LOGINJannah, wanita 27 tahun yang harus menanggung malu di hari bahagianya. Bagaimana tidak? Dia di permalukan oleh lelaki yang baru saja menikahnya langsung menjatuhkan talak tiga padanya di depan orang banyak. Jannah terluka dan terpuruk, tetapi wanita itu beruntung memiliki kedua orang tua yang selalu ada untuknya dan selalu mendukungnya. Untuk menghilangkan rasa sakit hati dan trauma yang mendalam, Jannah memutuskan untuk melaksanakan umroh di tanah suci dan berhijrah. Setelah pulang dari umroh, Jannah diberikan kemudahan dan dilancarkan segala urusan dan usaha.
View MoreSeraphina's POV
"Mortimer, I did some digging. We can actually hike the Glacier Forest. And..."
I looked up at him, burying half my face in my thick wool scarf, my eyes locked onto Alpha Mortimer. "The rangers say if we take this trail, we'll get a front-row seat to the Blood Moon. It only happens once every twenty years."
I'm a healer back at the center, and I'd pulled a string of brutal night shifts just so I could clear my schedule for this trip.
Mortimer managed to carve out two weeks to join me here in Alaska.
Honestly? I was hoping this would be the spark our dying relationship needed.
"Let's try the trail tomorrow, okay?" As I spoke, my breath puffed out in a thick white cloud, and tiny ice crystals clung to my lashes.
Since our "political alliance" of a mating started three years ago, I'd always played the part of the perfect, poised Luna. I'd never let him see this side of me—the side that actually gets excited about things.
He reached out, tucking a stray hair behind my ear, and his usual icy vibe finally thawed. A small smile tugged at his lips. "Okay."
His golden eyes glowed with an intensity that almost felt... real.
"Seraphina," he murmured, leaning down until his warm breath grazed my neck, sending a literal shiver down my spine. "Our wedding three years ago was so rushed. It was just a cold ceremony. I never gave you a real promise, a mate's promise. It wasn't fair to you."
I looked into his eyes, seeing what looked like genuine regret, and my heart skipped a beat.
He took my hand, pressing his lips to my knuckles. His voice was low and husky. "Tonight, when the moon turns red, I'm going to make it up to you. I'm giving you the ceremony you deserve."
Legend said that if an Alpha marks his mate under a Blood Moon, the mating bond becomes unbreakable. Permanently blessed.
"I want you to be my Luna for real, Seraphina."
At the heat of his touch, my wolf, Lily, let out a long, happy howl in the back of my mind. "Mate... our mate wants us..."
In that moment, I felt the thin, fragile link between us flare to life, wrapping around my heart like a vine.
The sudden sense of destiny was so overwhelming I almost drowned in the tenderness he was weaving around me.
"Okay," I whispered. "Alpha Mortimer."
The next day, a total blizzard hit. The Alaskan wind was so sharp it felt like cold steel against my skin.
I held onto Mortimer's muscular arm, unable to hide my grin. "Look at this place," I breathed. "It's like a cathedral made of ice. Who knows when we'll get to be here together again?"
Mortimer stopped and looked at me, his golden pupils bright against the swirling snow.
Suddenly, he grabbed the back of my neck and pulled me close.
"Whenever you want, Seraphina," he said, his voice dropping into that deep, masculine rumble. "We'll come back every year if that's what makes you happy."
As he spoke, he let his Alpha pheromones leak out—heavy, hot, and smelling of pine and wild earth.
It cut right through the freezing wind, slamming into my senses.
That was the scent of a fated mate.
Lily went wild in my head, whimpering and desperate for him.
I felt a rush of heat shoot down my spine, a dull ache of longing settling deep in my core.
"Mortimer..." I breathed.
He leaned in to kiss me, but the comm-link at his waist started vibrating like crazy.
The second he picked up, Vivian's frantic, sobbing voice filled the air. She was being ambushed by rogues.
Mortimer's face went bone-white. I'd never seen him look so panicked.
Without a single word or a glance back at me, he turned and sprinted back the way we came.
I reached out to grab him, but my hand caught nothing but freezing air.
By the time I struggled back to the lodge, Mortimer was already changing into tactical gear. His eyes were dark with this frantic, simmering anxiety.
Vivian—his childhood friend, the girl he'd been "protecting" for years—was clearly his only priority now.
"Viv's been taken. I have to go. Now." He didn't even look at me as he headed for the door, his words coming out in a blur.
Right before he stepped out, he seemed to remember I existed. He tossed a dismissive comment over his shoulder: "Watch the Blood Moon without me. I'll find you once I get her back."
My heart sank. Ignoring the heat still pulsing through my body from his pheromones, I chased after him. "Mortimer, wait!"
He spun around, and the sophisticated Alpha was gone. His eyes had shifted, the pupils becoming thin slits of pure, terrifying rage.
He let out a low, warning growl. "Seraphina, I chose you because you were sensible. Are you really going to let jealousy stop me from saving a life?"
It felt like a slap. I froze, my heart shattering.
He seemed to realize he'd crossed a line, a flash of guilt flickering in his eyes.
I looked down, swallowing the words I was about to say—that my heat was starting.
Instead, I just handed him his goggles. "I just wanted you to take these. The snow glare will kill your eyes otherwise."
Mortimer stiffened. He took the goggles, rubbed his temples like he was exhausted, and muttered a quick "Wait for me" before vanishing into the blizzard.
We'd been together for three years. The Mortimer I knew was always calm, always the gentleman. I'd never seen him lose his cool like that.
Lily curled up in the back of my mind, letting out a long, pathetic whine.
I sighed. Our mating had started as a drama-free, logical arrangement.
DUA MINGGU KEMUDIAN"Wah, cantik sekali teman aku? Kamu benaran hijrah?" Ratna begitu kagum dengan perubahan Jannah. Jannah baru saja pulang dari tanah suci dan dia putuskan untuk hijrah dan memperbaiki diri jadi lebih baik lagi. "Terus mana oleh-oleh buat aku?" Tidak hanya memuji kecantikan Jannah yang sudah hijrah, tetapi Ratna juga meminta oleh-oleh pada temannya itu. "Ada di ruangan aku." Jannah membelikan oleh-oleh temannya dan atasannya. Jannah mengajak Ratna ke ruangannya. Sesampai di ruangan Ratna mengerutkan keningnya saat melihat ada dua bingkisan jajan. "Ini buat kamu." Jannah memberikan satu bingkisan oleh-oleh untuk Ratna, teman karibnya. "Terus satunya buat siapa?" Ratna menaikan kedua alisnya meminta jawaban dari Jannah. "Ini untuk atasan kita," jawab Jannah. "Wah, anak bawahan yang sangat baik dan patuh di berikan apresiasi yang luar biasa. Bawahan yang selalu ingat kebaikan atasannya adalah karyawan yang baik," ucap Ratna.Sesudah itu Ratna pun langsung menin
"Bagus kalau begitu," ucap seseorang dari depan pintu. Jannah mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sumber suara, dengan cepat Jannah menyeka air matanya saat melihat orang yang ada di depan pintu. Orang itu adalah Abercio, atasannya. Ratna langsung pamit keluar, dia biarkan Jannah bersama Abercio. "Saya permisi, Pak." Ratna keluar dari ruangan Jannah. Sedangkan Abercio, CEO tampan itu masih berdiri di depan pintu dengan mata yang lirik pandang ke arah Jannah. Setelah Ratna pergi, Abercio masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati meja kerja Jannah. "Sepulang kerja nanti kamu bisa langsung bersiap-siap untuk keberangkatan ke Mekkah. Besok pagi jam 06.00 kamu sudah berangkat ke sana." Abercio berbicara dengan nada tegas dan raut wajah datar. "Baik, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Jannah sambil menundukkan kepalanya. "Ya," jawab Abercio singkat dan meninggalkan ruangan kerja bawahannya itu. Jannah pun kembali fokus dengan pekerjaannya, dia memiliki untuk meny
"Selamat, Bu Jannah. Anda mendapatkan tiket umroh gratis." Linda selaku asisten Abercio menyerahkan tiket gratis untuk Jannah."Tiket umroh gratis? Untuk saya?" Jannah begitu terkejut dengan tiket gratis untuknya itu. "Iya, Bu. Ini adalah hadiah CEO untuk Ibu karena Ibu sudah mengerjakan proposal dan atas berkat proposal dari Ibu, perusahaan kita dapat bekerja sama dengan klien dari perusahaan Makmur Jaya," terang Linda. Jannah hanya bisa manggut-manggut dan menerima tiket tersebut. Tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Entahlah Jannah merasa terharu dengan hadiah dari atasannya sehingga dia meneteskan air mata. "Terima kasih," ucap Jannah dengan suara lirih. Berangkat ke tanah suci adalah salah satu keinginannya dan hari ini dia mendapatkan tiket gratis dan itu yang sangat dia butuhkan saat ini, di butuh ketenangan dan dengan dia ingin lebih mendekatkan diri dengan sang Maha Pencipta. Jannah menyeka air matanya, kemudian dia melangkah keluar dari ruangannya dan dia
Abercio sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Jannah yang sederhana itu."Siapa dia?" Ayah Jannah bertanya.Bukan ikhsan saja yang bertanya-tanya, tapi Jannah pun ikut keheranan.Jin apa yang merasuki bosnya itu?"Dia bosku, ayah. Hari ini aku akan keluar kota untuk bertemu klien," terang Jannah, gugup."Hei, kau! Cepatlah! Jalanan akan macet nanti!" teriak CEO itu, yang tidak turun dari mobilnya. Dia hanya menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Jannah dari dalam mobil.Jannah menggerutu dalam hatinya. Mulutnya seperti sedang komat-kamit. Tatapannya lurus pada pria di mobil itu."Iya, Pak!"Ayah, Ibu, Jannah berangkat kerja dulu." Jannah berjalan dan masuk ke dalam mobil atasannya. Abercio melesat mobil meninggalkan kediaman Jannah. Hari ini dia akan membawa Jannah bersamanya guna menghadiri pertemuan dengan klien. Setelah Jannah pergi bersama atasannya, datang lah Brandon. Pria itu datang dengan mobil mewah. Brandon memarkirkan mobil di depan rumah Jannah, kemudian dia turun da
Jarum jam sudah di angka 5 sore, tetapi Jannah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Dia masih berkutik di depan komputer. Jannah masih mengerjakan proposal yang diminta oleh Abercio, atasannya. Wanita itu merenggangkan ototnya yang kaku karena duduk seharian penuh."Jan, aku duluan, ya?" Ratna p
"Aku datang ke sini hanya mau antar surat gugatan cerai kita!" ucap Brandon menatap nyalang wanita yang hanya dua menit berstatus istrinya itu. "Aku harap kamu mendatangi surat itu dan menjalani proses perceraian tanpa bantahan apa pun." Brandon menyelengos. Melipat kedua tangannya di dada. Ia beg
"Apa maksud kamu, Mas?" Wanita bernama Jannah itu terkejut bukan main, mendengar ucapan pria yang berdiri di hadapannya kini.Jannah sungguh tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, begitu juga dengan para tamu undangan yang memenuhi ruangan tersebut."Kamu sudah bukan istriku lagi, Jannah!" Pria






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews