เข้าสู่ระบบJesi yang sejak tadi menyimak dari kubikal sebelah, ikut menggeser kursinya agar lebih dekat.
"Kenapa dengan waktu pengirimannya, Pak Arga? Ada keterlambatan dari pihak vendor baru?""Bukan keterlambatan, Jes," sahut Arga seraya menunjukkan baris kalimat yang ia maksud kepada rekan-rekan timnya."Di sini tertulis, vendor baru hanya menjamin pengiriman di hari kerja, Senin sampai Jumat. Sementara kita semua tahu, proyek di lapangan sering kali harus mengejar *deadline* dengan melJesi yang sejak tadi menyimak dari kubikal sebelah, ikut menggeser kursinya agar lebih dekat. "Kenapa dengan waktu pengirimannya, Pak Arga? Ada keterlambatan dari pihak vendor baru?""Bukan keterlambatan, Jes," sahut Arga seraya menunjukkan baris kalimat yang ia maksud kepada rekan-rekan timnya. "Di sini tertulis, vendor baru hanya menjamin pengiriman di hari kerja, Senin sampai Jumat. Sementara kita semua tahu, proyek di lapangan sering kali harus mengejar *deadline* dengan melakukan *overtime* di hari Sabtu dan Minggu.’’‘’Kalau di akhir pekan kita kehabisan material bangunan dan vendor tidak bisa menyuplai, operasional lapangan akan rugi waktu dan biaya pekerja harian."Farhan langsung menepuk dahinya pelan. "Ah, sial! Benar juga kata Pak Arga. Saya sampai kehabisan fokus mikirin hal itu. Kemarin pas koordinasi di lapangan, mandor utama memang sempat bilang kalau bulan depan kita bakal butuh suplai beton instan gila-gilaan di hari Sabtu karena area pengecora
"Iya nih, Pak Arga setelah menikah lagi, jadi kelihatan jauh lebih *fresh* yah," sambung Jesi yang duduk di kubikel sebelah Sofi, ikut menimpali pembicaraan sembari memutar kursi kerjanya menghadap Arga. Matanya memindai penampilan sang atasan dari bawah hingga atas dengan tatapan kagum."Benar banget, Jes! Jadi makin bening, hihihihi. Auranya tuh kayak keluar gitu, gak kelihatan kuyu," goda Sofi lagi yang sukses membuat beberapa staf lain di ruangan itu ikut menoleh."Heh, aku juga bening loh!" sahut Farhan tiba-tiba dari balik kubikelnya yang berada di sudut ruangan. Pria lajang itu mendongakkan kepalanya dengan percaya diri, mencoba ikut nimbrung di antara obrolan para wanita.Jesi langsung memutar bola matanya malas, menatap Farhan dengan ekspresi mengejek yang kentara. "Ihhh... apaan? Bening dari Hongkong!’’"Dih, kalian berdua kok gitu, woy! Diskriminasi ini namanya! Aku kan cuma kurang sentuhan aja," saut Farhan tidak terima, membela diri sambil
Mendengar rengekan manja yang jarang sekali ditunjukkan oleh Nayra jika sedang berada di tempat umum membuat Arga kembali terkekeh geli. Sifat manja istrinya ini selalu sukses mencairkan ketegangan di dalam hatinya. Tanpa membuang waktu lagi, Arga langsung ikut merebahkan tubuh tegapnya di atas ranjang yang terhitung sempit untuk ukuran mereka berdua itu.Arga memosisikan tubuhnya miring menghadap Nayra, lalu menarik tubuh mungil sang istri mendekat ke dalam dekapan hangat dada bidangnya. Satu tangan kekarnya melingkar sempurna di pinggang Nayra, sementara jemari tangannya yang lain bergerak lembut mengusap punggung istrinya dari balik selimut kain tebal.Di luar kontrakan, suara deru angin dan hantaman hujan lebat terdengar semakin deras menepuk atap seng, menciptakan melodi malam yang bising namun justru terasa menenangkan di dalam kamar. Hawa dingin yang perlahan menyergap dari sela-sela lantai semen seketika sirna, digantikan oleh kehangatan nyata dar
