MasukRiana Hapsari seorang aktivis anti poligami, perempuan cantik, cerdas dan baik hati. Dalam kegalauan hidupnya Riana bertemu dengan seorang laki-laki bernama Basri Adam. Laki-laki itu pernah hadir di masa lalu, Cinta lama pun bersemi kembali. Dalam kepenatan hidupnya Riana akhirnya menerima menikah dengan Basri Adam. Riana menganggap hanya dirinya saja yang mendapatkan cinta dari Basri Adam. Tapi ternyata ada perempuan lain dalam kehidupan Basri Adam. Akankah Riana bertahan dalam pernikahan mereka? Bukankah menjadi yang kedua sama sekali tidak pernah menjadi pilihan hidup Riana? Dilema itu menghadirkan banyak sekali kisah. Berangkat dari sebuah kisah nyata novel ini dikemas cantik oleh penulisnya.
Lihat lebih banyak“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.”
Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.”Pernikahan Indah itu akhirnya digelar Riana merasa sangat bahagia dengan apa yang sudah dia dapatkan saat ini. "Sarapan dan kopinya sudah siap."Riana bicara sambil memeluk Basri Adam dari belakang."Uhhh. . Menyenangkan sekali, memiliki istri memang selalu begitu, menyenangkan dan membahagiakan. Dulu ketika Bundamu masih hidup dia selalu saja melayaniku dengan baik."Basri Adam berbicara sambil matanya menerawang. Ada cemburu cemburu kecil yang mulai muncul di hati Riana. Sejak dulu Basri Adam selalu begitu, tidak pernah berhenti memuji istrinya. Sepertinya perempuan yang paling baik di dunia ini hanyalah istrinya. Basri Adam duduk di ruang makan sambil menikmati makan paginya. Sesekali dia menyeruput air putih yang ada di samping piring lebarnya. Riana memperhatikan itu. 'Tumben dia makan dengan lahap biasanya selalu bilang bahwa masakan almarhum istrinya adalah masakan yang paling enak di dunia.'Riana melihat Basri Adam dia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh s
Sebuah rumah mewah dibelikan oleh Basri Adam untuk Riana."Rumah ini terlalu besar untuk kami." Riana berbicara kepada Basri Adam. "Tidak perlu khawatir aku akan memberikan beberapa pembantu untukmu supaya kamu dan Anindita tidak kesepian lagi pula aku juga akan sering datang dan tinggal di sini."Basri Adam mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Riana membelalakkan matanya."Maksudnya?" Riana sengaja menggantung kalimatnya. "Aku ingin menikah denganmu, dan pernikahan itu tidak ada hubungannya dengan rumah pemberianku ini. Rumah ini sebagai tanda sayangku padamu yang tidak pernah bisa aku wujudkan dan baru bisa aku wujudkan saat ini."Riana menitikkan air mata karena terharu. Kehidupannya yang sakit berbulan-bulan yang lalu rasanya tertebus hari ini. Basri Adam telah memanjakannya."Besok aku akan datang dengan penghulu dan kita akan menikah.""Tapi apakah itu tidak terlalu terburu-buru?""Tidak Riana semakin cepat maka akan semakin baik."Riana tidak bisa lagi menolak permintaan
Riana melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Basri Adam sementara Anindita berada di dalam gendongan Basri Adam. Rasanya puas sekali bisa membuat Jonathan terpuruk dan terkalahkan. Selama ini Jonathan begitu sombong, dia tidak pernah mau menerima kekalahan sama sekali. Riana masuk ke dalam mobil, dia duduk tepat di samping Basri Adam. "Ayah hebat! Ayah sangat hebat!" Anindita memuji Basri Adam membuat Basri Adam tersenyum kemudian mengusap rambut gadis kecil itu. Kemudian semuanya terdiam, hening tanpa suara sepertinya mereka sengaja menjaga perasaan mereka masing-masing. Sopir mengemudikan mobil mewah milik Basri Adam. Setibanya di hotel mereka berdua turun. Basri Adam berbisik pada ajudannya dan sang ajudan pun menganggukkan kepala. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Basri Adam yang berjalan bersama Riana, mereka memasuki lift kemudian menuju ke kamar Riana.Riana melepas alas kakinya lantas masuk ke dalam toilet kamar dan Basri Adam duduk di sofa sambil menuangka
Jonathan keluar dari dalam rumah dia terkejut melihat Riana dan Anindita sudah berada di rumahnya. "Untuk apa lagi kamu kemari?"Jonathan bertanya sambil memandang rendah ke arah Riana dan Anindita."Pasti untuk mendapatkan hak atas rumah yang saat ini mereka tempati. ." Ajeng menghina Riana kemudian dia memeluk Jonathan di depan Riana dan anindita."Kedatangan ku kemari untuk membeli rumah itu! Cepat keluar kan sertifikatnya dan kita buat surat perjanjian!"Riana tidak memperdulikan mereka dia berbicara sesuai dengan apa yang dia inginkan. "Kamu mau membeli rumah itu? Dengan harga berapa? Dapat uang dari mana? Jangan berpura-pura, pasti kamu sudah punya rencana licik kan?"Jonathan mengucapkan kalimat itu sambil ibu jarinya menunjuk-nunjuk wajah Riana."Kamu tidak perlu banyak bicara keluarkan sertifikatnya dan aku akan langsung mentransfer kan uangnya ke rekeningmu!""Ha ha ha. ."Ajeng tertawa terbahak-bahak. "Pasti setelah sertifikat ada di tanganmu kamu akan langsung lari dan m
Setelah Anindita dinyatakan sembuh Riana mulai kembali berani menerima beberapa tawaran untuk menjadi moderator. "Mama berangkat dulu ya..""Mama mau ke mana?""Mama mau mengisi acara, siapa tahu nanti ada rezeki untuk kita."Riana berbicara sambil mengusap-usap rambut Anindita. Pertengkaran anta
Dua hari berselang setelah kepergian Jonathan.Anindita demam, panasnya tinggi, Riana panik."Ya Allah apa yang terjadi denganmu, Nak?"Riana menyentuh pipi Anindita.Kemudian dia bergegas mengambil termometer yang tersimpan di laci meja kamar Anindita.Tertera di termometer tersebut angka 39.Rian
"Aku bisa saja menjual rumah ini aku hanya memikirkan kepentingan Anindita."Riana ingin melawan Jonathan meski sebenarnya dia merasa ngilu melakukan itu."Kamu tidak usah berpura-pura baik. Anindita semakin lama akan semakin dewasa dan dia akan menemukan takdirnya sendiri tidak usah dihubung-hubun
"Tok tok tok tok.""Tok tok tok tok.""Tok tok tok tok."Riana yang sedang menyuapi Anindita bergegas menuju ke ruang tamu untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu begitu terburu-buru. "Anin makan dulu ya, Mama ke depan sebentar."Saat Riana mengintip dari celah pintu darah Riana terkesiap.Rian


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan