مشاركة

Bab 9: Pemantik

مؤلف: Zeils
last update تاريخ النشر: 2026-07-08 21:00:15

Sepasang matanya menatap lurus, tajam, dan dingin ke arah mulut lorong goa di seberang sana, tempat di mana sang monster kepala banteng masih berjuang keras mendesak tubuh masifnya untuk keluar dari celah yang sempit.

Tidak ada secuil pun keraguan ataupun rasa takut yang terpancar dari sepasang matanya. Dengan satu gerakan taktis yang tegas, dia menghunuskan sepasang belati kembarnya yang mendengung oleh aliran mana.

Di saat yang bersamaan, tiga orang Hunter lainnya melangka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 9: Pemantik

    Sepasang matanya menatap lurus, tajam, dan dingin ke arah mulut lorong goa di seberang sana, tempat di mana sang monster kepala banteng masih berjuang keras mendesak tubuh masifnya untuk keluar dari celah yang sempit.Tidak ada secuil pun keraguan ataupun rasa takut yang terpancar dari sepasang matanya. Dengan satu gerakan taktis yang tegas, dia menghunuskan sepasang belati kembarnya yang mendengung oleh aliran mana.Di saat yang bersamaan, tiga orang Hunter lainnya melangkah maju tanpa suara, ikut berdiri tegak di belakang punggung sang Kapten sembari menghunuskan senjata andalan masing-masing.Mereka bertiga adalah para pemimpin regu yang memilih tinggal dan bertarung. Dari posisi kiri ke kanan, nama mereka adalah Alan, Mina, dan Budi.Alan berdiri dengan menggenggam sebilah pedang yang berkilau, Mina berdiri kokoh sembari menarik busur besarnya dengan anak panah yang siap melesat, sementara Budi mengangkat sebuah perisai kecil di lengan kiri da

  • Siasat Hunter Penakut   bab 8: Secercah Harapan

    Beberapa detik kemudian, sang Kapten kelompok mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan isyarat tangan darurat untuk mundur perlahan kembali ke arah lorong goa yang sempit.Tidak ada yang berani memprotes. Semua orang secara serentak membalikkan badan dalam keheningan yang mencekam, melangkah seringan mungkin di atas tanah berbatu agar tidak menimbulkan gelombang suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur mahluk raksasa tersebut.Begitu seluruh anggota berhasil kembali masuk ke dalam proteksi lorong goa yang agak jauh dari aula utama, mereka segera berkumpul melingkar. Diskusi darurat langsung pecah mengenai alasan di balik keberadaan Bos Monster peringkat C di dalam dungeon tingkat E. Mereka berdebat panjang dengan volume suara yang ditekan sangat pelan, berbisik-bisik di tengah kegelapan lorong.Setelah menimbang risiko kematian yang terlampau tinggi bagi tim yang hanya berisi Hunter peringkat rendah, sang Kapten akhirnya mengambil keputus

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 7: Masalah tak terduga

    Sebelum melangkah lebih jauh menembus kegelapan, barisan para Hunter tertahan di depan perimeter yang dijaga ketat oleh barikade Tentara. Beberapa tentara dengan seragam loreng taktis lengkap bergerak efisien, membagikan sebuah perangkat sirkular logam ke pergelangan tangan setiap anggota tim penaklukan. Perangkat itu adalah gelang Magitech resmi."Aku tidak pernah bosan melihat gelang ini." Ucap seorang Hunter sambil memainkan fitur-fitur canggih pada gelangnya. Fungsi utamanya bertindak sebagai alat pelacak posisi real-time sekaligus pemantau tanda-tanda vital kondisi tubuh. Di era baru ini, teknologi tersebut menjadi standar wajib demi meminimalkan angka kematian yang sia-sia di Dungeon.Selain memantau detak jantung, gelang itu juga memuat berbagai macam fitur digital sekunder; mulai dari buku panduan portabel tentang ekologi Dungeon, hingga mesin pencari mini terintegrasi yang mampu memindai inisial kata dengan cepat layaknya browser modern. Khusus untuk Hanan yang memegang per

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 6: Memasuki Dungeon

    Setelah menempuh perjalanan menggunakan transportasi umum selama beberapa belas menit, dia akhirnya sampai di titik koordinat. Lokasi Dungeon itu berada tepat di sebelah sebuah kompleks taman kanak-kanak yang untungnya sudah dikosongkan dan dipasang garis pengaman.Setibanya di sana, Hanan dapat melihat sebuah gedung kecil berlantai satu yang terbengkalai. Area sekitarnya telah disterilkan dan sedang dijaga ketat oleh beberapa petugas tentara bersenjata lengkap. Pintu masuk utama gedung itu tampak hancur berantakan, menyisakan sebuah sebuah lubang besar. Jika seseorang mencoba mengintip ke dalam lorong gelap tersebut, ada sensasi tidak alami yang membuat bulu kuduk berdiri.Itu adalah Dungeon. Sebuah sarang monster temporal yang terkadang muncul secara acak di tempat-tempat tak terduga, baik di tengah hiruk-pikuk kota modern maupun di luar area pemukiman warga. Untungnya, peradaban manusia modern telah beradaptasi. Sebelum kemunculan sebuah Dungeon, biasanya akan t

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 5: Misi Pertama

    "Karena kekuatan fisik murnimu setara dengan Hunter elit, aku akan langsung memasukkan namamu ke dalam daftar registrasi dengan peringkat D sebagai permulaan," ucap Kaelen sembari menarik kembali tangannya."Tunggu! Tidak! Jangan!" Hanan langsung menyela dengan keras, melambaikan kedua tangannya di udara dengan panik, menolak usulan itu mentah-mentah. "Saya menolak mendapatkan peringkat D! Saya tidak ingin menerima keuntungan yang merugikan dan memicu kecurigaan Hunter lain seperti itu, Tuan Kaelen!"Kaelen mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan penolakan keras yang jarang dia terima. "Lalu apa maumu?""Saya merasa... saya harus memulai semuanya benar-benar dari bawah. Peringkat F!" Ujar Hanan dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah dia adalah pemuda idealis yang penuh integritas dan ingin merangkak dari nol.Namun, di balik topeng idealis dan ketegasan bicaranya yang meyakinkan itu, alasan sebenarnya kenapa Hanan memaksa untuk ditempatkan

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 4: Menjadi Hunter

    "A-anda?" Hanan bertanya dengan suara serak dan gugup, mencoba menegakkan punggungnya namun langsung meringis saat rasa ngilu menjalar di sekujur otot keringnya. Pria berambut perak itu, yang tadinya sedang fokus mengupas kulit sebuah apel dengan pisau kecil di tangannya, menghentikan gerakannya. Dengan ritme yang tenang dan elegan, dia meletakkan buah apel serta pisaunya di atas meja nakas kecil di antara ranjang mereka, lalu berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional memancarkan aura dominasi yang kuat, membuat ruangan bernuansa medis itu mendadak terasa sempit. "Perkenalkan, namaku Kaelen Vance. Ketua dari Agensi Hunter Saint," ujarnya dengan nada datar yang dingin, namun sarat akan wibawa absolut seorang penguasa hierarki tertinggi. Hanan yang mendengarnya langsung terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, dan atmosfer di dalam kamar itu seolah membeku seketika. Otak pemuda delapan belas tahun itu mendadak malafungsi. Bagaim

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status