แชร์

163| Lost & Found

ผู้เขียน: sidonsky
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-18 01:13:34

Dengan sesegukan yang perlahan reda, Aruna mengusap bulir air matanya menggunakan tisu yang tadi Athar berikan.

Mereka masih berada di pinggir jalan raya, di tengah kelengangan Ibu kota menjelang tengah malam. Mobil biru tua Athar terparkir tepat di depan mobil pink metallic Aruna, lampu hazardnya berkedip-kedip menari di atas aspal basah, menjadi satu-satunya sumber cahaya selain pendar kuning dari lampu jalan yang berjarak beberapa meter.

Kap mobil Aruna terbuka lebar, dan Aruna kini duduk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   164| Berhenti Berharap

    Suasana di dalam kabin mobil dua pintu Athar begitu terasa sempit, namun bukan berarti tidak nyaman. Dengung mesinnya halus, jauh lebih tenang dibandingkan mobil sedan Aruna, dan aroma hangat yang bercampur sedikit wangi khas Athar memenuhi ruangan. Dari kursi penumpang, Aruna sesekali mencuri pandang ke arah Athar yang tengah fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang semakin sepi. Tangan lelaki itu di kemudi terlihat sangat terkendali, sama seperti sikapnya yang selalu tenang sepanjang malam ini."Seperti yang sudah kamu tahu, saya, Atlas dan Anin itu bersahabat sejak kita masih kecil," ucap Athar di tengah-tengah heningnya situasi, matanya tetap lurus ke depan.Membuat Aruna langsung memasang telinganya tajam."Dan saat itu, kita berdua menyukai Anindhita," lanjutnya dengan senyuman pahit yang samar di bibirnya. "Tapi Anin memilih Atlas, dan mereka menjalin hubungan cukup lama sampai keduanya pisah, ketika Anin memilih fokus dengan gelar dokternya di London."Tangan Aruna mengep

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   163| Lost & Found

    Dengan sesegukan yang perlahan reda, Aruna mengusap bulir air matanya menggunakan tisu yang tadi Athar berikan. Mereka masih berada di pinggir jalan raya, di tengah kelengangan Ibu kota menjelang tengah malam. Mobil biru tua Athar terparkir tepat di depan mobil pink metallic Aruna, lampu hazardnya berkedip-kedip menari di atas aspal basah, menjadi satu-satunya sumber cahaya selain pendar kuning dari lampu jalan yang berjarak beberapa meter. Kap mobil Aruna terbuka lebar, dan Aruna kini duduk di bagasi mobil Athar yang juga terbuka, kakinya menjuntai sedikit, sementara pemandangan di hadapannya adalah Athar yang sudah melepas kemeja putihnya dan menggulungnya sampai ke siku lengan.Memperlihatkan otot lengan yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu jalanan. Lelaki itu tengah sibuk mengutak-ngatik mesin mobil Aruna dengan tangan yang sudah kotor terkena noda hitam.Asap sudah berhenti keluar sejak setengah jam lalu, dan Aruna sudah lumayan tenang di posisinya. Sesekali ia menarik na

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   162| Benar-Benar Runtuh

    Tiga hari terakhir terasa jauh lebih panjang daripada tiga hari pada umumnya. Aruna baru menyadarinya ketika malam kembali turun, ketika lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di balik jendela kamarnya, dan ketika untuk kesekian kalinya jemarinya kembali membuka layar ponsel hanya untuk memastikan satu hal yang sama, tidak ada pesan baru dari Atlas. Tidak ada panggilan, tidak ada chat singkat, tidak ada "Sudah makan?" atau "Sedang apa?" yang biasanya datang di sela kesibukan lelaki itu. Tidak ada apa-apa. Dan sialnya, hal itu jauh lebih menyiksa daripada yang Aruna bayangkan.Sejak malam di pesta pernikahan Nadine itu, sejak Atlas meninggalkannya di tengah ballroom mewah di tengah lingkaran orang-orang yang membuat kepercayaan dirinya runtuh sedikit demi sedikit, sejak tatapan Anindhita dan kalimat-kalimatnya yang terus berputar di kepalanya tanpa henti, Aruna memilih diam. Ia pulang, masuk ke rumah, dan menolak berbicara pada siapa pun. Bahkan dua pengawal Atlas yang berdiri

