LOGIN"Hentikan semua ini, Evan! Kamu nggak bisa membodohiku." Grace berdiri di depan Evan, mengulurkan tangannya ke kanan dan kiri. "Aku tahu kamu sembunyiin sesuatu." Evan menyilangkan tangan di depan dada. "Jangan terlalu percaya diri. Dan tolong, tahu posisimu. Aku punya kekuatan untuk taruh orang lain menggantikan kamu." Di dalam ruangan yang sedikit remang itu, ia mencondongkan tubuh ke arahnya dan berbisik ke telinganya. "Atau, sebenarnya kamu lagi coba merayu aku? Berapa tarifmu untuk satu malam?" Setelah mendengarnya, Grace menampar wajah Evan seketika itu juga. Ia terdiam beberapa saat tidak percaya. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Kamu jahat banget, Evan. Aku-benci-kamu," katanya, patah hati. Dia berbalik dari pria itu tanpa basa-basi lagi. Evan menangis juga, melihat sahabatnya pergi. "Maafin aku, Grace. Aku harus lakuin itu. Kita nggak bisa bersama," katanya lemah. ~~~~ Grace dan Evan menjadi teman baik setelah dia menyelamatkannya dan ibunya setelah tabrakan lalu lintas. Persahabatan mereka tumbuh lebih kuat selama bertahun-tahun sampai mereka menjadi sangat menyukai satu sama lain. Namun, takdir mempermainkan mereka. Mereka harus berpisah selama bertahun-tahun, kehilangan kontak dan mengubur impian mereka. Ketika mereka akhirnya bersatu kembali di tempat kerja yang sama, semuanya tidak lagi sama seperti dulu. Copyright 2021. SairentoGaaru.
View MoreFrustrated, I attempted to retrieve the books from their hands, but they towered over me.
They stood before me, as they began tearing the books apart, a cruel act that felt like a personal attack.“Please, stop! They’re precious,” I pleaded but they didn’t stop, they continue laughing and smirking at me.The most bullies who are centered by other maids, suddenly said: “Wait what? I thought books from the library should be precious. Maybe we-“Another maid interrupted “Since when did you start playing the good cop? That’s a omega’s book! Rip it apart!”On hearing them say that, I fell on my both knees pleading.As an omega maid in the pack house, I’m used to enduring pains and humiliation from my fellow pack members even my peers, and the enduring of constant mistreatment had left me weary and it’s making me go insane, but what can I do?Am just weak and helpless. The belittling extended beyond Betas, even the superiors were not exempted , it became worst as it extended to my fellow maids.“No please! They’re not even mine!!”I screamed my lungs out in pain while my knees were still buried in the soil, pleading.But they all looked at me with a sad faces which I knew was fake, as they all burst into series of laughter.“You’re just a lowly maid; why would we let you use the library? Reading doesn’t make you better than us,” the maid centered by others jeered indifferently.I remember that she’s named Cynthia. She’s our Gamma’s daughter.“I never claimed that. Insult me, not the books; they’re not mine.”“You’re nothing. We’d rather do this to your precious book. You’re a thief, lower than the lowest maid,” they taunted, tossing the torn book at me.I tried to bend down so that I could gather at least some of the torn leaves which they had stick on my face, but my face kept being slapped by the leaves they threw at me.Anger surge through me, I wanted to punch them on their faces but I wasn’t getting the courage to punch them.I was scared. Not because of being beaten, but because I’ve never for once stand up for myself to fight back.I tried not to let them see me cry because the humiliation will be more but I wasn’t even really bothered about that too, my worry was about the books which this girl’s had torn, the owner of the books had given it to me wholeheartedly but I’ve being too careless to let them destroy it.While contemplating on what to do next, I noticed someone approaching us, but one of the girls gave me a dangerous stare but I looked away.“Who are you?” the person who approached us asked. “And what did this maid steal from you? You shouldn’t hit her or destroy her property you know?.”Stammering apologies, my bullies quickly retreated. While I stood in wonder why they seemed so scared suddenly. As they fled, I blushed, grateful for someone standing up for me.For the first time since the attack, I glanced at my rescuer and was struck by his striking appearance. His dark hair was combed neatly to the back of his head making him looking dangerously attractive. If anyone had observed me closely, they might have noticed the rosy cloud of admiration hovering above my head.“Thank you so much,” I whispered, avoiding eye contact to conceal my growing blush. “I apologize for the disturbance. It won’t happen again.”Keeping my head down, I crouched to gather the torn leaflets of the books. My hero surprised me by squatting beside me, silently assisting in the cleanup.After we finished, he reached for the collected papers, and I handed them over with a grateful smile. “Thank you, sir, for earlier and for rescuing me from those girls. It means the world to me that-“Ignoring me, he extended his hand for the book, but I resisted. “No, sir, let me handle it. You’ve already done so much for me today.”Relenting, he gave me the sheets, and I carefully arranged them back into the book. “What book is that, anyway?” he asked, amusement evident. “It seems like you care a lot about it.”“Yes, I just borrowed it from the library, and-““This library?” He snatched the books from my hands, examining the title. That’s a book about how to rule a pack.I start to feel nervous and my hunch was right.“Who gave you permission for this? It’s off-limits to most people. Besides, aren’t you just a maid? How did you access it?”He asked several questions in a row, and that scared me the moreConfusion crawled up in my reaction, I looked between him and the book. “No, sir, I didn’t know we needed permission. The guards have never stopped me; I’ve been coming here for quite some time to get books to read here and no problems.”Realization crossed his face, followed by a sarcastic smile. Abruptly, his expression shifted to anger, and he tossed the book at me, tearing the front page with a thud.Swiftly, I crouched to retrieve the book, avoiding eye contact due to his evident anger. He approached me with a cruel smile, getting close enough to whisper in my ear, “Looks like you’ve found yourself a sugar daddy in this place, huh?”He then walked away, leaving me in so much confusion and irritation, as my gaze fixed on his departing figure.Ekstra 02 : Masa DepanMengurus kepindahan dan beberapa hal lain rupanya memakan banyak waktu. Barulah pada bulan Februari sang pengantin baru mendapatkan kesempatan untuk melakukan bulan madu. Namun siapa sangka pandemi yang tidak disangka-sangka menyerang seluruh bumi di awal tahun 2020? Beruntung Evan dan Grace bisa kembali ke Indonesia tepat sebelum pemerintah menutup perbatasan Indonesia.Rumor tentang kejatuhan perekenomian sektor pariwisata sudah ada di sana sini. Sebagai pekerja hotel, Evan dan Grace sangat terlibat mengatasi masalah ini. Terutama setelah pemilik hotel berkata bahwa harus ada pemangkasan pekerja di setiap cabang hotel demi mempertahankan kelangsungan bisnis.Selama beberapa bulan berikutnya, mereka pun harus bekerja lebih keras. Sebagai akibatnya, pasangan suami istri yang baru ini mengalami tantangan dalam mendapatkan keturunan. Program kehamilan sudah pasti menjadi solusi yang terbaik. Namun di sisi lain mereka juga harus mempert
[12 September 2008]“Dua es kelapa muda spesial untuk pelanggan setia Mbok yang paling imut.” Dahayu membawakan dua buah minuman khas kafenya untuk Grace dan Evan yang kembali datang pada akhir minggu. Kedua pemuda itu langsung mengambil untuk mereka masing-masing. “Sebenernya Mbok penasaran sih. Kalian berdua itu pacaran ya?”Mendengar hal itu, masing-masing spontan bereaksi terkejut. Grace menyemburkan minumannya yang sudah ada di mulut sementara Evan terbatuk-batuk.“Eh, aduh. Kenapa jadi gini kalian?” Dahayu menepuk-nepuk punggung keduanya. “Kaget ya sama pertanyaan Mbok?” Ia terkekeh-kekeh geli.“Iya lah. Dari mana coba Mbok pikir begitu? Kami berdua tuh sahabat deket.” Grace yang tidak mengalami masalah dengan tenggorokannya menjawab.Evan menoleh pada Grace setelah batuknya mereda. “Ya tapi maklum Mbok pikir gitu. Kita berdua soalnya deket banget,” ujarnya memikirkan alasan yang paling mungkin. “Mana tiap minggu ke sini untuk nonto
[8 Desember 2006]"Loh, kamu nggak ngumpulin tugas, Grace? Kan Bu Diana bilang ini untuk tugas akhir semester satu? Nanti kamu nggak dapat nilai kelas seni rupa loh."Sebuah gantungan kunci yang terbuat dari resin bening dengan setengah cangkang kerang terjebak di dalamnya tergeletak manis di atas tumpukan buku teks. Grace mengamatinya dengan senyuman lebar, merasa puas melihat hasil kerja kerasnya. "Udah kok. Aku bikin dua," sahutnya."Kenapa bikin dua?""Nggak tahu. Kepingin aja. Siapa tahu gantungan ini bisa bawa kebahagiaan untuk seseorang." Grace asal menjawab. Ia mengangkat gantungan itu di depan wajah sebelum memasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Aku pulang duluan ya."Grace berjalan meninggalkan ruang kelasnya yang masih cukup ramai dengan anak-anak kelas delapan. Sementara yang lainnya masih bisa bersenang-senang dengan kawan-kawannya sehabis sekolah, ia harus segera pulang ke rumah. Sang bunda memerlukan bantuannya untuk
Tinggal beberapa jam lagi sebelum hari yang ditunggu-tunggu tiba. Demi mempermudah semuanya, Grace menginap di hotel tempatnya bekerja bersama dengan sang bunda. Tentu saja sebagai calon istri seorang GM di hotel tersebut, ia mendapatkan sebuah akses khusus. Semua yang bertugas menjadikannya seorang ratu sehari juga akan berada di sana sekitar pukul empat pagi keesokan harinya.Hanya saja Grace tidak bisa tidur. Ia terus gelisah, tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Kata Indah hal itu wajar bagi seorang calon pengantin. Namun ia merasa ada hal lain yang mengganjal."Tapi kamu harus coba tidur, Grace. Besok bakalan jadi hari yang panjang." Indah memberikan wejangan sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri. "Bunda juga udah agak ngantuk, pegel dikit juga, habis bikin kue sama Rosa."
Sikap kasar Anthony sedikit banyak mempengaruhi pikiran Grace. Bagaimanapun ia pernah dekat dengan lelaki itu; seseorang yang bahkan pernah membuatnya tertawa ketika Evan belum kembali. Setelah Ngaben sang ayah selesai, Anthony menghilang tanpa
Sinar matahari menembus masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna. Dinginnya malam perlahan tergantikan oleh kehangatan matahari. Namun kenyamanan yang menyelimuti Grace membuatnya enggan untuk beranjak dari tempatnya. Tangannya be
"Grace, terima kasih udah kasih Ayah kesempatan untuk bertemu dan bicara." Randy, masih tidak percaya bahwa ia akhirnya mendapatkan momen yang sudah lama ditunggu. Dengan pandangan mata yang sayu akibat air mata, ia menatap putrinya yang telah s
"Ciyehyang bulan depan udah sah jadi suami istri." Nita menyambangi Grace di jam istirahat setelah mendengar berita tentang penetapan tanggal pernikahannya dengan Evan. "Lo ... bakalan jadiin guebridesmaidkan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.