Share

BAB 33

Author: Pipit Chie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-09 20:00:00

Xavier tidak lagi bicara karena dia tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Konsep keluarga yang baik tidak akan pernah Divya pahami karena keluarga yang dimilikinya memang tidak pernah menunjukkan konsep itu kepadanya.

Wanita itu haus akan kasih sayang namun berusaha memendamnya dalam-dalam. Anak kecil di dalam dirinya terperangkap, anak kecil yang menderita meskipun kehidupannya dilimpahi harta.

”Kamu sudah selesai?”

Divya memandang mangkuk supnya yang hampir kosong. Wanita it
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 53

    Xavier meraih ponselnya lagi dan menekan nomor lain. Sekretaris Divya menjawab dengan cepat.“Pak Xavier?”“Di mana Divya?” “Bu Divya belum kembali ke kantor sejak satu jam lalu, Pak,” suara wanita di ujung telepon terdengar ragu. “Tadi Bu Divya bilang mau membeli kopi di luar, tapi setelah itu tidak ada kabar—”Xavier tidak mendengar lanjutannya. Jantungnya mulai berdetak cepat, tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Ia segera mengakses sistem pelacak yang terhubung ke ponsel Divya, matanya terpaku pada titik merah di layar.Kafe langganannya. Xavier menyipitkan mata. Tidak mungkin Divya menghabiskan waktu selama itu di sana. Tanpa berpikir panjang, pria itu bangkit dari kursinya, mengambil kunci mobilnya, dan melangkah keluar dengan langkah cepat dan terburu-buru. Langkahnya panjang dan cepat saat keluar dari gedung kantornya.Divya belum kembali ke kantor, ponselnya tidak diangkat, dan pelacakan terakhirnya menunjukkan bahwa dia masih di kafe.Pasti

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 52

    ”Aku akan menjemputmu seperti biasa.”Divya mengangguk, mencium bibir Xavier dalam-dalam sebelum keluar dari mobil untuk masuk ke lobi kantor Mahesa. Ia bekerja seperti biasa, dan siangnya ketika membutuhkan kopi, Divya menuju lobi utama. Antrian terlalu panjang, dan rasa kopi di sana tidak terlalu sesuai dengan seleranya. Maka Divya memutuskan untuk menuju kafe pelanggannya yang tidak terlalu jauh dari kantornya.Semuanya baik-baik saja, Divya sudah memesan dan tiba-tiba ingin ke toilet, maka wanita itu menuju toilet. Namun ketika keluar dari toilet, bencana itu terjadi. Divya tersentak saat keluar dari bilik toilet, ada seseorang memakai masker dan topi mendekat dan mengarahkan belati ke perutnya. Seketika Divya dilanda rasa takut dan napasnya tercekat.“Ke pintu samping,” ucap pria itu dengan nada kasar.”Siapa kamu?””Ikuti saja perintahku jika tidak mau mati.”Divya menahan napas, jantung Divya berdegup kencang, detaknya menggema di telinganya seperti genderang kematian. Tubuhny

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 51

    ”Mandikan aku,” suara Divya terdengar manja dengan tangan memeluk pinggang Xavier. “Lutut aku masih gemetar.”Xavier menarik rambut Divya ke bawah untuk membuat wanita itu mendongak kepadanya. Pria itu menunduk, melumat bibir Divya dalam-dalam lalu mulai memandikan wanita itu dengan lembut.“Besok malam ada pesta di rumah Eyang.”Xavier yang sedang mengeringkan rambut wanita itu bergumam pelan, “aku akan menemanimu ke sana.””Sejujurnya, aku tidak mau datang. Tapi kalau tidak datang, Eyang akan mengirim mobil untuk menjemputku ke sini.””Datang saja.””Pestanya membosankan. Aku benci di sana.””Datang sebentar lalu pulang.” Xavier mengecup bahu Divya lalu menggendong wanita itu keluar dari kamar mandi. Xavier menurunkan Divya di tepi ranjang, menyibak selimut dan menarik wanita itu untuk berbaring. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk berpakaian. Sejak tidur bersama ketika di New Zealand, Divya memutuskan untuk tidak lagi berpakaian ketika akan tidur. Percuma, toh Xavier

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 50

    Napas Divya terengah-engah, mendengar ucapan pria itu dan berusaha keras untuk mencernanya, kenikmatan menghantam kuat, pria itu terus memasukinya dalam-dalam.”U—ulangi,” pinta Divya mencengkram bahu Xavier ketika pria itu terus menghunjam ke dalam tubuhnya.”Sayangnya tidak ada siaran ulang, Princess.” Xavier membuka kedua kaki itu lebih lebar dan mendorong tubuhnya.”Ah ….” Divya merintih, fokusnya buyar begitu saja. Xavier terus memasukinya sedalam yang pria itu bisa. Pinggul Divya terangkat, remasan pria itu di bokongnya terasa hampir menyakitkan, hunjaman-hunjamannya kesar dan cepat, tidak memberi Divya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lagi. Saat bibir pria itu mengulum putingnya, Divya mengerang keras, memeluk leher Xavier dan menjeritkan nama pria itu begitu pelepasan meledak dalam tubuhnya.Xavier menggeram dan terus memasuki tubuh Divya sampai pria itu bergetar dan mendapatkan pelepasannya. Deru napas Divya yang terengah-engah memenuhi ruangan, wanita itu menatap Xavi

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 49

    ”Tolong hargai aku dan Zelie yang tidak punya pasangan.” Ivander melotot galak. ”Aku tidak perlu dikasihani, kasihani saja dia,” tunjuk Zelena pada adiknya. “Baiklah, lanjutkan saja permainan dan biarkan pasangan suami itu berciuman.” Ivander memutar botol. Sialnya botol mengarah kepada Xavier. ”Dare,” pria itu berujar pelan. Ivander tersenyum lebar. Kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. ”Apa-apaan!” Xavier berteriak dan hendak merebut ponsel Ivander tapi pria itu menjauhkannya sambil tertawa lebar. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Divya dan terbahak-bahak melihatnya. Video Xavier sewaktu masih kecil, menari di depan TV sambil bernyanyi hanya dengan memakai popok. “Dari mana kamu dapatkan video itu?!” ”Dad punya seribu koleksi video kalian,” jawab Zelena. “Aku sudah menonton semuanya,” wanita itu ikut tertawa. “Video Xavier yang paling banyak. Kalau kamu ingin tahu aibnya, tanya saja pada Daddy, Daddy akan dengan hati menemanimu seharian meno

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 48

    Makan malam kali ini begitu santai di restoran yang ada di tepi pantai. Suasananya tidak seformal makan malam sebelumnya. Divya mengenakan dress berwarna putih yang panjangnya semata kaki, sandal tanpa hak yang juga berwarna putih dan rambut yang dibiarkan terurai cantik. Saat keluar dari kamar, Xavier menatapnya dengan tersenyum.”Cantik,” puji pria itu memeluk pinggangnya.Semuanya berjalan di tepi pantai menuju restoran, Divya merasa senang sekali hari ini, memeluk lengan Xavier saat mereka berjalan. Rambutnya yang panjang dan tebal diterbangkan oleh angin.”Boleh aku mabuk lagi malam ini?””Tidak,” Xavier menggeleng tegas. “Cukup bir.”Divya cemberut.“Masih ada waktu sebelum makan malam, kan? Aku ingin berjalan-jalan bersamamu dulu di pantai.””Baiklah.”Mereka masih berpelukan dan berjalan menyusuri pantai yang indah. Divya menemukan sesuatu yang menarik di atas pasar dan wanita itu berjongkok, memungut cangkang kerang dengan bentuk yang unik.”Lucu, simpankan untukku.””Untuk a

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 8

    Tawaran yang menggiurkan dan karena Xavier juga sudah tidak mendapatkan pelepasan di dalam wanita selama empat bulan terakhir, lalu wanita ini menawarkan sesuatu yang sangat Xavier butuhkan belakangan ini, Xavier cukup tergoda. Dirinya memang benar-benar membutuhkan kehangatan berada di dalam vagin

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 7

    Litera cukup ramai malam ini—sepertinya memang selalu ramai setiap malam. Xavier duduk di meja bar sendirian, matanya tidak lepas dari sepasang manusia yang menari di arena dansa. Tangan Divya berada di leher kekasihnya sementara si rambut coklat memeluk pinggang seksi itu. Xavier memicing pada pak

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 6

    ”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”Keduanya saling bertatapan dengan mengirimk

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 5

    Sepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status