แชร์

Bab 38. Sebelum Asing

ผู้เขียน: Moonlight
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-12 21:57:14

Suara tamparan itu terdengar nyaring sekali, bahkan panasnya tak hanya tersisa pada pipi Abimana saja, melainkan pemilik tangan yang menampar pun merasakan yang sama, lebih panas sampai air matanya mengalir tanpa menunggu penjelasan apa pun.

“Tante udah menduganya, kamu nggak ada beda sama laki-laki bajingan itu, Abimana! Darah yang mengalir di tubuhmu terlalu kotor,” kata tante Sena teramat kecewa. “Jadi, ini alasan sebenarnya kamu membatasi Raniya bertemu kami, mencari ribuan alasan agar Ra
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 42. Pura-Pura Lupa

    “Om Abimana,” panggil Raniya nyaris suara itu tenggelam. Pramuniaga toko itu menoleh lebih dulu, matanya melirik Raniya dan Abimana bergantian. Bagaimana telinga Abimana memerah dengan sudut mata yang berkedut seakan mengerti panggilan itu ditujukan kepadanya. Dan secepat kilat, ekspresi kaget itu berubah menjadi biasa saja dengan senyumnya yang seolah tak terjadi apa-apa. “Di sana ada sekretaris pribadi saya, tolong carikan yang dia minta ya!” kata Abimana pada pramuniaga itu sebelum memutar tubuhnya menghadap pada perempuan yang sejak tadi merutuki diri karena terlepas memanggilnya. Tubuh Raniya tersentak mundur dengan mata melebar nyaris seluruhnya, pandangan Abimana yang terangkat pelan mengarah kepadanya bagai pemandangan indah yang tak terelak, hal yang patut dikagumi sekaligus didambakan. “Siapa ya?” celetuk Abimana reflek membuyarkan segala lamunan Raniya, wajah perempuan itu berubah pias, sebab benar terlupakan. “Anda kenal saya?” tanyanya. Raniya tampak bingung kemud

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 41. Om Abimana?

    Abimana terdiam cukup lama, malam itu ia mendatangi kembali kediamannya yang jarang sekali tercium olehnya sejak Raniya pergi. Setiap sudutnya tercium harum perempuan itu seakan mereka masih tinggal bersama dan Raniya selalu dengan moodnya yang mudah berubah juga membutuhkan bujuk rayu olehnya. “Rambutmu pendek,” ucapnya menatap lurus kamar Raniya yang tetap rapi dan bersih, sudut bibirnya menarik segaris senyuman. “Sejak kapan suka rambut pendek kamu?” Seakan Raniya ada di depannya, berbicara dengan gaya khasnya itu. Raniya memang tak seluar biasa wanita-wanita yang dikenalkan kepadanya, dari segi apa pun perempuan itu kalah. Akan tetapi, sedari awal bertemu dengan Raniya, kepolosan dan kesederhanaan perempuan itu menarik perhatiannya. Bagaimana Raniya yang menolak hidup bebas di tengah gempuran pergaulan yang memaksanya dan bagaimana marahnya Raniya ketika mengetahui masa lalunya. Tak ada yang marah seperti Raniya, membencinya sebagaimana perempuan itu. Justru, para wanita lama

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 40. Dia, Mantanmu?

    Agenda kencan buta atau semacamnya tak bisa Abimana hindari terus, terlepas dari pengakuannya tiga tahun lalu ketika mengurus dokumen perceraian dengan Raniya, dia tetaplah seorang pria dewasa dengan segudang rencana masa depan yang diperhitungkan akan lebih maju dan berwibawa dengan adanya pendamping hidup, apalagi sejak tiga tahun lalu tak pernah ditemukan bukti perselingkuhan atau mungkin Abimana menjalin hubungan dengan wanita baru. “Alamat restonya sudah saya kirimkan, Pak. Anda tinggal datang dan menunggunya,” kata Dani sambil mengangguk. Abimana menghembuskan nafasnya panjang, di tengah aneka ragam kesibukan, satu hal itu sangat tak disukainya, yakni harus berbasa-basi dengan wanita yang sudah jelas tak ada dalam rencana masa depannya. Sebelum pergi, Abimana sempat menatap cukup lama fotonya bersama Raniya. Sebenarnya, mudah saja baginya membayar orang untuk menemukan perempuan itu, tetapi ia telah berjanji memberikan ruang dan hak Raniya untuk hidup bebas. *** “Jadinya,

