MasukMateo, seorang pria yang dihantui masa lalunya, terpaksa hidup menyendiri setelah terjerat kasus pembunuhan. Anonimitas yang dia bangun dengan hati-hati hancur ketika bertemu Hillary, seorang wanita kaya dan sombong yang tanpa sadar menjadi umpan bagi Serina, seorang jurnalis investigasi yang menyelidiki kisah Mateo yang terlupakan. Mereka membentuk aliansi tak terduga, didorong oleh keinginan mengungkap kebenaran di balik kejahatan keji itu. Saat mereka menelusuri jaringan berbahaya, Mateo, Hillary, dan Serina harus menghadapi musuh mereka sendiri dan mendorong batas keyakinan untuk menegakkan keadilan. Akankah aliansi mereka berhasil, atau bayangan masa lalu akan menghancurkan mereka?
Lihat lebih banyakBairro Alto, Lisbon.
Angin musim semi bertiup lembut, menyisir jalanan berbatu yang sempit dan berkelok. Langit di atas tampak jernih, seolah baru saja dicuci bersih oleh tangan Tuhan sendiri. Namun, yang membuat Hillary mendesah bukanlah keindahan langit atau semilir angin—melainkan papan nama restoran reyot di hadapannya, Casa do Miojo. Papan kayunya menggantung miring, tulisannya pudar, dan cat dindingnya mengelupas seperti kulit terbakar matahari dalam waktu lama. Sekilas, tempat ini tampak seperti tempat yang menjual nostalgia murahan dengan menu yang kemungkinan besar berpotensi menyebabkan diare. Namun, Hillary tetap melangkah masuk. Demi berkencan dengan Shohei, dia harus menuntaskan satu misi kecil yang dipercayakan Serina padanya: dapatkan nomor pria bernama Mateo. Dia menarik napas pendek sebelum membuka pintu. Aroma kuat langsung menghantamnya, perpaduan antara minyak goreng bekas, kecap asin, dan sesuatu yang tak bisa dia kenali. Dia hampir mundur, kalau saja suara Serina tak kembali mengiang di kepalanya. "Aku yakin, cuma kau yang bisa mendekatinya tanpa takut pipimu ditampar." Di dalam warung kecil itu, hanya ada satu pria. Dia berdiri di balik meja kasir, membelakangi pintu. Saat pria itu berbalik, mata mereka langsung bertemu. Tatapannya datar. Dingin. Hillary menahan napas. Wajahnya tak mencolok. Rambut berantakan seperti tak sempat bersentuhan dengan sisir. Dia mengenakan kaus hitam polos dan celemek pudar yang tampak seperti telah bertugas sejak matahari terbit. Jadi ini Mateo Carvalho. Pemilik tempat kumuh ini, pikir Hillary. “Silakan duduk,” ucapnya datar. Suaranya nyaris tanpa intonasi, seperti membaca manual servis blender. Dengan enggan, Hillary duduk di salah satu kursi pelanggan yang—kalau dipikir-pikir—tak kalah menyedihkan dari interior lainnya. Tak lama, pria itu datang membawa semangkuk mi berkuah merah menyala, lalu meletakkannya di depannya. “Aku belum pesan,” protes Hillary, bingung. “Hanya ada satu menu di sini,” jawabnya singkat. Hillary terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, ingin mengucap sesuatu, tapi tak jadi. Mangkuk itu hendak diambil kembali, tapi Hillary buru-buru menahannya. “Baiklah,” katanya, setengah pasrah. “Aku akan makan.” Pria itu kembali ke tempatnya tanpa komentar. Seolah semua ini rutinitas, dan Hillary hanya bagian dari antrean kebosanan yang datang dan pergi. Hillary menatap mi itu penuh curiga. Dia tak menyentuhnya. Dia hanya duduk, berpura-pura menikmati, sambil sesekali mencuri pandang ke arah pemilik warung yang misterius itu. Beberapa menit berlalu, terasa seperti seabad dalam ruang kecil yang dipenuhi keheningan dan aroma mi yang menggantung di udara. Hillary akhirnya