로그인"Sudah aku katakan, jangan melawan Mamah! Kamu tuh kenapa sih? Kenapa tidak pernah paham? Untuk mempertahankan kamu itu sulit, Sayang. Kamu tau kan gimana Mamah. Harusnya kamu yang mengalah." "Aku lelah harus mengalah, Mas! Aku capek harus terus diam. Aku berontak pun kamu marah. Sekarang terserah! Aku nggak akan minta kamu untuk tetap membelaku. Aku paham posisiku. Aku tidak akan mengemis lagi, Mas. Lagian percuma! Mengemispun, kamu tidak bisa sepenuhnya kamu terima. Capek aku, Mas!" Tangan Bejo mengusap punggung Mila. Wanita itu mendongak memperhatikannya tetapi Bejo menggeleng kepala tak banyak bicara. "Jangan seperti itu! Benar kata Mamah, kamu membangkang sekarang, Sayang! Ini yang aku tidak suka. Kamu semakin aku kasih peluang, semakin kamu semena-mena. Kamu semakin berani, Mila!" "Capek bicara sama kamu, Mas. Semua pertanyaan kamu seharusnya kamu kembalikan lagi pada dirimu sendiri!" sahut Mila dan mematikan panggilan tersebut. Mila menunduk mencengkeram ponselny
"Sudah Mamah katakan berulang kali padamu, menikah lagi saja! Istri kamu itu tidak lagi bisa hormat sama Mamah. Mila melawan Mamah bahkan Mila mengusir Mamah. Kamu tau Saka, Mila hampir saja membuat Mamah terjatuh tadi. Mila kasar dan berani membantah Mamah." Saka menghela nafas berat mendengar aduan dari ibunya. Tidak hanya itu saja, Mamah mendekati dan membujuk Saka. "Ceraikan istrimu! Dia mandul dan tidak ada lagi yang bisa dipertahankan darinya. Kamu tau, Mila malah mengatakan kalau kamu yang mandul. Wanita macam apa itu melempar fakta dan menyalahkan suaminya? Dia yang salah tapi dia tidak mau disalahkan!" "Nanti aku akan bicara pada Mila, Mah. Jangan seperti itu! Pikiran Mamah sangat kencang. Jangan sampai Mamah sakit." "Mamah sakit karena istrimu! Kalau bukan karena istrimu, tidak mungkin Mamah sampai emosi seperti ini! Istrimu itu kolot! Banyak tingkah! Ceraikan saja! Kamu bisa mencari yang lebih baik dari dia. Ingat Saka! Mempertahankan diri kamu untuk tetap menja
"Apa yang harus Mila takutkan dari Mamah?" "Mila! Dasar menantu mandul! Sialand kamu ya! Ngelunjak kamu lama-lama, Mila!" Tangan Mamah mertua sudah hendak sampai ke pipi Mila tetapi dengan cepat Mila meraih dan menahannya. Mila memandang dengan kedua mata tajam dan enggan diremehkan. "Jangan pernah melukai Mila lagi, Mah! Apa lagi dengan suara Mamah ini! Sudah cukup! Mila sudah muak dan Mila tidak mau lagi mendengar itu. Mila tidak terima apapun yang Mamah sampaikan pada Mila! Pergi sekarang! Menantu yang Mamah anggap mandul ini tidak berkenan Mamah datang!" Kedua mata Mamah terbelalak mendengar apa yang Mila sampaikan. Beliau sangat terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya. Bukan hanya itu saja, Mila kali ini tengah menegaskan kalau dia tidak bisa lagi diremehkan. "Sombong kamu, Mila! Lepaskan!" "Mila nggak sombong, Mah! Mila seperti ini karena Mamah! Satu lagi Mila tegaskan, Mila tidak mandul! Mila subur bahkan Mila bisa melahirkan banyak anak kalau Mila mau.
"Halah! Itu hanya alasan istri kamu saja, Saka! Harusnya kamu lebih tegas lagi pada Mila. Jangan mau mendengarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Mila begitu karena tidak mau bertemu dengan Mamah. Memang menantu susah diatur! Padahal ke rumah mertuanya sendiri tapi banyak mikir. Seharusnya acara apapun tidak bisa mengalahkan kunjungan ke rumah mertua. Apalagi kalau sampai menolak untuk menginap." "Sabar, Mah! Mila juga punya kehidupan. Aku sebagai suami tidak boleh egois. Kalau Mila ada acara ya biarkan ikut dulu! Besok-besok masih bisa. Masih banyak waktu untuk bisa ke rumah Mamah." "Nggak bisa begitu dong, Saka! Kamu terlalu ngalah sama istri. Lain kali jangan mau kalah! Kamu harus lebih tegas pada Mila. Mamah lihat kok malah Mila yang semakin berkuasa atas anak Mamah." "Mah, sudah dulu ya! Aku ada meeting setelah ini. Nanti aku hubungi lagi." Tut Saka mematikan panggilan itu tanpa perduli Mamahnya akan marah. Saka malas mendengarkan ocehan beliau, maka dari itu s
"Terserah kamu, Jo! Aku sudah muak. Aku hanya menunggu waktu saja. Aku merasa belum cukup. Sabar ya, Jo!" Tangan Mila menyentuh tangannya dan dia melirik dengan senyum tipis yang mulai mengembang. Namun tidak menunjukkan ekspresi apapun pada Mila. "Woke! Santai, Nyonya! Aman! Yang penting Nyonya puas, Nyonya bahagia, Nyonya aman tentram, Nyonya...." "Sssttt.... Udah, Jo! Kamu tuh! Aku percaya kok sama kamu," kata Mila seraya menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk yang kemudian dia raih dan kecup dengan lembut. "Percaya sama saya berat, Nya! Saya nggak punya apa-apa yang mengharuskan Nyonya percaya. Ya udah kalau begitu, pagi ini mau kemana? Toko?" Mila menganggukkan kepala dan Bejo beranjak dari sana. "Saya ambil tas dulu, Nyonya." "Iya, Jo. Aku tunggu di mobil." "Nggak sarapan dulu? Sarapan dulu lah! Nggak inget semalam abis ngapain? Isi dulu itu perutnya!" kata Bejo mengingatkan dan Mila menggelengkan kepalanya. "Nggak nafsu, Jo." "Saya tau kok, Nya. N
"Ya sudah kalau begitu. Akan aku hubungi Mamah nanti dan akan aku katakan kalau kamu tidak bisa datang karena ada acara. Kita atur ulang saja jadwalnya!" Mila meliriknya yang menyeringai tipis mendengar keputusan dari Saka. "Gue kata juga apa! Lawak udah ini rumah tangga juga. Nyonya Mila suka lawak semenjak sama gue, Tuan! Kalau nggak suka nggak akan betah sama Bejo. Sorry Om Sule, jadi kebawa-bawa. Kalau nggak gini nggak bisa jadi lawakan pagi." "Nanti saya antar ketemu Sule, Nyonya! Tenang saja!" katanya seraya menganggukkan kepala dan sempat memejamkan mata meyakinkan Mila sedangkan wanita itu mendesis lirih memandangnya. "Ya sudah kalau begitu. Have fun ya, Sayang! Aku pulang malam," ujar Saka kemudian meraih dagu Mila dan memberikan kecupan yang membuat Bejo menatap jengah. "Harus banget ngokop depan gue? Enak kali begitu! Pamer! Gue udah kenyang gue semalam, Tuan!" batin Bejo tetapi mata terus memperhatikan bagaimana Saka mengecup dan memagut dengan penuh gairah.
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka