로그인Mendengar perkataan ayahnya, Noah melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Lalu kenapa Ayah tidak memberikan perintah pada Ksatria kita? Caesar menolak untuk bertindak. Kakak terlalu penakut dan hanya menyuruhku untuk menelan harga diri keluarga kita dan mematuhi Kaisar!"Mendengar nama putra sulungnya disebut, rahang Duke Mountford mengeras. Ia mendengus kasar."Kakakmu adalah seorang komandan perang. Otaknya hanya bekerja di dalam barisan dan aturan yang tertulis. Dia terlalu kaku untuk melakukan pekerjaan kotor yang sesungguhnya." ucap sang Duke dengan nada meremehkan."Jika kita menyerang Rowan secara terang-terangan dan tanpa alasan, Kaisar akan menjadikan itu sebagai alasan pemberontakan
"Rowan?!" Noah terperangah, mengulangi nama itu seolah kata tersebut adalah racun di lidahnya. Keterkejutan di wajahnya dengan cepat berganti menjadi rasa jijik yang luar biasa. "Maksudmu si mantan pelayan itu?!""Sepertinya dia meminta Elizabeth sebagai hadiahnya karena telah menjadi pahlawan perang." jawab Caesar dengan suara datar, meski matanya menyorotkan kelelahan yang mendalam.Noah mengerutkan keningnya, memancarkan ketidaksukaan yang tak ditutup-tutupi. Ia melangkah maju dengan tangan yang mengepal erat."Ayah tidak mungkin menyetujuinya, kan? Itu sama saja dengan membuang kotoran ke wajah keluarga kita! Rowan itu memiliki darah pelayan. Menikahkannya dengan putri dari Duchy Mountford akan menodai silsilah kita selamanya!"
Dada Elizabeth terasa sesak oleh gelombang haru yang luar biasa besar. Sebegitu dalamkah pria itu memikirkannya?Di saat Elizabeth mengira Rowan bertindak nekat tanpa perhitungan, pria itu justru menyusun setiap langkahnya murni untuk melindungi harga diri dan masa depan Elizabeth."Dan yang paling penting dari semuanya..." Sienna mempererat genggamannya di tangan Elizabeth."...pernikahan kalian ini akan mendapatkan restu dariku dan dari Kaisar sendiri. Tidak ada yang bisa menentang pernikahan ini, Elizabeth. Bahkan Duke Mountford sekalipun harus menundukkan kepalanya."Beban yang selama ini menghimpit bahu Elizabeth seolah diangkat begitu saja. Namun, sisa-sisa realitas politik yang telah dijejalkan ayahnya masih menyisakan sedikit keraguan di benaknya.
"...Apa?"Kata itu lolos begitu saja dari bibir Elizabeth yang bergetar hebat. Ia hanya bisa membelalakkan sepasang mata birunya, menatap tak percaya pada utusan resmi Kaisar yang berdiri tegak di tengah ruangan.Di sofa beludru di sampingnya, Permaisuri Sienna duduk memandang ke arah mereka. Sang Permaisuri lah yang dengan sengaja memanggil utusan pribadi Kaisar tersebut untuk membacakan salinan perintah Kaisar secara langsung di hadapan Elizabeth.Sienna sama sekali tidak mempercayai bahwa Duke Mountford benar-benar akan berbaik hati menyampaikan berita itu pada putrinya.Jika ayah Elizabeth dibiarkan, pria tua kejam itu pasti akan menyembunyikan kebenarannya, membakar surat tersebut, dan terus memanipulasi pikiran putrinya hingga pesta dansa tiba.
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai yang tebal. Di balik selimut yang berantakan, Sienna perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sedikit berat, namun seluruh tubuhnya diselimuti oleh kehangatan dan rasa nyaman yang luar biasa.Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah dada bidang suaminya yang terbuka. Dan saat ia sedikit mendongak, ia mendapati Lucian sudah terbangun lebih dulu. Sang Kaisar sedang menopang kepala dengan satu tangannya, menatap istrinya dengan senyuman yang begitu lembut."Selamat pagi." ucap Lucian lembut, suaranya yang serak dan dalam membelai telinga Sienna. Tangan besarnya yang bebas bergerak menyusuri lengan istrinya yang terbuka di atas kasur.Mendengar sapaan itu, ingatan tentang apa yang terjadi semalam. Wajah sang Permaisuri seketika memerah padam hingga ke ujung telinga saat mengingat apa yang membuat suasana hati suaminya terlihat sangat baik pagi ini.Sienna buru-buru menarik selimut itu hingga menutupi dadanya, menghindari tata
Di dalam buaian air hangat yang dipenuhi taburan kelopak mawar, waktu seakan kehilangan maknanya. Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menyusuri garis lehernya. Hembusan napas pria itu yang panas dan memburu berpadu dengan suhu air kolam, membakar setiap inci kulit yang disentuhnya. Tangan Sienna yang sejak tadi terkalung di leher suaminya kini bergerak naik, menenggelamkan jemarinya ke dalam helaian rambut hitam Lucian yang sedikit basah.Sebuah erangan tertahan meluncur dari bibir sang Permaisuri ketika gigitan kecil dan lembut mendarat di tulang selangkanya."Lucian..." panggil Sienna dengan suara yang nyaris terdengar seperti rintihan memohon.Mendengar namanya dipanggil dengan nada yang begitu rapuh dan mendamba, kewarasan Lucian yang tersisa seolah putus. Sang Kaisar mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata biru laut istrinya yang kini berkabut oleh gairah. Tanpa peringatan, Lucian kembali memagut bibir SiennaTangan besar Lucian yang sedari
Tidak butuh waktu lama bagi Lucian untuk menyeberangi kastil menuju sayap barat. Langkah kakinya lebar dan cepat. Para ksatria yang mengikutinya harus setengah berlari untuk menyamakan langkah dengan amarah tuan mereka.Lucian tiba di depan pintu ganda kamar tamu mewah yang ditempati Alexandria. Ta
Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta
Satu minggu telah hampir berlalu tanpa Sienna sadari. Besok adalah hari pesta teh Duchess Beatrice.Kastil terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Duke Lucian tidak ada di sini. Sudah tiga hari pria itu pergi ke perbatasan wilayah untuk menyelesaikan masalah perdagangan di perbatasan wila
Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan







