ANMELDEN“Bisa ternyata ya, Ta. Nikah sama orang yang kamu benci. Dulu dimaki-maki sekarang malah satu rumah.”Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum, tetapi Tala menangkap maksud lain di baliknya.“Begitulah, Mbak. Jodoh kan emang jorok,” balas Tala seringan mungkin.Ana—wanita usia pertengahan tiga puluh itu tertawa kecil. “Dunia kita ternyata sempit juga, ya."“Tapi udah gak dendam dong Ta.” sindirnya lagi.“Kalau dendam, saya gak mungkin nikah sama mas Geza.” balas Tala.Semoga cukup sampai di situ.“Hebat sih, Ta. Kamu bisa nerima dia. Kalau saya jadi kamu, lihat mukanya aja nggak mau.”Tala tersenyum tipis.Sungguh provokatif sekali.Padahal setahunya, dulu Ana dan Geza sama-sama berdiri di sisi yang sama—saling melindungi. Namun kenapa saat diungkit sekarang kesannya dosa yang Geza lakukan lebih besar?“Duluan ya.” Ana pamit, mengajak salah satu rekannya untuk bergabung dengan kelompok lain.Tala mengenal Ana empat tahun lalu, saat proyek kolaborasi antara Bhuwana dan firma tempatnya be
“Ta, kata Geza minggu depan ada gathering Bhuwana di Ciawi ya? Kamu ikut kan?” tanya bude Sinta sambil menyesap teh.“Nggak bude.” Tala menjawab sambil menyusun lego Sansa membentuk sebuah menara sesuai permintaan anak itu yang kini sedang ke toilet bersama sus Lia.“Lah kenapa? Ikut aja Ta, biar Sansa sama bude di sini. Udah anteng ini anaknya.” bujuk bude Sinta.“Bude nggak jadi pulang minggu depan kok,” imbuhnya.“Bude masih betah?”“Iya nih, Ta. Di sana paling mentok cuma ngemong cucu. Di sini juga sama, tapi ya mending di sini lah. Bisa ketemu banyak saudara sama teman-teman lama Bude,” jelasnya sambil tersenyum.Anak tunggal Bude Sinta sudah lama menetap dan bekerja di Jepang. Sementara itu, aset-aset warisan keluarga yang menjadi haknya dikelola secara profesional sehingga ia tak perlu direpotkan urusan manajemen yang memusingkan. Di masa pensiunnya, Bude Sinta memilih menikmati hidup dengan santai.“Ya udah bude di sini aja.”Sejujurnya Tala senang mendengar hal itu, hanya saj
Malam ini Tala memasak sendiri untuk makan malam. Dia hanya meminta Bi Yuni menyiapkan bahan-bahannya agar sepulang dari Janitra, ia bisa langsung mengeksekusi semuanya di dapur. Seluruh menu yang ia buat adalah makanan favorit Geza—yang beberapa waktu lalu sempat pria itu kirimkan lewat surel.Tala menyebut ini sebagai bentuk balas budi untuk semua kebaikan Geza. Terlebih soal tindakan pria itu yang pulang dinas lebih awal lalu berakhir mengorbankan waktu istirahat demi membawa Tala ke rumah sakit di pagi buta.“Sansa udah tidur?” tanya Geza begitu Tala membukakan pintu. Hal yang baru pertama kali Tala lakukan dengan sukarela setelah hampir setahun berstatus istri. Ya…walaupun hanya istri kontrak.“Udah tadi. Ayo makan dulu!” ajak Tala.Geza mengekori sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.Di meja makan, semur daging kentang, tempe cabe ijo, sambal, dan beberapa lauk sederhana sudah tertata rapi. Geza menatapnya sekilas, lalu mengangkat alis.“Tumben masakin buat saya. Dalam
“Kemarin adik ipar makan siang bareng sama seniornya. Akrab juga ya, atau emang udah terlalu akrab?”Kalimat nyeleneh itu sukses menghentikan langkah Geza di lobi Janitra.Sebagai GM perusahaan properti kelas kakap seperti Bhuwana, kehadiran Geza di Janitra sebenarnya adalah sebuah anomali. Karena itu ia selalu membungkus kedatangannya dengan alasan makan siang bersama istri. Setelahnya, ia kerap melipir ke ruangan Suwandi untuk diskusi.Namun di kalangan direksi dan pemangku kepentingan, semua sudah paham. Geza adalah penggerak di balik layar dan punya pengaruh banyak di Janitra. Label licik, manipulatif dan kurang ajar jelas sudah lama melekat padanya—dan Geza tak pernah merasa perlu membantah satu pun.“Ngajak makan siang? Kecolongan start lo, Tala udah makan.” Raga masih ingin bermain-main.Geza hanya menyeringai tipis. Ia malas meladeni kakak tirinya terlalu lama. Sejak kecil mereka tidak pernah akur, dan sepertinya itu tidak akan pernah berubah.“Thanks for the info.”“Congrats
Sejak perayaan ulang tahun di preschool, kado terus berdatangan dari kerabat terdekat, termasuk kiriman dari Dharma dan Ratna. Bahkan, mereka sempat datang langsung ke rumah dengan dalih menjenguk, namun berakhir dengan basa-basi yang dingin dan ancaman halus mengenai status nikah kontrak Tala.Yang tidak Tala duga, Adrian juga ikut memberikan kado. Ia memang selalu baik pada semua orang, tapi ada sesuatu yang membuat hati Tala sedikit hangat melihat caranya memperhatikan Sansa—padahal mereka baru bertemu satu kali.Sebagian kecil dari dirinya sempat merasa senang, bahkan bisa dibilang ‘geer’. Tapi ia buru-buru menepisnya. Ada tembok besar yang jelas berdiri di sana.“Tala.”Panggilan itu membuatnya tersentak dari lamunan. Ia baru sadar sejak tadi menatap bingkisan berwarna merah muda di atas meja.“Titip ya, Ta. Buat Sansa,” ujar Adrian sambil menyodorkan paper bag itu sedikit lebih dekat.“Oh iya, Thank you, Kak. Sampai repot-repot gini.”“Sama sekali gak repot, cuma aku gak tau pre
Geza adalah si manipulatif yang tak punya hati. Begitulah yang selalu ada di benak Tala. Namun interaksi dan perlakuannya pada Sansa selalu membuat Tala goyah, membuat Tala lupa kalau pria itu berbahaya.Dua hari lalu ia begitu bersemangat menyiapkan perayaan ulang tahun untuk Sansa, menyiapkan dekor yang begitu cantik dan semua perintilannya sesuai permintaan Sansa. Ia melakukannya sendiri.Sendiri.Hal yang tak mungkin dilakukan seorang Geza.Ulang tahun Sansa yang kedua jatuh tepat tujuh hari setelah meninggalnya Arka dan Jani. Tak ada perayaan apa pun. Saat itu semua orang masih sibuk berduka dan menghadapi trauma Sansa.Karena itu, tahun ini Geza ingin merayakannya dengan meriah. Selain untuk menyenangkan Sansa, perayaan besar juga bisa menjadi publikasi yang baik bagi keluarga mereka.Sangat manipulatif bukan? Selalu mengambil manfaat dari setiap hal.Sebaliknya, Tala lebih memilih acara yang sederhana dan privat. Baginya, yang terpenting adalah memastikan Sansa benar-benar meni
“Eh, saosnya mana?”“Sodanya gue simpen di sini ya.”“Itu dagingnya gosong, Mas, yang bener bakarnya.”Suara itu saling bersahutan di area taman belakang. Rumah Arka yang selalu sepi selama beberapa bulan ini tiba-tiba jadi ramai. Awalnya yang datang adalah Bude Saras dan bude lainnya—untuk menjeng
Empat hari bergelut dengan bau rumah sakit akhirnya Tala bisa pulang. Dua hari penuh Geza menunggunya di sana. Hari ketiga hanya setengah hari, ia keluar bersama Bastian dan Arvin—entah urusan genting apa yang sedang mereka selesaikan, mereka tampak buru-buru. Di hari terakhir, ia pergi ke kantor s
“Nggak lah, Bude.” Geza tersenyum kecil sambil mengusap punggung tangan Tala pelan. “Saya percaya sama Tala.”Ia berhenti sejenak, lalu menatap Tala sekilas dengan sorot mata yang sulit dibaca.“Kalau nggak percaya, saya nggak mungkin naruh banyak hal penting di tangan dia.”Sebuah ancaman.Sampai
Geza adalah tipe yang analitis. Ia selalu tahu saat ada sesuatu yang bergerak di luar pengawasannya, sekecil apa pun itu. Dan Tala sadar, sejak ia memutuskan memanipulasi site itu, ia sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis.Namun setidaknya, semalam ia berhasil menahan Geza tetap di rumah.I







