ログインBaru hari ini Karin bisa tidur siang sampai sore, hari sebelumnya ia sibuk, ada saja yang ia kerjakan tapi karena ia dirumahkan seminggu, Karin akan menikmati hidupnya dengan baik. Dulu, ia sampai sakit tifus karena makan sembarangan, tidur juga tidak tepat waktu dan jarang olahraga. Ya ampun, hidupnya tidak berjalan dengan normal apalagi sejak bertemu dengan Arlan. “Papi!” Karin terkejut bukan main saat Papinya ada di dalam kamar dan duduk diam di bibir ranjang sambil melihatnya tidur. Masalahnya Karin hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana sejak pagi tadi bercinta dengan Arlan. “Kok udah pulang?” tanya Karin sambil menarik selimutnya ke dada. Memang Ayah sendiri tapi Karin sudah dewasa sekarang dan sudah gadis. Apalagi Papinya ini mesum, suka dengan wanita muda. Entahlah, Karin tidak terlalu peduli dengan Papinya. “Kamu gak ke rumah sakit? Biasanya pulang malem.” Kamar Karin berantakan sekali, seperti tidak dirapikan pembantunya dan tumben sekali
“Ahhhhh dokkk,” ucap Karin saat Arlan mendorongnya ke ranjang, melempar kimono handuk yang digunakan Karin ke lantai dan membuka underwear basah yang dipakai Karin tadi berenang. Cepat-cepat Arlan membuka ikat pinggangnya, membuka kancing kemejanya dan celananya. “Ahhhhh.” Tanpa banyak pemanasan, Arlan menelan tubuh Karin dengan kuat, menghentakkan tubuhnya dengan tidak sabaran berulang-ulang dengan bibir mereka yang masih bertaut. Desahan Karin tertahan karena Karin menutup mulutnya, ia tidak mau sampai pembantu mendengarnya sedang bercinta dengan Arlan. Pria mesum ini begitu heboh sekali membolak balik tubuhnya, menggunakan banyak gaya bercinta bahkan menggendongnya, keringat Karin dan Arlan mengucur deras. “Kamu basah? Padahal aku tidak melakukan pemanasan padamu Sayang? Kamu memikirkan aku sebelumnya?” tanya Arlan dengan senyum nakalnya, ujung lidah Arlan mulai sibuk mengecup puncak dada Karin, menghisapnya tidak sabaran sampai merah. “Ah sakit Om, jangan digigit.” Karin meli
“Ahhhh.” Akhirnya Karin sampai rumahnya sendiri setelah semalaman tinggal dengan Dimas. Bibirnya masih bengkak, pagi tadi sebelum berpisah penuh dengan drama, Dimas seperti bayi. Tidak mau ditinggalkan kalau belum dicium Karin dan dipeluk Karin. Akhirnya mereka berciuman heboh begitu lama, sampai bibir Karin bengkak dan kecupan itu masih terasa sampai sekarang. Kalau soal ciuman, Dimas ahlinya sebenarnya. Dimas lebih heboh dan bisa membuat Karin bergairah tapi sayangnya Karin tidak mau melakukan hubungan. Cukup sampai itu saja dulu. Ya, tidak tahu nanti. Dimas itu pacarnya, wajar saja kalau mereka bercinta. Ia dengan Arlan saja hampir setiap hari cuma Karin belum siap jujur. Karin tidak menganut paham zaman dulu, ia anak gen Z, temannya biasa melakukan hubungan itu. Ia juga tinggal di Jakarta. Ah, sebenarnya itu hanya alasan pembenaran saja. Sudah terlanjur basah! Ia tidak bisa kembali makanya Karin tidak ingin munafik, ia sudah merasakannya dan itu masalahnya, susah untuk berhen
Awalnya dari ciuman, akhirnya merambat juga. Tangan Dimas mulai mengusap paha Karin dan masuk menelusup ke perut Karin, mengusap perutnya yang rata sedangkan bibir mereka masih saling beradu dan lidah mereka masih saling membelit. “Uhhh dokkhh.” Karin menahan tangan Dimas. Ia tidak mau sampai masuk. Apalagi jari Dimas bergerilya di bawah sana. Karin bisa lupa diri dan rahasia tentang dirinya akan terbongkar. “Cukup dok, aku gak mau sampai berlebihan.” Dimas tersenyum lembut dan melepaskan ciumannya juga menarik tangannya agar tidak terlalu jauh. Ia tahu tidak bisa langsung melakukan hubungan intim, Karin pernah punya trauma. Dimas harus mengerti itu. Karin merapikan dress-nya dan melipat bibirnya dalam pelukan Dimas. Ciuman tadi sangat panas, lehernya masih membekas kecupan Dimas tapi Dimas tidak membuat tanda merah seperti yang sering dilakukan Arlan padanya. Kalau sampai Arlan tahu, saat ini ia tidur di kamar Dimas dan mereka melakukan hal liar seperti ini, Arlan pasti akan meng
Karin duduk di bibir ranjang sementara Dimas tidur sambil memeluk tubuhnya. Karin tidak mengelak, ia biarkan saja Dimas tidur seperti itu, wajah Dimas begitu tenang dan tidurnya sangat pulang, tidak juga ada dengkuran. Karin mengusap wajah Dimas saat tidur, hidungnya mancung sekali, kulitnya putih, ada lebam yang mengotori wajah tampan itu, bibir Dimas juga merah, bulu matanya lentik padahal seorang pria. Tapi, meskipun Dimas ini sempurna. Berduaan dengan Dimas tidak menegangkan seperti saat ia bersama dengan Arlan. “Ganteng banget sih?” Karin senang sekali melihatnya. Kegantengan Dimas hanya bisa dikonsumsi oleh Karin sendiri karena Dimas miliknya saat ini dan bucin dengannya. Karin mengambil ponsel dari tasnya dan memotret fotonya sendiri di kamar Dimas, ini bukti kalau Dimas itu gila akan semua tentangnya. Ponsel Dimas berdering, Karin melihat itu dari dr. Luna. Sedangkan Dimas baru saja tidur, sekarang sudah sebelas malam, kasihan kalau mau membangunkan Dimas. Besok ia masih
Karin yang mengemudikan mobil Dimas, Dimas ingin pulang, ia dari semalam lembur dan ada masalah seperti ini, belum lagi wajahnya lebam karena dipukul oleh Kakak Luna dan tangannya kena sayatan ringan karena mengancam Karin supaya tetap bersama dengannya. “Kita mau beli makan dulu?” tanya Karin. “Gak usah Honey, pulang ke rumah saja, kebetulan gak ada orang di rumah,” jawab Dimas sambil menutup matanya. Dimas begitu lelah, ia ingin tidur, matanya sangat mengantuk sekali tetapi masih ingin bersama dengan Karin. Terpaksa! Karin ikut ke rumah Dimas karena Dimas sedang dalam kondisi yang buruk. “Oke.” Dimas menunjukkan arah rumahnya, ini pertama kali Karin datang ke rumah Dimas dan tidak ada orang. Orang tuanya sedang di luar negeri, ada perjalanan bisnis. Kabarnya memang Keluarga Dimas orang kaya dan salah satu pemegang saham tertinggi di rumah sakit. “Ini rumah kamu, dok?” tanya Karin setelah memasuki area perumahan elite yang ada di Jakarta. “Hemm, masuk saja.” Ya ampun, mewah
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







