Se connecter"Nyonya tenang saja! Insyaallah selama ada saya, Nyonya nggak akan kenapa-kenapa." Bejo bicara dengan sangat meyakinkan. Dia memandang penuh keyakinan hingga membuat Mila mengangguk tenang. Bejo sendiri hanya butuh Mila percaya. Mila segera menghubungi perawat yang ditugaskan untuk menjaga ayah kemudian pamit pada beliau. Begitu juga dengan Bejo yang kini mengantri di belakang Mila. "Mila pulang dulu ya Ayah. Ayah jangan tunggu-tunggu kedatangan Mila ya. Hari ini jadwal Mila penuh. Kalau nanti Mila sudah selesai dan ada kemungkinan bisa datang, Mila akan mampir tapi kalau tidak, tunggu besok ya Ayah. Ayah tahan dulu rindunya untuk Mila!" "Biar Bejo aja yang rindu sama Nyonya, Pak." Sontak Mila menoleh memandangnya. Bejo pun menyambut dengan kedua alis naik turun. Bejo membuat Mila menatap gemas padanya. Bukan hanya itu saja Mila pun terlihat ketar-ketir kemudian menoleh kembali memandang ayah dengan bibir meringis pada beliau. "Jangan didengarkan ocehan random Bejo, Ay
"Jo jangan! Ada Ayah yang sedang memperhatikan kita. Nggak mau!" tolak Mila saat Bejo mau mendekati. Bisa-bisanya mau asal ngokop saja padahal ada orang tua di sana. Melihat luka sedikit di bibir Mila membuat Bejo tak tahan ingin mengobati. Bejo pun menoleh melihat Ayah kemudian mengangguk seraya melebarkan senyuman. "Suruh pakai helm dulu bapaknya, Nyonya! Biar nggak lihat kita ngapain." "Hush! Jo nggak boleh begitu sama orang tua!" kata Mila mengingatkan dan Bejo terkekeh lanjut makan buburnya. "Te sate! Nggak pakai sate, Nyonya?" tanya Bejo mengalihkan perbincangan mereka tentang kokop mengokop. Mila menggelengkan kepala dan Bejo mengangguk paham. Pahamnya kalau Mila mungkin tidak suka dengan sate usus macam ini. "Orang kaya dikasih jeroan. Lo juga ngadi-ngadi, Jo!" ucap Bejo dalam hati dan melahap semua tanpa menyisakan satu sate pun. Dari pada mubadzir, kalau sudah kenyang begini tinggal gas untuk beraktivitas mendampingi Mila karena Bejo tidak berencana ke kampus.Dia
"Bang buryam tiga ya!" pinta Bejo kemudian duduk di kursi kayu yang ada di pinggir pagar rumah sakit. Bejo melihat jalanan yang masih sepi tetapi udara masih asri. Jarang-jarang kan bangun pagi langsung keluar beli bubur ayah begini. Situasi di rumah sakit juga masih sepi. Belum banyak orang berdatangan untuk memeriksakan diri. "Siap!" "Udah lama Bang dagang di sini?" tanya Bejo basa basi dari pada gabut nungguin. Lebih baik ajak ngobrol tukang bubur yang sedang bergerak cepat menyajikan pesanannya. "Lumayan, Mas. Ada kali sepuluh tahunan mah. Masnya ke sini nganter siapa?" "Nganter calon mertua," jawab Bejo asal. Dia sendiri cekikikan geli setelah menjawab demikian. Bejo pun kemudian beranjak dari sana dan mendekati Abang penjual yang sudah menyelesaikan pesanannya. "Wah udah punya calon mertua. Semoga langgeng ya, Mas! Siapa tau besok langsung ijab. Udah sakit kan?" "Lah si Abang doain cepat mati gitu maksudnya? Jangan, Bang! Air mata cewek saya mahal soalnya.
"Jo...." Usapan di kening Bejo rasakan menarik kedua mata hingga terbuka dan memandang Mila yang berdiri di sampingnya. Sontak Bejo pun beranjak dari duduknya kemudian terduduk memandang Mila. "Nyonya. Loh kok udah jalan-jalan? Infusnya kemana? Nggak dibawa? Jam berapa sih ini?" cecar Bejo kemudian mencari ponselnya untuk jam sedangkan Mila duduk di sampingnya dengan gerakan yang tenang. "Hah! Udah subuh? Cepat banget! Perasaan tadi baru aja merem. Tau-tau udah subuh aja. Emang nih waktu nggak ada ajinya banget sekarang," oceh Bejo setelah melihat jam yang sudah pagi bahkan sang fajar sudah bersiap untuk terbit. "Kamu nyenyak sekali, Jo. Capek ya?" tanya Mila dan Bejo menggelengkan kepala. Dia menoleh dan menggeser posisi agar bisa dengan mudah untuk memandang Mila yang kini memperhatikannya. "Nggak usah mikirin saya. Nyonya sudah membaik? Gimana tubuhnya sekarang? Matanya sampe pada bengkak begitu udah kayak digebukin orang serete." "RT!" "Udah biasa ah! Nyonya ngga
Bapak kembali Bejo berikan kertas dan juga bolpoin. Bejo memegang buku tersebut agar Bapak bisa menulis dengan bebas. Bejo terus memperhatikan sampai tangan Bapak terlihat bergoyang. 'Tolong jangan tinggalkan Mila!' Kedua alis Bejo menukik melihat itu kemudian membuka lagi lembaran baru. Bejo ingin tau alasan atas apa yang beliau sampaikan. Bejo juga curiga kenapa Bapak seperti orang yang sangat mengenal dan tau hubungannya dengan Mila. "Kenapa, Pak? Bapak percaya sama saya? Nyonya masih punya suami." Bapak menggelengkan kepala dengan kedua mata penuh dengan kegelisahan. Bapak terlihat begitu sangat resah akan pertanyaannya. "Bapak nggak percaya sama menantu Bapak?" Sebuah anggukan pun beliau berikan dan Bejo semakin intens memperhatikan beliau. Bejo menarik kursi kemudian duduk di samping beliau. "Kenapa, Pak?" tanya Bejo sangat ingin tau. Siapa tau beliau sebenarnya menyimpan sesuatu yang tersimpan karena terhalang tak bisa bicara. Kalau dilihat-lihat sebenarnya
"Tulis lagi, Ayah!" Tangan ayah kembali bergerak dan Mila juga Bejo begitu sangat memperhatikan pergerakan tersebut. Kedua alis Bejo menukik melihat apa yang ayah tuliskan lagi di sana. 'Mila anak ayah' DEG Sontak Mila dan Bejo kembali saling memandang satu sama lain. Keduanya menatap saling tak percaya dengan apa yang ayah tuliskan. Tanpa diminta, beliau membocorkan sesuatu. Air mata Mila pun runtuh dan kembali memandang beliau. Mila meraih tangan ayah dan kembali bertanya meminta diyakinkan. "Jadi Mila bukan anak Ibu?" tanya Mila dan Ayah menggeleng kepala. Mila pun memejamkan kedua mata kemudian memeluk Ayah. Tangis wanita itu pecah hingga Bejo mendekati dan mengusap punggung Mila menguatkan wanita itu. Bejo menghela nafas berat dan menatap ayah dari Mila dengan kedua mata berkaca-kaca. "Bisa-bisanya Bapak menikahi Dajjal. Kasihan Nyonya, Pak." Bejo sedih bukan karena Mila anak tiri dari Ibunya tetapi karena Mila selama ini hanya dijadikan tumbal oleh wanita se
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







