Share

Bab 68. Aku Bisa!

Author: Dwi Maula
last update Last Updated: 2025-09-03 21:07:37
“ … Kautsar! Dengan nomor urut 17, atas nama Ananda Nilna Muna!”

“Yeay!”

Seketika, sorak sorai seluruh warga tuan rumah menyerbu pengumuman yang sempat terjeda. Akan tetapi, tak mengurangi sedikit pun kehebohan dan rasa syukur yang tercurah. Teriakan bahagia meluncur seperti ombak yang menghantam karang. Tepuk tangan berderap, kursi-kursi berderit, lantai itu ikut bergetar!

“Nilna, itu nama kamu disebut! Aku hampir nggak percaya! Kamu juara!” Asna mengguncang-guncang tubuh Nilna agak keras. Sebelumnya, ia lebih dulu berjingkat dari lantai aula. Sementara Nilna merasa raganya mendadak lemas tak terjelaskan. Dirinya mengira tengah berjalan di dalam mimpi!

Nilna merasa hampir tak mampu untuk berdiri. Kaki yang menopang tubuh rampingnya tiba-tiba gemetar, dengan jantung yang terasa menabrak dada. Dunia terasa melambat.

“Aku … juara?” tanyanya, masih dengan raut wajah tak percaya. Suara Nilna sangat pelan, dan hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.

“Nilna, kamu juara satu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jambul
kok dobel bab 68 nya?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 147. Perundungan

    Bab 148.“Hah! Apa yang sedang mereka bicarakan? Lirikan tajam mereka mengarah ke aku. Pasti mereka lagi menggosip yang nggak benar.” Nilna menggebrak meja, lalu segera berdiri menghampiri kerumunan mahasiswi dengan raut wajah tak terima.“Psst …. Diam, itu orangnya datang!” desis Tessa dengan cepat. Matanya melirik ke arah Nilna yang telah berada di dekatnya. Tessa adalah mahasiswi cantik yang terkenal dominan dan tak mau kalah di Universitas Al-Kautsar. “Mau apa kamu, Nilna?!” sungut Lana, yang sikapnya nyaris sama dengan Tessa. Gadis itu menatap tajam pada Nilna tanpa rasa khawatir. “Aku yang seharusnya tanya ke kalian!” balas Nilna lugas. Wanita muda itu telah tak tahan lagi dengan geng empat orang yang selalu mendominasi isi kelas dengan keangkuhan dan keributan.“Hei, apa maksud kamu?!” Anna ikut tersulut emosi. Gadis itu segera berdiri dan menempelkan tubuh pada Nilna.“Hah! Menjauh sana!” Nilna menepis bahu Anna. Dirinya tak sudi bersentuhan dengan Anna yang begitu manipulat

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 146. Lamaran

    “Baiklah kalau begitu.” Nilna mengatupkan bibir, menerima kenyataan yang terjadi dengan lapang. Meski begitu, otak calon ibu muda itu tak pernah berhenti. Ia masih tetap aktif menganalisis situasi, menyimpulkan, dan menyusun strategi ke depannya.“Hm.” Bagas tersenyum lega. Pria itu menepuk bahu istrinya sebagai bentuk penguatan.Acara lamaran pun telah usai, menciptakan nuansa bahagia yang tidak biasa. Ada beberapa celah mengganjal yang bisa semua orang pahami, tetapi mereka telah terbuai dengan pesona lembut dari Qaila. “Baiklah, semua berjalan dengan lancar. Hari pernikahan pun sudah ditentukan tanggalnya. Tinggal kalian berdua saja yang saling menguatkan, agar tetap dalam keadaan baik ketika hari pernikahan tiba.”Abah Rasyid menepuk bahu Ilham, seraya memberikan nasihat-nasihat kehidupan untuk kedua calon mempelai.“Untuk Saudari Qaila, sedikit banyak kita sudah menjalin hubungan baik selama hampir lima tahun. Pihak kami juga memahami tentang skandal perusahaan yang Anda perbuat

