LOGIN"Daddy, hentikan...jangan sentuh aku lagi. Aku adalah anak tirimu, Dad." Laras hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil. Dia diadopsi oleh Gina, sahabat mendiang mamanya. Bukannya bahagia, hidupnya malah semakin menderita karena diperlakukan seperti pembantu dan kerap mendapatkan kekerasan dari mama angkatnya itu. Sampai akhirnya Adrian Sterling, seorang pengusaha kaya raya menikahi mama angkatnya dan memboyong mereka ke Mansion. Namun, sikap dingin, posesif, dan perhatian pria itu membuat Laras terikat dalam sentuhan terlarang yang tak bisa dia hindari.
View More“Eh, udah ketemu bapak tiri lo yang bule itu belom? Gimana? Ganteng dan hot nggak?” celetuk Tiwi lewat sambungan telepon sambil cengengesan.
“Sttt…Jangan ngomong kayak gitu dong. Nanti kalau mama gue dengar gimana? Mana speaker-nya kenceng banget lagi,” bisik Laras dengan wajah ketakutan seraya melihat ke arah pintu kamarnya. Minggu kemarin Gina, mama angkatnya menikah lagi untuk yang ke-enam kalinya dengan Adrian Sterling, CEO Sterling Retail Group. Pernikahan ini tidak dirayakan dan dipublikasikan, hanya berupa tanda tangan di atas kertas. Meski begitu, mamanya itu tidak peduli yang penting adalah status sebagai Nyonya Sterling sudah didapatkan. Sampai saat ini Laras belum pernah melihat sosok pria yang sudah menjadi papa tirinya itu. Tapi banyak yang bilang kalau Adrian sangat tampan dan berkharisma. Tiwi terkekeh di ujung telepon. ”Sorry, habisnya gue gak nyangka aja mama angkat lo yang janda 5 kali dapetin bujang kaya raya dan ganteng banget. Beruntung banget anjir." Laras meremas ujung bajunya. ”Gue belum pernah ketemu sama dia. Dia bahkan gak pernah datang ke rumah kami. Baru hari ini gue pindah ke mansionnya tapi batang hidungnya juga belum kelihatan.” “Astaga Laras! Jaman sekarang ini ada yang namanya mesin pencarian. Ada beberapa foto-fotonya disana. Sebentar gue kirimkan ke lo. Lo bakal syok sampai mau pingsan saat melihat kegantengannya!” Tiwi menjeda kalimatnya sejenak, hanya terdengar suara bising televisi dan suara kucing mengeong di ujung sana. Tak lama kemudian, Tiwi mengirimkan foto Adrian padanya lewat obrolan pesan. Saat Laras akan membuka foto tersebut, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dari luar. BRAK!! Laras sangat kaget dan reflek menoleh ke ambang pintu. Disana Gina, mama angkatnya terlihat marah dan berkacang pinggang. “Bagus ya kamu! Dari tadi Mama panggil gak nyahut. Ternyata kamu malah asyik telponan dengan temanmu! Matikan sekarang dan segera ikut Mama ke dapur!” perintah Gina sebelum berbalik pergi meninggalkan tempat itu. “I-iya Ma!” Laras tidak punya pilihan selain mematikan panggilan teleponnya secara sepihak sebelum akhirnya menyusul mama angkatnya itu. Sesampainya di dapur, Laras melihat Mama Gina mengusir para pelayan dari dapur. “Kalian pergi sekarang dan kerjakan pekerjaan yang lain. Jangan ke dapur selama satu jam ke depan. Paham?!” ucap Mama Gina memperingati mereka. “Paham Nyonya,” sahut para pelayan itu dengan kepala tertunduk ke bawah sebelum akhirnya pergi meninggalkan area dapur. Tatapan tajam Mama Gina kini beralih ke Laras. ”Kamu ngapain bengong disitu?! Cepat kemari dan masak semua bahan yang ada di atas meja!” “B-baik Ma!” sahut Laras terbata-bata. Dia segera mendekat lalu meraih pisau berukuran besar. Mama Gina melipat kedua tangan di dada. ”Ingat, masak yang enak Laras. Kalau sampai gak enak, lihat saja apa yang aku lakukan padamu nanti!” “I-iya Ma,” sahut Laras seraya menggerakkan pisau di tangannya dan mulai memotong daging ayam utuh di atas nampan. Setelah mengatakan itu, Mama Gina berlalu begitu saja meninggalkan dirinya sendirian di dapur. Laras menghela nafas lega saat langkah kaki Mama Gina menjauh. Dia sudah terbiasa dijadikan koki rahasia mama angkatnya itu. Gina selalu ingin tampil menjadi seorang ibu idaman di akun sosial medianya. Banyak orang yang mengagumi Mama Gina dan tertipu dengan kebohongannya. Padahal menyalakan kompor saja wanita itu tidak becus. Satu jam berlalu dengan cepat, aroma ayam bakar memenuhi seluruh dapur. Laras juga memasak sayur asem, tempe goreng dan sambal terasi sebagai pelengkapnya. Dia membawa dan menata semuanya di atas meja makan. Tak…tak...tak… Suara derap sepatu high heels terdengar jelas mendekat ke arahnya. Terlihat Mama Gina menatap makanan yang tersaji di atas meja dengan mata terbelalak. “Apa-apaan semua ini?! Kenapa kamu memasak makanan kampung sih Laras!!” teriak Mama Gina memarahinya. “B-bukannya ini makanan kesukaannya Mama?” tanya Laras seraya menundukkan kepalanya. “Astaga Laras! Otak kamu itu ditaruh dimana sih?! Ini adalah Mansionnya Adrian bukannya kontrakan kita yang lama! Adrian itu sukanya makanan western bukan ayam bakar kampung begini!” bentak Mama Gina sambil memijat pelipisnya frustasi. Setelah itu Mama Gina mengibaskan tangannya. ”Udah sana ganti dulu bajumu dengan baju longgar. Baru setelah itu panggilin Adrian di kamarnya di lantai atas, kamar paling ujung. Bilangin makan malamnya sudah siap. Mama mau pakai make-up dulu sebentar. Laras tersentak kaget. ”T-tapi Ma…aku… ” “Nggak ada tapi-tapian! Udah sana pergi!” bentak Mama Gina untuk kedua kalinya. “I-iya Ma,” Laras buru-buru pergi ke kamarnya untuk mengganti baju yang lebih longgar. Mungkin Mama Gina takut suaminya yang baru ini kepincut dengannya kalau memakai pakaian yang ketat. Selesai berganti baju, Laras bergegas ke lantai atas dengan menaiki lift agar lebih cepat sampai. Begitu tiba di lantai 2, dia keluar dari lift dan menyusuri lorong Mansion yang cukup panjang. Langkahnya terhenti saat dirinya melihat sebuah pintu kayu mahoni setinggi 2 meter. Tok…tok…tok… Laras menelan ludahnya kasar sebelum mengetuk pintu itu beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. “Duh, kok lama banget sih dibuka pintunya? Apa pria itu lagi mandi?” batinnya bertanya-tanya sambil menahan lapar. Saat tangannya akan kembali mengetuk, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam oleh seseorang. Ceklek! Nafas Laras tertahan di tenggorokan. Matanya terbelalak dengan mulut menganga lebar saat melihat sosok pria tinggi sekitar 184 cm dan bertubuh atletis di depannya. Pria itu hanya memakai handuk putih yang melilit pinggangnya yang berotot. Deg…deg…deg… Detak jantungnya berdebar sangat keras di dalam dadanya. Apakah pria tampan dan tinggi adalah Adrian Sterling?! Pria itu sedikit menunduk menatap Laras dari atas sampai ke bawah. Laras berkata dengan tubuh gemetar dan terbata-bata, “A-aku…kemari u-untuk… ” “Sudah puas memandanginya?” tanya Adrian dengan nada dingin dan mengintimidasi.Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di sekitar parkiran kampus tampak memperhatikan mereka seraya berbisik-bisik.Sinta tersenyum penuh kemenangan sambil merangkul lengan Andre dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.“Sekarang Andre adalah pacarku. Jadi kalau kamu masih memiliki harga diri, jauhi dia mulai detik ini. Yuk Ndre, kita pergi dari sini. Panas banget,” ucap Sinta dengan nada manja dan mendayu-dayu.“Ayo Sayang,” Andre memeluk pinggang ramping Sinta dengan sebelah tangannya lalu berbalik pergi meninggalkan Laras dan Tiwi yang masih berdiri di area parkiran.Laras mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah membasahi pipinya. Andre ternyata selama ini berselingkuh di belakangnya hanya karena dirinya selalu menolak saat diajak berciuman dan melakukan hal itu sebelum menikah.Tiwi melepas sepatunya dan bersiap ingin melemparnya ke arah Andre yang tidak begitu jauh dari mereka. “Pria brengsek itu! Aku
