LOGIN"Ada apa dengan Ibu, Ayah?" Bejo menoleh tetapi masih berusaha fokus pada jalan. Bejo memandang wajah Mila yang nampak sangat penasaran sekali. "Beliau nulis apa, Nyonya?" "Aku diminta hati-hati dengan Ibuku, Jo." Bejo mengusap wajahnya. Dia menghela nafas berat kemudian menggelengkan kepala. "Ada lagi aja," gumam Bejo memikirkan bagaimana hati Mila. Bukan hanya babak belur kalau begini. Dia yang berniat melindungi dan menolong saja sampai bingung harus yang mana dulu akan dia kerjakan. "Gila sih! Ujiannya nggak main-main. Serangannya dari berbagai arah. Kuat banget ini perempuan. Gue yang nggak kuat bayanginnya. Sekali ini cewek mentalnya dihajar habis-habisan." Dalam hati Bejo berisik sekali. Nyatanya memang benar. Mati-matian Mila berjuang. Kedua tangannya terkepal kuat memegang stir mobil. Dalam kepala ada satu pertanyaan yang mendesak untuk dikeluarkan "Apa Nyonya anak angkat, Pak?" DEG "Bejo!" "Nggak ada Ibu kandung yang tega begitu sama anaknya send
"Kak maaf," kata Mala saat Mila sudah membawa masuk Ayah ke dalam mobil. Tentu saja semua menjadi mudah karena Bejo yang membantu. Kalau hanya Mila sendiri tidak mungkin bisa membawa pergi dan memasukkan Ayah ke dalam mobil. Bejo melirik bagaimana Mala menatap wajah Mila. Mala terlihat sangat merasa bersalah tetapi Mila sudah terlanjur kecewa dengan orang rumah. "Kalau memang kamu tau Ibu tidak benar dalam menjaga Ayah. Harusnya kamu ngomong, Dek! Kamu tau bagaimana Ayah dan Ibu. Kamu dekat dengan mereka. Harusnya kamu tuh bicara sama aku. Bukan malah menutupi." "Aku sibuk, Kak." "Oke." Mila tidak lagi banyak bicara untuk semua ini. Mila langsung masuk ke dalam mobil setelah Bejo membukakan pintu. Bejo berdiri melirik Mala yang masih terlihat sangat bersalah. Mala pun sempat memandangnya tetapi Bejo melengos enggan memperhatikan. Kedua matanya memandang dengan sengit seraya menutup pintu mobil yang Mila tumpangi. "Pikirin lagi apa yang Lo lakuin! Nggak semua ya
Bejo menyeringai mendengar penuturan dari Mala. Ya, siapa lagi kalau bukan Mala? Wanita yang dihadapannya adalah adik dari Mila. Tentu saja Bejo menahan pergerakan wanita itu dengan alasan yang jelas. Mala sangat perlu dia sadarkan dan dia interogasi juga. Apalagi dia menunggu momen ini. Momen dimana dia bisa bertemu dengan Mala. Bejo tentu tidak sembarangan melakukan itu. Bejo sangat berhati-hati dan apa yang dilakukan selalu penuh pertimbangan juga perhitungan. "Kalau gue udah begini, itu tandanya gue udah punya bukti. Lo nggak bisa ngelak lagi! Yang nganter Lo pulang itu ipar Lo kan? Ngaku!" "Itu...." "Gue nggak butuh bantahan Lo! Apalagi denger alasan dari Lo! Nggak enak di kuping gue. Jujur aja! Lagian gue cuma mau Lo jawab iya. Bukan yang lain!" kata Bejo dengan sangat menantang hingga Mala kembali merapatkan bibir dan memandang dengan kedua mata berkaca-kaca. "Jo... Aku." Mala hendak mendekati. Bisa jadi akan memeluknya tetapi Bejo angkat tangan dan menggel
"Lepas!" Mila pun segera melepaskan tangan Ibu. Dia memandang dengan sangat kesal dan tidak terima ayahnya diperlakukan seperti ini. Mila yakin kalau ada yang tidak beres. Bahkan Ayahnya diam saja dan tidak bicara. Apa jangan-jangan... "Kamu itu betul-betul kurang ajar, Mila! Anak durhaka kamu! Kamu pikir bisa membawa ayah kamu keluar dari rumah ini? Nggak bisa, Mila! Ibu nggak setuju dan tidak sama sekali membiarkan kamu membawa Ayah kamu." "Kalau memang tidak mau aku bawa, harusnya Ibu menjaga ayah dengan benar. Sekarang aku tanya, kenapa Ayah tidak bisa bicara? Kenapa Ayah diam saja saat aku tanya? Ibu apakan Ayah?" sentak Mila yang tak lagi bisa lirih caranya bicara. Mila benar-benar tidak terima dengan apa yang terjadi pada ayahnya. Mila menginterogasi Ibu tentang Ayahnya sampai dia lupa apa tujuannya datang. Padahal dia datang ingin bertanya pada Mala tetapi malah jadi berpusat pada kesehatan Ayah. "Diapakan? Kamu jangan ngawur, Mila! Kamu itu seenaknya bicara seper
"Assalamualaikum Bu, Yah..." Tidak ada yang menjawab. Hanya suara batuk dari sang ayah yang terdengar. Bergegas Mila masuk kamar beliau untuk melihat apa yang sedang beliau lakukan. "Ayah!" Mila berlari mendekati Ayah yang begitu sangat kesulitan untuk beranjak dari ranjang. Ayah di kamar sendirian sedangkan Ibu entah tidur di mana. Kamar ini juga berantakan. Ada bekas piring yang belum dikembalikan. Ada juga obat yang berceceran di atas meja. "Ayah... Ayah kenapa sendirian? Biar Mila bantu, Ayah!" Mila langsung meraih tubuh beliau yang nampak payah dan semakin ringkih. Mila menyandarkan Ayah dengan bantal yang dia tumpuk agar beliau lebih nyaman. "Ayah mau minum?" tanya Mila dan tanpa menunggu jawaban dari Ayah, Mila segera memberikan gelas minum yang masih terisi setengah. "Minum dulu Ayah! Pelan-pelan!" kata Mila seraya membantu Ayah minum. Mila terlihat sangat cemas. Wanita itu pun iba melihat kondisi ayahnya sekarang. Ayah semakin kurus, tubuh semakin menghitam
Mila terlihat panik sedangkan Bejo masih bisa tenang di saat melihat orang-orang di sana memandangnya. Hanya saja, Bejo semakin menyembunyikan Mila dari pandangan orang banyak. Dia pun segera melepaskan tangan Lira dengan sedikit menyentak hingga wanita itu meringis dan hampir saja terjatuh. Bejo mendengus kesal kemudian membawa Mila pergi dari sana. Namun sebelumnya, Bejo sempat bersuara lantang di sana. "Jangan ada yang percaya sama mulut dua orang ini! Perempuan ini pelakor! Perempuan ini bukan wanita baik-baik! Perempuan ini sudah merusak tapi nggak terima. Awas jangan mendekat! Mereka hama!" seru Bejo dan Lira juga Caca tercengang mendengar apa yang ia sampaikan. "Ayo kita pergi dari sini, Nyonya!" ajak Bejo. Mila menganggukkan kepala dan berlari dari sana. Mereka segera keluar dari mall menuju mobil. Bejo menggenggam kuat tangan Mila membawa wanita itu sampai aman masuk ke dalam mobil. Bejo sempat menoleh ke belakang setelah memasukkan Mila ke dalam mobil. Dia mel
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







