Share

Bab 19 || Terungkap

last update publish date: 2026-03-10 18:33:30

Sebuah ruangan tertutup yang terletak jauh di bagian terdalam istana, tempat para pemimpin kerajaan membicarakan hal-hal paling rahasia, perkara yang tak boleh sampai ke telinga siapa pun.

Kursi-kursi tinggi berukir emas telah ditempati oleh beberapa orang. Cahaya lilin berpendar lembut di sepanjang dinding batu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak perlahan.

Suasana di dalam ruangan terasa begitu sunyi seolah menahan sesuatu yang berat di udara.

Hingga akhirnya, keheningan itu pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    23

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Terbuk

    shjskepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status