INICIAR SESIÓN
"Ayah menjaminkan salah satu di antara kita untuk melunasi hutangnya. Dan syarat itu adalah menjadi istri pak David. Kamu tau sendiri kan, kakak sudah mempunyai mas Adit. Dan tak mungkin juga kakak meninggalnya. Untuk itu, kakak berharap kamu yang menjadi istri pak David. Ok!"
Sebuah chat Amanda seketika membuat Shera tak mampu menahan air mata yang terkumpul di pelupuk mata. Jemari tangannya mengepal mengimbangi rasa sakit yang begitu menyesakkan dada. "Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tanpa harus berbicara terlebih dahulu padaku," gumam batin Shera menahan rasa amarahnya."Tidak-tidak! Itu semua tak boleh terjadi. Dulu, ayah pernah bercerita kalo pak David sangat sayang pada istrinya dan tak mungkin juga jika beliau menjadikanku sebagai istri keduanya. Ya, itu tidak mungkin? Mungkin saja, ini hanya akal-akalannya kak Manda untuk tidak membantuku membayar hutangnya ayah." Shera mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Mencoba tersenyum meski hatinya tak karuan jika teringat dengan pernyataan sang kakak yang jelas-jelas akan merusak masa depannya."Dan, kalaupun persyaratannya seperti apa yang di bilang kak Manda, aku akan mencoba berbicara dengan pak David untuk mengubah persyaratan yang konyol itu." Tok tok tok Shera menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar. Dahinya mengernyit, bibirnya merapat saat melihat sosok orang yang tak lain adalah orang suruhannya pak David, berdiri tersenyum ke arahnya. Setengah jam kemudian, Shera duduk termenung. Bibirnya merapat seraya menatap selembar kertas yang menjadi bukti perjanjian antara sang kakak dengan pak David. "Lima ratus juta? Bagaimana bisa dia meminjam uang sebanyak ini? Bukankah pengobatan ayah selama ini hanya ...," kata Shera mendesah sebal. "Sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya dia menjaminkan masa depanku untuk masa depannya!" umpat Shera dalam hati sembari mendongak menatap kembali ke arah orang suruhan pak David yang masih duduk di depannya. "Saya harap Anda tidak seperti kakak anda, Nona. Tolong kerjasamanya!" harap orang suruhan pak David yang mungkin seumuran dengan almarhum sang ayah. "Apa sekarang, saya bisa menemui pak David?" tanya Shera hati-hati. Berharap orang itu mau membantunya. *** Shera terdiam duduk terpaku seorang diri. Dua bola matanya berputar mengamati sekeliling rumah mewah yang merupakan milik pengusaha ternama di kota Malang tersebut. Sejenak, dua bola manik mata indahnya tertuju ke arah foto keluarga yang terpampang jelas dan besar di dinding rumah. Tegakkan salivanya mengalir dengan paksa ketika melihat seseorang yang sangat tak asing baginya. "Bara! Bukankah itu Bara Abisatya?" tanya Shera dalam hati. Alisnya bertaut, bibirnya merapat ketika teman sekelasnya dulu ternyata adalah bagian dari keluarga pak David."Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" lirihnya seraya membuang nafas."Wait! Apa dia putranya pak David atau jangan-jangan dia itu menantunya pak David?" tanya Shera menerka-nerka saat ada wanita cantik yang berdiri di samping Bara. "Ya Tuhan, kalo benar persyaratan itu terjadi. Otomatis, aku akan menjadi ibu tiri atau ibu mertua bagi Bara. Oh, tidak!" gumam shera bergelut dalam batin."Sungguh! ini semua mimpi buruk untukku! Setelah bertahun-tahun, aku mengobati luka traumaku ini tiba-tiba aku harus berurusan dengan orang yang dulu menindasku habis-habisan." Sesaat, ia mendongak. Dua bola matanya tak berhenti menatap ke arah lelaki tua bertongkat menuruni