تسجيل الدخولHari pertama Nikko Prambudi menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara langsung menjadi hari yang panjang bagi Satrio. Sejak jam kantor dimulai, Nikko tidak membuang waktu untuk menunjukkan taringnya. Ia sengaja memanfaatkan ketidakhadiran Pak Aizar untuk menekan Satrio dan menjatuhkan mental pria itu di hadapan seluruh karyawan Shine Group."Satrio! Kemari kamu!" panggil Nikko dengan suara meninggi, berdiri di ambang pintu ruang kerjanya di lantai delapan.Beberapa staf administrasi yang sedang berjalan di koridor langsung menghentikan langkah. Satrio yang baru saja keluar dari ruangannya, menoleh dengan tenang. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah mendekati meja kerja sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko.Di sana, Adirah sedang duduk dengan tegang. Sebagai sekretaris sementara yang ditugaskan mendampingi Nikko selama Pak Aizar cuti, posisi Adirah sangat serba salah. Jemarinya meremas pulpen di tangannya, matanya menatap Satrio dengan pandangan penuh rasa simpa
Suasana di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sejak Pak Aizar mengambil cuti pernikahan untuk menikmati bulan madu romantis bersama Furi ke Maladewa, udara di koridor eksekutif mendadak berubah menjadi lebih tegang. Pucuk pimpinan sementara perusahaan raksasa ini kini diserahkan kepada sosok baru yang ditunjuk langsung oleh jajaran komisaris besar keluarga Prambudi. Dia adalah Nikko Prambudi, putra tunggal dari pasangan Darma dan Sisilia.Nikko baru saja menyelesaikan studi magisternya di salah satu universitas bergengsi di London. Di usianya yang masih sangat muda—seumuran dengan Satrio—Nikko langsung mendapatkan posisi strategis sebagai Wakil Presiden Direktur Sementara, menduduki ruangan megah di lantai delapan yang letaknya tepat berseberangan dengan ruangan kerja Satrio.Lelaki itu mewarisi garis wajah ibunya yang rupawan, namun dibalut dengan keangkuhan yang teramat pekat. Ketampanannya terbilang paripurna untuk ukuran
Dilingkupi rasa takjub dan gairah yang sudah tidak terbendung lagi, Sisilia tidak tahan untuk tidak bertindak lebih jauh. Perlahan namun pasti, ia memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajah cantiknya pada kejantanan sempurna milik Satrio, siap menuntaskan setiap jengkal malam pembalasan ini di bawah kendali sang penguasa baru Shine Group itu."Ssshh... Ahh..." Satrio mengerang tertahan, suara beratnya memecah kesunyian malam di dalam unit apartemen yang temaram. Kedua tangannya mencengkeram erat sandaran kursi mewah tempatnya duduk, membiarkan punggungnya menegang saat merasakan jepitan hangat dan basah yang begitu pas dari bibir tipis Sisilia. Sensasi yang dihantarkan oleh wanita sosialita itu benar-benar kuat, mengalirkan gelombang kenikmatan yang langsung menusuk hingga ke pusat kesadarannya."Kamu... kamu benar-benar tahu cara melayani seorang pria, Sisilia... Ssshh... Teruskan," bisik Satrio dengan napas yang memburu cepat, matanya terpejam rapat menikmati setiap hisapan dan ger
Setibanya di unit apartemen eksklusif lantai dua puluh satu milik Tante Inet, Satrio melepaskan tuksedo hitam mahal pemberian Debby, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menanggalkan kemeja putihnya hingga mengekspos liontin giok kuno yang menggantung di dadanya. Pendaran cahaya hijau redup dari batu giok itu tampak berdenyut lambat, memancarkan daya pikat magis yang kini mengunci penuh takdir Sisilia. Satrio menuangkan segelas minuman dingin, lalu duduk tenang di atas sofa kulit hitam, menunggu bidak catur berikutnya melangkah masuk ke dalam perangkapnya.Tepat pukul satu dini hari, bel pintu unit apartemennya berbunyi pendek.Satrio menyeringai tipis, bangkit dari sofa, lalu membuka pintu. Sosok Sisilia berdiri di ambang koridor yang remang. Wanita sosialita itu masih mengenakan gaun malam hitam ketat bertabur payet yang memamerkan lekuk tubuh indahnya, namun mantel beludru tebal kini tersampir di bahunya demi menyembunyikan identitasnya dari pantauan kamera pengawas lobi. Waja
Alunan musik orkestra yang tadinya mengalun megah kini berganti menjadi nada-nada romantis yang lebih tenang. Debby menggandeng erat lengan tegap Satrio, menuntun langkah pria itu kembali membelah kerumunan tamu undangan yang masih memadati aula. Dengan senyuman yang merekah di bibir manisnya, Debby membawa Satrio masuk kembali ke dalam area VIP yang dikhususkan bagi lingkaran inti keluarga besar Prambudi dan keluarga besar Furi. Di area eksklusif ini, suasananya jauh lebih tenang, dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan hotel agar para petinggi bisa menikmati malam tanpa gangguan.Satrio melangkah dengan wibawa yang terjaga, meskipun pikirannya baru saja terbagi oleh konfrontasi dingin dengan Sisilia. Saat pandangannya terlempar ke arah panggung pelaminan, sepasang mata tajam Satrio mendadak terpaku. Ia menatap lurus ke arah Furi, sang pengantin wanita yang malam itu duduk dengan anggun di samping Pak Aizar.Di bawah siraman lampu kristal yang lembut, Furi terlihat sangat jelita
Keringat dingin mulai menetes di balik riasan tebal Sisilia, merusak keanggunan gaun hitam mewah yang semula ia banggakan. Seluruh persendiannya mendadak terasa lumpuh. Ancaman dari Satrio bukan sekadar gertakan kosong; nama-nama perusahaan cangkang dan transparansi aliran dana yang disebut pria itu adalah rahasia terdalam yang hanya diketahui oleh dirinya dan teman sosialitanya, Tanya."Satrio... aku mohon," bisik Sisilia dengan suara yang bergetar hebat, nyaris tidak terdengar di antara denting gelas tamu undangan yang lalu lalang. Sepasang matanya yang semula memancarkan obsesi gila kini dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat. "Jangan lakukan ini padaku. Jika Aizar tahu, hidupku benar-benar akan hancur."Satrio tidak segera menjawab. Ia perlahan mengangkat gelas minumannya, menyesapnya sedikit dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, seolah menikmati kepanikan yang sedang menyiksa wanita sosialita di hadapannya. Setiap detik keheningan yang sengaja diciptakan Satrio teras
"Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den
Godaan demi godaan dari para wanita di kafe itu mulai bermunculan secara bergantian, membuat telinga Adirah terasa panas. Beberapa remaja di meja sebelah kanan sengaja tertawa kencang sambil berulang kali melirik Satrio, bahkan salah satu dari mereka sengaja menjatuhkan sapu tangan ke lantai dekat
"Luar biasa... Rio, kamu..." Tante Inet seolah kehilangan kata-kata. Ia berlutut di depan Satrio, tangannya yang dingin perlahan meraih dan menggenggam milik Satrio. Ia belum pernah melihat milik lelaki yang begitu gagah dan menegang kuat seperti milik Satrio, apalagi dalam jarak sedekat ini. Getar
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka