Inicio / Romansa / Surat Dari Venus / BAB 6 - Ledakan Di Sekolah

Compartir

BAB 6 - Ledakan Di Sekolah

last update Fecha de publicación: 2022-02-22 00:13:41

Ran berdiri di depan papan tulis untuk menerima pengumpulan tugas dari teman – temannya, seperti pesan si pemberi tugas, yaitu Pak Aksa. Beruntung kelasnya bisa diajak kerjasama dan rata – rata semua sudah menyelesaikan tugas itu tepat waktu. Jadi ia tidak harus keliling kelas menagih  satu persatu, seperti bendahara kelas ketika meminta pembayaran kas.

Kinan yang sudah mengumpulkan lebih dulu karena duduk di sebelah Ran, langsung pulang. Biasanya ia akan pulang bersama Ran dan Sunny, namun sopirnya menjemput lebih awal dikarenakan ada acara keluarga.

“Ran hari ini pulang sama siapa?” tanya Adit, petugas piket yang tengah memegang penghapus papan tulis yang tiba - tiba menghampiri Ran.

Ran menegakkan badannya sembari merapikan tumpukan tugas yang ia bawa. Lalu ia menatap kearah Adit. “Seperti biasa sama Sunny, kenapa Dit?” tanyanya.

“Kalo kamu mau menungguku, mau pulang bareng?”

Ran menengok ke arah jendela kelas, ketika mendengar rintik hujan yang mulai turun. “Sepertinya enggak Dit, naik bus lebih aman dari hujan, maaf,” jawab Ran dengan senyuman.

Adit memasang wajah kecewa. Padahal ia sudah menghabiskan jam istirahat untuk mengumpulkan keberanian dan berlatih dialognya bersama Angga di kamar mandi. Ternyata hasil yang ia dapat, tidak sesuai harapannya.

Karena tidak mendapat respon dari Adit, Ran berkata, “Aku kumpulin ini dulu ya, see u.”

Aditmenatap kearah Ran dengan panik. Ingin sekali ia membujuk gadis itu, namun Ran terlalu cepat pergi dari pandangannya. Jadi, ia hanya melambaikan tangannya ke Ran dengan lemas.

Ran berjalan melewati koridor dengan hati – hati, karena lantai yang licin. Hujan sangat deras, hingga ketika menyentuh benda padat percikannya akan mengenai lantai. Jika tidak hati – hati ia akan terpeleset, dan membuat harinya genap dengan kesialan. Tidak masalah jika ia terpeleset sendiri, hanya saja sekarang ia sedang membawa tugas untuk dikumpulkan. Dan ia harus mengantarkan tugas itu dengan selamat.

Ran mengambil jalur ke kelas Sunny agar nanti, setelah mengumpulkan tugas yang ia bawa mereka bisa langsung pulang. Hari juga sudah gelap, akibat mendung.

Sesampainya di kelas Sunny, Ran bertanya pada Anggi sepupu dari Angga, ketua kelasnya. Satu - satunya orang yang Ran kenal di kelas itu, selain Sunny.

“Tau Sunny?” tanya Ran.

Anggi yang mendengar nama Sunny disebutkan langsung menggeleng. “Maaf Ran aku buru – buru, bye,” katanya.

Belum sempat Ran membalas perkataan Anggi barusan, Anggi sudah tidak terlihat di kelas itu. Ran menghembuskan nafasnya dengan putus asa. Ia mengedarkan pandangan berusaha mencari Sunny di kelas itu, namun tidak ada. Kemudian ia berjalan meninggalkan kelas itu, berpikir mungkin Sunny sudah pulang lebih dahulu.

Di perjalanan menuju ruang guru, Ran melamun memikirkan betapa anehnya orang – orang di kelas itu. Setiap Ran kesana untuk menjemput Sunny, pasti penghuni kelas itu akan menatapnya dengan tatapan ambigu. Sunny juga terlihat selalu sendiri. Ketika di kantin, pada jam olahrga tidak memiliki pasangan, ataupun saat ke kamar mandi. Berbeda dengan laki - laki, perempuan akan cenderung berkelompok, atau punya seorang teman untuk ditemani berjalan. Ia sempat merasa bahwa Sunny memang tidak mempunyai teman dikelasnya. Namun ketika memikirkannya lagi, Sunny adalah anak ceria dan mudah bergaul, sangat tidak mungkin tidak bisa berbaur di kelasnya.