“B-baiklah Daddy, tapi tolong tinggalkan aku sendiri,” jawab Laras gugup.Tanpa banyak bicara, Adrian berbalik pergi meninggalkan Laras sendirian di dalam kamar mandi. Setelah pintunya tertutup rapat, barulah Laras memberanikan diri untuk melepaskan jas dan gaunnya yang basah sebelum membersihkan dirinya di bawah aliran air shower.Rasa dingin merayap ke seluruh tubuhnya. Laras kembali teringat saat dirinya dipermalukan di depan semua para tamu, beruntung Adrian datang menolongnya dan membawanya kemari. Selesai mandi, Laras menyambar kimono di gantungan handuk lalu memakainya sebelum keluar. Begitu pintu terbuka, dia melihat Adrian tengah duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Laras melangkah ragu mendekati pria itu seraya merapatkan kimono handuk itu di dadanya.“D-Daddy, A-aku sudah selesai mandi. A-apakah ada baju ganti?” tanya Laras malu tanpa berani menatap Adrian secara langsung.Adrian menutup layar ponselnya dan perlahan mengangkat wajahnya, menatap Laras datar. “Baw
Laras memejamkan matanya dengan erat, bersiap dengan kemungkinan terburuk jika Adrian akan memarahinya dan membentaknya di depan semua para tamu undangan yang tengah menatapnya jijik.“Astaga Laras! Kamu tidak apa-apa Sayang? Dan lagi, kenapa kamu memakai gaun itu? mama kan sudah bilang dresscode hari ini gaunnya warna netral,“ ucap Mama Gina berpura-pura khawatir saat memainkan perannya sebagai seorang ibu yang peduli dan penyayang di depan Adrian dan semua orang yang ada disana.Laras membuka kedua matanya dengan tatapan tak percaya. Pantas saja dia merasa aneh saat Mama Gina memberikan gaun seketat ini untuknya. Ternyata wanita itu memang sengaja ingin menjebaknya dan mempermalukannya di depan umum.Mama Gina berbalik menghadap para tamu undangan dengan tatapan menyesal. “Maafkan keributan yang sudah dibuat oleh ‘putri angkat’ saya. Padahal saya sudah menyiapkan gaun yang anggun dan sopan untuknya sesuai dengan dresscode pesta malam ini. Tapi entah kenapa dia memakai gaun merah men
“A-Andre? Dia adalah…” belum sempat Laras menjawab tiba-tiba terdengar suara mesin motor yang amat familiar di telinganya.Brum! Brum! Brum! Terlihat seorang cowok jangkung berhelm hitam, memakai jaket kulit dan celana jeans koyak-koyak melintas di depan mereka dengan motor gedenya lalu berhenti tepat di samping mobilnya Adrian. Cowok itu melepaskan helm yang dipakainya dan mengibaskan rambut pendeknya, memperlihatkan wajah ganteng dan senyumannya yang khas.“Sayang? Siapa pria di sampingmu ini?” tanya cowok itu saat melihat Laras dan Adrian di dalam mobil.“Andre, kenalin dia adalah Daddy-ku yang baru,” ucap Laras memperkenalkan Adrian pada Andre, kekasihnya.Andre menyodorkan tangannya kepada Adrian dengan wajah ramah. ”Om, perkenalkan saya adalah Andre, pacarnya Laras.”Adrian sama sekali tidak menggubrisnya. ”Laras, turunlah. Daddy mau berangkat ke kantor sekarang.” “I-iya Dad, terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan,” Laras bergegas membuka pintunya lalu keluar dari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews