Share

16

Author: Re_
last update publish date: 2026-10-05 10:40:21

“Hei, kalian lihat tidak?” Garry membuka kaos, lalu melemparkannya ke dalam tong pakaian kotor. Bulir-bulir keringat tampak memenuhi tubuh kekarnya.

“Tatapan Tuan Aiden saat latihan tadi pagi,” lanjutnya mengambil sebuah lipatan kain dari rak kain bersih lalu mengelap tubuhnya.

Phillip melakukan hal yang sama,

“Seperti biasa, sangat berkarisma,” sahutnya.

“Maksudku ....” Garry merendahkan suara,

“Saat Tuan memergoki Lady sedang mengintip di balkon.”

Rowan mendekat, tubuhnya kini sudah terba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    16

    “Hei, kalian lihat tidak?” Garry membuka kaos, lalu melemparkannya ke dalam tong pakaian kotor. Bulir-bulir keringat tampak memenuhi tubuh kekarnya.“Tatapan Tuan Aiden saat latihan tadi pagi,” lanjutnya mengambil sebuah lipatan kain dari rak kain bersih lalu mengelap tubuhnya.Phillip melakukan hal yang sama, “Seperti biasa, sangat berkarisma,” sahutnya.“Maksudku ....” Garry merendahkan suara, “Saat Tuan memergoki Lady sedang mengintip di balkon.”Rowan mendekat, tubuhnya kini sudah terbalut kaos bersih.“Aku memang melihat Lady di sana, tapi apa kau yakin dia sedang mengintip?” tanyanya mengernyitkan dahi.“Mungkin saja sedang memata-matai kekuatan pasukan kita.”“Sepertinya Lady hanya berjalan-jalan, bisa saja kau keliru,” tukas Rowan.“Sendirian? tanpa seorang pelayan.” Alis Garry menukik tajam.“Apa kau yakin dengan ucapanmu, Garry?!” Mereka menoleh, tatapan tajam Nigel tampak mengintimidasi Garry. Tampaknya dia menanggapi serius ucapan Garry. Pemuda berkulit hitam itu meng

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    15

    Aiden tetap berdiri di tempatnya menatap ke arah Hazel pergi, ke arah mantel yang menutup bahu rapuh itu, ke arah punggung yang berusaha tetap tegak meski jelas gemetar, Baru setelah nyala lilin di dinding berkelip, Aiden tersadar.Langkah Hazel menghilang di ujung koridor, suara sepatu Lily pun lenyap, menyisakan kesunyian yang dingin.Ia menghembuskan nafas perlahan.“Bodoh,” gumamnya pelan, entah untuk siapa.Tangannya masih terasa hangat, bukan karena mantel, melainkan arena sebuah sentuhan yang bahkan mungkin tanpa disengaja. Sentuhan itu terlalu singkat untuk meninggalkan jejak, namun cukup dalam untuk mengguncang kendali yang selama ini ia banggakan.‘Dia gemetar. Dan aku membiarkannya begitu saja.’Aiden melangkah menuju ruang kerjanya, setiap langkah terasa berat, seakan ada sesuatu yang teritnggal, atau justru menempel di dadanya.Ia menutup pintu.Ruag kerja masih seperti tadi; peta terbentang di meja,lilin menyala setengah, bau malam bercampur tinta dan perkamen, tapi ada

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    14

    Ruang kerja Aiden tertutup rapat, peta terbentang di atas meja, lilin menyala terang. Empat kesatria berdiri berhadap-hadapan dengan Aiden, sementara Raymond berdiri sedikit di belakang , diam mengamati.Nigel melangkah maju lebih dulu.“Tuan, kami datang untuk membicarakan Eleanor,” kata Nigel mantap.“Katakan,” kata Aiden singkat.“Ravenford harus menyerang Eleanor.”Garry menunduk sebentar sebelum angkat suara,“Kita serang selagi mereka lengah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”Aiden memandang peta , lalu mengangkat kepala,“Apa alasan sebenarnya kalian ingin perang?”Nigel menarik nafas,“Kami tahu Tuan telah banyak berkorban demi Ravenford.”“Jelaskan.”“Pernikahan Tuan,” lanjut Nigel.“Itu bukan keputusan yang lahir dari keinginan pribadi.”Aiden terdiam, tidak membantah.Rowan berkata pelan, “Menikahi putri Baron Eleanor, itu adalah bentuk kompromi politik yang memaksa.”Garry menambahkan lirih,”Dan Tuan, menahan ketidaksukaan pada putri Baron demi kestabilan wilay

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Aiden masuk. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Hazel duduk di dekat jendela dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Di balut cahaya pagi, tampak kecil dan rapuh di kursi besar itu.“Kau seharusnya masih beristirahat,” katanya.“Tuan.” Hazel hendak bangkit memberi salam, namun tubuhnya terhuyung begitu dia berdiri. Aiden bergegas, tangannya hampir menyentuh bahu Hazel, namun dia menahannya. Gadis itu bertopang pada sandaran kursi dengan tangan gemetar.“Aku masuk karena pintunya terbuka,” katanya pelan. “Kau tidak perlu memberi salam. Aku tidak butuh itu,” ucapnya dingin.“Terimakasih atas kebijaksanaan Tuan. Tubuh ini sering tak menuruti keinginan saya,” jawab Hazel lemah.“Duduklah,”perintahnya,“Kemarin. Kau tampak lebih baik. Wajahmu bahkan memerah. Apa kau makan dengan benar, di mana pelayanmu?”“Astaga. Ternyata, Tuan sangat perhatian. Saya merasa tersanjung.” Hazel menyuguhkan senyum lembut.“Aku hanya-, Aku tak ingin rengekanmu terdengar sampai Eleanor,” sahut Aiden c

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    7

    Mereka tiba di Eleanor. Langit mulai gelap, namun keriuhan itu tak terusik. Jalanan dipenuhi lampu hampir di setiap sudut. Menunjukkan wibawa dan gemerlapnya ibu kota .Hazel menjulurkan kepala lewat jendela kereta, mengamati nyonya kaya yang berlalu dengan belanjaan dan bisik-bisik. Gadis berambu

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    6

    Siang itu, Marquess Aiden menunggangi Grave, kuda berwarna kelabu gelap di sepanjang jalur batu yang membelah wilayah timur. Tembok kota sedang diperkuat, bunyi palu dan besi beradu memenuhi udara. Aiden berhenti sejenak, menilai susunan balok dan jarak celah panah dengan tatapan tajam.“Perlebar

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    5

    Bab5“Hazel. Aku tidak mengizinkan. Marquess Aiden akan menyakitimu.” Tuan Hadwin menolak keras.“Aku sudah memutuskan,” jawab Hazel.“Jangan keras kepala, Aku akan memikul semuanya.”“Aku tahu!” seru Hazel, suaranya pecah..“Aku tahu Paman akan mengorbankan semuanya untukku,” katanya pelan. “Aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status