로그인Setelah menemukan alasan untuk hidup, Ara memilih untuk menjadi maid di sebuah mansion mewah. Tapi, sebuah insiden membuat gadis polos dan lugu itu justru menjadi wanita simpanan yang selalu didatangi oleh tuannya setiap malam. Lantas, bagaimana nasib Ara?
더 보기Stefan's POV
"Greetings, Lycan Stefan." Everyone in the large conference room rose from their seats to welcome me as soon as I walked in. They bowed, shook hands with me and tried to exchange small talks but I refused to grant them the privilege. I was not in the mood for small talks. Never had been. Today was the long anticipated business conference which was only held once in every decade and every important figure in all of the werewolves realm was in attendance. Alphas, Betas, Zetas, elders of the councils and other top influential business figures.
Apollo; my beta, led me to my seat close to the chairwoman's seat which was empty. He sat beside me and our eyes scrutinized the fairly large gathering as the rest of those present whispered in hush tones to each other, with their eyes darting towards the entrance door every now and then, as though they were waiting for someone else. Someone more important than me.
"In case you're curious, they are looking forward to meeting the chairwoman for the very first time." Apollo leaned in and whispered to me. "I hear that she's a very powerful figure amongst the business moguls in the entire pack. An enchanting beauty. Got married to Alpha Micah of Moonsong pack at the age of eighteen. After his death a year later, she surprisingly inherited all of his properties including his throne."
My forehead creased lightly in a frown. Even though I wasn't at all interested in the chairwoman…whoever she was, I didn't find the story clear enough.
"What do you mean she inherited all of his properties and throne? Does he not have an heir?"
Apollo shook his head. "This is the part where it gets crazy. Alpha Micah has a rogue son but he probably never trusted him nor anyone else around him. So, he entrusted all of his inheritance to his young wife who used to be a servant in his mansion."
"That is total bullshit."
"Exactly what everyone else thinks. They believe she could have bewitched him. I do not blame the Alpha for making such a shocking decision, anyway. From what I have heard, she has a mesmerizing beauty…"
Before Apollo could complete his sentence, a pair of female heels walked into the conference room, clicking and resounding loudly against the hardwood floors. The whole room went silent instantly. It was as if everyone held their breath as our visions became clouded by the live image of a young woman with the fairest and palest of skins, walking into the room like a gentle, autumn breeze. Her long, glossy chestnut brown hair was curled and cascading down her back and her well tailored, black sheath dress hugged tight to her body, delicately showing off her curves. A strong sense of nostalgia hit me as I took in the sight of her and my lips parted slightly in pure disbelief and unprecedented shock.
There was absolutely no way that could be…
"Eve." I whispered under my breath and Apollo stared at me in puzzlement.
"You know her?"
I did not reply to Apollo. Instead, I watched unblinkingly as the men in the gathering rose up to shake hands with her. Unlike me, she did not keep a straight face as they exchanged greetings with her. Her face gleamed and brightened as she smiled and shook hands with them, her deep set of dimples adding more highlights to her perfect symmetrical face. I couldn't believe that I had never for once gotten to see those dimples while she was so close to me. I couldn't believe I killed those smiles when I had the chance to see and kiss them.
She sighted me and for a moment, she seemed to freeze and her smile slipped. It mirrored the shock I felt upon seeing her. I could see a flash of pain cross her eyes for a moment, before she camouflaged it behind a fake smile plastered on her face. She walked towards our direction with the confidence and smooth flow of a model on a runway show.
"She's headed this way. Damn, she's so beautiful. Too undeniably beautiful. Do you think she had some work done on her face? I want to believe that she has. How in the world can someone be this pretty?" Apollo wouldn't shut up and continued to whisper to me as she got closer to us. Even with the smile still plastered on her face, I could see through it all, the closer she came. The smile she sent me had no warmth and her large sapphire eyes held so much coldness. She hated me. Despised me. She had hated me all those years. I could see and feel all of it.
"My Lycan king." She bowed her head gracefully before me before standing straight again. "It is an honor to finally meet you."
I couldn't reply to her. My tongue felt too bloated and too heavy to speak. My head was in so much daze to be able to think of a reply. I couldn't remember the last time anyone had held me this dumbfounded before.
"My name is Eve Micah. Luna of late Alpha Micah; former Alpha of Moonsong pack. Once again, it is a pleasure to finally meet you in person."
I couldn't believe my ears or my eyes. There was no way this could be possible. Eve had been alive all these while and mated to the Alpha of another pack? I could remember searching for her everywhere, for a really long time. Who could've thought she was right there all those while? After eight years, here she was, looking lithe and beautiful, radiating so much confidence that I never knew she was capable of.
The poor, pathetic omega girl that I had once rejected had turned into the most beautiful woman that I had ever set my eyes on and I could not stop myself from wanting her that instant. My whole body ached to touch her. My whole being craved for her. And at that moment, I could only think about one thing…
Fixing my mistake and making her mine again. No matter what it takes.
