로그인Bejo menyeringai mendengar penuturan dari Mala. Ya, siapa lagi kalau bukan Mala? Wanita yang dihadapannya adalah adik dari Mila. Tentu saja Bejo menahan pergerakan wanita itu dengan alasan yang jelas. Mala sangat perlu dia sadarkan dan dia interogasi juga. Apalagi dia menunggu momen ini. Momen dimana dia bisa bertemu dengan Mala. Bejo tentu tidak sembarangan melakukan itu. Bejo sangat berhati-hati dan apa yang dilakukan selalu penuh pertimbangan juga perhitungan. "Kalau gue udah begini, itu tandanya gue udah punya bukti. Lo nggak bisa ngelak lagi! Yang nganter Lo pulang itu ipar Lo kan? Ngaku!" "Itu...." "Gue nggak butuh bantahan Lo! Apalagi denger alasan dari Lo! Nggak enak di kuping gue. Jujur aja! Lagian gue cuma mau Lo jawab iya. Bukan yang lain!" kata Bejo dengan sangat menantang hingga Mala kembali merapatkan bibir dan memandang dengan kedua mata berkaca-kaca. "Jo... Aku." Mala hendak mendekati. Bisa jadi akan memeluknya tetapi Bejo angkat tangan dan menggel
"Lepas!" Mila pun segera melepaskan tangan Ibu. Dia memandang dengan sangat kesal dan tidak terima ayahnya diperlakukan seperti ini. Mila yakin kalau ada yang tidak beres. Bahkan Ayahnya diam saja dan tidak bicara. Apa jangan-jangan... "Kamu itu betul-betul kurang ajar, Mila! Anak durhaka kamu! Kamu pikir bisa membawa ayah kamu keluar dari rumah ini? Nggak bisa, Mila! Ibu nggak setuju dan tidak sama sekali membiarkan kamu membawa Ayah kamu." "Kalau memang tidak mau aku bawa, harusnya Ibu menjaga ayah dengan benar. Sekarang aku tanya, kenapa Ayah tidak bisa bicara? Kenapa Ayah diam saja saat aku tanya? Ibu apakan Ayah?" sentak Mila yang tak lagi bisa lirih caranya bicara. Mila benar-benar tidak terima dengan apa yang terjadi pada ayahnya. Mila menginterogasi Ibu tentang Ayahnya sampai dia lupa apa tujuannya datang. Padahal dia datang ingin bertanya pada Mala tetapi malah jadi berpusat pada kesehatan Ayah. "Diapakan? Kamu jangan ngawur, Mila! Kamu itu seenaknya bicara seper
"Assalamualaikum Bu, Yah..." Tidak ada yang menjawab. Hanya suara batuk dari sang ayah yang terdengar. Bergegas Mila masuk kamar beliau untuk melihat apa yang sedang beliau lakukan. "Ayah!" Mila berlari mendekati Ayah yang begitu sangat kesulitan untuk beranjak dari ranjang. Ayah di kamar sendirian sedangkan Ibu entah tidur di mana. Kamar ini juga berantakan. Ada bekas piring yang belum dikembalikan. Ada juga obat yang berceceran di atas meja. "Ayah... Ayah kenapa sendirian? Biar Mila bantu, Ayah!" Mila langsung meraih tubuh beliau yang nampak payah dan semakin ringkih. Mila menyandarkan Ayah dengan bantal yang dia tumpuk agar beliau lebih nyaman. "Ayah mau minum?" tanya Mila dan tanpa menunggu jawaban dari Ayah, Mila segera memberikan gelas minum yang masih terisi setengah. "Minum dulu Ayah! Pelan-pelan!" kata Mila seraya membantu Ayah minum. Mila terlihat sangat cemas. Wanita itu pun iba melihat kondisi ayahnya sekarang. Ayah semakin kurus, tubuh semakin menghitam
Mila terlihat panik sedangkan Bejo masih bisa tenang di saat melihat orang-orang di sana memandangnya. Hanya saja, Bejo semakin menyembunyikan Mila dari pandangan orang banyak. Dia pun segera melepaskan tangan Lira dengan sedikit menyentak hingga wanita itu meringis dan hampir saja terjatuh. Bejo mendengus kesal kemudian membawa Mila pergi dari sana. Namun sebelumnya, Bejo sempat bersuara lantang di sana. "Jangan ada yang percaya sama mulut dua orang ini! Perempuan ini pelakor! Perempuan ini bukan wanita baik-baik! Perempuan ini sudah merusak tapi nggak terima. Awas jangan mendekat! Mereka hama!" seru Bejo dan Lira juga Caca tercengang mendengar apa yang ia sampaikan. "Ayo kita pergi dari sini, Nyonya!" ajak Bejo. Mila menganggukkan kepala dan berlari dari sana. Mereka segera keluar dari mall menuju mobil. Bejo menggenggam kuat tangan Mila membawa wanita itu sampai aman masuk ke dalam mobil. Bejo sempat menoleh ke belakang setelah memasukkan Mila ke dalam mobil. Dia mel
Bejo menoleh memperhatikan kedua wanita yang ada di belakangnya. Ada Lira dan Caca yang begitu sangat memperhatikan tangan Mila yang kini dia genggam. Bejo semakin memperkuat walaupun Mila sudah mencoba untuk bergerak melepaskan diri dari genggaman tangannya. Bejo menarik tangan Mila ke belakang seraya memandang kedua wanita yang ada di hadapannya dengan jengah. "Bosen banget gue liat loe berdua!" Dia mendengus kesal hingga Mila mendongak memandangnya. Kedua alis Mila menukik dan Bejo melirik Mila dengan kedua mata teduh menenangkan. "Jo..." "Ssttt.... Aman!" bisik Bejo dan Mila menganggukkan kepala kemudian mundur. Mila berdiri di belakangnya. Bejo pun melindungi dari pandangan mata liar kedua wanita tersebut. "Kok aku kayak kenal ya siapa wanita ini," kata Lira dan Mila menundukkan kepalanya sedangkan Caca semakin panasaran. Caca sampai menajamkan kedua mata demi bisa melihat wajah Mila. Namun Bejo menatap tajam dan melangkah mendekati dengan pendangan mata semakin
Bejo melirik ke belakang seraya memagut bibir Mila. Dia melihat ke sekitar, sekiranya aman, Bejo akan memperdalam pagutannya. Tangan Mila meremas tangannya dengan lembut seraya membalas decapan-decapan yang dia berikan. Bejo tidak mengabaikan sedikitpun daging kenyal itu. "Euughhh...." Mila melenguh dan Bejo menyesap kuat agar wanita itu tidak mengeluarkan suara-suara yang memancing semua orang menoleh pada mereka. "Jangan berisik, Nyonya!" bisik Bejo kemudian mengusap bibir Mila dengan ujung jarinya. Bejo tersenyum melihat Mila yang memandang dengan kedua mata melembut dan nafas tersengal. Mila bersembunyi di dadanya setelah sadar situasi. Sama dengan adegan yang ada di depan mereka saat ini. Wanitanya memeluk tubuh telanjang pria yang sudah memberikan kepuasan. Mila pun memeluk dengan erat hingga mengabaikan apa yang mereka sedang saksikan. Bejo mengusap kepala Mila dan membiarkan Mila menjadikan dadanya sebagai tempat berlindung yang memberikan kenyamanan untuk
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