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   161| Belum Sekarang

    "Anindhita?"Aruna tidak tahu, mana yang lebih menyakitkan. Kemunculan wanita itu, atau kenyataan bahwa beberapa menit sebelumnya ia sempat merasa menang.Sempat.Karena baru saja ia berdiri dengan percaya diri di tengah ballroom megah itu, mengenakan cincin berlian yang melingkar manis di jari manisnya, berdiri di samping Atlas dengan kepala tegak, dengan semua mata memandangnya penuh pengakuan. Kini, perlahan, keadaan berbalik tanpa memberi aba-aba.Dan semuanya dimulai ketika Ratna melihat sosok itu."Anin?"Suara Ratna terdengar cukup jelas di tengah alunan saxophone lembut dan denting gelas kristal yang bersahutan. Wanita bersanggul anggun itu bahkan tampak terkejut sebelum senyum hangatnya perlahan merekah. Tanpa pikir panjang, Ratna melangkah mendekat ke arah wanita bergaun putih gading yang baru saja bergabung di area tamu kehormatan.Aruna ikut menoleh.Dan di sanalah Anindhita berdiri.Anggun. Terlalu anggun. Gaun satin putih yang membalut tubuh jenjangnya jatuh sempurna hin

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   160| Sebuah Pertunjukan

    "Hai, salam kenal, Aruna."Untuk sepersekian detik, napas Aruna benar-benar berhenti. Jemarinya yang sedari tadi menggenggam gelas champagne mendadak mengencang, sampai kuku-kuku cantiknya nyaris meninggalkan bekas di permukaan kaca tipis itu. Aruna mengerjap pelan, menatap wajah cantik dengan senyum lembut itu, lalu refleks menoleh ke arah samping, ke arah Atlas, dan yang membuat dadanya semakin sesak adalah fakta bahwa lelaki itu terlihat sama terkejutnya. Namun Aruna adalah Aruna, seorang wanita yang membangun karier dari membaca emosi orang lain, seorang pakar cinta yang setiap hari mengajarkan banyak orang bagaimana tetap terlihat tenang di tengah kekacauan. Jadi meski kepalanya terasa berisik, meski dadanya seperti dipukul sesuatu tanpa aba-aba, Aruna memaksa dirinya sadar. Menarik napas, membuang perlahan, dan menenangkan diri."Kak?" Suara Nadine menyadarkannya. "Are you okay?""Hm?" Aruna mengerjap lagi, lalu tersenyum, senyum yang begitu terlatih sampai hampir tak terlih

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   159| Datangnya Masa Lalu

    Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, membuat seluruh ruangan malam itu tampak seperti potongan dunia lain yang terlalu sempurna untuk disebut nyata. Begitu Aruna menginjakkan kakinya ke dalam ballroom hotel bintang tujuh yang berdiri megah di pusat kota itu, matanya langsung disambut kemewahan yang bahkan sulit ia hitung dengan logika. Langit-langit tinggi dengan ukiran emas. Pilar-pilar marmer putih. Karpet panjang bernuansa champagne yang membentang sampai ke altar utama. Di sudut ruangan, alunan saxophone hidup mengisi udara dengan nada lembut dan sensual, berpadu dengan denting piano yang dimainkan begitu elegan hingga membuat setiap langkah terasa lebih mahal.Ratusan tamu sudah memenuhi ruangan. Gaun-gaun couture, Jas bespoke, kilau berlian, aroma parfum mahal, tawa pelan yang berkelas dan gelas-gelas champagne yang saling beradu pelan.Dan tepat di tengah semua kemewahan itu, terdengar sorakan riuh para t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status