Se connecter
“Leah! Kode merah dari Brux!”
Netra Leah langsung membulat mendengar teriakan sopir pribadi sang pemimpin klan. Ia memilih berjaga di gerbang depan area pergudangan tua kota Bridge Wisk.
3 tahun menjadi anggota klan Redvern, Leah mulai bosan mendengarkan rapat mingguan para petinggi itu. Tak disangka, malah terjadi keributan di dalam gudang.
Belum juga genap keterkejutan Leah, suara tembakan dari berbagai arah terdengar ramai tak putus. Memecah suasana tengah malam yang tadinya sunyi.
Segera, Leah membuka pintu gudang dengan posisi bersiap menembak.
“Boss! Marco sudah siap!” seru Leah yang bertugas mengamankan jalan keluar.
Matanya menjelajah berbagai sudut untuk memastikan tidak ada peluru yang menyasar pemimpinnya.
Melihat situasi semakin brutal, Leah segera melompat ke dalam mobil tepat setelah sang pemimpin berada di dalam. “Jalan!”
Tanpa berhenti, mobil tersebut melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Leah sendiri langsung terhubung dengan ketua tim intelijennya melalui laptop khusus.
“Seseorang sengaja memposting foto lokasi di media sosialnya,” ujar Leah menyuarakan pesan yang muncul di layar laptop.
Tidak ada amarah yang meledak dari sang pemimpin ketika bertanya, “Siapa?”
“Kami masih mencarinya, Boss.” Leah menjawab cepat, sementara jemarinya menari lincah mengetik sesuatu. “Alexis bilang, titiknya ada di dekat sini.”
“Cari sekarang!” putus sang pemimpin. “Aku ingin tahu siapa yang berani berurusan dengan Dante Redvern.”
Leah menelan ludah, lalu melirik ke arah sopir. Ia menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Dimengerti, Don Dante!”
Segera, pesan berisi perintah untuk mencari di sekitar lokasi titik di mana si pengunggah foto berada langsung diterima oleh anggota klan.
Mereka berhenti di sana untuk mengecek lokasi. Leah pun ikut turun untuk memeriksa. Walau seorang wanita, Leah adalah salah satu dari 5 tim inti yang mengawal sang Don dari dekat.
“Berjaga di sekitar mobil!” perintah Leah kepada beberapa anggota.
Dahi Leah mengernyit begitu melihat titik lokasi si pengunggah foto. Ia menekan alat penghubung di telinganya dan melapor, “Ini rumah kumuh, Lex. Kau yakin?”
“Masuk saja, Leah! Seharusnya Brux bersamamu.”
“Tidak! Dia harus menjaga Don,” tegas Leah. “Aku masuk!”
Tanpa ragu, Leah melangkah melewati pintu kayu reyot yang sudah tinggal setengah. Dengan kakinya, ia menendang pintu rumah itu dan langsung melompat menjauh, menghindari serangan mendadak.
“Kosong!” Suara Leah sedikit meninggi. “Tidak mungkin mereka lari secepat itu, ‘kan?”
Suara dari dalam alat penghubung di telinga Leah kembali bicara, “Titiknya ada di dalam lemari, Leah. Hati-hati, kemungkinan ada peledak.”
Leah menutup mata, kemudian membuka lemari itu kuat-kuat. Ia bersiap untuk yang terburuk, tetapi yang ada di hadapannya hanya sebuah ponsel.
“Aku menemukan ponsel, Alexis,” lapor Leah. “Tapi tidak ada siapa pun di sini. Apa diatur dari jarak jauh?”
“Masuk akal! Tapi, jangan menekan sembarangan, Leah. Kita tidak mau kau ikut hancur kalau ponsel itu meledak,” ujar sang ketua tim intelijen. “Aku akan segera ke sana.”
Leah tak menyentuh ponsel tersebut sesuai arahan sang atasan. Ia segera kembali ke mobil untuk melaporkan temuannya kepada Dante.
“Kalau begitu, kita kembali!” perintah Dante santai. “Biar Alexis yang mengurus.”
Leah mengangguk. “Jalan, Marco!”
40 menit perjalanan, mereka tiba di depan gerbang utama kediaman Redvern. Mereka bergegas turun dan mengawal Dante Redvern sampai ke dalam mansionnya.
“Leah, Brux! Urus masalah ini tanpa sepengetahuan para tetua!” perintah Dante tegas. “Aku malas berurusan dengan mereka.”
“Baik, Boss!”
Segera, mereka kembali ke lokasi untuk mencari tahu apa yang sudah ditemukan Alexis.
“Berapa banyak yang gugur, Brux?” tanya Leah dengan tangan mengepal kuat-kuat.
“Mikha bilang sekitar 10 rekan kita tewas, Leah,” Brux menjawab dengan geram. “Aku tidak akan melepaskan bajingan yang membocorkan lokasi pertemuan.”
Leah mengangguk setuju. Ia sudah tak sabar ingin mengetahui klan mana yang sudah berani menyerang Redvern.
Tiba di rumah kumuh tadi, Leah bisa melihat ketua tim intelijen tengah mengecek ponsel yang ditinggalkan di dalam lemari.
“Ada petunjuk, Lex?” tanya Leah seraya mendekat.
“Benar dugaanku. Mereka merekatkannya dengan peledak yang sensitif pada guncangan. Bagus kau tidak menyentuhnya, Leah.”
Yang disebut sebagai peledak itu sudah berhasil terlepas dari ponsel. Sayang, sepertinya peledak itu juga bertujuan merusak ponsel yang sekarang tidak bisa dinyalakan.
Mereka harus menyambungkan ponsel itu dengan laptop khusus milik Alexis untuk mengecek apa yang ada di dalam ponsel tersebut. “Kuharap kita masih bisa melihat isinya.”
“Menurut kalian, klan mana yang menyerang tadi?” tanya Leah sementara menunggu Alexis mengutak-atik ponsel temuan.
“Bajingan-bajingan itu memakai jaket dengan lambang klan Whitmore. Jelas ini perkara proyek tambang emas yang Redvern menangkan. Mereka tidak terima.”
Leah mendengus geli. “Berani juga mereka terang-terangan menantang begini! Aku akan atur supaya mereka dapat kerugian lebih dari yang sekarang!”
Brux tergelak seraya menepuk pundak Leah. “Kalau soal itu, kau memang ahlinya, Leah! Don pasti suka dengan rencana—hey, apa yang kau buka, Lex? Kenapa ada foto Leah di laptopmu?”
Leah langsung menoleh ke arah laptop Alexis. Sekejap tengkuknya terasa dingin, seolah ada yang menempelkan bongkah es di sana.
“Lex, apa yang—”
“Ini data yang ada di dalam ponsel, Leah. Ini ponsel adikmu!”
Blam!Pintu di depan Leah tertutup, tanpa Leah bisa melanjutkan ucapannya. Empat penjaga lorong pun memaksa Leah untuk berdiri dan tidak membuat keributan lagi. “Nona Leah, Anda sebaiknya kembali ke kamar!” tegas salah satu penjaga. “Jangan menambah emosi Don!”Tak bisa bersikap keras kepala lebih lama lagi, Leah pun menurut. Ia segera berbalik dan masuk lagi ke kamarnya. “Bagaimana aku bisa menilai kalau aku tidak diizinkan bertemu Zach?!” Leah melempar bantal ke seberang ruangan. Kesal dan merasa tak berdaya. Tidak punya kuasa untuk memaksakan keinginannya. Padahal dulu, pendapatnya adalah salah satu yang pasti didengar oleh Dante.Setelah gagal mengemis belas kasihan sang pemimpin, kini penjagaan semakin diperketat. Membuat Leah semakin sulit bergerak.Pandangannya mengelilingi kamar tidur tempat ia terkurung. “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Aku bukan ingin kabur. Hanya ingin mengamati kondisi kediaman Redvern.”Kemudian, sebuah ide gila muncul dalam pikiran Leah.
“Leah.”Gabreil tersenyum, tetapi kali ini senyum itu tidak sampai terpancar dari tatapan matanya. “Jangan memaksakan keberuntungan terlalu banyak. Aku memilih tetap memandangmu sebagai teman saja, sudah bagus untukmu.”Netra Leah membelalak, tak menyangka akan mendengar kalimat menusuk itu dari seseorang yang masih melempar senyum padanya. Ia langsung melepas genggamannya dari tangan Gabreil. “Aku mengerti.”Gabreil mengangguk. “Jadilah istri pajangan sesuai tujuan sebutan itu, Leah. Kau bisa minta aku membawakanmu oleh-oleh kalau memang kau bosan.”Kata-kata Gabreil menusuk hati Leah lebih tajam daripada tawa lepas Brux dan Mikha.Tanpa merasa bersalah, Gabreil pamit pergi setelah menepuk pundak Leah, layaknya seorang teman. Meninggalkan Leah yang masih terduduk di lantai, kehilangan kata-kata. Setelah yakin Gabreil sudah jauh melewati lorong, Leah mengangkat tubuhnya dan kembali ke ruang tahanan—kamar tidurnya.‘Tenangkan dirimu, Leah!’ Leah menekan kuat-kuat kedua netranya denga