bangkit, melangkah anggun menuju meja kasir. Langkahnya ringan, seolah berniat menutup kunjungan ini dengan kesan baik. “Aku tak menyangka, warung sekecil ini bisa menyajikan rasa sekompleks itu,” ucapnya, berusaha terdengar tulus. Senyumnya hangat, atau setidaknya dibuat sedemikian rupa. Namun, pria di balik meja tetap diam. Tak ada anggukan. Tak ada gumaman terima kasih. Hanya tatapan datar yang sama, seperti dinding batu yang menolak ditembus. Benar kata Serina. Pemilik warung ini memang bukan tipe yang ramah. Hillary sempat bertanya-tanya apa yang membuat Serina begitu tertarik. Dari segi wajah, pria ini bahkan tak bisa menyaingi tali sepatu Shohei. “Takkan membayar?” tanyanya tiba-tiba. Nada suaranya tak marah, tapi tajam. Wajah Hillary memanas. Jika dia mau, dia bisa membeli warung ini, bahkan seluruh bangunan tua ini dan menjadikannya kantor administrasi yang baru. Namun, sekarang bukan waktunya untuk menunjukkan taring. Dengan tenang, dia membuka dompet dan mengeluarkan uang dengan nominal paling besar. Pria itu mengambilnya tanpa komentar, lalu mengembalikan sisa uang dengan gerakan cepat dan sunyi. Dan di situlah, Hillary mengeluarkan senjatanya. “Aku manajer di sebuah perusahaan,” katanya, suaranya ringan, tapi penuh niat. Dia memamerkan senyum khas dunia korporat—manis, sopan, dan sedikit berbahaya. “Teman-temanku di kantor mungkin tertarik untuk memesan makanan dari sini. Boleh aku minta nomormu?” Dia menyodorkan ponselnya, layar menyala, siap merekam nomor. Pria itu menatap benda itu seperti sedang ditawari racun. Hillary tetap tersenyum, menyembunyikan rasa jengkel yang mulai mengusik. “Kau tahu, orang kantor sangat menghargai efisiensi. Jika ada nomor yang bisa dihubungi, mereka bisa memesannya secara online.” Hillary mengulurkan ponselnya sedikit lebih jauh, nadanya tetap tenang tapi tegas. Profesional. Pria itu menatap ponsel itu sejenak, lalu menarik napas perlahan. Alih-alih mengambilnya, dia meraih secarik kertas kusut di dekat mesin kasir dan mencoretkan sesuatu dengan pulpen. “Hubungi nomor ini,” katanya tanpa ekspresi. “Kami tak melayani pesan antar. Kalau mau beli, suruh mereka datang sendiri.” Hillary menerima kertas itu, menatap angka-angka yang tergores di permukaannya, lalu menatap kembali ke arah pria itu, yang sudah kembali sibuk di balik dapur. Senyumnya melebar seketika, nyaris mencapai telinga. “Terima kasih! Semoga bisnismu lancar!” serunya dengan suara ceria, sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi dengan ringan. Pintu warung tertutup di belakangnya, dan dia berjalan ke arah mobil dengan langkah kecil penuh semangat. Begitu pintu mobil tertutup, dia meledak. “AKU DAPAT NOMORNYA!” Serina yang duduk di kursi penumpang langsung menoleh dengan ekspresi kaget dan skeptis. “Dia tulis nomornya! Di kertas ini! Kau tahu apa artinya?” Hillary nyaris berjingkat di balik kemudi, mengibaskan kertas lusuh itu seperti bendera kemenangan. “Tinggal tunggu kau atur kencan dengan Shohei. Aku sudah menunaikan bagianku!” Serina menyambar kertas itu, alisnya berkerut, matanya menyipit seperti sedang memeriksa keaslian uang palsu. “Kau serius? Mateo Carvalho memberikannya begitu saja?” Hillary mendesah panjang, puas. “Aku pakai akal. Sedikit pujian, sedikit akting tertarik, lalu ... boom! Nomor jatuh ke tangan.” Serina tampak masih belum percaya. “Tapi ... kau makan mi-nya? Aku lupa bilang ... kau masih punya usus buntu sensitif, ‘kan?” Hillary