LOGIN"Jangan bikin malu dirimu sendiri, Jo! Apa kamu merasa bangga dengan tanda merah di leher kamu itu?" Bejo menyeringai melihat hansaplast yang Bu Keysa berikan. Dia teringat akan mila yang sudah memberikan tanda ini khusus untuk menjaganya dari Bu Keysa padahal hal itu justru membuatnya kena tegur oleh beliau. "Maaf jika pemandangan ini menggangu anda, Bu. Bisa fokus dengan materi yang akan kita bahas? Untuk yang ini abaikan saja! Saya tidak malu, tidak juga bangga tetapi saya juga tidak ingin menutupinya. Biarkan orang yang melihat ini sibuk dengan pemikiran mereka sendiri! Itu tidak akan menyakiti saya atau mengurangi jatah makan saya."Wanita di hadapannya tersebut langsung merapatkan bibirnya mendengar apa yang dia sampaikan. Bu Keysa pun masih melihatnya dengan tatapan mata yang tak kalah tegas dengan apa yang dia sampaikan tetapi Bejo tetap bersikap sopan sopan kemudian memberikan hasil kerjanya. "Ini, Bu! Bisa anda periksa sekarang!"Bu Keysa pun melirik kertas tebal yang men
"Jusnya enak." "Wangi kamu juga enak. Niat banget ngenakin orang," sindir Mila kemudian melangkah menjauh dari sana dan duduk di meja makan. Mendengar itu, Bejo melangkah mendekati setelah sempat menghabiskan jusnya. "Nyonya, saya tunggu di mobil ya," katanya dengan sengaja tidak sama sekali menanggapi apa yang Mila sampaikan hingga membuat wanita itu geregetan padanya. Bejo melirik Mila kemudian melangkah pergi dari sana. Dia mengulum senyum membiarkan Mila sibuk dengan perasaan yang rumit padanya dan bukan pada Saka lagi. Bukan dia ingin membuat Mila lupa pada Saka tetapi kalau ujung-ujungnya bikin sakit hati, lebih baik tidak usah diingat-ingat lagi. "Bejo tuh kenapa sih? Aku bicara apa, dia menanggapinya apa. Kenapa pagi ini aneh banget? Apa karena semalam dia tidak terpuaskan? Ya ampun.... Mas Saka saja sampai pergi, wajar kalau Bejo jadi cuek begitu sama aku." Sementara Bejo saat ini segera membersihkan mobil dari debu-debu yang singgah. Kalau dalam pekerjaannya, j
Mila memejamkan kedua mata kala Saka memilih pergi dari hadapan wanita itu. Saka masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan Mila setelah tadi sempat ditantang. Mila pun melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil piyama tidur. Bukan hanya untuk wanita itu saja tetapi juga untuk Saka. Namun saat hendak Mila berikan, Saka malah pergi seolah tak perduli. Mila sempat memanggil tetapi pria itu sama sekali tidak menggubris keberadaan sang istri dan membanting pintu kamar dengan sangat kasar. "Gila si Saka! Mau kemana dah tuh orang?" gumam Bejo kemudian melangkah keluar kamar dan melihat Saka menuruni tangga dengan langkah yang sangat cepat. Bejo tak banyak bertanya dan Saka pun tidak sama sekali melihat keberadaannya. Tak lama di susul Mila yang berlari menuruni tangga hingga Bejo pun reflek mendekati takut apa yang terjadi dengannya waktu itu akan kejadian dengan Mila. Bisa gawat kalau Mila jatuh dari tangga. "Hati-hati, Nyonya!" Hanya saja Mila tak ada tanggapan sama sekali. Mi
Bejo menggelengkan kepala kala Saka kedapatan menggigit hingga Mila terpekik dan meminta ampun. Sebagai wasit tentu saja dia harus memisahkan kembali keduanya. "Cukup, Tuan! Bisa kena kartu merah kalau sampai kesakitan. Jangan kena gigi!" tegur Bejo dan Saka mendesis kala sedang asyik tetapi malah dibatasi olehnya. " Bodo amat! Katanya gue suruh jadi wasit," ujar Bejo dalam hati saat melihat Saka agak senewen dengannya. Hanya saja dia tidak seperduli itu. Bejo menatap wajah Saka yang sengit memandangnya. "Maaf Tuan, memang harusnya seperti ini. Silahkan bisa dilanjut!" Mila tercengang melihatnya dan mendengar apa yang dia sampaikan hingga tak sadar kalau Saka sudah kembali merengkuh tubuh Mila. "Mas nanti lagi saja! Aku nggak nyaman." "Kenapa nggak nyaman? Bukankah sudah biasa ada Bejo?" tanya Saka tak surut menggila hingga membuat Mila kesal. "Mas aku nggak suka seperti ini! Biarkan Bejo keluar dan sebaiknya kamu istirahat! Kamu tidak bisa mengontrol emosi kalau sudah
"Hanya mengobrol, Tuan. Nyonya juga bantu saya mengobati luka. Saya akan kembali ke kamar." Bejo beranjak dari duduknya. "Terimakasih Nyonya sudah merawat saya. Permisi dulu, mungkin Tuan mau istirahat." Bejo mengangguk sopan kemudian melangkah menuju pintu kamar tetapi Saka yang tak jauh dari sana mengulurkan tangan menghentikan langkahnya. "Buru-buru sekali, Jo? Saya belum mau istirahat. Duduk dulu!" perintah Saka membuatnya berbalik dan melirik Mila yang memperhatikan. Mereka pun kembali duduk bersama lagi. "Sial! Gue malah kejebak di sini. Udah pasti nggak bisa keluar ini. Si Saka pasti mintanya aneh-aneh." Bejo menarik nafas dalam dan Mila beranjak dari setelah Saka meminta mendekati. "Ada apa, Mas? Sini tasnya aku simpan dulu! Itu loh, Mas. Bejo masih sakit. Sebaiknya kamu suruh balik ke kamar. Sudah aku obati agar besok bisa kerja lagi." "Tapi malam ini aku butuh dia Sayang. Sepertinya aku akan memanfaatkan dia untuk menyembuhkan trauma kamu. Pelan-pelan saja, mode tipi
Tangan Bejo menahan pinggul Mila. Tubuh wanita itu ada di atasnya dan melingkar di lehernya seraya bertukar saliva. Lenguhan dan desahan manja mulai terdengar. "Maaf kalau aku menyakitimu," kata Mila kemudian mengusap bibirnya yang terluka tetapi mengecup lagi dengan begitu sangat agresif sekali tanpa bisa dia hindari. "Tidak apa, Nyonya. Lidah Nyonya bisa menyembuhkannya." Bejo pun kembali memagut dengan gerakan lidah yang nakal. Tangannya tetap dipinggul Mila tetapi tangan wanita itu justru meraihnya dan diarahkan tepat di dada. Seketika rasa sakit seolah luntur kala gairah meninggi dan perih efek obat mendadak hilang bersamaan remasan yang memicu adrenalinnya.Di saat itu, Mila langsung melepaskan ciumannya dan mendongak dengan erangan yang semakin mempermainkan hasratnya. Tangan Mila ada pada tangannya yang meremas gemas seolah meminta lebih. Wajah wanita itu pun menunduk dan memandangnya dengan tatapan berkabut. "Apa Nyonya merindukan sentuhan ini?" "Iya, Jo. Ternyata
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







