로그인"Mas ... kau sedang sibuk, yaa?"Benji menoleh terkejut begitu menyadari kehadiran Lily di ambang pintu ruangannya. Pria yang sedari tadi sibuk menekuri laptopnya sontak tersenyum lebar, hingga raut super serius yang tadi Lily tangkap langsung sirna dalam sekejap. "Loh ... kau di sini, Sayang? Ada apa? Kenapa tidak menelepon dan minta Mas jemput ke bawah?" tanya Benji beruntun pada perempuan dengan terusan kuning gading sebawah lutut itu lembut.Tidak ada sedikit pun raut marah apalagi terganggu yang Lily temukan di wajah suaminya. Justru, Benji memang terlihat senang seperti tebakan Bu Anin."Aku bawa sarapan, hehe. Pasti Mas Benji belum sarapan, kan?" tebak Lily sambil mengangkat tinggi totebag berisi kotak bekal dan tumblr air minum di dalamnya."Iyaa, belum. Tapi aku bisa ke kantin nanti. Kenapa kau sampai repot ke sini? Bukankah kaki kirimu yang terkilir masih sakit?" tanya Benji khawatir.Lily hanya menggeleng kemudian melangkah mendekat ke dekat suaminya yang tengah duduk di k
"Mohon maaf, Bu. Anda siapa, ya?"Langkah Lily terhenti begitu seorang perempuan dengan kemeja biru muda mencegatnya di depan pintu ruangan Benji. Lily pun melirik perempuan dengan name tag bertuliskan 'Adhisty Anyelir' serta jabatan 'personal assistant' di bawah namanya.Sejak kapan orang ini ada di kantor suaminya? Kenapa Lily tidak pernah melihatnya? Apakah dia memang pekerja baru?"Aku Lily." Lily pun refleks menjawab tanpa mengedipkan mata dari sosok cantik di hadapannya.Asisten pribadi yang tidak pernah Lily lihat sebelumnya itu memang cantik--ralat, bahkan sangat cantik. Tingginya memang tidak berbeda jauh dari Lily, hanya terselamatkan oleh high heels hitam yang ia kenakan. Tapi wajahnya ... luar biasa! Lily yang perempuan saja takjub melihatnya. Dilihat dari wajahnya, perempuan itu sepertinya bukan keturunan asli Indonesia. Tapi namanya lumayan lokal. Apakah dia blasteran?Matanya bahkan berwarna biru cerah. Rambutnya juga berwarna cokelat lurus dan terlihat alami. Wajahnya
"Aku hari ini tidak ikut sarapan, yaa?"Benji merangkul pinggang Lily yang pagi ini tengah berkutat membantu Bu Anin memasak di dapur. Kemudian, pria itu mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya guna pamit untuk berangkat kerja."Kenapa? Masakannya sebentar lagi jadi ...," tanya Lily sambil menoleh pada suaminya yang ternyata sudah rapi sepagi ini."Ada yang harus kukerjakan cepat, ada meeting juga jam sembilan ini. Aku harus bersiap-siap dengan cepat karena sudah menundanya lama," jelas Benji yang akhirnya diangguki Lily pelan."Tapi nanti jangan lupa sarapan ya, Mas? Hati-hati ...." Lily berpesan kemudian menyalami punggung tangan suaminya.Setelah memberikan istrinya satu kecupan lain di kening, Benji pun berlalu pergi dari dapur dengan setelan jas abu dan celana bahan rapi. Meski rambut sedikit gondrongnya terlihat agak berantakan. Pria sipit yang begitu cinta pada kebersihan dan kerapian itu memang sengaja tidak memotong rambut. Setelah mendengar mitos tentang suami yang tidak
"Kenapa menangis? Hmm?" "Kakimu sakit? Mau Mas panggilkan Bibi untuk bantu pijit?" Lily menggeleng begitu pertanyaan beruntun dari pria yang ia peluk terlontar lembut. Perempuan itu hanya menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya karena malu. Lily malu. Perempuan itu merasa tidak pantas diperlakukan baik setelah dari beberapa waktu lalu terus bertingkah seolah tak butuh. Namun kini, dia malah bermanja pada Benji yang seharian ini terus Lily uji kesabarannya. "Lalu kenapa belum tidur? Kau mau apa?" tanya Benji penuh sabar pada istrinya yang terus saja diam sambil menangis kian sesenggukan. "Tidak ada. Aku mau Mas Benji saja ...." Perempuan itu akhirnya menjawab lirih yang diam-diam melunturkan seluruh kesal dan jengkel yang bersarang di hati Benji dengan begitu mudah. "Kau tidak bisa tidur, kan? Kakimu sakit, kan?" tebak Benji tetap berusaha mempertahankan nada tegas dalam suaranya. Karena meskipun sudah tidak marah, tetap saja Lily harus dibuat mengerti dengan baik. Perempua
