Masuk“Baiklah kalau begitu.” Nilna mengatupkan bibir, menerima kenyataan yang terjadi dengan lapang. Meski begitu, otak calon ibu muda itu tak pernah berhenti. Ia masih tetap aktif menganalisis situasi, menyimpulkan, dan menyusun strategi ke depannya.“Hm.” Bagas tersenyum lega. Pria itu menepuk bahu istrinya sebagai bentuk penguatan.Acara lamaran pun telah usai, menciptakan nuansa bahagia yang tidak biasa. Ada beberapa celah mengganjal yang bisa semua orang pahami, tetapi mereka telah terbuai dengan pesona lembut dari Qaila. “Baiklah, semua berjalan dengan lancar. Hari pernikahan pun sudah ditentukan tanggalnya. Tinggal kalian berdua saja yang saling menguatkan, agar tetap dalam keadaan baik ketika hari pernikahan tiba.”Abah Rasyid menepuk bahu Ilham, seraya memberikan nasihat-nasihat kehidupan untuk kedua calon mempelai.“Untuk Saudari Qaila, sedikit banyak kita sudah menjalin hubungan baik selama hampir lima tahun. Pihak kami juga memahami tentang skandal perusahaan yang Anda perbuat
“Assalamualaikum.” Ilham mengucap salam, membuat seluruh tamu yang hadir sontak menoleh ke sumber suara. Pemuda itu tampak jenjang dengan balutan kemeja dan sarung sederhana. Ia berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk, memancarkan kesan seorang pria yang teduh dan penuh kelembutan.“Waalaikumussalam,” jawab semua tamu serempak.“Akhirnya, Kang Ilham hadir juga.” Abah Rasyid menghela napas.“Abah,” sapa Ilham. Pemuda itu berjalan membungkuk untuk menyalami sang kiai terlebih dulu. “Ya, ya. Bagus, bagus.” Abah Rasyid tampak semringah. Pria tua itu menepuk bahu santrinya pelan.Ilham beringsut mundur, lalu menyalami tamu sesama lelaki. Untuk tamu perempuan, pria itu hanya menangkupkan dua tangan di depan dada.Tak terkecuali pada Nilna. Ada suatu hal yang membuat pemuda itu merasa hilang napas selama satu detik. Tentang ulang tahun Nilna yang selalu diingatnya, kini harus benar-benar ia lupakan.‘Ning Nilna, kamu selalu cantik apa adanya. Itu yang membuat aku belum bisa melupakan
“Nggak apa-apa, nggak apa-apa.” Nilna menggeleng dengan ekspresi panik.“Hm.” Bagas menghela napas. Lelaki itu tak lagi memperpanjang perdebatan.“Ya sudah, ayo masuk.” Bagas menggandeng tangan Nilna, menunjukkan kemesraan dan kepemilikan yang mutlak kepada semua orang.“Hah!” Nilna sedikit tersentak dengan gerakan Bagas yang frontal dan terburu-buru.“Silakan masuk, Gus Bagas, Ning Nilna.” Begitu selesai mengucap salam, seorang santri ndalem langsung menyambut kedatangan pasangan suami istri itu dengan hormat.“Terima kasih,” balas Bagas dengan suara yang datar. Di sebelahnya, Nilna agak keteteran karena harus mengikuti langkah sang suami yang cepat dan lebar.“Nah, itu dia. Mereka sudah datang.” Abah Rasyid tersenyum lebar di kursinya. Diikuti oleh warga pesantren lain yang turut menyorot ke arah depan.“Abah.” Bagas mempercepat jalannya. Pria itu melakukan sungkem terlebih dulu pada sang ayah.“Syukurlah, kalian berdua sudah tiba dengan selamat,” sambung Zidni yang juga turut hadir
“Belum, Mas. Aku mau salat subuh dulu sebelum buka kotak birunya,” jawab Nilna sembari berjalan dan mendongak pada sang suami. “Istri kecil Mas yang pintar,” puji Bagas dengan senyum yang lebar, menepuk bahu Nilna dengan lembut.Nilna masih mendongak dengan senyum kecut yang terpampang nyata. Wanita belia itu tak suka dipanggil istri kecil.Begitu selesai salat berjamaah, keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Saling pandang dengan senyum penuh arti tanpa bersuara.“Ehm.” Bagas melipat tangan di dada dengan santai, serta memberi kode berupa gerakan mata.“Hehe.” Nilna tersenyum malu-malu, sementara kedua tangan perempuan itu memeluk kotak kejutan berwarna biru muda dengan erat.“Apa harus dibuka sekarang?” Nilna membolak-balikkan posisi kotak dengan ekspresi sayang. “Ya iya, dong.” Bagas mengusap wajah dengan ekspresi payah.“Kotak biru muda berhiaskan pita pink yang menjuntai, begitu cantik dan menggemaskan. Sayang sekali jika harus dibuka. Itu artinya, aku harus merusak kecant
“Abah berpesan, besok malam kita diutus ke ndalem.” Bagas memeluk Nilna erat-erat ketika wanita muda itu baru hendak belajar.“Yah!” Nilna cemberut melihat bukunya terjatuh ke lantai. Ia menunduk hendak mengambil. Namun, suara final Bagas langsung terdengar dan menghentikan pergerakan Nilna.“Biar aku yang ambil.” Bagas melepaskan pelukan dan segera berjongkok untuk mengambil buku yang tergeletak di permukaan lantai.“Hm.” Nilna menatap pergerakan Bagas, kemudian bertanya, “Memangnya ada acara apa, Mas?”“Itu, acara untuk Ilham. Dia mau melamar seorang santriwati yang baru saja lulus Aliyyah.” Bagas tersenyum lega, dengan tangan yang meletakkan kembali buku ke atas meja.“Apa?!” Nilna terkejut, tetapi ia segera tersadar dan menenangkan diri. Istri direktur itu refleks menutup mulut dengan gestur agak canggung.“Kaget?” Bagas memicingkan mata pada Nilna.“Ehm. Iya.” Nilna tampak kelabakan.“Nggak apa-apa. Wajar.” Bagas tersenyum lembut pada Nilna.Pria itu membawa istrinya duduk di tep
“Hah!” Bagas tampak pasrah dengan tinjuan Nilna yang terus menimpa tubuhnya. “Aduh! Ampun! Ampun!” Pria itu malah tertawa di sela permintaan ampunnya. Ia terlihat seperti seorang anak laki-laki yang tak berdaya saat dihukum ibunya karena telah melakukan kesalahan. “Bilang apa, tadi? Ayo, ulangi lagi!” Nilna memasang wajah galak, yang justru terlihat menggemaskan di mata Bagas. Lelaki itu tak tahan lagi dan langsung mendekap sang istri dengan kekuatan kokoh. “Ih. Lepas!” Tubuh Nilna kini benar-benar terkunci pada pelukan Bagas yang begitu kuat bagaikan penjara. Wanita muda itu tak lagi bisa meninju tubuh sang suami karena tenaganya kalah jauh. “Adek, sudah malam, Sayang.” Bagas menenangkan sang istri yang masih terus meronta dari dekapan. Pria itu merengkuh tubuh kurus Nilna dengan kelembutan yang justru teramat kokoh. “Hah! Mas curang! Beraninya melawan aku yang seorang perempuan. Ya, pasti aku akan kalah.” Nilna berkata dengan galak. “Lalu, Adek maunya bagaimana?” Bagas terkek







