تسجيل الدخولHujan deras mengguyur London Utara saat rombongan mobil hitam Dante berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga di depan sebuah motel kumuh berdinding bata merah. Dante melompat keluar bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Ia mengabaikan payung yang disodorkan Silas, membiarkan air hujan membasahi kemeja mahalnya dalam hitungan detik."Tuan! Tunggu, biarkan kami masuk lebih dulu!" teriak Silas, mencoba mengejar langkah lebar majikannya.Namun Dante tidak mendengar. Ia menendang pintu kayu motel yang rapuh itu hingga terbuka, mengejutkan seorang resepsionis pria tua yang sedang terkantuk-kantuk di balik meja tinggi."Kamar 204! Siapa yang menyewanya?!" raung Dante. Suaranya menggelegar di lobi yang sempit dan berbau rokok murah itu."T-Tuan... kami punya privasi—"Dante mencengkeram kerah baju pria itu, menariknya melewati meja hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Aku tidak butuh privasi! Aku butuh istriku! Katakan sekarang atau aku akan membeli tanah ini dan
Matahari London mungkin terbit, tetapi bagi Dante, dunia tetaplah gelap gulita. Sudah tiga hari sejak Lexy melarikan diri dari dirinya. Tiga hari sejak sang billionaire kehilangan kendali atas satu-satunya hal yang benar-benar ia pedulikan.Di dalam ruang kerjanya yang kini berbau tajam alkohol dan asap cerutu, Dante duduk di lantai, bersandar pada kaki meja mahoninya yang berat. Dokumen-dokumen medis yang menjadi pemicu kehancuran itu masih berserakan di sekitarnya, terinjak dan ternoda tumpahan wiski. "Tuan, Anda harus makan. Setidaknya minumlah air putih."Dante mendongak dengan mata merah yang mengerikan. Di ambang pintu, Marcus berdiri dengan ekspresi tenang yang biasanya menenangkan Dante, tetapi kini justru memicu kecurigaannya."Makan?" Dante tertawa parau, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Bagaimana aku bisa makan saat aku tidak tahu di mana dia tidur? Apakah dia kedinginan? Apakah dia menangis? Marcus... kau adalah kepala keamananku. Bagaimana mungkin s
Suara deru mesin Range Rover yang dikendarai Lexy perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan kesunyian yang memekakkan telinga di kediaman mewah Mayfair. Dante masih berdiri mematung di ruang makan. Tangannya gemetar saat ia memungut lembaran dokumen medis yang berserakan di atas meja—kertas-kertas yang baru saja menghancurkan satu-satunya hal berharga yang ia miliki."Tuan?" suara Marcus terdengar dari ambang pintu. "Nona Alexandra baru saja pergi melalui gerbang selatan. Tim pengawal bertanya apakah mereka harus mengejarnya.""Biarkan dia," bisik Dante, suaranya parau, nyaris tak terdengar. Ia meremas dokumen itu hingga hancur dalam kepalannya. "Berikan dia ruang. Jika kita mengejarnya sekarang, dia akan semakin membenciku.""Baik, Tuan." Marcus menunduk, matanya menunjukkan simpati yang dalam, namun ada kilatan rahasia yang tersembunyi di balik kacamata bingkai hitamnya.Dante berbalik, matanya merah karena amarah dan keputusasaan. "Tapi jangan lepaskan pandanganmu darinya, Marc
Pagi di Mayfair kembali menyapa dengan keanggunan yang dingin. Sinar matahari mencoba menembus tirai beludru abu-abu di kamar utama, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas seprai sutra yang masih berantakan. Dante sudah bangun lebih dulu—kebiasaan seorang CEO yang otaknya tidak pernah benar-benar berhenti berputar.Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan. Matanya tertuju pada pantulan dirinya, namun pikirannya tertuju pada pesan Silas semalam, Firma hukum Thomas Thorne. “Hoaaahmmm…”Lexy menggeliat di balik selimut, matanya perlahan terbuka dan menemukan punggung tegap suaminya sebagai pemandangan pertama. "Kau selalu bangun seolah-olah dunia akan kiamat jika kau terlambat lima menit," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Dante menoleh, senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia berjalan kembali ke tepi tempat tidur, membungkuk untuk mencium kening Lexy. "Dunia tidak akan kiamat, tapi pasar saham London tidak peduli jik
Gemercik air yang tenang bergema di dalam kolam renang pribadi di lantai teratas griya Mayfair. Halaman itu dirancang dengan estetika minimalis namun mewah; dindingnya terbuat dari kaca setinggi langit-langit yang menawarkan panorama London yang berkabut, sementara air kolamnya yang hangat menguap tipis, menciptakan atmosfer yang intim dan terisolasi dari dunia luar.Leo sudah berada di sayap lain bangunan, tertidur pulas setelah kelelahan bermain, ditemani oleh pengasuh dan tim medis terbaik. Kini, hanya ada Dante dan Lexy.Dante berdiri di tepi kolam, hanya mengenakan celana pendek hitam yang memamerkan otot-otot tubuhnya yang atletis—hasil dari disiplin keras dan modifikasi genetik yang tak pernah ia minta. Ia menatap air dengan pikiran yang melayang, sampai ia mendengar suara pintu geser terbuka.Lexy masuk dengan mengenakan bikini berwarna zamrud yang kontras dengan kulit putih porselennya. Rambutnya diikat asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya."Kau ma
Pagi di London selalu punya cara untuk terlihat puitis, namun bagi Lexy, suasana hati suaminya adalah ramalan cuaca yang lebih penting. Setelah ketegangan soal pelacak GPS tempo hari, Dante tampaknya berusaha menebus dosa dengan cara yang lebih manusiawi. Ia membawa Leo jalan-jalan ke sebuah kafe di kawasan Knightsbridge sebelum jadwal pemeriksaan rutin bocah itu di klinik.Leo tampak jauh lebih segar. Pipinya mulai berisi, dan binar matanya kembali setelah sekian lama redup oleh rasa sakit."Kak, lihat! Ada burung besar di sana!" Leo menunjuk ke arah taman melalui jendela kaca kafe yang luas."Itu burung merpati, Leo. Di London, mereka adalah pemilik jalanan," sahut Dante sambil mengusap kepala Leo. l.Ia kemudian menoleh pada Lexy, menggenggam tangannya di atas meja kayu ek yang dipelitur rapi. "Kau terlihat lebih tenang hari ini. Apa karena aku mematikan pelacak itu?"Lexy menyipitkan mata, memberikan senyum penuh arti. "Jangan coba-coba menyalakannya lagi, atau aku akan memasangny
Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan
Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa
Lampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tid
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya







