เข้าสู่ระบบ"Mami maafkan aku ya. Mungkin Mami akan berpikir kenapa aku malah dekat dengan Kak Brilly. Aku..." "Sssttt.... Sudah Nak! Jangan kamu khawatirkan itu! Mami senang kamu dekat dengan siapa saja. Dengan Brilly pun tidak mengapa. Apalagi kalian yang ternyata memiliki ikatan dari Gwen. Hanya saja, dijaga dulu! Kamu belum selesai dengan masalah yang ada." "Itu yang aku pikirkan, Mi. Aku takut orang berpikirnya kalau aku serakah. Aku nggak tau aturan. Aku malah memiliki hubungan dengan kakakk ipar padahal perpisahan sedang dalam proses. Aku paham, Mi. Kami juga belum ada hubungan yang mengikat." Naomi menundukkan kepalanya. Kedua pipinya merona membayangkan apa yang sudah terjadi dengannya dan Brilly. Apa begitu masih bisa dikatakan belum ada ikatan atau memang mereka melakukannya tanpa ikatan? Namun Naomi tidak memungkiri jika Brilly sudah serius padanya. Hanya memang Naomi yang masih ragu pada pria itu. "Pasti anak Mami yang menggebu untuk menjalin hubungan sama kamu, ya 'ka
"Kelak aku akan membuatmu percaya padaku." Naomi diam tak menjawab. Namun dia tidak menghindari tatapan mata Brilly yang mencoba meyakinkannya. Kedua tangan Brilly pun merapat membuat Naomi melirik ke bawah. Namun suara seseorang menarik perhatian mereka. "Harmonis sekali, sudah sampai tahap apa kalian? Aku di sini terusir tetapi kalian menikmati sekali hubungan terlarang itu. Ingat, Naomi masih sah istriku!" Sontak Naomi dan Brilly menoleh ke arah pintu yang terbuka. Ada Lian di sana dengan kedua mata yang dipenuhi oleh kekecewaan dan juga kemarahan yang tidak bisa pria itu sembunyikan. "Salah siapa kamu pulang ke sini? Ini bukan lagi rumahmu, Lian! Proses perceraian sudah dimulai dan babak baru dalam hidupmu pun akan segera datang. Nikmatilah! Satu lagi, rumah ini bukan lagi milikmu!" "Dan itu semua karenamu, Brilly!" Lian hendak menghajar wajah Brilly tetapi dengan cepat Naomi menggeser tubuhnya menutupi Brilly yang lebih tinggi darinya. "Jangan lakukan itu, Ma
Kedua mata Naomi kembali terpejam kala Brilly menyatukan lagi indera perasa meraka. Kali ini bukan di sofa tempat mereka bertukar saliva melainkan di ranjang yang nyaman untuk bercinta. Sayangnya tanggung jawab yang Brilly minta memang ke arah sana. Jantung Naomi berdebar kencang saat tangannya dituntun untuk menyentuh sesuatu yang sudah tegang saat ini. Tangan Brilly yang singgah di salah satu paha Naomi pun mulai bergerak masuk dengan tangan bergerak lembut. Awalnya tentu saja Naomi menolak tetapi Brilly yang sudah gelap mata tentu menuntut tanggung jawab atas apa yang Naomi lakukan. "Kak jangan sekarang! Aku belum bersih." "Hanya tipis-tipis saja. Kamu sudah membuatnya bangun. Apa kamu pikir ini hanya salahku, hhm?" Sudah bukan rahasia umum lagi jika laki-laki dan perempuan bersama dalam suatu ruangan tentu saja akan terjadi sesuatu yang memabukkan. Sejak awal juga Naomi mengkhawatirkan itu tetapi Brilly sangat tenang memanggapi. Nyatanya setelah melihat pose dan p
Boleh tidak jika Naomi menikmati momen ini? Boleh tidak jika dia ingin menikmati pelukan yang mampu menguatkannya kembali setelah badai datang dan mati-matian meruntuhkannya? Boleh tidak jika Naomi merasakan kembali dicintai dengan sepenuh hati tanpa menyertakan masa lalu yang hampir membuatnya trauma? Sudah sangat lama Naomi menderita dan sudah lama tubuhnya dingin tanpa sentuhan laki-laki. Naomi butuh itu dan jiwanya tak menolak kehadiran Brilly. Debaran jantungnya yang cepat itu bertemu dengan nafas hangat Brilly yang memeluk dan singgah di tengkuknya. Dekapan pria itu menciptakan kehangatan yang benar-benar Naomi butuhkan. Bahkan kasih sayang begitu alami mengalir di tubuh Naomi memberikan energi baru untuk dapat melalui lika liku hidup selanjutnya. Naomi sangat butuh pelindung. Naomi haus kasih sayang yang tulus. Naomi butuh seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya dan itu ia dapatkan dari kakak ipar. Brilly yang selama ini selalu ada di sampingnya, kini meme
Naomi terduduk di meja makan melihat bagaimana aktifnya Brilly di dapur. Pria itu bergerak ke sana kemari seperti sudah sangat ahli. Brilly memutuskan ingin masak. Padahal tadi Naomi sudah mengatakan kalau pesan saja tetapi pria itu justru seolah ingin unjuk kebolehan. Usai ciuman panas yang membuat Naomi merasa canggung tetapi sukses menenangkan pikirannya dan sedikit melupakan akan sikap Lian tadi, meskipun jantung berdebar kencang. Kini perutnya pun terasa lapar. Apalagi sejak pagi keduanya belum makan, dengan itu Brilly berinisiatif untuk membuat masakan sendiri. Sesekali Brilly menoleh memperhatikan Naomi yang tengah menyangga dagu seraya memperhatikan pria itu. "Apa Kakak butuh bantuanku?" tanya Naomi sekalian menawarkan diri. "Tidak perlu, Naomi. Kamu duduk saja di sana. Jangan mendekat apalagi membantuku!" tolak Brilly. "Kenapa begitu? Padahal aku bisa mempercepat masakanmu agar segera matang, Kak." "Untuk kali ini duduklah yang manis dan tunggu sampai masa
Tubuh Naomi membeku hingga tak bisa banyak pergerakak. Untuk kesekian kalinya bibir pria itu kembali singgah di bibirnya. Naomi sempat ingin melepaskan tetapi Brilly menekannya dan tangan pria itu mulai meraih wajahnya untuk masuk menyentuh tengkuknya. Naomi sedikit mendongak kala Brilly mulai memainkan bibirnya. Tangan pria itu pun menarik tengkuknya hingga ciuman mereka semakin dalam. Mulut Naomi terbuka kala lidah Brilly mendesak ingin masuk ke dalam dan menyapu semua ruang hingga membelit lidahnya. Sesapan dan gerakan lidah keduanya bergantian bergerak menimbulkan suara decapan yang mulai mengisi ruangan sepi ini. Naomi terpancing dan membalas dengan gerakan yang kalah agresif. Ibu anak satu ini mulai kehilau akal. Kedua tangannya bergerak meraih lengan Brilly dan mencengkramnya. Mereka bergerak begitu sangat menikmati hingga suara decapan semakin menjadi. "Tenangkan dirimu di sini!" bisik Brilly di sela ciuman panas keduanya. Nafas mereka saling memburu dan hi
Kedua alis Naomi menukik seraya menatap wajah Brilly yang begitu lahap sekali memakan mie instan itu. Kalau dilihat memang lezat. Pas sekali dengan hawa dingin yang tengah mereka rasakan. Namun kenapa harus jauh-jauh ke sini kalau hanya ingin makan mie. Pria itu tidak sadar atau takut menjadi fi
"Sudah habis makanannya?" Deg Naomi baru saja hendak membuka pintu kamarnya tetapi pertanyaan dari tetangga kamar sebelah membuatnya menoleh dan melepaskan handle pintu. "Kakak yang pesan?" "Bukankah kamu tidak mau makan makanannya lagi?" tanya Brilly kemudian masuk ke dalam kamar. Na
Naomi menyilangkan kedua tangannya di dada seraya memperhatikan Lian yang kini melangkah memasuki kamar Gwen. Lian membawa Gwen menuju ranjang dan merebahkannya di sana. "Sudah Sayang, kalian habis dari mana?" tanya Lian dan Naomi menjawab jujur. "Main, Mas. Sudah lama aku tidak mengajak Gwen
"Apa Nyonya sudah mau sampai rumah, Tuan?" "Masih di jalan. Kita bisa menyelesaikannya dulu Maryam." Kedua tangan Lian meraih pinggul Maryam dan kembali bergoyang memaju mundurkan pinggulnya menghantam milik Maryam yang sudah sangat basah. PLAK "Sangat nikmat Maryam. Aku suka," kata Lian