anak tangga seraya mengembangkan senyum yang teramat manis. "Apa itu pak David?" tanya shera tak percaya jika orang yang meminjamkan uang pada keluarganya yang usianya terbilang jauh lebih tua dari sang ayah."Ya Tuhan, apa iya aku akan menikah dengan lelaki yang usianya sudah terbilang aki-aki?" Shera tak berhenti berucap dalam hati. Dadanya terasa sangat sesak saat melihat kenyataan pahit yang datang menghampirinya. "Jadi, kamu adiknya Amanda?" tanya pak David yang begitu mengenal sang kakak. "Iya, Pak! Saya Shera Anjani!" kata Shera memperkenalkan dirinya seraya menatap pak David yang mulai duduk di depannya. "Shera Anjani?" tanya pak David mengernyit heran mendengar namanya. "Maafkan saya sebelumnya, Pak. Sebenarnya, kedatangan saya kemari hanya ingin melakukan negosiasi dengan bapak," tutur Shera begitu hati-hati. "Negosiasi?" pak David mulai bingung dengan apa di katakan perempuan yang seumuran dengan putranya. "Tentang persyaratan itu, saya benar-benar tidak mau memenuhinya, Pak. Saya tak tau apa-apa tentang semua ini!" Pak David menghela nafas panjang. Jemari tangan kanan dan kirinya menyatu seraya menatap ke arah Shera yang memohon. "Lalu? Jika kamu tidak mau memenuhi persyaratan itu, bagaimana uang itu? Kakakmu tak mau tanggung jawab dan ayah kamu juga sudah tiada." "Saya akan tanggung jawab untuk mengembalikan uang itu, Pak. Dan saya akan menyicilnya setiap bulan," ucap Shera mencoba tersenyum di atas rasa takut yang mulai datang menguasainya. "Menyicilnya?" "Ya, saya akan menyicilnya!" ucapnya dengan pasti. "Maaf, cantik! Saya tak mau menunggu terlalu lama lagi! Saya ingin kamu memenuhi persyaratan itu atau kamu masuk dalam jeruji besi seumur hidup!" Senyum Shera hilang seketika. Tegakkan salivanya mengalir dengan paksa saat perkataan yang tak di harapkan keluar dari mulut pak David. "Tapi, Pak!" kata Shera terhenti. "Percayalah! Masa depanmu akan cerah jika kamu memenuhi syarat itu," tutur Pak David mengedipkan mata seraya tersenyum ke arahnya. "Apabila di kemudian hari tak ada kecocokan, kamu bisa melakukan gugatan perceraian. Dan, pernikahan itu harus melewati lima tahun lamanya. Tapi, saya yakin kamu tidak akan melakukannya!" Shera tercekik. Untuk kesekian kalinya ia harus berhadapan dengan lelaki yang bermata jelalatan. "Tamat sudah riwayatku! Ya Tuhan, haruskah aku menikah dengan dia? Dan, lima tahun lamanya, aku baru bisa terlepas dalam pernikahan ini. Sungguh, tak ada pilihan yang baik untukku," gumam batin Shera menahan air mata yang seakan sulit untuk keluar. "Pulanglah! Ambil barang berhargamu dan tinggallah di rumah saya sebelum pernikahan itu berlangsung. Ok!" Shera tak mampu berucap. Bibirnya seakan beku dan tak mampu berucap saat kata pernikahan terdengar olehnya. *** Bara Abisatya menoleh ke arah Shera keluar dari rumah sang ayah. Membuka kaca mata hitamnya seraya menatap ke arah Shera yang masuk ke dalam mobil milik sang ayah. "Kamu sudah pulang?" Suara pak David seketika mengalihkan pandangan Bara. "Iya!" jawab Bara berjalan menghampiri sang ayah. "Bagaimana menurutmu? Apa kamu suka dengan wanita yang barusan pergi?" tanya pak David berharap sang putra tertarik dengan pilihannya. "Jika itu pilihan ayah, lakukanlah!" ucap Bara memasuki rumah yang sudah terbuka lebar itu. "Yes! Akhirnya dia mau menyetujuinya!" gumam pak David merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya. Dengan mata mengernyit, jemari tangannya mulai mencari nama seseorang yang akan mengurus pernikahan itu. "Halo, Diandra. Besok kamu urus semuanya! Saya tak mau ada kesalahan yang terjadi!" ucap pak David penuh penekanan. "Baik, Pak!" jawaban yang keluar dari balik benda layar pipih tersebut. "Ok!" Pak David mematikan ponsel miliknya. Senyumnya mengembang saat apa yang ia inginkan akan segera terjadi. "Tak sabar menanti hari esok!" kata pak David memasuki rumahnya kembali. Sedangkan Shera harus meratapi kesedihan yang teramat dalam dengan kenyataan yang ada. "Kenapa harus menikah dengan pak David? Apa kata orang nanti jika tau kalo aku menikah dengan seorang aki-aki?" gerutu Shera seorang diri. Helaan nafas keluar dari hidung mancungnya. Mencoba memejamkan mata saat isi kepalanya penuh dengan pertanyaan. Shera membuka kedua matanya kembali. "Tapi, kenapa ini harus terjadi padaku? Dan kenapa aku harus menikah dengan ayahnya Bara?" Shera meneteskan air matanya kembali. Rasa sakit yang terpendam sekian lama seakan kembali lagi."Daripada aku mati pelan-pelan berhadapan dengan Bara, apa lebih baik aku mendekam dalam penjara saja?"Lea tak berhenti tersenyum. Menatap ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya."Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan padamu. Dan aku harap, kamu bisa datang tepat waktu!" Perkataan Bara membuat raut wajah Lea kembali berseri-seri. Seakan menyimpan rasa bahagia yang mulai membuncah seketika."Aku kira dia sudah tidak peduli padaku. Ternyata ...," gumamnya tersenyum sembari memutar sedotan berwarna hitam yang melekat dalam gelas minumnya.Sesaat, gerakan jemari tangannya terhenti. Hentakan kaki yang terdengar jelas mulai mendekat ke arahnya.Mengingatkan dirinya saat momen dimana Bara dulu berjalan menghampirinya setiap kali bertemu.Dengan senyum yang masih tertoreh, Lea berdiri dan membalikkan badan. Ternyata memang benar, hentakan kaki itu milik bara, mantan kekasih yang dulu sangat mencintai dirinya. Namun, momen itu tak seindah seperti dulu. Senyum yang selalu tertoreh sejak masuk ke dalam butik mendadak hilang sempurna ketika Bara datang dengan orang yang sudah ia an
Manda menautkan kedua alis tipisnya. Lentik indah bulu matanya pun beberapa kali mengerjap ketika pernyataan dari Rony melintas dalam pikirannya."Aku menerima pertemananmu. Dan aku harap kamu tidak mengecewakanku!" ucapan Rony yang terlontar kemarin malam."Bener-bener aneh! Sebenarnya kenapa orang itu? Bagaimana bisa sifatnya berubah dalam satu hari?" tanya Manda seorang diri."Apa mungkin setelah berpisah denganku, orang itu mengalami kecelakaan dan menyebabkan dirinya amnesia?" Manda menerka-nerka. Bibirnya merapat sembari mondar-mandir ke sana kemari. Sesaat, langkah kakinya terhenti. Helaan nafas panjang keluar dari hidung dan mulutnya."Bicara apa kamu ini, Man! Kalo dia amnesia, sudah pasti dia tak akan mengingat kamu," gerutu Manda bicara seorang diri. Kembali duduk sembari menyilangkan kedua kaki mulusnya."Tapi, bisa jadi sih? Mungkin saja, dia amnesia dan hanya mengingatku saja. Arghhjhh! Sudahlah! Ngapain juga aku memikirkannya. Toh, dia bukan siapa-siapa juga!," gumam Man