Lembaran kehidupan baru yang diarungi oleh Nayra dan Arga setelah melewati badai pernikahan terbukti berjalan dengan jauh lebih baik. Rumah cicilan sederhana yang kini mereka tempati tidak lagi terasa sepi atau dingin, melainkan penuh dengan kehangatan dan tawa kecil di setiap sudutnya. Perubahan paling signifikan yang terjadi di dalam rumah tangga mereka adalah bagaimana roda keuangan kini berputar. Arga dengan sukarela dan tanpa ragu menyerahkan seluruh gaji serta bonus dari pekerjaannya di proyek kepada Nayra. Keuangan rumah tangga kini diatur oleh Nayra sepenuhnya.Bagi Arga, ini adalah sebuah berkah yang luar biasa. Selama bertahun-tahun hidup melajang dan menjadi tulang punggung, Arga adalah tipe pria yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Pikirannya selalu tercurah untuk mengutamakan kebutuhan keluarganya di kampung, membayar cicilan, atau memastikan keponakan nya bisa sekolah dengan layak. Arga terbiasa hidup hemat, bahkan cender
Hampir tiga jam waktu berlalu begitu saja, namun aktivitas beres-beres di dalam kamar Nayra tampaknya masih jauh dari kata selesai. Jarum jam dinding kini telah bergeser melewati angka dua dini hari. Nayra sebenarnya sudah berusaha keras memilah dan memisahkan mana saja barang-barang yang sekiranya masih layak bawa ke rumah baru dan mana barang lama yang sebaiknya ditinggalkan atau dibuang.Namun, alih-alih terlihat rapi, proses pemilahan itu justru membuat kamar tidurnya yang semula tertata kini berubah total menjadi berantakan. Pakaian-pakaian yang dikeluarkan dari lemari plastik bertumpuk di sudut kasur, kotak-kotak sepatu berjajar tak beraturan di lantai, sementara sisa-sisa plastik pembungkus dan kardus kosong berserakan di mana-mana, membuat ruangan itu kini bak gudang penyimpanan barang bekas.Nayra menghentikan aktivitasnya, lalu duduk bersila di tengah kepungan barang-barang tersebut sembari memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut."Kepala
Setiap kali tanda itu tercetak, Nayra hanya bisa meremas kuat kain kaos yang dikenakan Arga, mencoba mencari pegangan di tengah badai gairah yang sedang melanda dirinya.Permainan panas di tengah kepungan hujan lebat itu pun akhirnya pecah sepenuhnya. Di atas ranjang single yang terhitung sempit untuk ukuran dua orang dewasa, sepasang pengantin baru itu tenggelam dalam lautan asmara yang sah secara agama dan hukum.Krieett... kriiett... krieett...Suara derit nyaring dari rangka besi tua ranjang milik Arga mulai terdengar beraturan, berirama mengikuti setiap pergerakan intim mereka. Ranjang besi tua yang sudah agak berkarat di sudut-sudutnya itu kini resmi menjadi saksi bisu pertempuran asmara yang begitu membara di malam yang dingin ini.Di sela-sela pasrahnya pada dekapan sang suami, sebuah kilasan ingatan masa lalu mendadak melintas begitu saja di benak Nayra. Pikiran wanita itu berputar kembali ke masa beberapa bulan yang lalu, saat statusnya masih
Suara bariton Arga yang terdengar mutlak dan tanpa ragu itu seketika memutus sisa-sisa kemesraan yang baru saja tertinggal di udara. Sentuhan hangat bibir mereka baru saja terlepas, namun kalimat yang meluncur dari mulut pria itu selanjutnya justru membuat seluruh tubuh Nayra mendadak tegang
Kalimat Nayra menggantung begitu saja di udara. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh rasa syok yang teramat sangat. Sepasang matanya masih menatap tidak percaya pada kotak beludru merah di tangan Arga, lalu beralih pada rahang tegas pria itu yang kini mendongak menatapnya penuh harap. "Aku
Nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat serius, menghilangkan sisa-sisa gurauan usil yang sejak pagi ia lontarkan. "Apa, Mas?" Nayra mengerjapkan matanya, rasa penasaran yang besar seketika timbul di benaknya. Nayra mengubah posisi berdirinya menjadi sepenuhnya menghadap ke arah Arga, ber
Mendengar suara itu, tubuh Nayra seketika membeku. Rasa hangat dan gugup yang sejak tadi mendominasi dadanya karena Arga, kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Tatapan mata polos Nayra mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. I