Pikiran buruk mulai datang satu persatu, membuat Ran khawatir. Dengan cepat ia menepis semua pikiran itu, dan akan memastikan lebih dulu pada Sunny sebelum menyimpulkan. Jika Sunny memang ada masalah, dia akan membantu mencari solusinya.

Ran sampai di ruang guru. Ternyata ruang guru sudah sepi, karena para guru bergegas untuk pulang akibat hujan lebat sore itu.

Ran langsung menuju meja kerja Pak Aksa. Tak disangkanya, Pak Aksa masih ada di tempatnya dalam keadaan tidur. Ia kira Pak Aksa juga sudah pulang, jadi mereka tidak harus bertemu, mengingat kejadian pagi tadi yang sangat memalukan.

Ran menarik napas panjang dan menahannya. Ia letakan tugas – tugas yang ia bawa dengan hati – hati di meja, tanpa menimbulkan suara agar Pak Aksa tidak terbangun. Ia berpikir mereka tidak harus berinteraksi jika dia langsung pergi, setelah meletakkan tugas itu.

“Sudah di cek lagi?” ujar Pak Aksa.

Mendengar suara itu, Ran tersentak hingga membuat tumpukan tugas yang ia bawa tercecer di lantai. Ia pun segera berjongkok dan memungut tugas – tugas itu. Dalam hatinya, ia merutuki diri sendiri, bahwa dirinya benar – benar bodoh. Namun dia kesal pada Pak Aksa, bagaimana pria tua itu bisa menyadari keberadaannya?

Pak Aksa tidak mengomentari kejadian barusan, hanya diam memperhatikan Ran yang gelagapan.

“Semua sudah saya periksa Pak, maaf saya membangunkan bapak,” balas Ran sembari mengulurkan tumpukan tugas itu.

“Baik, terimakasih.”

DUARRR!

Terdengar suara ledakan yang begitu besar dari arah luar. Seketika listrik di ruang guru mati, dan ruangan menjadi gelap. Ran panik, pandangannya tidak dapat melihat apapun. Tubuhnya bergetar. Ia mempunyai phobia dengan kegelapan akibat trauma masa kecilnya.

“Jangan panik, ikuti saya,” kata Pak Aksa, sembari meraih tangan Ran dengan lembut.

Ran mengangguk dan mengulurkan tangannya yang satu untuk menggenggam lengan Pak Aksa.

Mereka berjalan hati – hati melewati bilik meja kerja ruang guru agar tidak tersandung. Hingga beberapa saat setelahnya, mereka mencapai pintu keluar. Barulah sekarang pandangan Ran mulai kembali jelas. Namun suasana sore itu terlihat mencekam akibat mendung, apalagi penerangan di sekolah padam. Perasaan Ran mulai tidak enak, ia merasa sedang syuting film horor.

Dari arah lapangan terlihat satpam sekolah yang berlari tergopoh – gopoh kehujanan ke arah gudang sekolah.

“Ran, sepertinya saya harus membantu satpam itu, sepertinya ada masalah dengan listrik—“

Sebelum menyelesaikan kalimat itu, Ran memotong tanpa memikirkan sopan santun terhadap orang yang saat ini di hadapinya. “Te-rimakasih, saya pulang dulu,” ujar Ran lirih sembari melepaskan tangan Pak Aksa.

Ran berjalan meninggalkan Pak Aksa dengan perasaan campur aduk. Tubuhnya masih bergetar ketakutan. Jika merasakan momen sore itu, Ran jadi teringat kenangan masa kecil yang paling dia benci. Bahkan Ran sempat berharap untuk mati atau lupa ingatan, agar kenangan itu tidak menghantuinya lagi. Keadaannya sama persis. Hujan, gelap, dan guntur. Kejadian yang mengubah musim paling disukainya menjadi musim paling ia benci.

Beberapa saat berjalan meninggalkan Pak Aksa, pandangan Ran menjadi sangat gelap. Tubuh Ran yang terkena angin terasa begitu ringan seakan ia dibawa terbang.

