LOGIN"Nggak perlu tau!" celetuk Mila kemudian melangkah menaiki tangga. "Yeeee ditanyain malah." Bejo pun masuk kamar, tetapi belum sempat membuka pintu. Bibi memanggil dan berlari mendekati. Beliau tergopoh-gopoh tetapi terlihat semangat sekali. "Jo tunggu dulu!" seru Bibi. "Ada apaan sih, Bi? Heboh banget!" sahutnya dan memandang Bibi yang berdiri di hadapannya. Beliau sampai ngos-ngosan tetapi setelah itu menepuk lengannya dengan gemas. "Kamu tuh! Sekalinya Bibi dukung langsung aja ngacir. Gimana bisa kamu ambil hati Nyonya? Kok bisa udah kikuk-kikuk? Perasaan baru kemarin Bibi kasih tau kamu tapi udah gampang banget begituan sama Nyonya. Kamu pasti nyari celah ya, Jo?" "Ya nyari celah lah! Kalau jalan nggak nyari celah ya nubruk. Bibi nih gimana?" "Kamu yang gimana? Nggak pengen cerita sama Bibi? Ikh Bibi langsung gemeteran sebadan-badan. Gimana ceritanya itu kamu bisa dekat sama Nyonya? Atuh kamu cerita, Jo! Jangan diam aja!" "Tau orang sakit hati kan, Bi? Yang
"Nyonya!" "Bi..." Mila keluar dari mobil tanpa menunggu Bejo membukakan pintu. Disusul dengan Bejo yang kemudian menoleh memperhatikan wajah Bibi yang nampak terkejut sekali. Bejo mengacak rambutnya yang tadi sempat dijambak oleh Mila. Dia melangkah mendekati kedua wanita berbeda generasi tersebut dan berdiri bersandar mobil seraya melipat kedua tangan di dada. "Kenapa, Bi? Kok mukanya mayak orang abis nemuin bangke? Horor banget!" tanyanya pura-pura tidak tau. Bejo melirik Mila yang juga memperhatikan ekspresi Bibi. "Nggak kok, Jo. Saya dukung kamu pokoknya. Ya udah Bibi masuk lagi." Bibi berbalik kemudian masuk lagi ke dalam rumah meninggal mereka yang kemudian saling memandang. "Kayaknya Bibi lihat deh Jo. Soalnya tadi kayak ngintip gitu di kaca tapi kok Bibi bilang kalau dukung kamu. Memangnya kamu ada ngomong apa sama Bibi?" tanya Mila dengan memasang wajah heran dan Bejo menggelengkan kepala. "Biarin aja, Nyonya! Nggak perlu Nyonya pikirin juga. Mungkin Bibi sad
"Jo kamu tuh!" bisik Mila seraya menahan keningnya dengan satu tangan. Sudah pasti desahan Mila sampai di telinga Saka tetapi Bejo tak perduli akan itu. Bejo memejamkan kedua mata seolah buta dan tuli. Sementara Mila sudah sangat geregetan sekali. Mila mencubit lengannya dan dia sama sekali tak mau menanggapi soal itu. Bejo malah semakin merapatkan diri dan menyesap kuat membiarkan Mila kembali bicara dengan Saka. "Bejo sedang apakan kamu, Sayang?" "Oh itu, nggak ada, Mas. Tadi sempat digigit semut. Pedas sekali. Ya sudah Mas. Aku pulang sebentar lagi. Aku mau rapi-rapi dulu." "Di hotel ada semut? Oh oke, aku tunggu di rumah ya, Sayang." Tut. Mila tidak menjawab apa yang Saka sampaikan. Langsung saja Mila mematikan panggilan tersebut kemudian meraih pipi Bejo yang kini kembali membuka mata. "Apa sih, Nya? Ganggu aja! Katanya semut, semut kepala dua ini mah." "Bicara apa kamu? Siapa yang ganggu?" Kedua alis Mila menukik memandangnya. "Iya maaf, tapi lagi asyik.
"Jadi kamu dikasih dada sama dia, Jo? Kamu bilang nggak, tapi dia ngomong sendiri sampai minta maaf. Kamu juga ditawarkan tubuhnya. Begitu caramu, Jo?" "Nyonya, ada yang terbuka, ikut mangap, tapi bukan mulut," katanya seraya melirik milik Mila yang terbuka bersamaan dengan kaki Mila yang terangkat dan singgah di atas pundaknya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Jo! Pembahasan kita itu Keysa! Kamu mau menjadi laki-laki bayaran untuknya?" desak Mila benar-benar tak terima. "Hah? Nggak! Nggak dong, Nyonya. Aman! Tenang saja! Si Juki betahnya sama Nyonya doang," jawabnya meyakinkan. "Tapi kamu sudah mangku dia, Jo! Kamu sudah melihat dadanya. Besar? Suka? Kamu sesap? Kamu susui, Jo?" cecar Mila dan Bejo menelan kasar salivanya mendengar semua pertanyaan Mila. Ngegas banget pokonya majikannya ini. Gemas pengen gigit tuh bibir tetapi Bejo mendadak kaku dibuatnya. "Sedikit, Nyonya. Besar tapi nggak saya sesap. Beneran, Nyonya! Aman sekali pokoknya," jawab Bejo dan Mila mengg
Mila mendorong tubuhnya hingga kecupan mereka terlepaskan. Tatapan mereka pun saling memandang satu sama lain. "Jangan ya, Jo!" kata Mila dan Bejo menganggukkan kepalanya tetapi yang membuatnya menyeringai enggan melepaskan pandangannya adalah saat mendapati pipi Mila yang merona. "Kamu apa sih lihatin aku begitu?" Mila beranjak dari sana kemudian melangkah menuju ranjang. Kembali Mila merebahkan tubuhnya di sana. "Kita pulang malam, Jo." "Siap, Nyonya." Bejo pun menyusul dan merebahkan tubuhnya di samping Mila tetapi kembali ponselnya berdering dan itu dari orang yang sama. Keysa gencar sekali menghubunginya hingga Bejo risih dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Bu?" Bejo menerima panggilan tersebut di samping Mila berada. Dia melirik Mila yang sedang memperhatikan dan terlihat sangat ingin tau apa yang ia bicarakan dengan Keysa. Bejo menarik ponselnya kemudian menekan tombol loudspeaker dan mendekati diri pada Mila. Dengan santai Bejo merebahkan tubuhnya di at
"Aku setuju Jo, tapi tidak perlu menggunakan obat setan itu. Kamu cukup katakan aku sudah meminumnya!" Kedua alis Bejo menukik mendengar apa yang Mila sampaikan. Dia sampai mengikis jarak telinganya dan membiarkan Mila kembali mengulang lagi apa yang wanita itu sampaikan tadi. "Apa yang kamu dengar benar, Jo. Aku akan menuruti apa yang dia mau," kata Mila meyakinkan. Bejo menarik diri dan kembali memandang Mila. "Nyonya jangan bercanda! Yang bener kalau ngomong! Kemarin nggak mau, sekarang kenapa tiba-tiba mau? Nggak lagi kesambet demit hotel kan, Nya?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya. "Iya aku mau. Kamu tuh mikirnya kemana-mana. Siapa yang lagi kesurupan? Aku serius!" Bejo menggelengkan kepalanya. "Yang bener kalau jawab lah! Jangan begitu!" sahut Bejo yang masih tidak percaya dengan apa yang Mila sampaikan. "Beneran, Jo. Aku nggak bercanda soal ini. Lagi pula mana pernah aku bercanda? Aku mau tapi nggak usah minum obat!" Bejo menyandarkan tubuhnya di
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka







