เข้าสู่ระบบLiora berpikir, setelah Kairan melarangnya berhubungan dengan Niro, semuanya akan menjadi lebih mudah. Setidaknya, ada batas yang jelas. Ia tidak perlu lagi bingung harus bersikap bagaimana. Kairan sudah menentukan sikap, dan itu justru membuat Liora merasa aman.
Lagipula, Kairan dan Niro bersaudara. Kairan pasti jauh lebih tahu bagaimana menghadapi sepupunya itu dibanding dirinya. Liora hanya perlu patuh dan menjaga jarak.
Dan sejujurnya, itu tidak sulit sama sekali. Liora mema
Nyatanya, perjalanan ke resort itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Alih-alih meredakan luka, jarak antara Liora dan Kairan justru semakin merenggang.Mereka memutuskan pulang lebih awal. Malam terakhir di resort dihabiskan dengan saling membelakangi di atas ranjang, tanpa percakapan, tanpa sentuhan.Keesokan paginya, mereka pulang menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan, tak satu pun dialog terucap. Keheningan menggantung begitu pekat di dalam kabin.Mata Kairan terlihat sembab. Ia menangis semalam. Tangisan yang selama ini ia tahan karena tak ingin tampak lemah di hadapan istrinya. Namun sekuat apa pun ia berusaha, Kairan tetap manusia yang tak kebal dari duka.Hari itu menjadi hari paling sunyi yang pernah mereka lalui sebagai suami istri.Satu-satunya kalimat yang keluar dari bibir Kairan hanyalah pertanyaan tentang tujuan mereka pulang. Ia tahu Liora belum sanggup kembali ke rumah besar itu. Belum sebelum ia bisa berdamai dengan kamar
Keadaan Liora kembali kacau.Kamar bayi itu telah dibersihkan sampai tak menyisakan apa pun. Boks, pakaian mungil, mainan kecil, semuanya lenyap. Kairan sendiri yang membuangnya, melakukannya atas permintaan Liora, meski setiap langkah terasa seperti mencabut sesuatu dari dadanya.Namun kehilangan itu tak ikut pergi.Liora tetap menangis. Setiap hari. Setiap waktu. Seolah mereka kembali ke titik paling awal, saat dunia Liora runtuh dan yang tersisa hanyalah air mata. Ia terpuruk, tak melakukan apa pun selain menangis.Berhari-hari berlalu, dan Liora tak juga membaik.Kairan kembali mengambil cuti. Ia tak bisa meninggalkan Liora sendirian, tak meski hanya untuk beberapa jam. Perkataannya tempo hari bahwa ia baik-baik saja terbukti hanya kebohongan yang dipaksakan. Ia sama rapuhnya.Kairan kebingungan. Ia tak lagi tahu bagaimana menghadapi Liora yang kerap meracau di sela tangisnya. Tak ada nasihat yang bisa ia ucapkan. Tak ada solusi yang ter
Liora sudah diperbolehkan pulang.Bersama Paman dan Tante, ia kembali ke rumah megah itu. Mereka berniat menginap sampai kondisi Liora benar-benar membaik. Keputusan itu tentu telah mendapat izin Kairan. Ia tak ingin Liora sendirian dalam keadaan seperti sekarang.Kembali berada di rumahnya sendiri, Liora lebih banyak beristirahat di kamar, menuruti saran dokter agar pemulihannya berjalan cepat.Keluarga Kairan datang bergantian menjenguk. Oma menjadi yang pertama, disusul para bibi. Seperti kebanyakan pelayat, mereka datang membawa rasa penasaran akan kronologi kejadian, sekaligus menitipkan ucapan belasungkawa atas duka yang menimpa Liora dan Kairan.Hingga hari keempat, kunjungan tak juga surut. Bukan hanya keluarga, rekan kerja Kairan pun berdatangan. Itu terjadi karena Kairan mengajukan cuti panjang. Ia ingin berada di sisi Liora, menemani masa-masa tersulit istrinya, memastikan Liora tak larut sendirian dalam kehilangan mereka.Selama itu, Li
“Niro… bagaimana kalau Kairan membenciku karena aku menggugurkan anaknya?”Niro terdiam beberapa saat. Berbanding terbalik dengan Liora yang justru semakin terisak, seolah kalimat itu membuka pintu bagi semua ketakutannya.“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Niro akhirnya.Wajar ia heran. Sejak awal, semua orang mengkhawatirkan kondisi fisik dan mental Liora, namun perempuan itu justru sibuk mencemaskan kemungkinan dibenci oleh Kairan. Bahkan itulah kalimat pertamanya setelah berpuasa bicara selama empat puluh delapan jam.“Liora, dengarkan aku,” ucap Niro serius. “Aku dan semua orang sama sekali nggak berpikir kalau ini salahmu. Apalagi Kairan.”Liora mengangkat wajahnya, matanya basah, seolah memprotes keyakinan itu.“Kairan sangat menunggu anak ini lahir,” suaranya bergetar. “Dia nggak sabar bertemu dengan anak kami. Tapi aku malah—”Kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.Niro mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Lio
Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara dengan suara lembut. “Tapi kamu harus kuat. Setidaknya, kamu harus memakamkan bayimu dengan layak.”Pendekatan itu bukan seperti dokter kepada pasien, melainkan sesama perempuan kepada perempuan lain yang sedang kehilangan.“Aku akan memastikan proses kuretasi tidak menyakitkan. Kamu akan ditemani suamimu. Kamu tidak akan sendirian.”Liora kembali menangis, namun ia mengangguk pelan. Ada kedamaian dalam cara dokter Kinara berbicara, dalam caranya menatap. Sampai-sampai Liora
“Bayi Anda telah meninggal dunia di dalam kandungan. Istri Anda mengalami keguguran.”Kairan seperti dipaku di tempat. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, seolah raganya dan jiwanya tercerabut dalam waktu yang bersamaan.“Istri Anda mengalami perdarahan akibat luka di telapak tangan dan syok berat karena trauma. Tekanan darahnya turun cukup drastis. Selain itu, rahimnya mengalami kontraksi yang tidak stabil.”Kairan menahan napas. “Lalu?Hening sesaat. Terlalu lama. Terlalu menyesakkan.“Maaf, Pak,” suara dokter Kinara melembut, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun detak jantung janin tidak dapat kami temukan saat tiba di rumah sakit.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Kairan.Tidak.Tidak mungkin.Dunia Kairan runtuh seketika.“Dok… tolong ulangi,” suaranya serak, nyaris tak berbentuk. “Mungkin alatnya salah… mungkin masih ada harapan…”Dokter Kinara menggeleng pelan. “Kami turut be