memutar bola matanya dengan dramatis. “Tentu saja aku takkan mengisi perutku dengan sesuatu yang tampak seperti bencana gastrointestinal.” Dia menyandarkan tubuh, menepuk perut kosongnya. “Sekarang aku sangat lapar. Ayo, cari tempat makan yang layak!" Hillary menyalakan mobil, dan keduanya melaju menjauh dari Casa do Miojo. *** Mateo berdiri lama, menatap mangkuk yang baru saja ditinggalkan. Kuahnya masih utuh, hampir seperti baru disajikan. Topping-nya pun tak tersentuh. Sangat bertolak belakang dengan pujian manis yang sempat keluar dari mulut perempuan itu. Alisnya mengerut. “Bohong,” gumamnya pelan, sebelum menghela napas panjang, seolah mengusir rasa janggal yang tak bisa dijelaskan. Suara mesin mobil dari luar membuatnya menoleh. Di balik kaca jendela yang buram, dia sempat menangkap bayangan wajah perempuan itu lagi. Senyum percaya dirinya begitu kentara, seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu. Ada rasa curiga yang mengendap pelan-pelan. Tapi sebelum sempat merenungkannya lebih jauh, pintu warung terbuka lebar. Sosok Mira muncul, menyeret masuk dua kantong plastik besar di tangannya. “Apa-apaan ini?” keluh Mateo, buru-buru menghampiri dan mengambil alih. “Kubilang beli seperlunya. Kau pikir dapur kita restoran hotel bintang lima?” “Ada diskon besar! Tiga ikat sawi hanya satu euro lima puluh! Gila, bukan? Lagi pula, kulkas kita sedang kosong,” jawab Mira santai. Mateo melirik isi kantong tersebut. Sayur-mayur segar memenuhi plastik belanja itu, berdesakan seperti penumpang di bus jam pulang kerja. Beberapa batang sawi mencuat ke luar, seakan-akan mengangkat tangan dan berkata, "Kami di pihak Mira!” “Kita cuma berdua. Dan kau sendiri bahkan jarang makan sayur,” kata Mateo ketus. “Semua ini akan membusuk sebelum sempat dimasak.” “Kalau begitu, gunakan saja untuk tambahan menu di warung! Banyak orang menyukai mi dengan sayuran. Nih, lihat!” ucap Mira sambil mengangkat ponsel, memperlihatkan sebuah video. “Lihat tren TikTok sekarang. Semua pedagang mi memberikan topping hijau-hijau agar kelihatan lebih sehat.” Mateo menghela napas panjang. Tak ada gunanya berdebat dengan Mira. Begitu adiknya memiliki ide, seluruh dunia seolah wajib menyesuaikan diri. Dia pun menyimpan satu per satu sayuran ke dalam kulkas, sembari tetap mencuri pandang ke arah Mira yang kini duduk santai di bangku pelanggan, mata adiknya terpaku pada layar ponsel. “Tadi ada seorang perempuan datang. Dia meminta nomor kita untuk memesan makanan,” ucap Mateo datar. Mira langsung mendongak, matanya berbinar. “Terus? Kakak memberikannya?” Mateo mengangguk malas. “YES!” seru Mira, melompat dari tempat duduknya. “Akhirnya! Aku sudah bilang! Kita harus mulai memikirkan ekspansi. Ini era digital, Kak! Layanan antar, pre-order, sistem langganan ... Kakak harus lebih fleksibel!” “Bukan layanan antar,” potong Mateo. “Aku menyuruhnya datang sendiri mengambil pesanannya.” Wajah Mira langsung berubah datar. Semangat yang tadi membuncah seketika surut. “Hah? Kak ... itu bukan layanan. Itu merepotkan pelanggan, tahu!” Mateo tak menjawab. Dia kembali menyibukkan diri merapikan dapur. Sementara Mira mendengus kecewa, lalu berjalan naik ke lantai atas sambil terus mengomel tentang betapa keras kepalanya sang kakak dalam mengelola usaha. Dalam diamnya, Mateo melirik ke arah mangkuk mi yang masih utuh di atas meja. Entah mengapa, dia merasa sedang dihadapkan pada dua teka-teki sekaligus—perempuan