Home / Male Adult / Suami Terbuang Ternyata Penguasa / BAB 73: Pengakuan Terbuka

Share

BAB 73: Pengakuan Terbuka

Author: Puteri Bulan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-17 12:00:12

"Bicara sekarang atau klan Naga Hitam akan hilang dari peta kota ini sebelum fajar menyingsing!" ancam Reno dengan nada dingin.

Keheningan malam di Dermaga Empat seketika terasa makin membeku. Bos Naga Hitam merinding hebat di atas tanah berdebu, menempelkan dahinya makin dalam ke tanah yang dingin.

Seluruh anggota klan mafia yang berlutut di sekelilingnya ikut menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

"Saya... saya akan mengaku semuanya, Yang Mul
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 74: Pembersihan Mafia Dermaga

    "Albert, kunci seluruh jalur keluar dari pelabuhan ini dan amankan semua dokumen haram milik mereka," perintah Reno dengan nada rendah yang terdengar dingin di tengah desing angin laut. Hanya dalam hitungan detik, tiga unit mobil serba hitam membelah kegelapan malam Dermaga Empat. Deru mesin yang halus dan pendar lampu sorot dari kendaraan berkelas itu menyinari tumpukan pasir serta puluhan anggota klan Naga Hitam yang masih bersujud pasrah. Albert melangkah keluar dari mobil barisan depan dengan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan sedikit pun. Pria kepercayaan Klan Elric itu berjalan tenang menembus jajaran mafia yang gemetaran di atas tanah, lalu membungkuk hormat di hadapan Reno dan Vanya. "Tuan Muda, Nona Vanya, seluruh area pelabuhan sudah sepenuhnya dalam kendali tim keamanan pusat," lapor Albert seraya memegang peranti tipis di tangannya. Vanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi berkelas. Sebagai wanita yang sejak

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 73: Pengakuan Terbuka

    "Bicara sekarang atau klan Naga Hitam akan hilang dari peta kota ini sebelum fajar menyingsing!" ancam Reno dengan nada dingin. Keheningan malam di Dermaga Empat seketika terasa makin membeku. Bos Naga Hitam merinding hebat di atas tanah berdebu, menempelkan dahinya makin dalam ke tanah yang dingin. Seluruh anggota klan mafia yang berlutut di sekelilingnya ikut menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. "Saya... saya akan mengaku semuanya, Yang Mulia!" seru Bos Naga Hitam dengan suara bergetar ketakutan, takut keterlambatannya memicu amarah sang penguasa. "Katakan siapa dalang di balik serangan malam ini," pangkas Reno seraya mengambil satu langkah mendekat, memberikan tekanan aura yang luar biasa berat. "Bos Group Nusantara yang membayar kami!" teriak sang ketua mafia tanpa berani menyembunyikan satu detail pun. Jawaban spontan itu berembus bagai angin beracun yang menyapu seluruh arena proyek. Van

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 72: Bersujud di Atas Lumpur

    "Buang semua senjata kalian dan berlutut sekarang juga!" raung Bos Naga Hitam dengan suara parau yang gemetar hebat, menghentakkan kakinya ke atas tanah berdebu. Jeritan panik dari sang pimpinan memecah keheningan malam dan menghancurkan seluruh keberanian puluhan anggota klan Naga Hitam. Satu per satu preman yang tadinya beringas kini saling pandang dengan raut wajah pucat pasi. Mereka dapat merasakan teror yang memancar dari mata pimpinan mereka—sosok kejam yang tak pernah sekali pun memperlihatkan kelemahan di hadapan siapa pun. CRANG! BRANG! Pipa besi tebal, parang tajam, dan rantai berkarat dijatuhkan bertubi-tubi ke atas tanah proyek. Dentang besi yang menghantam pasir kusam terdengar bagaikan lonceng kematian bagi kesombongan klan mafia tersebut. Empat puluh lima pria bertubuh tegap itu berlutut serempak, menundukkan kepala mereka rapat-rapat menghadap tanah berdebu. Arena proyek yang beberapa menit lalu dipenuhi aura pertempuran kini mendadak berubah menjadi medan ketundu

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 71: Patahan Kaki Anak Buah

    "Bos, kenapa malah memanggil kuli bajingan ini dengan nama begitu?!" jerit dua preman di barisan terdepan dengan wajah penuh emosi. Jeritan konyol itu memotong ratapan ketakutan Bos Naga Hitam yang masih bergema kaku di udara. Tanpa memahami teror mematikan yang sedang membayangi nyawa mereka, kedua preman berbadan tegap itu justru mengangkat balok besi tebal tinggi-tinggi. Mereka menyunggingkan senyum licik, bertekad membuktikan diri di depan pimpinan mereka dengan cara menghabisi Reno. "Biar kami seret kepala mandor ini ke hadapanmu, Bos!" teriak salah satu preman seraya melompat maju mendobrak barisan. "Jangan melangkah lagi, Bodoh!" raung Bos Naga Hitam dengan mata memerah dan urat leher yang menegang hampir putus. Keheningan malam yang tegang berganti menjadi panggung kepanikan liar saat sang pimpinan mafia melihat dua anak buahnya nekat menerobos batas kematian. Napas Bos Naga Hitam memburu begitu cepat, dibakar ketakutan bahwa tindakan dua orang idiot itu akan memicu pem

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 70: Pembukaan Lengan Kemeja

    "Jangan cuma berdiri dan tercengang seperti patung, serang mereka bersamaan!" raung Bos Naga Hitam dengan suara garang yang pecah karena panik. Sisa puluhan preman yang tadinya ragu-ragu mendadak tersentak bangkit. Darah merembes dari sela-sela pakaian para rekan mereka yang tergeletak, membakar rasa takut menjadi kemarahan liar di mata para anggota klan mafia itu. Mereka mengepung Reno dan Vanya dari segala arah, merapatkan lingkaran kematian dengan pipa besi dan parang yang terangkat tinggi. Vanya menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju, napasnya tersengal pelan di tengah deru ketegangan. Melihat sorot mata Reno yang tetap setenang telaga di tengah kepungan musuh membuat dadanya bergetar hebat. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menjalar di dalam jiwanya melihat pria itu berdiri tanpa gentar sedikit pun demi dirinya. "Rendy, tangan kirimu terluka," bisik Vanya dengan nada suara yang tertahan oleh rasa cema

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    BAB 69: Kemampuan Bertarung Tanpa Batas

    "Kalian bertiga, kepung dari belakang dan habisi mandor sialan itu sekarang!" teriak seorang pria bertubuh kekar dengan luka parut di dahi. Jeritan murka itu memecah keheningan mencekam pasca tumbangnya gelombang pertama. Dua puluh preman klan Naga Hitam melangkah maju secara bersamaan, membuat pijakan tanah berdebu gemetar hebat di bawah sepatu mereka. Kilatan parang dan rantai besi yang beradu memancarkan bahaya mematikan di bawah temaram lampu jip. Vanya mengambil napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan degup jantung yang berpacu kencang. Bukannya gentar, wanita itu justru makin mengencangkan cengkeramannya pada batangan besi di tangannya, siap bertarung mati-matian. "Rendy, jangan biarkan mereka memisahkan kita!" seru Vanya dengan suara bergetar namun sarat akan keteguhan. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun telapak tangan yang menyentuhmu, Vanya," balas Reno seraya melangkah maju menghadap kerumunan. Suara rendah pria itu membawa kehangatan magis yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status