MasukBejo tidak mengatakan apa-apa. Dia diam memeluk Mila dan tidak juga menghiraukan Bibi yang sejak tadi mencolek, mencubit, sampai menarik pakaiannya. Bejo kali ini tidak perduli apapun karena yang dia tau, Mila saat ini sedang sangat membutuhkan tempat ternyaman untuk melepaskan beban yang datang dari orang yang seharusnya paling menyayangi wanita itu. "Maaf kalau kamu juga harus kena amukan Ibu tadi. Maaf ya, Jo. Ibu memang seperti itu." Mila mendongak menatap wajahnya yang kini tersenyum dengan mengukir senyum. Kedua tangannya pun masih memegang kedua lengan Mila dan memperhatikan air mata yang kembali terjatuh. "Jangan dipikirkan, Nyonya! Saya mah udah biasa kalau hanya dihina seperti itu. Lagian nggak ada yang salah karena memang saya hanya sopir." "Tapi Ibu sangat meremehkan kamu, Jo. Aku juga malu karena sikap Ibuku sangat buruk." Mila menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap air mata. Bibi yang tadi sibuk menariknya dan menyadarkannya pun ikut iba melihat waj
"Bu ini sopir aku. Dia itu tinggal di sini. Jangan seperti ini, Bu! Lepas!" Mila meraih tangan Ibu dan menariknya agar melepas tubuh Bejo. Ibu benar-benar tidak terkendali sampai seperti ini. Mila sangat terlihat tidak suka dengan sikap Ibu yang demikian. Bejo sendiri sampai tidak percaya kalau beliau itu adalah orang tua dari Mila. Apa lagi sangat jauh sekali dari Mila yang kalem ini. Kalau ada buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Mila itu buah yang belum sampai jatuh sudah dipetik sama orang. "Apa? Jadi ini sopir kamu? Kenapa kalian terlihat sangat dekat? Kamu jangan kurang ajar sama Saka ya, Mila! Jangan sampai karena Saka sibuk terus kamu ada main sama orang ini! Ingat! Dia itu hanya sopir! Babu! Bawahan kamu! Bukan orang yang penting! Nggak ada uangnya! Maka dari itu jangan kamu gelap mata hanya karena melihat ketampanannya saja! Ngerti kamu!" "Bu!" sentak Mila tak terima. Sementara Bejo hanya menyeringai mendengar semua yang keluar dari mulut beliau. Bejo pun sama se
"Nanti gue pikirin dulu. Gue ada gawe, ada pekerjaan lain juga, nggak bisa seenaknya gue ambil job." "Tanya dulu sama Nyonya. Kalau ini menurut gue nggak akan ganggu kerjaan nyopir." "Tetap aja, gue nggak bisa sembarangan terima job," jawab Bejo dengan pendiriannya. Apabila memang boleh oleh Mila, dia akan ambil, tapi kalau tidak ya tidak akan. Apalagi ini berkaitan dengan wanita lain yang tentunya akan ada hubungan lebih lanjut. Bukan perkara mudah kalau hubungannya dengan seorang wanita. Mereka makhluk sensitif yang kapan saja bisa ngamuk. "Gue denger sich adeknya calon kakak ipar kuliah di sini, tapi gue nggak tau siapa. Kalau tau mah udah gue tanyain adeknya. Gue yakin tuh orang taulah kalau emang bener adeknya calon ipar gue. Cuma gue nggak tau orangnya. Kakak gue juga nggak tau." "Bagaimana sih lo, Do?" sahut Didi dan Edo mengedikkan kedua pundak. "Belum ada janur kuning melengkung mah kata gue juga tuh cewek masih bebas milih mana yang bagus. Kakak loe yang udah
Mila mengusap lehernya yang Bejo singgung tadi. Dari aura yang terpampang, Mila terlihat tidak suka akan itu. "Padahal sudah aku tutupi," keluh Mila dengan bibir yang kemudian mencebik. "Bukankah akan sangat membanggakan jika ada itunya, Nyonya? Wanita akan sangat bahagia kala bisa menunjukkan bagaimana hasil dari suaminya." "Nggak juga, nggak semua wanita begitu, Jo!" Bejo menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Mila dan kembali melirik wanita itu dari kaca. "Nggak usah lihat-lihat, Jo!" "Nggak lihat, Nyonya. Hanya memandangmu, walau selalu.... " Mila kembali berdecak mendengar suaranya kemudian menggelengkan kepalanya. Memang Mila itu langka. Cewek-cewek di luar sana berbondong-bondong bersorak menyukai suaranya tetapi Mila B aja. Tak ada lagi obrolan di antara mereka sampai mobil berhenti di depan toko roti besar milik bu bos tetapi Mila tidak langsung bersiap turun dari sana. Padahal biasanya akan sangat sibuk dengan barang-barang bawaannya
"Anjirlah! Pisang Ambon loe bisa berdiri begitu, kalau gue udah kayak nggak dikasih air setahun, lemes." Otak Bejo begitu sangat berisik sekali saat melihat bentukan yang menonjol di balik celana Saka. Bukan apa, hal itu tentu saja sangat menggelikan baginya. Bejo bergerak mendekati telinga Mila yang terlihat tak kuasa menyikapi ini semua. Kedua tangan Mila masih terkepal kuat, kedua mata memerah dan nafas mulai tak beraturan. Antara mau tapi merasa terhina. Mungkin itu yang Mila rasakan saat ini. "Tarik nafas, Nyonya! Ingat, ini tidak akan berlanjut," bisiknya kemudian menarik diri dan menoleh pada Saka. "Sudah Tuan, seperti itu caranya. Saya harap Tuan mengerti." Bejo melepaskan dada Mila yang begitu sangat menggoda tetapi sebisa mungkin dia untuk menahan. Dia melihat wajah Mila sudah memerah. Memang remasan ini bukan remasan sembarangan tetapi remasan yang sangat melenakan. Mila hampir-hampir lupa jika sedang dipermainkan. Kedua mata Mila sudah sayu-sayu meminta un
"Maaf Tuan, bukan saya membela Nyonya, tapi memang Nyonya tidak menutup mulut saya dengan uang. Saya tau siapa yang banyak uang, tentu saja sebagai orang yang berakal akan membela sumber uangnya. " Bejo mulai menjelaskan pada Saka. Tentu saja itu suatu kebenaran tetapi yang dia lebih-lebihkan karena untuk mengalahkan kecurigaan Saka harus dengan alasan-alasan yang masuk akal. "Jika memang Nyonya seperti yang Tuan tuduhkan, tentu saja saya akan lapor pada anda, Tuan. Tapi memang sampai malam Nyonya hanya dengan saya saja. Itu pun sesuai dengan tugas yang Tuan berikan di luar menjadi sopir." Saka melirik Mila yang diam menyimak apa yang ia sampaikan. Bejo tersenyum tipis memberikan kode untuk Mila agar tetap tenang. Bahkan senyum yang ia berikan sangat-sangat tipis hingga hampir tidak terlihat oleh orang lain. "Sebenarnya apa yang membuatmu sampai menuduhku, Mas? Ini sangat tidak mendasar! Aku sama sekali tidak berhubungan dengan laki-laki lain selain Bejo." Mila kembali men
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







