LOGIN"Cepat antar saya sekarang juga!" perintah Manda pada seorang sopir yang sedang mengelap mobil di halaman rumah keluarga Moreno.Sopir itu terhenyak, hingga melongo melihat Manda yang sedang membuka pintu mobil bagian belakang dan terburu-buru masuk ke dalam mobil. Ia tersadar setelah mendengar suara pintu yang ditutup lumayan keras. Detik itu juga masuk ke dalam mobil, dan bersiap mengemudi. "Kita akan ke mana, Nona?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil."Jalan saja dulu." Manda meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua matanya terpejam, mencoba menenangkan diri. 'Aku baik-baik saja. Aku bisa melewati semua ini. Kebahagiaanku yang utama,' batinnya mengulang mantra yang pernah diberikan dokter psikiater padanya.Mobil berjalan keluar dari area rumah besar itu. Terlihat dari kaca spion mobil, Lily berlari sambil menangis mengejarnya. Di sampingnya ada Leon yang sedari tadi mengejarnya seraya memanggil namanya. Air mata Manda menetes melihat Leon yang terlihat bingung antar
Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung. Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan. "Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya. Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya. "Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan. "Kalian--" "Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat
Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t
Suasana pemakaman berjalan lancar. Tidak banyak yang hadir mengantar kepergian Gracia. Leon terlihat menahan tangisnya.Namun, itu tidak berlaku untuk Lily. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu di makam ibunya. Daniel berdiri di sisi lain, berhadapan dengan Leon. Di sampingnya berdiri Marina yang ikut serta mengantar jenazah Gracia untuk yang terakhir kali. Setelah acara pemakaman selesai, Daniel bersama dengan Marina meninggalkan pemakaman bersama dengan yang lainnya. Manda masih berada di sana bersama dengan Leon dan juga Lily yang masih menangisi kepergian mamanya.Setelah beberapa saat, akhirnya Lily berhasil dibujuk oleh Manda dan Leon. Gadis kecil itu mau meninggalkan makam dengan adanya perjanjian di antara mereka."Kak Manda gak boleh pergi," ujar Lily dengan tatapan memohon. "Aku gak mau sendirian." Sepasang mata mungilnya berkaca-kaca.Manda tidak tega melihat Lily yang memeluknya dengan sangat erat. Gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Selama perjalanan Lily meneteskan
Manda menoleh ke arah sumber suara. Sosok wanita paruh baya yang berdiri di tangga sedang menatap tajam padanya."Kita pergi sekarang," ujar Marina sambil berjalan menghampiri putrinya.Manda melangkah mundur menghindari mamanya yang hendak menggandeng tangannya. "Enggak, Ma," tolaknya. "Manda akan menemani Lily. Dia pasti sangat sedih mengetahui ma-""Kenapa harus kamu?!" tanya Marina dengan meninggikan suaranya. Manda menatap marah padanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan Marina dan naik ke lantai atas."Manda!" bentak Marina."Lily ada di atas, kan?" Manda berjalan menaiki anak tangga."Di dalam kamarnya, Nona," jawab nenek kepala pelayan yang berdiri di dekat Marina.Manda mempercepat langkahnya menuju kamar Lily. Di bawah sana, Marina masih saja berteriak memanggil nama putrinya.Nenek kepala pelayan menghela napas melihat majikannya yang tidak bersikap elegan layaknya nyonya-nyonya besar di luaran sana. "Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Gracia," gumamnya sambil berja
"Pesta pertunangan kita sudah ditentukan." Senyuman Vania merekah. Terlihat binar kebahagiaan yang tersirat jelas dari kedua matanya.Kopi dan cake yang terhidang di meja menyita perhatian Leon. Sang pewaris dari keluarga Moreno lebih tertarik untuk menikmati hidangan di depan matanya daripada mendengarkan ocehan Vania."Leon!" panggil Vania. Suaranya meninggi. Leon meneguk kopinya setelah menelan cake yang baru saja dinikmatinya. "Teruskan saja. Aku mendengarnya," ujarnya santai.Vania memasang wajah cemberut. "Apa hanya aku saja yang senang dengan pertunangan ini?!" tanyanya kesal. "Sepertinya iya," jawab Leon tanpa beban."Leon!" bentak Vania.Leon mengalihkan pandangannya pada Vania yang duduk di hadapannya. "Apa hakmu membentakku?" tanyanya dengan tegas. Tatapan matanya tajam, menyiratkan rasa tidak suka.Seketika nyali Vania menciut. Ia menutup rapat bibirnya dan menundukkan pandangan matanya."Jangan coba-coba mengaturku, Vania. Ingat itu!" tegas Leon. Ekspresi wajahnya mengu