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Dito Adimia
kenapa ran kamu kenapa ran
goodnovel comment avatar
Aster Chronos
Hai makasih udah mampir
goodnovel comment avatar
Argina Ayu
novelnya sangat bagus...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Surat Dari Venus   BAB 63 - Bayang Bayang Venus

    Dua hari setelahnya, Ran diperbolehkan rawat jalan dengan beberapa persyaratan seperti melakukan kontrol secara rutin untuk mengganti perban. Bahkan keesokan harinya, ia langsung berangkat sekolah seperti biasa tak mengindahkan larangan neneknya yang khawatir.Di sekolah terjadi beberapa keributan. Koridor-koridor sekolah menjadi bising karena berita ekslusif yang terbit pagi itu. Di layar televisi kantin, di portal berita daring ponsel para siswa, hingga di halaman depan surat kabar nasional, berita mengenai skandal besar yang melibatkan jaringan kriminal berkedok kalangan elit meluas tanpa kendali.Kasus yang menyeret nama Sunny sebagai korban menjadi topik utama yang memenuhi hampir seluruh lini media. Rekaman video pengejaran dramatis di tengah malam yang bocor ke internet, foto-foto lokasi penyekapan di tepi hutan yang dipasangi garis polisi, rekaman CCTV lalu lintas, hingga siaran pers resmi dari Divisi Humas Polri terus diputar berulang kali.Nama Beneddict Antonio Surya bergem

  • Surat Dari Venus   BAB 62 - Menjadi Asing

    Malam makin larut. Lampu kamar perawatan Ran menyala temaram. Ran terbaring pucat dengan infus terpasang di tangan kanan dan balutan perban tebal di lengan kirinya. Napasnya terdengar halus dan teratur.Adit duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat itu. "Ran..."Tak ada sahutan.Adit tersenyum tipis. "Dasar keras kepala." Tangannya terangkat ragu untuk menyentuh jemari Ran, namun akhirnya ia tarik kembali. Ia hanya menyandarkan punggungnya. "Aku takut banget tadi. Jadi, tolong jangan bikin aku se-ketakutan ini lagi."Kelopak mata Ran bergerak perlahan, meski Adit tak menyadarinya."...Dit," suara bisikan lirih memecah hening.Adit seketika menegakkan duduknya. "Ran? Kamu sadar?"Ran membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada wajah Adit."Aku... di mana?""Rumah sakit. Kamu aman."Ran mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri langsung menyengat. "Aduh...""Jangan gerak dulu!" Adit menahan bahunya lembut. "Kamu baru selesai operasi."Ra

  • Surat Dari Venus   BAB 61 - Sebuah Pilihan

    Aksa langsung menginstruksikan tim polisi untuk mengamankan Angga, Sunny, dan Grace ke mobil medis di area parkir, sementara dirinya bersama beberapa personel bersenjata bergerak cepat menembus rapatnya ilalang menuju sumber suara tembakan.Di saat yang bersamaan, Adit merangkul tubuh Ran yang kian melemah. Darah terus mengucur dari lengan Ran, menembus baju dan jemari Adit yang bergetar. Ran berusaha keras mempertahankan kesadarannya meski pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat."Dit... jangan berhenti," bisik Ran lirih, napasnya patah-patah."Aku nggak bakal tinggalkan kamu, Ran. Tahan sebentar lagi," balas Adit dengan nada panik namun berusaha tetap tenang.Namun, dari balik kegelapan semak belantik, Ben muncul dengan wajah berdarah dan napas terengah-engah. Matanya menyalang penuh amarah. Langkahnya pincang, tetapi di tangannya kini tergenggam pisau lipat yang ia ambil dari saku celananya—sebuah upaya terakhir setelah pistolnya berhasil dilumpuhkan."Kalian pik

  • Surat Dari Venus   BAB 60 - Penebusan

    Terdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan, membuat langkah Ran, Sunny dan Grace terhenti. "Ben meledakan gubuk agar tidak meninggalkan bukti," gumam Grace. Ran menatap tajam Grace, lalu berkata penuh dengan penekanan, "Kejam sekali kalian." Grace tidak berani mengangkat pandangannya pada Ran, karena merasa bersalah. Ia juga merasa malu setelah menjadi bagian dari kejahatan itu, yang akhirnya menjadikannya korban. Dari balik semak Adit dan Angga berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa. "Guys kenapa kalian berhenti! Ayo lari!" teriak Adit dari kejauhan. Lalu, Ran, Sunny dan Grace melanjutkan langkahnya. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah kejauhan, membuat mereka panik, sampai berlari tak tahu arah. Hanya mengandalkan insting untuk memilih jalan mana yang mudah dilewati, karena mereka terjebak dengan ilalang yang membutakan arah. "Tinggalkan saja aku disini! Kalian kabur saja," ujar Grace semakin merasa bersalah, karena menjadi beban. "Tutup mulutmu brengsek!" Be

  • Surat Dari Venus   BAB 59 - Menembak Langit

    "Sialan!!! Ulah siapa ini?" Gerutu Ben sembari membanting pecut yang ia pegang, penuh emosi karena lampu seketika padam di tengah kegiatan yang ia lakukan. Kemudian terdengar sirine alarm kebakaran yang membuat panik orang-orang dalam ruangan itu. Ben lantas bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya. Ia keluar dari ruangan dengan langkah penuh amarah sembari meneriakkan nama anak buahnya. Empat orang pria yang merupakan teman-teman Ben, menyusul pria itu keluar ruangan. Meninggalkan Sunny dan Grace. Sunny memanfaatkan keadaan itu dengan bergegas melepas ikatan tangan dan kakinya. Dengan tubuh telanjang di tengah kegelapan, ia memungut pakaiannya yang berceran di lantai. Sedangkan Grace yang masih terkuai lemas di tempat tidur, hanya bisa menangis menahan perih di kulitnya, akibat pecut yang diayunkan oleh Ben sejak tadi. "Grace ayo kabur dari sini," tukas Sunny. "Aku tidak bisa menggerakkan kaki," ujar Grace. Sunny mengeluarka

  • Surat Dari Venus   BAB 58 - Hasrat Gila Pria Biadab (21+)

    WARNING!!! Isi Bab ini terdapat kekerasan seksual yang tidak cocok untuk anak dibawah umur. Mohon bijak memilih bacaan yang cocok dengan umur anda. ** "Kalian mengenal orang-orang itu?" tanya Ran. Adit dan Angga menggeleng bersamaan. "Melihat dari postur tubuh dan wajah kedua orang itu, sepertinya sudah berumur," kata Angga. "TOLONG!" Teriak seseorang yang membuat dua pria bertubuh kekar tadi masuk ke dalam gubuk. Sedangkan Ran, Angga dan Adit bergetar ketakutan mendengar suara pekikan yang begitu putus asa itu. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam gubuk itu?" tanya Adit. Tidak ada jawaban dari Ran dan Angga. Angga lantas menutup laptopnya, dan berjalan mendekat ke Adit. Kemudian ia membuka tas yang digendong oleh temannya itu, dan memasukan laptopnya. "Mumpung dua orang itu tidak ada, ini kesempatan kita mencari tahu," ujar Angga seraya menutup resleting tas kembali. "Benar ayo kita masuk," balas Ran. "Tunggu... apa kalian gak takut? Melihat dua orang tadi, sepertinya

  • Surat Dari Venus   BAB 50 - Sexy, Elegan

    Orang tua Kinan terlihat berjalan mondar-mandir di depan pintu ballroom hotel. Tamu undangan sudah memenuhi ballrom, sedangkan sampai saat ini belum ada perkembangan dari pencarian putrinya. Tidak mungkin mereka akan membubarkan tamu undangan begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Namun lebih tida

  • Surat Dari Venus   BAB 41 - Kencan Buta

    Hari kencan buta yang dimaksud Kinan pun tiba. Ran turun di halte tak jauh dari tempat perjanjian kencan buta. Ia berjalan dengan pelan sembari menatap dirinya di pantulan kaca dari setiap store yang ia lewati. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia memang tidak pernah mengenal pria untuk d

  • Surat Dari Venus   BAB 9 - Bingkisan Untuk Ibu

    “Ibu!!!” teriak Ran di depan pintu rumah.Seketika, pintu yang tertutup itu terbuka, memunculkan sosok seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang wajahnya terlihat letih.“Ini semua, apa Ran?” tanya wanita itu yang terkejut melihat tas belanjaan tergeletak

  • Surat Dari Venus   BAB 8 - Dua Kali Ke Swalayan

    “Ran ayo turun bentar, aku mau cari sesuatu,” katanya sembari keluar dari mobil.Ran keluar dari mobil itu sembari menggendong biola dan tas ranselnya. Kemudian, ia berjalan mengikuti Raka memasuki swalayan. Ia ingat tempat itu. Dulu ibunya pernah mengajaknya mengunjungi tempat

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status