เข้าสู่ระบบSuasana di ruang tamu yang sempat tegang itu kini benar-benar melunak. Setelah mendapatkan kepastian tentang mobil baru dan buaian janji manis, wajah Mira kembali berseri-berseri. Rasa puas terpancar jelas dari binar matanya, seolah-olah kehinaan yang diucapkannya di depan Diva beberapa menit lalu telah menguap tanpa sisa.Kevin melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum pendek sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit."Sayang, sudah makin siang," tutur Kevin lembut seraya membelai jemari Mira. "Ayo kita berangkat kerja sekarang. Nanti kalau kita terlambat, karyawan lain bisa makin banyak bergosip."Mira mengangguk manja. Ia berdiri, merapikan gaun kerjanya dan memoles ulang lipstik merah di bibirnya. "Iya, Mas. Ayo."Marni yang berdiri di dekat meja menyunggingkan senyum lebar. "Hati-hati di jalan ya, Pak Kevin, Mira. Jangan lupa besok janji mobil barunya!""Tentu, Bu Marni," sahut Kevin terkekeh pelan sebelum melangkah keluar merangkul
Kevin yang menyadari raut wajah Mira memerah padam dan siap meledak, segera memutar otak. Kehilangan jabatan di kantor pusat adalah mimpi buruknya, tetapi kehilangan Mira juga akan meruntuhkan egonya sebagai pria. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengikis jarak di atas sofa, lalu berusaha meraih kedua jemari Mira yang gemetaran dan masih terkepal erat."Sayang, tolong... Jangan menatapku seperti itu," bisik Kevin dengan nada memelas yang dipaksakan sehalus mungkin. "Kamu harus paham situasiku."Mira menepis tangan Kevin dengan kasar, membuang mukanya ke arah dinding. "Tahu apa aku tentang situasimu, Mas?!""Mira, tolong dengarkan aku dulu..." desak Kevin, mencoba memegang bahu selingkuhannya."Jangan sentuh aku!" bentak Mira melengking, matanya menyalang penuh amarah yang berkilat-kilat. "Mas sebut aku karyawan centil! Mas bilang di depan istri Mas kalau wanita bawahan seperti aku ini murahan, tidak ada apa-apanya, dan tidak sebanding sedikit pun dibanding Diva yang berkelas! Sakit
Membaca rentetan kalimat dingin di layar ponselnya, seluruh persendian Kevin seolah lolos dari tempatnya. Wajahnya yang semula memancarkan percaya diri seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ponsel mahal di genggamannya bergetar hebat mengikuti jemarinya yang mendadak gemetaran. Posisinya sebagai pimpinan di kantor cabang, seluruh fasilitas mewah, hingga impian untuk menguasai harta keluarga istrinya seketika terancam punah dalam satu kedipan mata.Mira yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah selingkuhannya mengerutkan dahi tajam. Senyum manja yang tadinya mengembang di bibirnya memudar, berganti dengan riak kecurigaan."Mas... Kenapa?" tanya Mira, meraih lengan Kevin yang terasa dingin membeku. "Ada apa? Kok mukanya sampai pucat begitu?"Kevin menoleh pelan, menatap Mira dengan mata membelalak penuh ketakutan yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya. "D-Diva, Mir... Diva mengancamku...""Mengancam bagaimana maksud Mas?!" desak Mira, suaranya meninggi dipenuhi k
Di ruang tamu yang penuh dengan kebohongan itu, Kevin terus melancarkan segala jurus rayuannya. Ia menggenggam erat kedua tangan Mira, menatap wanita itu dengan binar mata yang memelas penuh penyesalan buatan."Mira, tolonglah... Maafkan aku soal semalam," bujuk Kevin lembut, merendahkan suaranya sehalus mungkin. "Aku tahu kamu kecewa harus bersembunyi di bawah meja. Tapi percaya padaku, itu satu-satunya cara supaya posisi kita tetap aman. Di hatiku cuma ada kamu, Sayang."Mira memalingkan wajahnya, pura-pura bersikap jual mahal meski hatinya sudah melumer. "Mas bilang cinta sama aku, tapi di depan istri Mas... Mas malah puji-puji dia! Mas ingat kan rincian percakapan ranjang kalian semalam?!""Demi Tuhan, Mira! Semua yang kuscucapkan kemarin itu cuma omong kosong!" seru Kevin berapi-api demi meyakinkan selingkuhannya. "Diva itu wanita yang membosankan! Dia kaku, dingin, dan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding kamu. Aku cuma bersikap manis supaya dia tidak curiga dan tidak m
Deru mesin mobil yang tak asing kembali memecah keheningan di depan gerbang. Sebuah mobil dinas kantor cabang berhenti tepat di pelataran rumah. Kevin keluar dari pintu pengemudi dengan kemeja yang sedikit kusut dan raut wajah cemas yang tak bisa disembunyikan.Melihat kedatangan Kevin, Marni langsung menyenggol lengan putrinya seraya berbisik panik namun antusias. "Mir! Tuh kan, Pak Kevin datang! Cepat pasang muka mahalmu!"Mira dengan cepat mengubah raut wajahnya. Amarah akibat ulah Adam tadi seketika ia sembunyikan rapat-rapat, berganti dengan topeng kekecewaan yang dingin. Ia bersedekap dada, membuang muka saat langkah kaki Kevin bergegas mendekati teras rumah."Mira..." panggil Kevin halus, suaranya terdengar begitu merasa bersalah. "Maafkan aku soal semalam. Aku benar-benar tidak ada pilihan lain."Mira tidak bergeming. Ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa membalas tatapan Kevin, sengaja mengabaikan pria itu agar rasa bersalahnya makin memuncak.Kevin mengekor di be
Adam mengancingkan jas rapinya dengan gerakan tenang yang sengaja diperlambat. Manik matanya berganti menatap wajah Mira dan Marni yang kini pucat pasi, membeku bagaikan patung di tengah ruang makan. Bibir mereka menganga lebar, tak sanggup mengucap sepatah kata pun saat menyaksikan seorang sopir berbusana rapi membungkuk hormat di hadapan Adam.Inilah momen yang selama bertahun-tahun selalu diimpikan Adam. Momen di mana keangkuhan istri dan mertuanya hancur berkeping-keping di balik kenyataan yang memukul telak kesombongan mereka. Rasa bangga yang sempat terkubur kini merayap naik, menegakkan dadanya yang selama ini selalu membungkuk akibat tindasan."Terima kasih, Pak. Saya siap," ucap Adam tegas kepada sopir dinasnya.Namun, baru saja Adam mengayunkan kaki untuk melangkah menuju pintu keluar, sebuah suara lembut menghentikan geraknya."Pak Adam, tunggu sebentar!"Alya melangkah keluar dari arah dapur dengan gerakan anggun namun santun. Di kedua tangannya, ia memegang sebuah ta







