FAZER LOGINPlak!“Sadar, Sophia, sadar! Tidak seharusnya kamu seperti ini!” gumamku.Aku menampar-nampar wajahku sendiri. Berusaha sadar dari ketenggelamanku dalam diam ketika mendengar suara wanita itu.“Aku harus bisa masuk ke dalam ruangan itu.”Aku mencoba membuka pintu tersebut. Namun, aku merasa kemarahanku mulai terkikis ketika kucoba membuka pintu itu. Gila! Aku tidak bisa membukanya dengan cara apa pun. Bahkan aku telah mencoba membukanya dengan cara mencongkel lubang kunci itu menggunakan kawat dan jepitan hitam milikku.Aku cukup kelelahan, bahkan keringat pun telah membasahi tubuhku. Napas yang tersengal, dan dada terasa sesak.“Aku harus bagaimana, ya Tuhan?”Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Rasa sesak di dada semakin menghimpit. Namun, ketika kembali kulangkahkan kaki ini ke dalam kamar, kudengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.Aku mengernyitkan dahi, kudekati pintu kamar mandi, kutajamkan pendengaran ini dengan telinga menempel pada daun pintu.“Apa itu Tristan?” guma
Aku terkesiap, sontak aku bangun dan menegakkan tubuhku menjadi posisi duduk.“Suara itu lagi?”Dari sini aku semakin yakin, aku tidak bermimpi pun tidak sedang berhalusinasi.Aku memang mendengarnya, aku sangat sadar! Bahkan untuk meyakinkan diri sendiri, aku sampai mencubit tanganku, dan rasanya sakit. Aku membalikkan badan, hendak membangunkan Tristan. Namun, tidak kulihat lelaki itu di sini. Ternyata aku hanya tidur sendirian.“Ke mana Tristan?”“Ah!”Lagi, aku mendengar suara itu. Suara seorang wanita seperti sedang menikmati sesuatu yang tengah memasuki tubuhnya.Semakin kudiamkan, semakin penasaran tentang sosok pemilik suara itu.“Tristan!” panggilku.Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Kini suara itu berhenti, seolah puncak yang dinanti telah berhasil didaki, klimaks.Bergegas aku turun dari ranjang. Aku tidak bisa berdiam seperti ini. Aku harus tahu ada apa di rumah ini? Bukankah penghuni rumah ini hanya kami berdua, aku dan Tristan?Aku keluar dari kamar ini. Diam-diam m
“Tristan, bangun!”Aku menggoyangkan tubuh Tristan. Dia tengah terlelap, terpaksa aku harus membangunkannya.“Tristan, ayo bangun!” paksaku.Perlahan Tristan membuka mata. Tampak masih lengket, dia memicingkan matanya.“Ada apa, Sophia?” tanyanya, suaranya pun serak.“Tristan, aku mendengar suara teriakkan! Apa kamu mendengarnya juga?” Aku balik bertanya.“Teriakkan siapa? Aku kan tidur, kamu juga tidur. Kamu mimpi kali,” jawabnya.Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan ini.“Aku tidak mimpi, Tristan. Aku memang mendengarnya,” ucapku.Jujur, aku merasa aneh. Ini bukan kali pertama aku mendengar suara teriakkan. Aku tidak mungkin sedang bermimpi. Aku memang mendengarnya.“Sudahlah, Sophia. Ini sudah dini hari. Jangan paksakan matamu untuk terus terjaga. Kamu perlu istirahat!”Tristan menarik tubuhku ke dalam dekapannya.Tristan kembali tertidur, bahkan kulihat Tristan tidak bergerak lagi. Sementara rasa kantukku tiba-tiba hilang. Aku kesulitan untuk memejamkan mataku lagi.
Aku membeliak, kuedarkan lagi pandangan ini. Ternyata … ternyata Tristan ada di sofa, berbaring, kacau, terluka. Dia memperhatikan kami.“Tristan!” gumamku.Aku berlari mendekatinya. Namun, dia bergeming. Matanya fokus tertuju pada Sena.“Em … dia Sena, temanku dari kampung. Dia yang mengantarku pulang ke sini, sebab di kampungku sulit untuk menemukan angkutan umum yang beroperasi malam,” jelasku.Tristan mengusap sudut bibirnya yang terluka.“Apa yang terjadi di sini? Kenapa kamu terluka?” tanyaku. Namun, pertanyaan ini sempat terpotong oleh suara Sena.“Jadi kamu suaminya Sophia? Wah! Selamat, ya! Tapi … sekedar peringatan, ya! Sophia itu suka buang angin sembarangan, ngupil sembarangan, dan … satu lagi, dia suka makan petai!” seru Sena. Dia tampak sok akrab dengan Tristan.Apa maksud lelaki itu? Kenapa dia membuka semua kebiasaan burukku dulu kepada Tristan?“Oh ya? Kamu tahu banyak tentang istriku?” tanya Tristan.“Tentu! Dulu kami bukan hanya sekedar teman. Kami–”“Ehem! Tristan,
“Sophia! Ini kan sudah malam … jangan pergi ya, Nak! Di sini dulu bersama kami. Begini saja, kamu hubungi saja Tristan lewat telpon, tanya apa masalahnya.”Di saat aku telah kembali membereskan pakaianku ke dalam tas, Ayah tiba-tiba mencegahku pergi.“Tapi, Yah! Aku takut terjadi apa-apa padanya. Dia suamiku, aku harus ada di sampingnya di setiap senang dan masalah. Aku harus menjadi orang nomor satu, yang membuatnya tenang,” sahutku.Ibu mengusap lengan Ayah.“Yah! Benar kata Sophia! Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban Sophia menemani suaminya. Kita tidak bisa memaksa Sophia untuk tinggal di sini. Lagi pula, kapan-kapan Sophia bisa pulang lagi ke sini!” timpal Ibu.Ayah menggeleng pelan, ia terduduk di kursi tua.“Tapi, Bu. Perasaanku tidak enak jika Sophia pergi. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?”“Ayah! Ayah dengar, dengarkan aku, Yah! Semua akan baik-baik saja. Tristan bukan penjahat, dia bukan orang lain, dan aku aman bersamanya. Ayah percaya, kan, sama suamiku?”Ayah men
Aku duduk bersimpuh di depan Ayah. Kuraih jari tangan kirinya, hanya ada empat?Aku sampai tergugup ketika bertanya. Bahkan kedua mataku tiba-tiba berembun.Kutatap wajah tua milik Ayah. Sendu, seolah banyak sekali kekhawatiran yang ia simpan di dalam kepalanya.“Tangan ayahmu tidak sengaja terkena benda tajam saat memotong kayu. Ayah banyak melamun setelah mengalami mimpi buruk tentang kamu, Sophia. Padahal mimpi itu hanya bunga tidur. Tapi Ayah masih saja kepikiran,” jelas Ibu.Aku mencium tangan Ayah.“Apakah sakit?” tanyaku. Ayah menggeleng.“Sakit di tangan ini lebih mudah diobati, dibanding rasa khawatir Ayah. Entah kenapa, Ayah merasa mimpi itu seperti sebuah firasat. Nak, bisakah kamu tinggal dulu di sini, jangan kembali dulu ke rumah suamimu?” pintanya.Aku menatap sendu, prihatin melihat kondisi cinta pertamaku. Kembali kulayangkan kecupan singkat di punggung tangannya.“Aku minta izin dulu, ya, sama Tristan!” ucapku. Ayah mengangguk.Kini kami semua telah berada di ruang ke
“Ada apa?” tanya Tristan.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mengamati sandal yang sangat mirip dengan milik Tristan.“Katakan, apakah sandal ini milikmu?” tanyaku.Sebelah alis Tristan terangkat. Menatap sandal yang ada di teras kontrakan Stella.“Bukan! Sandalku yang asli yang kamu pegang. Me
Aku sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Aku telah terbakar api cemburu. Emosi ini sudah tidak bisa kukontrol.Mungkin jika sebelumnya aku masih bisa bersabar, wanita ini selalu menggoda Tristan. Namun, kali ini aku tidak bisa diam lagi.Sebagai seorang istri, tidak mungkin aku membiarkan kegila
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Suara itu tiba-tiba menghilang. Aku tidak lagi mendengarnya. Namun, aku yakin, aku memang mendengarnya.“Aku tidak mungkin salah dengar. Kenapa di sini ada suara jeritan wanita?” gumamku.Bahkan ketika aku melongok ke arah jendela yang sengaja k
Sontak aku membeliak mendengar ucapan Stella yang setengah berbisik itu. Apa maksudnya? Apa haknya memintaku menjauhi suamiku sendiri?“Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kami, Stella. Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku benar-benar marah padamu!” usirku.Stella tersenyu