‘Tahanan berbentuk pernikahan ini ternyata tidak terlalu buruk.’Setidaknya, itulah pikiran Leah setelah bertemu Ellyan kemarin. Bahkan sorenya, Cedric menghampiri Leah untuk mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa menentang Patriark Calte atas keputusan itu. ‘Setidaknya, aku bisa menyelamatkanmu dan Zach dari hukuman berat.’ Begitu, kata Cedric. Pagi ini, Leah bangun dengan pikiran yang lebih segar. Ia segera bersiap untuk memberi salam pagi pada Dante. Sebelum dia menjadi suami Leah, terlebih dulu dia adalah pemimpin klan dan orang yang pernah menjadi pemimpinnya. Di depan ruang kerja sang Don, Leah menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk. Tak ada balasan atau izin dari dalam, tetapi pintu dibuka oleh seseorang. Sialnya, itu Brux. Mantan rekan kerja Leah yang paling vokal menyuarakan kemarahannya terhadap ia dan Zach. “Berani sekali kau menunjukkan wajahmu di depanku, Jalang!” raung Brux.Seketika, beberapa orang yang sedang ada di dalam ruang kerja Dante menoleh. Bahk
Brak!Brux menghantam meja ruang kerja sang pemimpin klan, dengan kepalan tangan yang sebesar batu sungai itu. “Sialan! Apa yang dipikirkan para tetua gila itu?!”Mikha mengangguk setuju dengan kemarahan Brux. “Don, ini keputusan konyol! Kau yakin diam saja?!” Dante tak menjawab. Ekor matanya melirik ke arah pintu tertutup yang ada di seberang ruangannya. Di balik pintu itu, Leah terkurung dengan status barunya. Istri kedua Don Dante Redvern. Setelah keputusan hukuman Zach ditetapkan, tetua langsung memproses pernikahan antara Dante dan Leah di depan semua orang. Dan disahkan baik secara hukum negara Newstrell maupun hukum klan Redvern.“Jangan bodoh!” tukas Dante, akhirnya bereaksi. Keempat anggota tim inti hanya bisa mengerutkan dahi. Mereka tahu, tujuan para tetua adalah untuk membatasi pergerakan Leah, tapi bukankah tidak harus dengan pernikahan?“Bos, kami paham tetua ingin menjadikan Leah tahanan,” ujar Mikha lagi. “Tapi bukan dengan pernikahan juga! Bagaimana dengan Nyonya
Bam!Leah langsung bersujud sampai kepalanya menghantam lantai. “Don Dante! Tolong perhitungkan loyalitasku—”“Loyalitas apa yang kau maksud, Nona Leah?! Bukankah bisa saja kau ini berkomplot dengan adikmu?!” raung salah satu tetua, sampai ia berdiri geram dan menunjuk-nunjuk ke arah Leah. Dante menatap anak buah wanita satu-satunya itu, kemudian beralih mengamati para patriark yang duduk angkuh di meja panjang yang ada di pinggir ruangan. “Patriark Cedric belum hadir. Atas dasar apa keputusan kalian dibuat, hm?”“Patriark Calte sudah mewakili—”“Apa Patriark Calte tahu?” Dante memotong ucapan si tetua pemarah tadi. “Keluarga Oswald menukar nyawa mereka demi putranya agar bisa hidup?”Para tua-tua terdiam mendengar ucapan Dante. Di saat yang sama, pintu aula terbuka. Pria yang disebut Dante pun muncul. “Apa sidang ini sengaja dipercepat demi menghindariku?”Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Cedric, ayah Dante sekaligus putra Calte Redvern, sang pemimpin para tetua, hanya terseny
“Aku tidak bersalah! Itu bukan milikku, Boss!”Hati Leah seperti tersayat-sayat mendengar raungan adik lelakinya di aula kecil kediaman utama Redvern, keesokan harinya. Sekuat tenaga, ia menahan air mata agar tidak jatuh membasahi wajahnya.Keempat rekan kerja Leah menatap dengan mata menyalak. Marah dan merasa dikhianati. Bahkan mereka menduga, Leah mungkin ikut berkhianat.“Zachael Oswald!” sentak Brux murka. “Bukti yang ada sudah jelas! Apa lagi yang kau sangkal?!”Leah pun hanya bisa menutup mata, seolah dengan begitu ia bisa mendorong masuk air mata yang mulai tak tertahankan. Dari ponsel yang mereka temukan, Alexis mendapati bahwa di dalam ponsel itu ada banyak pesan sehari-hari antara Zach dan Leah. Termasuk foto-foto yang tidak pernah terekspos ke publik, media sosial milik Zach dan email yang tersambung pada akun media sosial itu. Sementara itu, Dante Redvern tak kunjung membuka mulut. Jemari tangannya mengetuk sandaran tangan kayu, di bawah lengan kanannya. Ekor mata sang







