تسجيل الدخول
"Mira, aku lagi pengen banget. Malam ini aku tidur sama kamu ya?"
“Apa? Mau tidur sama aku? Duitmu berapa? Lagian punyamu kan letoy! ” Kalimat pahit itu terlontar begitu saja dari mulut Mira, untuk suaminya Adam.
“Mira! Tolong jaga bicaramu. Kenapa selalu uang yang kamu tanyakan? Dan jangan suka bilang aku letoy. Buktinya kita bisa punya anak!” sangkal Adam berusaha menjaga harga dirinya di depan sang istri.
“Nggak letoy tapi cuma lima menit! Huuuh! Membosankan. Udah kere! Nggak perkasa lagi!”
“Mira cukup! Aku….”
"Ah, Sudahlah, Mas, aku capek! Hari ini kerjaanku di kantor banyak banget, numpuk! Kamu tidur aja sama Adel! Aku malas debat nggak penting sama kamu. Lagian besok dia ada ujian sekolah dan harus bangun pagi. Urus Adel sana!!" bentak Mira memotong ucapan Adam, tanpa memedulikan perasaan suaminya yang langsung menciut.
Kalimat capek itu lagi lagi diucapkan untuk entah ke sekian kalinya. Sebuah tameng kokoh yang selalu Mira gunakan selama dua bulan terakhir untuk menolak kehadiran Adam. Namun Adam tidak bodoh. Di balik kata capek itu, ada dinding tebal yang sengaja dibangun Mira untuk mempertegas batas sosial di antara mereka.
Rasa hangat menjalar di sudut mata Adam, berbaur dengan rasa perih yang begitu hebat di dadanya. Ia menolak untuk mundur malam ini. Ego dan nalurinya sebagai seorang pria dewasa memberontak. Ia melangkah satu pijakan lagi, mencoba meraih tepi ranjang, menatap lekat wajah wanita yang dulu berjanji akan menemaninya dalam suka dan duka.
"Tapi, Mir... aku ini suamimu. Bukan cuma soal tidur seranjang. Bahkan... kita sudah tidak pernah melakukan hubungan suami istri selama berbulan-bulan. Apa aku salah kalau menginginkan istriku sendiri? Apa aku tidak punya hak lagi di rumah ini?" lirih Adam, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam sana.
Sejak karier Mira melejit menjadi seorang eksekutif sukses dengan gaji berkali-kali lipat dari penghasilan terakhir Adam, tatapan mata wanita itu telah berubah total. Tidak ada lagi binar cinta, yang tersisa hanyalah pandangan merendahkan.
Sudah lima bulan penuh berlalu sejak malam terkutuk bagi Adam itu, malam di mana Mira melemparkan bantal dan guling Adam keluar kamar, memintanya pindah ke kamar putri kecil mereka, Adel. Alasan awal yang diucapkan Mira adalah karena ia butuh ruang untuk fokus mengejar proyek besar perusahaan.
Namun lambat laun, pengusiran halus itu bertransformasi menjadi status permanen. Adam diasingkan, disingkirkan dari ruang paling intim dalam sebuah pernikahan. Di mata Mira dan ibu mertuanya, Adam hanyalah seonggok daging tak berguna. Seorang pria gagal yang hidup menumpang di atas keringat dan kesuksesan seorang wanita.
Mendengar tuntutan dari Adam malam itu, gerakan jemari Mira di atas layar tablet langsung terhenti. Bukannya melunak atau tersentuh oleh keputusasaan dan kerapuhan suaminya, Mira justru melempar tablet mahalnya ke atas kasur hingga menimbulkan suara debum yang cukup keras.
Ia menegakkan tubuhnya, melepas kacamata bacanya dengan sentakan kasar, lalu menatap Adam dengan tatapan penuh rasa jijik yang tidak lagi disembunyikan. Amarahnya meledak seketika, merubuhkan seluruh sisa dinding kesabaran yang tersisa.
"Hubungan suami istri kamu bilang?! Kamu berkaca dong! Tolong tahu diri!"
cibir Mira, tawa sarkasnya menggema, memantul di dinding-dinding kamar yang luas dan mewah itu. Mira bergeser ke tepi ranjang, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Adam dari atas ke bawah, seolah sedang menilai barang rongsokan.
“Apa maksud kamu Mira? Bukankah benar aku ini suami kamu?” tanya Adam mencoba mendapatkan haknya.
"Kamu mau menuntut hakmu sebagai suami? Hak yang mana, Mas? Hak dari seorang laki-laki tidak berguna yang setiap hari cuma bisa nyapu, ngepel, nyuci baju, dan masak di dapur? Itu tugas pelayan, Mas! Dan di rumah ini, posisimu gak lebih dari itu!" kata-kata Mira meluncur seperti belati beracun, menusuk tepat di hulu hati Adam.
“Mira, jangan keterlaluan kamu! Aku ini suamimu, kenapa sedikit pun kamu nggak mau menghargaiku!” geram Adam. Selama ini dia menyimpan amarah di dadanya yang selalu berusaha dia tahan.
"Kenapa? Kamu tersinggung? Hah! Kamu minta dihargai berapa? Aku ini yang banting tulang di luar sana, menghadapi tekanan klien, mencari uang untuk membayar cicilan rumah mewah ini sampai lunas, membayar biaya sekolah Adel, sampai makanan yang kamu kunyah setiap hari! Sementara kamu? Kamu cuma duduk manis di rumah, ngerjain pekerjaan pembantu yang bahkan anak nggak lulus SD pun bisa!" Mira mendengus remeh, matanya menyalang merah.
Dada Adam seperti dihantam batu besar. Kalimat itu menghujam dalam ke relung jiwanya. Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan untuk mengontrol emosinya. Sementara Mira, dia masih terus melanjutkan cacian dan makiannya pada Adam.
“Tapi Mir, bukannya kamu yang memintaku berhenti bekerja? Seandainya aku masih….” ucapan Adam terpotong dengan cepat oleh Mira.
"Seandainya apa? Seandainya kamu masih mempermalukan aku dengan bekerja sebagai kurir? Bahkan gajimu tidak cukup untuk beli bedakku! Sekarang, Keluar dari kamarku, Mas! Temani Adel. Gak usah bahas soal ranjang lagi sebelum kamu bisa membawa pulang uang yang setara atau lebih dari gajiku. Cari uang yang banyak, baru kamu punya hak untuk menyentuhku!" usir Mira sambil menunjuk pintu kamar dengan jari telunjuknya yang terawat rapi di salon mahal.
Kalimat terakhir Mira benar-benar menghancurkan sisa-sisa harga diri yang selama bertahun-tahun ini Adam pertahankan dengan susah payah demi keutuhan rumah tangga dan masa depan putrinya. Sebelumnya, Adam bekerja sebagai kurir paket dengan gaji yang jauh di bawah Mira. Dan tentu saja tidak cukup untuk membiayai gaya hidup Mira yang hedon.
Oleh sebab itu, Mira meminta Adam berhenti kerja karena menganggap Adam hanya buang buang waktu saja di luar rumah, karena tidak mendapat penghasilan yang besar. Selain itu, Mira juga merasa malu dengan pekerjaan Adam. Namun, setelah Adam menuruti kemauan Mira, Mira dan ibunya makin menginjak injak harga dirinya.
Adam mengepalkan kedua tangannya. Amarah dan sakit hati yang dia pendam selama ini sepertinya tidak bisa dia bendung lagi. Selama ini dia hanya diam, menerima hinaan dan makian dari Mira. Dan kali itu Ingin rasanya sekali kali dia memberi tamparan sebagai peringatan untuk istrinya, agar bisa menjaga ucapan dan agar bisa sedikit lebih menghargainya lagi.
Namun, tepat saat Adam sudah mengumpulkan keberanian untuk melawan, tiba tiba terdengar suara yang memanggil Adam dan Mira.
“Papa… Mama… Apa malam ini Papa akan tidur di kamar ini bareng Mama?” tanya Adel dengan lugu saat melihat kedua orang tuanya mendadak duduk bersama di ranjang kamar tidur mereka.
Mendengar pertanyaan dari Adel, seketika amarah Adam melunak. Dan selama ini, memang Adel lah alasan Adam merasa kuat untuk bertahan.
"Oh, di sini kamu rupanya! Meringkuk seperti raja di atas kasur!" semprot Marni tanpa basa-basi, matanya melotot menatap Adam yang terbaring berselimut."Ada apa, Bu? Saya sedang tidak bisa jalan, kaki saya terkilir parah," sahut Adam berusaha menetralkan suaranya yang masih agak berat dan bergetar akibat gairah yang terputus mendadak.Marni mendengus keras, melangkah masuk dua pijakan tanpa memedulikan penderitaan menantunya. "Alasan saja! Cuma terkilir sedikit saja manja sekali sampai tidak bisa bangun! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak memasak sarapan tadi pagi, perut Ibu sekarang sakit kena maag!"Marni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri menunduk di dekat nakas."Heh, Pembantu Baru!" bentak Marni ketus. "Kenapa kamu lama sekali di kamar ini? Apa yang kamu lakukan?"Alya mendongak sedikit, memasang raut wajah takut dan serba salah. "M-maaf, Bu... Saya cuma mengantarkan bubur hangat untuk Pak Adam, dan membantu mengambilkan obat oles karena kaki Beliau
Alya yang sejak awal fokus memperhatikan Adam, tentu bisa melihat respons tubuh majikannya yang mulai gelisah. Gerakan dadanya yang kian naik turun secara memburu, napasnya yang terengah-engah halus, serta otot paha yang mendadak menegang keras adalah sinyal yang sangat jelas.Ketika mata Alya melirik sekilas ke arah bagian inti tubuh Adam yang makin menonjol, senyum tipis yang penuh kemenangan terkembang sangat tipis di sudut bibirnya. Begitu samar hingga Adam yang sedang memejamkan mata rapat-rapat tidak akan mungkin menyadarinya.Dinding pertahanan pria yang katanya letoy dan tidak perkasa ini rupanya begitu rapuh. Hinaan Mira yang menyebut suaminya tidak berguna di atas ranjang seketika terpatahkan di depan mata Alya. Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah seorang lelaki dewasa yang kehausan akan belas kasih dan sentuhan hangat seorang wanita."Gimana, Pak? Bagian sini masih terasa tegang?" tanya Alya dengan suara yang sengaja dibuat lebih dalam dan lembut, nyaris menyerupai
Suasana di dalam kamar tidur itu mendadak hening dan beku untuk beberapa saat. Alya masih berdiri mematung di dekat meja kecil dengan nampan bubur yang sedikit bergetar di tangannya, sementara wajahnya merona merah akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya hilang. Di sisi lain, Adam yang berdiri bertumpu pada kusen pintu kamar mandi dengan hanya berbalut selembar handuk di pinggangnya, merasakan kecanggungan yang luar biasa menyerang dirinya. Rasa sakit di kakinya yang berdenyut hebat seolah sempat teredam sejenak oleh rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya."Ah... m-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak sedang... sedang keluar dari kamar mandi. Pintu depannya tadi agak terbuka saat saya ketuk, jadi saya langsung masuk untuk mengantarkan bubur," ucap Alya dengan suara yang terbata-bata, segera memalingkan pandangannya ke arah lantai demi menjaga kesopanan.Dengan gerakan cepat dan hati-hati, Alya meletakkan nampan berisi bubur hangat itu ke atas meja di dekat
Hari berganti sore, dan ketegangan di dalam dada Adam kian memuncak. Waktu terasa berjalan begitu lambat hingga akhirnya suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah menandakan Mira telah pulang, dan masih diantar oleh Kevin.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Adam sudah berdiri di ruang tamu, menyambutnya dengan tatapan mata yang dingin. Tanpa basa-basi, Adam langsung melayangkan pertanyaan. "Kemana kamu dan Kevin pergi tadi pagi? Setelah mengantar Adel, aku melihat kalian belok ke arah hotel?"Mendengar pertanyaan itu, Sontak wajah Mira terkejut. Bukannya merasa bersalah, ia justru meluapkan kemarahan dengan nada tinggi. "Maksud kamu apa, Mas?! Aku ini capek baru pulang kerja, banting tulang cari uang buat keluarga ini, tapi sampai rumah malah dituduh yang enggak-enggak! Nggak tahu diri banget kamu!"Keributan itu memancing Marni keluar dari kamarnya. Mendengar keributan tersebut, sang mertua langsung ikut bicara dan membela putrinya dengan berapi-api tanpa tau keben
Setelah mobil yang membawa Mira perlahan menghilang dari pandangan, Adam tidak ingin membuang waktu lebih lama dalam kubangan rasa sakitnya. Ia segera berbalik, mengambil kunci motor tua miliknya, dan menuntun Adel keluar."Ayo, Adel, kita berangkat sekolah sekarang ya. Nanti kamu telat," ucap Adam berusaha menata suaranya agar tetap terdengar tenang di depan sang putri.Kebetulan, arah sekolah Adel dan kantor Mira berada di jalur yang sama. Hal ini mempermudah Adam untuk melajukan motornya di belakang mobil mewah milik Kevin yang bergerak membelah jalanan pagi. Fokusnya terbagi antara memastikan keamanan Adel dan menjaga jarak agar mobil di depannya tidak menyadari keberadaannya.Sesampainya di depan gerbang sekolah, Adam menurunkan Adel, membetulkan letak tasnya, dan mencium kening putrinya lembut. "Belajar yang rajin ya, Sayang.""Iya, Pa. Papa hati-hati ya," jawab Adel sebelum berlari masuk ke halaman sekolah.Begitu Adel tak lagi terlihat, senyum di wajah Adam langsung
Mendengar suara lirih Adel, kepalan tangan Adam perlahan mengendur. Amarah yang sedetik lalu membakar dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat pada putri kecilnya. Ia tidak ingin Adel melihat keretakan ini. Ia tidak ingin mental anaknya hancur karena keegoisan orang dewasa."Eh, Adel sayang... belum tidur, Nak?" Adam berbalik, melangkah mendekati pintu tempat Adel berdiri sambil memeluk boneka beruang kecilnya.Mira hanya mendengus, langsung kembali meraih tabletnya tanpa memedulikan kehadiran sang anak."Papa mau ke kamar Adel sekarang kok. Yuk, Papa temani tidur," ucap Adam lembut, menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamarnya.Di dalam kamar yang bernuansa merah muda itu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Adel. Tangan kasarnya mengusap rambut sang putri dengan penuh kasih sayang. Adel memeluk lengan ayahnya erat-erat."Pa, jangan berantem sama Mama ya... Adel takut," bisik Adel pelan sebelum matanya mulai terpejam.Ia mengecup kening Ad