Shera membuka tirai jendela kamar miliknya.Semilir angin pagi menyapu rambut hitam shera yang terurai panjang. Menghela nafas panjang mengimbangi rasa bahagia yang datang menghampiri.Sesaat, kedua bola matanya menoleh ke arah Bara yang masih terlelap dalam mimpi."Besok, aku akan mengantarmu ke salah satu butik kita. Jadi, berhentilah mencari pekerjaan di luar sana!" Perkataan Bara teringat kembali dalam ingatannya."Di balik sifatnya yang kaku tapi perhatiannya bener-bener meluluhkan hatiku," gumam batin Shera menyeringai. Pandangan bola matanya kembali ke arah luar rumah. Menatap bunga- bunga bermekaran begitu indah yang tertanam rapi di pinggir pekarangan. Sejenak, bola matanya berputar ke arah halaman depan. Terdengar suara deru mobil yang berhenti."Siapa yang datang kemari? Bukankah bara bilang kalo Kevin juga libur?" tanyanya seorang diri."Ehmmmm, apa mungkin mama dan papa ke sini?" Berpikir sejenak. Dahinya mengernyit heran dengan siapa orang yang bertamu di rumahnya saat
Manda beranjak dari tempatnya. Kedua bola matanya berputar mencari keberadaan benda pipih yang menjadi alat komunikasi untuknya."Kemana ya? Perasaan, aku selalu membawanya?" gumamnya seorang diri. Menopangkan kedua tangan di pinggang seraya mendesah sebal. Bibirnya merapat. Alisnya bertaut seraya berpikir untuk mengingatnya kembali.Sejenak, mulutnya ternganga mengimbangi lentik bulu mata yang tak mampu berkedip."Jangan -jangan, handphoneku di bawa cowok angkuh itu?" Manda mencoba menerka."Terakhir kali, aku memegangnya saat naik mobil cowok sombong itu! Tapi, setelah keluar dari rumah sakit sampai sekarang, aku tak membawanya," ucap Manda seorang diri."Huft! Jika handphoneku tertinggal di mobil cowok itu, bagaimana aku mencarinya?"Manda menghela nafas panjang. Terdiam kembali seraya mengingat perkataan rony kepadanya."Saya tidak mau berurusan dengan Anda!""Dan kalaupun cowok sombong itu menemukannya, aku yakin dia akan membuang handphoneku itu!" ucap Manda pasrah sembari menoleh
"Sumpah! Males banget ketemu dia!" umpat manda dalam hati. Kedua tangannya mengepal menahan rasa amarah yang datang tiba-tiba. Dua matanya memicing ke arah Adit yang terlihat berbicara dengan seseorang.Sejenak, lamunan Manda hilang tatkala Rony menyodorkan segepok uang untuknya."Ambillah!" ucap Rony yang membuat manda menoleh ke arahnya." Kenapa Anda memberikan uang ini kepada saya?" tanya Manda bingung."Sebagai ganti rugi sampai luka anda bener-bener sembuh. Dan saya tak mau berurusan lagi dengan Anda," ucap Rony melempar uang itu tepat di pangkuan Manda.Manda menghela nafas berat. Bibirnya merapat menahan amarah yang tertahan di dada."Bener-bener nih, Orang! Sombong banget! Siapa juga yang mau berurusan dengannya lagi. Tak sudi juga!" gumam batin Manda menegak salivanya dengan paksa."Keluarlah!" Manda menoleh. Kedua matanya memicing ke arah lelaki yang di kira sangat baik kepadanya."Sabar Manda sabar! Bagaimanapun juga dia sudah bertanggungjawab. Toh, kamu juga sudah untun
Shera menyisir rambutnya secara perlahan. Menatap wajahnya yang cantik berseri terpantul jelas pada cermin besar yang menempel di dinding."Bener-bener egois! Bisa-bisanya dia membuat leherku seperti ini," gumam Shera meraba lehernya yang penuh dengan bekas cinta dari Bara.CupKecupan lembut mengenai pipi kanan Shera. Dengan manja, bara menyandarkan kepala tepat di bahu shera dan merangkul tubuh ideal itu dari belakang."Kenapa di pegang terus? Apa kamu menginginkannya lagi?" tanya Bara menatap wajah cantik istrinya yang mulai memerah."Apaan sih! Jangan ngaco deh! Gara-gara ulah kamu ini, aku terpaksa harus mengurai rambutku terus," gerutu shera memayunkan bibirnya."Kamu tau sendiri kan, aku sangat tak betah jika rambut terurai terus menerus. Padahal, besok itu aku berencana untuk mencari pekerjaan."Bara menghela nafas panjang. Ia melepas pelukannya dan memutar tubuh shera hingga berhadapan dengannya. Dengan lembut, jemari tangan bara membelai rambut panjang yang di miliki istriny