Semenjak hamil, Lily nyaris tidak pernah tidur sendiri. Selalu ada Benji di sisinya. Dan malam ini, sudah jelas dia masih terjaga di pukul dua malam karena ketiadaan sosok yang selalu memeluknya sepanjang lelap.Karena sendiri, Lily juga mulai menyadari sikapnya beberapa waktu belakangan. Termasuk awal pertengkarannya dengan sang suami hingga mereka berakhir saling mendiamkan selama perjalanan pulang dari Jepang.Lily marah karena Benji tidak mau menemaninya membeli oleh-oleh untuk Geovano. Alasannya? Sangat jelas dan masuk akal. Pria sipit itu bilang, dia tidak mau melihat istrinya terlalu kelelahan. Apalagi setelah beraktivitas cukup padat sepanjang hari.Namun, Lily memilih keras kepala dan menantang suaminya habis-habisan. Hingga Benji yang biasanya tidak cukup sabar, berkali-kali mengalah namun tetap berakhir kesal akibat sikap kasar sang istri."Kakiku sakit ...."Dan malam ini, sepertinya Lily mendapat karmanya secara instan tanpa menunggu esok hari. Sejak masuk ke sini, kakiny
"Nak, kakimu kenapa?"Bu Anin bertanya khawatir sesaat Lily memasuki rumah dengan langkah pincangnya. Perempuan itu tidak menjawab namun menyerahkan barang-barangnya untuk minta dibawakan oleh si kepala pelayan."Kau tahu dia selalu ceroboh, Bi. Tidak perlu terkejut melihat kakinya begitu." Bukan Lily, kali ini malah Benji yang menjawab dari ambang pintu.Lily melirik tajam sejenak ke belakang sebelum kemudian menerima bantuan Bu Anin untuk digandeng menuju sofa ruang tengah. "Kenapa kau membantunya? Dia bisa sendiri. Bibi tidak perlu repot-repot," sindir Benji mengingatkan Lily akan penolakannya sejak masih di Jepang.Namun, perempuan yang sedari tadi disindir habis-habisan oleh sang suami hanya diam dengan wajah tertekuk sebal. Bu Anin yang menyadari atmosfer aneh di antara mereka jelas tahu pasangan suami istri itu tengah bertengkar."Jangan begitu, Tuan! Kau tidak lihat istrimu tidak bisa jalan dengan benar? Bagaimana kalau cederanya nanti semakin parah kalau tidak ditangani?" sa
Pagi tadi, Akane beserta Adrian dan Hotaru sudah berangkat ke bandara untuk kembali ke Jepang. Setelah mengantar ibunya sampai bandara, Benji pun mendekam di rumah Lily karena sedang libur kerja.Pria sipit itu pikir dia akan hidup tenang di sini karena di rumah ia malas bertemu Abia dan berakhir b
"Jadi mulai sekarang, Lily tinggal di sini, ya ...."Geovano Galendra merangkul gadis yang sedari tadi dipapah Kiello untuk masuk ke rumah. Saat ini, mereka tengah berada di rumah baru yang akan ditempati Lily.Beberapa pelayan yang Geovano bawa sudah membersihkan dan menyiapkan segala macam perala
"Bunda ... kapan kau ke sini?!"Benji segera bangkit berdiri dan menyalami punggung tangan wanita tua di ambang pintu. Di belakangnya ada Kiello yang sepertinya mengantar sang ibu mertua ke sini.Ya, dia Kenanga. Ibu mertua Benji yang entah sejak kapan datang ke sini. "Aku ke rumahmu tapi tidak ad
"Jadi ... Bibi masih di Lombok?" Benji mengangguk begitu Lily kini bertanya sambil menatapnya lekat. Setelah menenangkan sang tuan dan meminta pria itu menjelaskan apa yang terjadi, kini mereka berbaring saling berhadapan di atas ranjang.Lily memang meminta pria itu menginap."Dia bilang ... aku







