MasukLina makin senang ketika tau Nanang bereaksi dengan jujur, apalagi senjata besarnya itu benar-benar mengodanya. "Jujur saja," katanya pelan, suaranya rendah dan penuh keyakinan. "Tubuh kamu menginginkan saya, Nanang. Bukan Inara."
Nanang mengangkat kepala perlahan. Kali ini tatapannya tidak menghindar. Ada kelelahan di sana, tapi juga sesuatu yang lebih kokoh-keputusan yang akhirnya mengeras setelah berhari-hari digerus. Ia menggeleng kecil, nyaris sedih melihat betapa yakin Lina pada
Risa menghela napas panjang, lalu tersenyum penuh arti.“Sudah, sudah! Gini saja biar adil. Hari ini, kamu harus layani kami berdua!”Nanang menyeringai lebar,Matanya berkilat nakal.“Serius??”“Ya kenapa enggak?” jawab Risa menantang. Tanpa basa-basi, ia langsung menanggalkan pakaiannya.Sisa keringat bekas olahraga masih menetes di tubuhnya yang polos, membuatnya terlihat semakin menggoda.Ningsih tak mau tinggal diam.Seolah tak ingin kalah saing, ia segera melepaskan g-string-nya.Dengan gerakan gesit, ia mulai melu cuti baju Nanang,Membiarkan hasrat mereka bertiga pecah di dalam ruangan itu.Nanang yang hasratnya sudah meledak-ledak digiring masuk ke dalam kamar.Risa dengan agresif mendo rong tubuh Nanang sampai ia terlentang di atas kasur yang empuk.Risa memberikan kedipan mata pada Ningsih, sebuah kode maut:Sikat!Tanpa aba-aba, Nin
Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius
Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k
Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa
Nanang kelojotan setengah mati di atas kasur.Sensasi dari Kain yang meraba urat-urat Permennya benar-benar nyata, mengirimkan gelombang nikmat yang membuat otaknya seolah mau pecah.“Gimana, Nanang? Celana dalam Tante enak, kan?” bisik Risa, suaranya serak menahan gairah.“Enak... enak banget, Tan... terusss!” racau Nanang dengan mata terpejam rapat.Sambil terus memompa Permen Nanang dengan kain itu, Risa merunduk, menjilati dan Menggigit kecil kelereng Nanang, memberikan serangan ganda yang membuat Nanang hampir mencapai puncaknya.“Aahhh... stop, Tan! Stop! Mau keluar nih!” teriak Nanang tertahan.Risa menyeringai puas, lalu melempar celana dalam itu ke lantai begitu saja.Namun, tiba-tiba keadaan berbalik. Nanang yang sudah dikuasai nafsu mendadak bangkit.Dengan satu dorongan bertenaga, ia membalikkan posisi hingga Risa terbaring di bawahnya.Nanang langsung menerjang, menyedot k
Sesampainya di toko, pikiran Nanang masih belum bisa lepas dari Dena.Bayangan wajah dan aroma tubuh wanita itu seolah masih tertinggal, melayang-layang di kepalanya hingga ia tak fokus menata barang."Woy! Ngelamun aja lo! Kerja yang bener!" bentak sebuah suara kasar yang membuyark
Suasana di kamar Salsa seketika berubah tegang.Salsa berdiri bersedekap, matanya menyipit tajam, menatap Nanang seolah-olah ia adalah seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka utama."Nanang, lo beneran nggak ngapa-ngapain kan sama Mbak Dyah?" tanya Salsa dengan nada pe
Sesampainya di dalam rumah Dyah yang sunyi, suasana mendadak menjadi sangat panas.Dyah seolah tidak ingin membuang waktu satu detik pun.Tanpa basa-basi, ia langsung berjongkok di hadapan Nanang, tangannya dengan cekatan melepas kancing dan menurunkan celana Nanang dengan napas yan
Setelah membeli rokok, Nanang kembali ke kamar. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya nyaris membuat rokok yang baru ia beli jatuh.Salsa sudah keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan Be-Ha tipis yang tampak kewalahan menopang dadanya yang besar, dipadukan dengan g-string coklat