penuh senyum yang tak menyentuh makanannya, dan adik perempuannya yang tak pernah kehabisan ide. *** Di apartemen Serina. Suara flush dari kamar mandi menggema. Tak lama, Serina keluar dengan ekspresi lega. Di kamarnya, Hillary sudah berbaring di atas kasur, mengenakan piama satin, masker menempel di wajahnya, dan sebotol air lemon di atas meja samping. Besok adalah hari besar, momen yang telah lama dinantikan Hillary, bertemu langsung dengan Shohei, pemain bisbol Jepang favoritnya. Maka malam ini menjadi ritual sakral; mandi bunga, spa, masker, pijat wajah. “Kau harus ikut alurku besok,” kata Serina, mengambil masker sebelum duduk di pinggir ranjang. “Aku yang akan mengatur kapan kau bisa bicara dengan Shohei. Jangan lakukan hal aneh. Kalau proyek ini gagal, aku yang kena imbasnya. Mengerti?” "Aku wanita profesional," jawab Hillary, menepuk-nepuk pipinya dengan ujung jari. "Tak perlu khawatir." Serina mengangguk, lalu meraih ponselnya. Jemarinya menggulir daftar kontak hingga berhenti pada satu nama, Mateo Carvalho. "Menurutmu ... harus kuhubungi sekarang?" tanyanya, setengah ragu. Hillary membuka satu mata, melirik malas. "Tuhan … kau sudah dewasa. Hal begini saja harus tanya? Kalau mau, hubungi saja. Tapi serius, apa bagusnya dia? Shohei-ku seribu kali lebih tampan.” “Aku rasa dia cukup tampan,” jawab Serina, jujur. Hillary mendadak tergelak. “Astaga, kau bicara soal pemilik warung itu? Jangan konyol! Kau jurnalis keren, punya koneksi luas, bisa dapat siapa saja. Cinta memang buta, tapi bukan berarti harus tuli juga. Suatu hari nanti kau akan sadar, bahwa kau sedang buang-buang waktu memperjuangkan pria sepertinya.” Serina terdiam. Dia hanya mengatakan pendapat jujur, tapi arah percakapan berubah liar. Apakah Hillary mengira dirinya tertarik secara romantis pada si pemilik warung? Dan kenapa jadi soal cinta? Dia hanya ingin menghubunginya, bukan menikahinya. Namun komentar Hillary, meski tak sepenuhnya ditujukan padanya, tetap terasa menusuk. "Perkataanmu kejam," gumamnya kecewa. “Aku tak bilang dia orang jahat,” sahut Hillary santai, mencoba menjaga ekspresi agar masker wajahnya tak retak. “Tapi kau terlalu istimewa untuk hidup bersama orang sepertinya. Dia yang seharusnya merasa beruntung.” Serina mengerjapkan mata. "Sudah. Aku akan menghubunginya sekarang," putusnya tegas. Hillary hanya mengangkat bahu, kembali larut dalam ketenangan dan wewangian bunga. Serina menekan tombol panggil. Beberapa detik hening … hingga akhirnya tersambung. “Halo, siapa ini?” Suara perempuan. Dada Serina menegang. Sejenak, dia terdiam, seperti mencoba memastikan bahwa ini bukan salah sambung. Perlahan, dia menoleh ke Hillary, yang tadinya santai kini duduk tegak. Tatapan mereka bertemu. “Dia ... punya pacar?!” Hillary memekik, separuh syok, separuh geli.Serina mematikan televisi tidak lama setelah siaran wawancara singkat usai. Dia tidak bisa memikirkan cara apa pun untuk mengorek informasi dari Lemuel, bahkan pria itu dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik.Stuart juga ada di sana, menyaksikan hal yang sama tadinya. Setelah selesai menonton, dia pun berkata, "Sekarang kau membuat orang-orang bersimpatik padanya. Apa sebelum mewawancarai, kau tidak memikirkan soal dia yang akan menjawab dengan sangat baik?"Ponsel Serina berdering. Dia mengangkat panggilan telepon begitu saja. "Halo?""Halo, Wartawan Serina."Serina seketika menjadi tegang saat mendengar suara di seberang sana. Dia melihat kembali sejumlah nomor tidak tersimpan yang ada dalam layar, tidak menduga kalau dia akan dihubungi oleh Lemuel."Anda pasti terkejut, karena saya menghubungi begitu tiba-tiba.""Ah, ya ... saya tidak pernah menduganya."Serina keluar dari ruangan, meninggalkan raut kebingungan di wajah Stuart. Dia mencari sudut yang aman untuk mereka bicara,
Serina mencebik, tidak suka dengan Stuart yang memberikannya pekerjaan secara tiba-tiba, bahkan dia tidak jadi ditraktir oleh Mateo, karena harus singgah ke Meteor Media untuk menyelesaikan beberapa hal."Aku sedang sibuk menyelesaikan proyek besar dan kau selalu menambah pekerjaanku. Bukankah gajiku yang sekarang tidak akan sepadan dengan kesetiaanku terhadap perusahaan ini?""Sibuk bagaimana? Kau belum memperlihatkan kemajuan apa-apa selama satu minggu ini," ucap Stuart.Serina mengernyitkan alis. "Itu karena kau terus-menerus memberikan pekerjaan yang begitu banyak padaku!""Kau yakin bukan karena Mateo yang harus melindungi sahabatmu? Mungkin kau perlu diingatkan pada tugasmu yang sesungguhnya yaitu mencari informasi mengenai pembunuhan yang melibatkan tuan Conor. Jangan sampai tujuanmu berubah arah menjadi yang lain."Stuart melemparkan dokumen yang dibacanya sejak tadi ke atas meja. "Kita tidak punya waktu untuk bermain-main, Serina," ucapnya, kemudian keluar dari ruangan.Serin
Serina meletakkan kedua belah tangan di pinggang, menatap sepeda motor yang akhirnya menjadi pilihan. Dia sudah menghubungi sang sahabat untuk persoalan biaya dan sekarang sedang menunggu respons Hillary."Kau yakin dengan pilihanmu? Hillary tidak akan senang mendengarnya.""Yang aku perlukan hanyalah sepeda motor, mahal atau tidak bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan. Selama mesinnya bisa berfungsi dengan baik, maka itu sudah cukup.""Tapi sekarang bukan mahal atau tidak mahal sebagai pilihanmu, tapi baru dan tidak baru. Bagaimana jika keputusanmu diubah? Kita akan membeli yang baru, bukan yang bekas."Tepat pada kalimat terakhir, Mateo menerima telepon. Dia melihat ke arah Serina yang menatap bingung padanya, lantas dia mengangkat panggilan tersebut."Halo?" Mateo berkata."Kau ingin agar aku berutang budi padamu sampai mati?"Serina mendengar suara sang sahabat dari ponsel Mateo. Dia melipatkan tangan di dada sambil berekspresi tidak peduli, sudah tahu kalau hal seperti ini akan
Dua hari tersisa, Mateo hanya berjaga di sekitar The Pearl Villa. Hillary tidak mengerjakan aktivitas apa pun di luar kediaman selama memulihkan diri, mungkin benar-benar sudah memutuskan hidup dengan baik.Bahkan, akibat kondisinya yang buruk di pertengahan pesta kemarin, Hillary sampai memanggil dokter keluarga ke vila, hal yang sudah lama tidak dilakukan karena sebelumnya dia yang menghampiri sang dokter supaya meresepkan obat untuknya ketika usus buntu meradang.Mateo menoleh ke lantai dua, mendapati Hillary sedang berbicara dengan sang dokter. Saat ini dia mengambil waktu untuk merokok sebentar, tiba-tiba jadi terpikirkan mengenai hal apa yang akan dilakukannya setelah masa kerja menjadi pengawal selama satu minggu usai.Beberapa batang rokok habis bertepatan saat sang dokter muncul di lantai bawah, tampak sudah akan pergi. Mateo menoleh lagi ke arah jendela besar yang diketahuinya merupakan milik kamar Hillary. Wanita itu sedang melihat pula ke arahnya, langsung berpaling dan pe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak