หน้าหลัก / Romansa / Terjebak Cinta Bos Sadis / Bab 4 – Antara Perintah dan Tatapan

แชร์

Bab 4 – Antara Perintah dan Tatapan

ผู้เขียน: Rayden Arsha
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-06 10:38:53

Sejak kalimat itu di ruang rapat—“Jangan biarkan siapa pun meremehkanmu. Termasuk saya”—pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Kalimat itu berputar seperti bisikan yang menolak pergi. Bukan hanya karena ia bosku, tapi karena cara dia mengatakannya… seolah ada sesuatu di balik suaranya yang dingin.

Pagi ini aku datang lebih awal, berharap bisa menenangkan diri sebelum dia datang. Tapi sepertinya harapanku terlalu naif. Saat aku baru saja menyalakan komputer, suara pintu ruang kerja terbuka, dan langkahnya terdengar masuk.

Aku langsung berdiri. “Selamat pagi, Pak.”

“Pagi,” jawabnya singkat. Ia melewati mejaku tanpa menatap, namun geraknya selalu teratur dan penuh kendali. “Ikut saya lima menit lagi. Kita akan bertemu klien penting.”

Aku mengangguk, meski jujur saja, lima menit terasa seperti lima detik ketika menyangkut dia.

Aku memeriksa ulang map presentasi, mengatur napas, lalu mengetuk pintu ruangannya. “Semua dokumen sudah siap, Pak.”

Kali ini ia menatapku. Tatapan itu… seolah menguliti. Dingin, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya—sebuah rasa yang tak mudah ditebak.

“Berikan,” katanya.

Aku maju selangkah, mengangkat map itu. Tapi saat ia mengambilnya, jarinya menyentuh pergelangan tanganku. Kontak yang seharusnya biasa saja… tapi tubuhku bereaksi berlebihan. Jantungku melompat. Nafasku tercekat.

Dan aku tahu ia merasakannya.

Bukan karena ia tersenyum—ia tidak—tapi ada sesuatu yang berubah dalam matanya selama satu detik. Sesuatu yang lebih gelap.

“Kau tegang,” katanya.

“A-Aku tidak—”

“Rania.”

Nada suaranya berubah. Lebih rendah, lebih perlahan. “Jangan bohongi saya. Saya tidak suka itu.”

Aku menunduk, merasa suara ini terlalu menggerogoti pertahananku. “Maaf, Pak.”

Ia menutup map, lalu berjalan menuju pintu tanpa mengalihkan pandangan dariku. “Ikut.”

---

Ruang rapat klien berada di lantai 50. Pemandangannya memukau—kota Ardan terlihat kecil dari ketinggian ini. Tapi aku hampir tidak bisa fokus. Aku sibuk memastikan catatan siap, laptop menyala, dan semuanya berada di tempatnya.

Klien, seorang pria paruh baya dengan sikap ramah, menyambut Arseniel dengan senyum. Tapi tatapannya berubah kagum ketika melihatku.

“Sekretaris baru Anda?” tanya pria itu.

“Iya,” jawab Arseniel singkat. “Rania.”

Klien menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan cara yang tidak membuatku nyaman. “Cantik. Muda. Anda punya selera yang bagus, Tuan Dirgantara.”

Aku membeku.

Arseniel menoleh ke pria itu perlahan. Sangat perlahan.

Tatapan matanya berubah—dingin menyala, seperti badai yang mendadak datang tanpa peringatan.

“Dia tidak dipilih berdasarkan penampilan,” katanya tajam. “Ia di sini karena kompetensinya.”

Pria itu terkekeh canggung. “Ya, ya, tentu.”

Tapi aku tahu itu bukan jawaban yang ia sukai. Ia menatapku lagi, kali ini lebih berani.

Aku menunduk cepat, merasa tidak nyaman.

Pertemuan dimulai, tapi aku bisa merasakan atmosfer aneh di ruangan itu. Arseniel mempresentasikan data dengan tenang, tapi setiap kali klien itu menatapku terlalu lama, aku merasakan tatapan Arseniel mengikutinya. Seperti mengawasi.

Seperti memperingatkan.

Pertemuan selesai satu jam kemudian. Pria itu menyalamiku sebelum pergi, terlalu lama, terlalu dekat. Aku menarik tanganku pelan, lalu melangkah mundur.

Begitu pintu tertutup, Arseniel berjalan melewatiku tanpa bicara. Namun langkahnya berhenti mendadak.

“Rania.”

Aku terkejut. “Ya, Pak?”

Ia berbalik sedikit, menatapku setengah tubuh. Tatapan itu… bukan tatapan bos. Bukan tatapan yang seharusnya kusambut dengan tenang.

“Kau tidak perlu membiarkan orang seperti itu menyentuhmu.”

Aku menegang. “Dia klien, Pak. Saya tidak—”

“Klien atau bukan,” katanya pelan namun penuh tekanan, “kau berhak menentukan batas.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan kemarahan.

Bukan ketegasan.

Tapi proteksi.

Yang intens, kuat, dan membingungkan.

“Mulai sekarang,” suaranya merendah, “kalau ada yang membuatmu tidak nyaman… cukup bilang ke saya.”

“Apa tidak apa-apa saya… begitu?” tanyaku ragu.

“Kalau itu membuatmu aman,” jawabnya, “itu selalu boleh.”

Tubuhku bergetar ringan. Ada ruang hening di antara kami—ruang yang terasa terlalu sempit untuk dua orang. Ruang yang dipenuhi sesuatu yang tidak boleh ada… tapi sudah terlanjur tumbuh.

Arseniel memalingkan wajah, suaranya kembali datar, tapi nadanya tidak bisa bohong.

“Kita kembali ke lantai 45.”

Ia berjalan duluan.

Dan saat aku mengikutinya, aku sadar satu hal:

Pria itu bukan hanya berbahaya karena kekuasaannya.

Tapi karena caranya melihatku.

Seolah aku adalah sesuatu…

yang tidak seharusnya ia sentuh.

Tapi entah kenapa, ingin ia lindungi.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada ancaman apa pun.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 124 — Aku Tidak Lagi Takut Sendirian

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 123 — Aku Belajar Bahwa Tidak Semua Hal Harus Diselesaikan

    Dulu aku punya kebiasaan yang tidak pernah kusadari sebagai beban: aku ingin menyelesaikan semuanya.Semua masalah harus diselesaikan. Semua konflik harus diselesaikan. Semua percakapan harus jelas. Semua luka harus sembuh sempurna.Aku tidak nyaman dengan hal-hal yang digantung. Aku tidak tahan dengan intimidasi. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, saya merasa harus mencari penjelasannya. Jika ada hubungan yang berakhir tanpa penjelasan, saya merasa harus menutupnya dengan kalimat terakhir yang rapi.Aku ingin hidup seperti buku yang setiap babnya punya kesimpulan jelas.Tapi hidup ternyata bukan buku yang bisa kita edit sesuka hati.Kesadaran itu datang perlahan, bukan lewat kejadian besar. Justru lewat kenyamanan.Pagi itu aku bangun dengan perasaan netral—tidak terlalu bahagia, tidak juga sedih. Hanya tenang. Cahaya matahari masuk seperti biasa, membentuk garis lembut di dinding. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menunggu beberapa detik sebelum berdiri.Dulu, jika aku ter

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 122 — Aku Tidak Lagi Bertanya “Kenapa Dulu Begitu?”

    Ada masa dalam hidupku ketika satu pertanyaan terus berputar seperti lagu rusak di kepala:Kenapa dulu aku begitu?Kenapa dulu aku membiarkan diriku disakiti?Kenapa aku bertahan terlalu lama di tempat yang jelas membuatku lelah?Kenapa aku menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku?Kenapa aku mengorbankan diriku sendiri demi menjaga sesuatu yang bahkan tidak menjagaku kembali?Pertanyaan-pertanyaan itu dulu terasa seperti penyelidikan. Seolah aku harus menemukan jawaban logis agar bisa berdamai dengan masa lalu. Aku pikir kalau aku mengerti alasannya, aku akan sembuh. Aku percaya kalau aku bisa menjelaskan semuanya, luka-lukanya akan hilang.Tapi waktu mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya:Tidak semua hal di masa lalu perlu dijelaskan.Sebagian hanya perlu diterima.Kesadaran itu datang di pagi yang sangat tenang.Aku bangun dengan perasaan ringan, seperti seseorang yang baru saja menurunkan beban t

