LOGINLuluh gak nih Ta?
Pukul enam pagi, Geza sudah duduk di teras. Satu tangannya menggulir layar iPad, sementara ponsel terjepit di antara bahu dan telinganya. Tangan kanannya sibuk membuat catatan dan skema di sebuah buku tulis yang Tala duga milik Dion. Pria itu tampak sibuk. Dari percakapannya, Tala samar-samar mendengar nama Meridian. Geza juga beberapa kali menyebut LTS, perusahaan milik Nadira yang kini sedang dalam proses pembenahan. Tala berdiri tak jauh dari tembok, memegang secangkir kopi sachet murahan dengan uap yang masih mengepul. Jelas bukan kopi yang sesuai selera Geza, tetapi hanya itu yang tersedia di rumah ini. Tala menduga lawan bicara Geza sekarang adalah Rena. Cerocosannya yang khas terdengar samar dari seberang telepon. “Ini kopinya, Mas. Bukan selera kamu pasti, tapi cuma ada ini.” ujar Tala sambil meletakkan cangkir di dekat Geza setelah panggilan itu berakhir. ”Thank you, Ta. Saya suka kok.” Tala hanya mengangguk. Ia hendak berlalu ketika suara pria itu menghentikan langkahny
Geza bilang dirinya mengambil cuti selama tiga hari. Ini malam kedua ia menginap di rumah kerabat Tala dan, ya, kembali tidur di ruang tengah beralaskan kasur tipis. Besok pria itu akan pulang. Harus pulang.Di perkampungan itu, pukul sebelas malam suasana sudah sangat sepi. Tala sendiri sudah tidur sejak pukul sepuluh, tapi kini terbangun untuk pergi ke toilet.Begitu melewati Geza ia melihat tabletnya masih menyala, sementara pemiliknya terlelap. Mungkin baru saja tertidur. Tala melangkah pelan agar tak membangunkan pria itu.Kembali dari toilet, Tala mendapati Geza masih tidur tanpa selimut. Tablet itu pun masih tergeletak di samping wajahnya.Ada perasaan kecil yang mencubit hati. Ia akhirnya mendekat, mengambil tablet tersebut, lalu meletakkannya di atas meja. Setelahnya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya itu. Cuaca di sini sungguh dingin, apalagi menjelang subuh nanti.Ia hanya merasa kasihan. Bukan apa-apa.Dengan gerakan perlahan, Tala membentangkan selimut yang
Dion dan Ainun sudah berangkat sejak lima menit lalu diantar Mira, sementara Pakde Hanto tampak sedang mengasah perkakas di halaman belakang. Tala lega. Setidaknya, sampai Mira datang, ia tidak harus berdua saja dengan Geza. Bukan apa-apa. Ia hanya takut kembali terbujuk oleh Geza seperti sore kemarin, ketika pertahanannya nyaris runtuh. Lebih buruk lagi kalau mereka kembali berdebat. Tala menghampiri Pakde Hanto yang duduk di bangku depan, lalu mengambil tempat di sebelahnya. “Pakde nggak ke kebun?” tanyanya. “Nanti, sebentar lagi,” jawab pria yang usianya hampir tujuh puluh tahun itu. Rambut Pakde Hanto sudah memutih seluruhnya, tetapi fisiknya masih sangat bugar. Ia bahkan masih sanggup menggendong Sansa bolak-balik ke kebun tanpa terlihat kelelahan. “Nduk, udah bikinin suamimu kopi? Tadi Pakde lihat dia sedang bekerja, ya.” Tala mengangguk kecil. Memang tadi Geza sempat membuka tabletnya untuk bekerja. Namun, Sansa keburu menghampiri dan kini keduanya berada di ruang depan.
“Ta, minyak telon di mana?” Geza mengulang pertanyaannya karena Tala tak kunjung menjawab dan malah tertegun. “Di pouch, di atas travel bag,” jawab Tala akhirnya. Ia tak berniat menanyakan lebih lanjut untuk apa Geza mencari minyak telon sepagi ini saat Sansa masih tidur. Geza mengangguk, lalu kembali pergi. Mungkin kembali ke teras menemanin Pakde Hanto minum teh. Tak lama kemudian, pria itu muncul lagi di dapur. “Ta, baju Kuromi Sansa di mana? Dia udah mandi, tapi kekeh pengen pake baju itu.” Tala langsung tersentak. Ia sampai lupa kalau dirinya belum mengecek Sansa. Tadi, anak itu masih tidur ketika ia meninggalkannya untuk membuat sarapan. Baguslah Geza mengambil alih tugsanya. “Di koper Sansa,” jawab Tala santai. “Nggak ada,” sahut Geza. ”Emang udah cari?” ”Udah.” jawab Geza kekeh. “Ada, kok. Orang itu aku pisah-pisahin biar gampang carinya,” tegas Tala, masih bersikeras dengan jawabannya. Geza mengembuskan napas pendek. “Udah saya cari, Ta. Nggak ada.” “Cari yang be
Hari kedua, Geza tampaknya masih belum berniat pulang. Sore kemarin, Tala sudah memintanya kembali ke Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga kamar tidur. Tala sendiri menempati kamar Dion yang hanya diisi kasur single bed—sementara anak itu tidur bersama kakeknya. Jelas tak ada tempat lagi untuk Geza. Alhasil, semalam Geza tidur beralaskan tikar di ruang keluarga. Tala bahkan sudah menyarankannya menginap di hotel di pusat kota, tetapi pria itu tetap bersikeras menolak. Pagi ini, suaminya malah sudah duduk santai di teras sambil minum teh dan berbincang dengan Pakde Hanto. Tak hanya itu, Geza juga ikut membantu memotong ayam kampung yang kemarin dibicarakan Mira. Di luar dugaan, ternyata pria itu bisa mengurus hal-hal semacam itu. Terlepas dari masalah rumah tangga mereka, Mira dan Pakde Hanto menilai Geza secara objektif. Keduanya menerima kehadiran pria itu dengan tangan terbuka. Terlebih, Pakde Hanto hanya menduga Tala dan Geza sedang bertengkar, masalah
Hening menyelimuti teras setelah Ainun beranjak masuk. Geza duduk lesehan dengan kaki terjulur ke undakan teras, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuh untuk menyangga berat badannya. Di sebelahnya, Tala duduk bersila dengan tangan terlipat di atas lutut. Keduanya sama-sama memandangi hamparan pegunungan hijau di hadapan mereka. Sejak kedatangan Geza tadi, mereka belum benar-benar mengobrol. Mira lebih banyak mengambil alih percakapan, berusaha mencairkan kecanggungan di antara keduanya. Sampai akhirnya, Tala memutuskan untuk membuka suara. “Kamu tahu dari mana aku di sini?” Geza menoleh sekilas sebelum menjawab, “Dari akses panggilan kemarin. Saya minta orang melacak posisinya, sekalian mencari tahu pemiliknya.” Tala sontak menoleh. Dia menyewa hacker? “Harus segitunya?” tanya Tala, sedikit ketus. “Harus. Saya belum minta maaf soal omongan saya malam itu. Saya salah, Ta. Sangat salah. Maafkan saya." "Hmmm." hanya itu respon yang bisa Tala beri. "Dan saya juga pengen ket
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







