เข้าสู่ระบบAldrich tidak ingin membuang banyak waktu untuk segara membawa Isabella ke Helenster. Tak butuh waktu lama Sein mengurus segala kepentingan untuk pernikahan. Pernikahan mereka telah dilaksanakan pagi ini, acara yang mereka lakukan sangat tertutup dan singkat, tanpa pesta apapun, mengingat bahwa Aldrich adalah putra mahkota Helenster, tentu pesta dan segalanya akan diurus di sana bila mereka telah tiba. Isabella berdiri di dalam kamar mengangkat tangannya menatap sebuah cincin yang terselip di jari menisnya. "Panggilan Marchioness Isabella Roswell, kini sudah tidak berlaku lagi untukku," lirih Isabella tersenyum bahagia. Cincin yang ia pakai pun bukan cincin emas putih biasa, melainkan cincin berlian yang sangat indah. "Permisi Nyonya," sapa seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar Isabella. Isabella menoleh ke arah pintu. "Ya?" "Yang Mulia Grand Duke meminta saya untuk mengemasi barang-barang Nyonya. Sore ini beliau bilang akan kembali ke Helenster." Isabella mengang
Dalam hidup Isabella, baru kali ini ia merasakan segala hal yang ia lakukan tidak ada campur tangan kakek dan neneknya. Isabella bebas melakukan apapun sendiri, dan dicintai oleh seorang pria yang luar biasa. Di balkon rumah di lantai dua Isabella berdiri memandang pemandangan pepohonan yang menguning karena memasuki musim gugur. "Semoga, aku bisa membalas kebaikannya selama ini," bisik Isabella mengusap perutnya. "Aku tidak punya apa-apa yang bisa aku berikan untuk membalas semua kebaikan yang Aldrich berikan padaku. Selain patuh menjadi istri yang baik dan memberikan seorang anak padanya." Dalam waktu singkat, ia akan pindah negara dan tinggal bersama mereka. Tentu semua aturan juga pasti sudah berbeda. "Nyonya, Yang Mulia menunggu Anda di ruangan pribadi beliau bersama Dokter Marmara." Pelayan berdiri di belakang Isabella. "Baiklah." Isabella berjalan menemui mereka. Beberapa menit yang lalu, Dokter Marmara baru saja memeriksamu Isabella dan ke depannya sudah tidak ada l
Beberapa minggu kemudian, "Saya membawa surat penting dari Baginda Raja, Yang Mulia. Beliau telah memberikan izin dan restu untuk Anda menikahi Nyonya Isabella. Maaf bila saya baru kembali setelah beberapa minggu, beberapa pekerja di sana juga harus saya selesaikan, Yang Mulia." Aldrich mengangguk, sebelum ia menoleh pada Isabella yang terkejut mendengar kabar itu. Aldrich tersenyum dan ia membaca isi surat tersebut. Pria itu memeluknya dengan erat. "Ini yang kita tunggu-tunggu kan?" Dengan malu-malu Isabella mengangguk. "Iya, Sayang." Aldrich menoleh pada Sein yang masih berada di sana. "Siapkan secepatnya pengajuan untuk pernikahanku dengan Isabella, Sein!" perintahnya. "Setelah itu, baru kita kembali ke Helenster." Sein langsung gegas mengerjakan perintah sang Tuan dan menutup pintu ruangan kerja Aldrich. Aldrich segera menarik lengan Isabella dan pria itu mendudukkan Isabella di atas pangkuannya. Wajah sayu wanita itu membuka Aldrich kembali jatuh cinta entah untu
Kerajaan Helenster. "Apa-apaan anak ini! Bagaimana bisa dia meminta restu untuk menikahi wanita lain sementara di sini aku sudah mencarikan calon istri untuknya!" Raja Edward sangat marah saat membawa surat dari Aldrich. Di dalam surat itu tertulis Aldrich akan menikahi wanita bangsawan Salatine, jika tidak maka Aldrich tidak peduli dengan gelar dan semacamnya. Bagi Raja Edward, ini semua adalah alasan bodoh untuk Aldrich. Tapi Raja Edward yang sakit-sakitan itu tahu betapa keras kepalanya sang putra. "Kita sudah berapa kali mencoba menjodohkannya, tapi dia selalu berulah dan pergi kan? Aldrich tidak pernah menceritakan seorang wanita pada kita. Artinya... wanita yang akan dia nikahi itu benar-benar cinta pertamanya, Suamiku." Ratu Lovita menatap sang suami yang uringa-uringan. "Aduh, anak itu sejak kecil sampai dewasa hanya membuatku pusing saja!" desis Raja Edward. "Wanita bangsawan mana yang dia nikahi, Sein?!" Sein menatap sang raja sambil menelan ludah kasar. "Wanit
Dalam sesi pengobatan kali ini, Isabella memang merasa sedikit kesakitan, tapi dia tidak mengaduh apalagi kesakitan seperti kemarin-kemarin. "Ughh..." Isabella meremas sprai saat Dokter Marmara menyelesaikan pengobatan terkahirnya. "Tahan sebentar ya, Nyonya. Seperti biasanya. Biarkan obatnya bekerja." Dokter Marmara tersenyum mendekati Isabella dan menyeka keringat di wajahnya dengan sapu tangan yang lembut. Dokter Marmara menatap wajah Isabella yang beberapa waktu ini sudah berseri, bahkan saat beberapa kali Aldrich menggodanya, wajahnya bisa memancarkan rona. "Ke mana Aldrich?" Isabella menoleh ke arah pintu untuk kesekian kalinya. Dokter Marmara yang diam namun peka langsung berjalan keluar memanggil pelayan agar Aldrich datang menemani Isabella. "Yang Mulia akan segera ke sini, Nyonya," jawabnya. Isabella mengangguk kecil. "Terima kasih, dokter." "Saya ke bawah dulu. Saya akan meminta pelayan menyiapkan air hangat untuk Anda berendam lagi." Bersama dengan Dokter
Sudah beberapa hari lamanya Isabella meninggalkan kediaman Marquess Roswell. Isabella tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh Caspian, apalagi sampai mengadu yang tidak-tidak pada kakeknya. "Mengapa belum tidur, Sayang?" Aldrich naik ke atas ranjang masuk ke dalam selimut yang sama dengan Isabella. "Aku belum mengantuk," jawab Isabella lirih. Aldrich menarik lembut pundak Isabella hingga wanita itu berhadapan dengannya. Aldrich belum menceritakan banyak hal hal yang ia lakukan pada wanita ini di belakangnya. Aldrich mengusap pipi Isabella yang hangat lalu mengecup keningnya. "Aku ingin menceritakan sesuatu tentangmu." "Tentang apa?" Isabella merapatkan tubuhnya pada Aldrich. Pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Isabella, menariknya sampai tubuh mereka melekat. Isabella meletakkan pipinya di bahu Aldrich merasakan telapak tangan Aldrich mengusap kepala belakangnya lembut. "Siang kemarin aku mendatangi Caspian. Perusahaan miliknya telah bangkrut, aku datang un
Saat pagi tiba, Aldrich dan Isabella bersiap untuk pergi bersama. Mereka juga mengajak Mrs. Dysen untuk menemani perjalanan mereka. Selama menikah dengan Caspian, Isabella tidak pernah merasakan suasana berbulan madu. Tetapi bersama suami keduanya yang berstatus kontrak itu, justru Isabella diajak
Bagitu Isabella dan Caspian sampai di pesta, semua mata menuju pada mereka. Pasalnya, pasangan ini digadang-gadang memiliki pasangan masing-masing. Caspian meraih tangan Isabella dan melingkarkan tangan wanita itu di lengannya. "Gandeng aku dengan benar, Isabella," perintah Caspian. "Huh, malas!
Isabella menunggu Aldrich membersihkan tubuhnya. Wanita itu duduk di atas ranjang, terdiam dan menerka-nerka. Di luar, hujan turun di tengah malam. Udara dingin kian terasa mencekam dirasakan oleh Isabella. Isabella menunduk dan mengusap keningnya. "Pantas saja dia sangat pandai menulis dan menge
Embusan napas hangat menerpa tengkuk leher Isabella. Wanita itu membuka sepasang matanya saat menyadari pelukan seseorang semakin erat di perutnya. Isabella teringat bila ia tengah tertidur bersama Aldrich saat ini. Pria itu belum bangun, dia justru memeluk Isabella dengan erat dan hangat. "Aldri