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 39. Jalan Masing-Masing

    “Di mana?” Jika mendengar suara itu, ingin sekali Raniya berlari untuk mendapatkan ketenangan dan rasa aman. Akan tetapi, telah banyak keegoisannya yang melukai mereka sehingga di tengah perasaannya yang hancur itu, Raniya mengurung diri dalam kamar kos yang baru hari itu resmi menjadi huniannya sampai beberapa bulan ke depan. “Kamu yakin berani sendiri?” Gia meluangkan waktunya untuk mengantar dan menemani Raniya sepulang kerja. Raniya hanya menatapnya kosong. “Ran, kenapa baru cerita sekarang sih!” protesnya turut sedih, terlebih ia tak sebebas Fana yang mungkin bisa meninggalkan rumah dalam waktu lama. “Aku udah berulang kali nanya, tapi kamu diem aja, Raniya. Kamu harus tau kalau kita nggak sekuat itu!” Benar, tidak ada salahnya mengaku tidak mampu atau terus mengaku bisa dan mampu, semua hanya menyusahkan diri sendiri meskipun percaya pada orang lain juga cukup berisiko, tetapi bagaimana pun juga tetap membutuhkan orang lain. “Aku malu,” akunya. “Malu apa? Kamu juga tau

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 38. Sebelum Asing

    Suara tamparan itu terdengar nyaring sekali, bahkan panasnya tak hanya tersisa pada pipi Abimana saja, melainkan pemilik tangan yang menampar pun merasakan yang sama, lebih panas sampai air matanya mengalir tanpa menunggu penjelasan apa pun. “Tante udah menduganya, kamu nggak ada beda sama laki-laki bajingan itu, Abimana! Darah yang mengalir di tubuhmu terlalu kotor,” kata tante Sena teramat kecewa. “Jadi, ini alasan sebenarnya kamu membatasi Raniya bertemu kami, mencari ribuan alasan agar Raniya terkurung, hah? Kamu ulangi perbuatan setan itu lagi?” “ABIMANA!” teriak wanita itu karena Abimana hanya diam. Wajah pria itu menoleh perlahan, matanya pun memerah dan penuh, tetapi ia menahan diri untuk tak membiarkan air matanya jatuh. Tanpa bertanya, wanita di depannya itu telah tahu dan benar dengan alasannya, sebab tentang dirinya sejak kecil wanita itu yang paling mengenalnya, bahkan masih merangkulnya dengan benar meskipun pernah melukai banyak. “Jawab, Tante! Kamu seperti ayahm

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 37. Kami Bercerai

    Keputusan itu keluar dari mulutnya sendiri, bahkan dengan sadar ia katakan seolah tak menyesal dan paling benar. Akan tetapi, kepalanya tak berhenti berpikir dan terus menyalahkan diri. Raniya mampir ke rumah orang tuanya sebelum menuju apartemen Abimana, suaminya itu baru saja mengirimkan pesan tentang persetujuan perceraian mereka dan akan menyusulnya ke rumah itu sebentar lagi. “Hanya sendirian?” Diniati melongo melihat sekitar. Raniya mendecih dalam hati. “Nanti, mas Abi nyusul. Raniya boleh masuk?” “Iy-iya, boleh. Bolehlah!” Diniati melebarkan pintu rumahnya itu, lalu melihat ke depan lagi memastikan apa benar Raniya sendirian atau bersama orang suruhan Abimana. Raniya yang menyadari perubahan sikap ibunya itu lantas paham, tidak mungkin asal saja berubah jika tak ada pengaruh dari Abimana yang entah kapan, tetapi itu jelas sekali. Tampaknya, kedatangan Raniya yang lebih dulu dari Abimana mengundang banyak prasangka dan tanya pada orang tuanya. Diniati sudah berbicara b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status