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 121 — Aku Akhirnya Mengerti: Damai Itu Tidak Datang, Ia Dibuat

    Dulu aku selalu menunggu damai.Aku menunggunya seperti seseorang menunggu kereta di peron—berdiri, melihat jauh ke depan, berharap sesuatu datang menjemput. Aku percaya suatu hari nanti hidup akan tenang dengan sendirinya. Bahwa akan ada momen di mana semuanya rapi, semua masalah selesai, semua rasa takut hilang, lalu damai datang duduk di sampingku tanpa diminta.Aku menunggunya lama.Aku menunggunya saat hidup sibuk.Aku menunggunya saat hidup sepi.Aku menunggunya saat aku lelah.Aku menunggunya bahkan saat aku bahagia.Tapi damai tidak pernah datang seperti itu.Ia tidak muncul tiba-tiba. Tidak mengetuk pintu. Tidak memperkenalkan diri. Ia tidak pernah datang sebagai hadiah dari luar.Dan butuh waktu lama bagiku untuk menyadari sesuatu yang sederhana namun mengubah segalanya:Damai bukan sesuatu yang datang.Damai adalah sesuatu yang dibuat.Kesadaran itu muncul pada pagi yang sangat biasa.Aku bangun tanpa suara alarm, hanya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 120 — Aku Tidak Lagi Mengejar Hidup, Aku Menjalani

    Dulu aku hidup seperti seseorang yang terlambat.Bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menungguku, aku tetap merasa dikejar waktu. Setiap pagi terasa seperti garis start perlombaan. Setiap malam terasa seperti laporan hasil. Jika hariku tidak produktif, aku merasa gagal. Jika aku beristirahat terlalu lama, aku merasa bersalah. Jika aku bahagia tanpa alasan jelas, aku malah curiga.Aku hidup bukan untuk menjalani hari—aku hidup untuk mengejar sesuatu yang bahkan tidak selalu bisa kujelaskan.Dan anehnya, aku dulu mengira itu normal.Aku mengira semua orang hidup dengan napas setengah tertahan seperti itu. Aku mengira kelelahan adalah harga yang harus dibayar agar hidup terasa berarti. Aku mengira jika aku berhenti berlari, aku akan tertinggal dari sesuatu yang penting.Tapi pagi itu, aku bangun dengan kesadaran yang sangat sederhana—dan sangat mengubah segalanya.Aku tidak sedang dikejar.Tidak ada yang mengejarku.Aku membuka mata perlahan. Cahaya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 119 — Aku Tidak Lagi Takut Jika Suatu Hari Semua Berubah

    Dulu, perubahan adalah kata yang selalu membuat dadaku menegang.Bukan karena aku tidak tahu hidup pasti berubah—semua orang tahu itu. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda. Aku memahami perubahan sebagai konsep, namun aku menolaknya sebagai kenyataan. Setiap kali sesuatu terasa stabil, aku justru gelisah. Bukan takut kehilangan yang sudah hilang, melainkan takut kehilangan yang bahkan belum terjadi.Aku sering bertanya dalam diam: Bagaimana kalau ini tidak bertahan lama?Bagaimana kalau kebahagiaan ini hanya sementara?Bagaimana kalau ketenangan ini hanya jeda sebelum badai?Pikiran-pikiran itu dulu datang seperti tamu tak diundang yang selalu tahu jalan masuk. Mereka duduk di sudut pikiranku dan berbisik pelan, cukup lirih untuk tidak terdengar orang lain, tapi cukup jelas untuk membuatku tidak pernah benar-benar tenang.Namun pagi itu, sesuatu terasa berbeda.Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena gelisah, melainkan karen

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status