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 145. Membekas

    “Assalamualaikum.” Ilham mengucap salam, membuat seluruh tamu yang hadir sontak menoleh ke sumber suara. Pemuda itu tampak jenjang dengan balutan kemeja dan sarung sederhana. Ia berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk, memancarkan kesan seorang pria yang teduh dan penuh kelembutan.“Waalaikumussalam,” jawab semua tamu serempak.“Akhirnya, Kang Ilham hadir juga.” Abah Rasyid menghela napas.“Abah,” sapa Ilham. Pemuda itu berjalan membungkuk untuk menyalami sang kiai terlebih dulu. “Ya, ya. Bagus, bagus.” Abah Rasyid tampak semringah. Pria tua itu menepuk bahu santrinya pelan.Ilham beringsut mundur, lalu menyalami tamu sesama lelaki. Untuk tamu perempuan, pria itu hanya menangkupkan dua tangan di depan dada.Tak terkecuali pada Nilna. Ada suatu hal yang membuat pemuda itu merasa hilang napas selama satu detik. Tentang ulang tahun Nilna yang selalu diingatnya, kini harus benar-benar ia lupakan.‘Ning Nilna, kamu selalu cantik apa adanya. Itu yang membuat aku belum bisa melupakan

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 144. Mutlak

    “Nggak apa-apa, nggak apa-apa.” Nilna menggeleng dengan ekspresi panik.“Hm.” Bagas menghela napas. Lelaki itu tak lagi memperpanjang perdebatan.“Ya sudah, ayo masuk.” Bagas menggandeng tangan Nilna, menunjukkan kemesraan dan kepemilikan yang mutlak kepada semua orang.“Hah!” Nilna sedikit tersentak dengan gerakan Bagas yang frontal dan terburu-buru.“Silakan masuk, Gus Bagas, Ning Nilna.” Begitu selesai mengucap salam, seorang santri ndalem langsung menyambut kedatangan pasangan suami istri itu dengan hormat.“Terima kasih,” balas Bagas dengan suara yang datar. Di sebelahnya, Nilna agak keteteran karena harus mengikuti langkah sang suami yang cepat dan lebar.“Nah, itu dia. Mereka sudah datang.” Abah Rasyid tersenyum lebar di kursinya. Diikuti oleh warga pesantren lain yang turut menyorot ke arah depan.“Abah.” Bagas mempercepat jalannya. Pria itu melakukan sungkem terlebih dulu pada sang ayah.“Syukurlah, kalian berdua sudah tiba dengan selamat,” sambung Zidni yang juga turut hadir

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 143. Puas

    “Belum, Mas. Aku mau salat subuh dulu sebelum buka kotak birunya,” jawab Nilna sembari berjalan dan mendongak pada sang suami. “Istri kecil Mas yang pintar,” puji Bagas dengan senyum yang lebar, menepuk bahu Nilna dengan lembut.Nilna masih mendongak dengan senyum kecut yang terpampang nyata. Wanita belia itu tak suka dipanggil istri kecil.Begitu selesai salat berjamaah, keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Saling pandang dengan senyum penuh arti tanpa bersuara.“Ehm.” Bagas melipat tangan di dada dengan santai, serta memberi kode berupa gerakan mata.“Hehe.” Nilna tersenyum malu-malu, sementara kedua tangan perempuan itu memeluk kotak kejutan berwarna biru muda dengan erat.“Apa harus dibuka sekarang?” Nilna membolak-balikkan posisi kotak dengan ekspresi sayang. “Ya iya, dong.” Bagas mengusap wajah dengan ekspresi payah.“Kotak biru muda berhiaskan pita pink yang menjuntai, begitu cantik dan menggemaskan. Sayang sekali jika harus dibuka. Itu artinya, aku harus merusak kecant

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 142. Kotak Kejutan

    “Abah berpesan, besok malam kita diutus ke ndalem.” Bagas memeluk Nilna erat-erat ketika wanita muda itu baru hendak belajar.“Yah!” Nilna cemberut melihat bukunya terjatuh ke lantai. Ia menunduk hendak mengambil. Namun, suara final Bagas langsung terdengar dan menghentikan pergerakan Nilna.“Biar aku yang ambil.” Bagas melepaskan pelukan dan segera berjongkok untuk mengambil buku yang tergeletak di permukaan lantai.“Hm.” Nilna menatap pergerakan Bagas, kemudian bertanya, “Memangnya ada acara apa, Mas?”“Itu, acara untuk Ilham. Dia mau melamar seorang santriwati yang baru saja lulus Aliyyah.” Bagas tersenyum lega, dengan tangan yang meletakkan kembali buku ke atas meja.“Apa?!” Nilna terkejut, tetapi ia segera tersadar dan menenangkan diri. Istri direktur itu refleks menutup mulut dengan gestur agak canggung.“Kaget?” Bagas memicingkan mata pada Nilna.“Ehm. Iya.” Nilna tampak kelabakan.“Nggak apa-apa. Wajar.” Bagas tersenyum lembut pada Nilna.Pria itu membawa istrinya duduk di tep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status