adirah. Urusan penting terkait kelulusanku," jawab Satrio, suaranya berat, tenang, dan sarat akan karisma yang menghanyutkan. "Aku benar-

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 121

    Jalanan ibu kota sudah sangat sepi ketika sedan mewah hitam metalik milik Satrio membelah keheningan malam menuju ke area perumahan padat. Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul dua dini hari saat Satrio akhirnya mengunci mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kamar kosannya. Tubuhnya terasa letih setelah melalui pesta gairah yang menguras energi di penthouse Ayunda, namun pikirannya masih terjaga penuh oleh ambisi dan kepuasan atas penaklukan malam itu.Satrio menutup pintu kayu kamarnya rapat-rapat. Baru saja ia mengunci slot pintu dari dalam, udara di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu mendadak berubah drastis. Udara yang semula pengap seketika berganti menjadi sejuk, dan aroma harum kelopak mawar merah yang sangat pekat kembali meledak, memenuhi seluruh penjuru kamar. Bau mistis itu begitu kuat, menembus indra penciuman Satrio dan memberikan getaran familier yang mendebarkan di dadanya.Merasakan tanda-tanda kehadiran sang dewi pelindung, Satrio tidak membuan

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 47

    "Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 36

    Godaan demi godaan dari para wanita di kafe itu mulai bermunculan secara bergantian, membuat telinga Adirah terasa panas. Beberapa remaja di meja sebelah kanan sengaja tertawa kencang sambil berulang kali melirik Satrio, bahkan salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan sapu tangan ke lantai dekat

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 6

    "Luar biasa... Rio, kamu..." Tante Inet seolah kehilangan kata-kata. Ia berlutut di depan Satrio, tangannya yang dingin perlahan meraih dan menggenggam milik Satrio. Ia belum pernah melihat milik lelaki yang begitu gagah dan menegang kuat seperti milik Satrio, apalagi dalam jarak sedekat ini. Getar

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status