Tanpa mereka sadari. Kejadian nahas yang menimpa Ara disaksikan langsung oleh Jaden. Di mana Jacob memang sengaja mengajak Jaden untuk menjemput ibunya pagi itu. Namun, karena sesuatu yang tertinggal di mobil, dia harus kembali dan melihat pertengkaran yang terjadi diantara mereka. Jaden hanya diam dan tidak berekspresi, tidak menangis atau bahkan panik. Jaden hanya diam seakan tubuhnnya mati rasa dan tidak bisa lagi memperlihatkan ekspresi marahnya. Mungkin karena terlalu sakit yang dia rasa dan terlalu hancur hati kecil malaikat tampan itu melihat sang ibu kini tergeletak bersimbah darah di sisi jalan. "Ara!" Kaki Jacob serasa lemas tidak bertenaga. Sama halnya dengan Tobey, tetapi dia segera bergegas menerjang mobil yang berkeliaran lalu lalang di jalan raya. Dia segera menghampiri Ara. Ara terlihat terkulai lemas dengan ekspresi wajah tersenyum. Sulit untuk membayangkan melihat orang-orang yang kita cintai pergi dengan cepat. "Ara," ucap lirih Tobey dengan suara sendu. T
Hati Tobey sungguh hancur dan dia begitu terlihat sangat menyedihkan. Begitu pula dengan Ara. Namun, dia harus segera pergi dari sana untuk menuntaskan segala penderitaannya. Tobey segera membelakangi Ara dan berjalan cepat pergi meninggalkan wanita yang dia cintai sejak kecil. Ara menangis sejadi-jadinya. Tangannya tidak mampu lagi menghalangi kepergian Tobey yang telah jauh meninggalkannya. Sementara di luar sana, ada tangan hangat Jean yang segera membantu Tobey mengusap kepiluan hati yang selama ini dia sembunyikan. Saking hancurnya hati itu, bahkan Tobey terlihat begitu lemah di hadapan Jean. Pria itu segera menangis sekuat-kuatnya sambil memeluk tubuh Jean, mengingat setiap waktu yang dia buang sia-sia untuk mengambil cinta pada Ara. "Harusnya aku sadar sejak awal," ungkap Tobey lirih dengan suara bergetar dan bulir bening menetes di pipinya. "Kau pria baik, kau pria hebat," ungkap Jean yang juga tidak bisa menahan sedih. Dua orang yang dia kasihi harus berakhir tragis
Berita ditemukan sesosok mayat disekitar jurang membuat Harry dan Jaden terperanjat. Berita itu muncul di televisi dan sempat lupa disensor sehingga wajah korban terpampang jelas. Tentunya hal itu membuat Harry bertanya pada Jacob. Berhubung berita di televisi dengan gamblangnya menyebutkan bahwa itu adalah murni kecelakaan tunggal. Jacob tidak banyak bicara dalam menjelaskan pada sang putra, Harry. Terlebih lagi, Jaden sang putra kandungnya hanya cuek dan tidak bertanya hal yang aneh. Mungkin karena Jaden belum begitu mengenal sosok sang nenek. "Harry, kau sekarang bisa tenang, karena sudah tidak ada orang yang membuatku takut," jelas Jacob. "Ayah--bolehkan--hmm, kita menjenguknya untuk terakhir kali," celetuknya dengan kepala menunduk ke bawah dan jari jemarinya bermain di sana. Jacob menoleh menatap sang putra yang tertunduk. Pria itu begitu heran pada putra angkatnya. Padahal dia adalah termasuk korban yang hampir saja kehilangan nyawanya karena racun serangga yang sengaja dit
Akhir hidup yang mengenaskan. Wanita paruh baya itu jatuh menggelinding di jurang dan Jacob pun melaporkannya sebagai kecelakaan. Tak butuh menunggu lama di tempat kejadian, Jacob pun menyuruh TJ untuk segera pergi dari sana."Tuan, bagaimana dengan dokumen ini?" tanyanya sebelum pergi dari sana. Jacob melihat dokumen palsu itu berceceran di jalanan. "Bukankah dokumen itu ada nama anda? Jika semua dokumen itu tidak dibawa, maka anda bisa jadi tersangka utama," jelasnya.Jacob menarik napas panjang. "Tenang saja. Itu dokumen palsu. Tidak ada namaku di sana. Hanya ada nama Mandy," jelasnya.Setelah itu mobil pun bergegas pergi dari sana. Sebelum kembali ke rumah sakit, Jacob meminta TJ untuk tidak memakai mobil itu dalam jangka lama, karena pastinya polisi akan mengusut tuntas kasus kematian wanita tua itu.Satu persatu orang yang ada di belakang Nyonya Merry ditangkap termasuk Joey. Namun, tidak dengan TJ yang memang dia memakai identitas palsu.***Satu masalah sudah selesai. Tinggal
Mendengar penuturan Nyonya Merry, Nyonya Ashley terlihat sangat terkejut. Sesak napasnya kambuh hingga membuatnya tidak mampu untuk berdiri dengan sempurna. Nyonya AShley tampak memegang dadanya yang terasa sangat nyeri akibat mendengar kata-kata tersebut."Hentikan! Kau benar-benar keterlaluan!" T
Kedua bola mata Nyonya Merry membulat sempurna saat melihat sebuah benda yang tergeletak di trotoar. Manik mata itu tidak lepas dari sana untuk beberapa saat. "Maaf, nyonya. Aku minta maaf. Aku tidak sengaja," ujar pria itu sambil minta maaf sambil membungkuk. Dia pun mengambil barang-barangnya ya
Steven dengan sigap menangkap tubuh Mandy yang hampir saja jatuh karena kehilangan keseimbangan. Mandy sempat pingsan karena tekanan pikiran yang dia alami akhir-akhir ini. Antara ibunya dan suaminya. Sang ibu yang selalu marah-marah pada Mandy hanya karena persoalan masalah Mandy yang sering memba
Malam itu Ara kembali tidak bisa tidur. Ara terus dibayangi oleh bayang-bayang si pemilik sorot mata tajam yang mengerikan. Ara dibuat dilema antara khawatir dan takut jika pertemuan hari itu akan membuat bencana serta boomerang bagi diri Ara. Pagi harinya semua bekerja seperti biasanya, akan tet






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 보기