LOGIN"Mobilmu sudah rusak, kan? Ban depannya pecah terkena serpihan tadi," ucap Toni santai dari balik jendela mobil. "Dan mobil Bram ... ya, kami butuh kendaraan tambahan untuk pergi dari sini. Terima kasih atas uangnya, Dokter Ervan. Semoga sukses berjalan kaki di tengah hutan pinus ini."Vroom!Mesin mobil menderu keras. Toni dan anak buahnya memacu mobil itu meninggalkan lokasi, menyisakan kepulan debu dan aroma karet terbakar. Ervan berdiri mematung di tengah jalan sepi yang gelap gulita. Mobil Mercedes-nya masih menyala, namun dengan ban yang hancur, mobil itu tak lebih dari onggokan besi tua yang tak berguna."TONI! KEMBALI!" jerit Ervan histeris. "AKU BISA BAYAR LAGI! JANGAN TINGGALKAN AKU!"Suaranya hanya memantul di antara pepohonan pinus yang tinggi menjulang. Tidak ada jawaban. Tidak ada bantuan. Ervan jatuh berlutut di atas aspal yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kekayaannya tidak bisa membeli keselamatan. Ia benar-benar sendirian, ditinggalkan oleh semua oran
Asap putih dari tabung pemadam mulai menyatu dengan kabut malam yang dingin, namun ketegangan di jalanan sepi itu justru semakin membara. Ervan, dengan napas tersengal dan wajah yang kotor, mencoba berdiri tegak meski tanpa tongkat besinya. Ia menatap Toni dengan sorot mata yang bergetar antara amarah dan ketakutan."Toni, dengar aku! Semua yang dikatakan Bram, Fahmi, dan perempuan sialan itu hanya omong kosong!" teriak Ervan, suaranya parau karena menghirup sisa asap. "Mereka cuma mau mengadu domba kita supaya mereka bisa lari. Aku masih punya segalanya! Aku akan membayar kalian sepuluh kali lipat dari kesepakatan awal!"Toni tidak langsung menjawab. Ia memutar-mutar tongkat besi milik Ervan di tangannya, lalu mengetuk-ngetukkannya ke aspal dengan bunyi ting yang memekakkan telinga di tengah kesunyian malam."Sepuluh kali lipat?" Toni tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dingin. "Lalu bagaimana dengan apa yang dikatakan Bram tadi, Dokter? Adik tirimu sendiri yang bilang kalau ka
"Rina menunduk!!!"Pshhhhhhhh!Asap putih pekat menyembur dari tabung pemadam, membutakan pandangan Ervan dan Toni. Di tengah kepulan asap itu, Fahmi menarik sebuah flare darurat dari kantong pintu mobil dan menyalakannya. Cahaya merah menyala yang sangat silau memenuhi area sempit itu, membuat semua orang menutup mata.Sambil terus menyemprotkan asap, Fahmi berteriak sekuat tenaga agar suaranya terdengar oleh Toni dan anak buahnya."Toni! Dengar aku! Ervan tidak akan membayar kalian!" seru Fahmi dengan nada penuh wibawa. "Dia sedang dalam penyelidikan audit rumah sakit! Semua rekeningnya akan dibekukan besok pagi karena kasus penggelapan dana alat kesehatan. Kalian hanya akan menjadi kambing hitam atas kekerasan ini, sementara dia melarikan diri ke luar negeri!"Toni terbatuk-batuk di tengah asap, mencoba mencari pegangan. "Apa?!""Bram sudah tahu semuanya!" lanjut Fahmi. "Itulah kenapa Bram berani melawan kakaknya sendiri! Dia tahu Ervan hanyalah kapal karam yang akan menyeret siapa
Suara besi yang bergesekan dengan aspal itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditarik pelan. “Srak ... srak ... srak ….” Ervan menyeret tongkat besinya dengan langkah santai, namun auranya begitu mengintimidasi. Di bawah temaram lampu sorot mobil, wajah Ervan tampak seperti porselen putih yang retak, pucat, dan mengerikan dengan senyum yang tidak sampai ke mata.Senyuman yang mengintimidasi."Turun, Rina," suara Ervan terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. "Atau aku benar-benar akan menghancurkan kepala penulis ini di depan matamu."Di dalam mobil, napas Rina terasa sesak. Ia mencengkeram lengan jaket Fahmi. Ia sungguh ketakutan. Bukan hanya takut untuk dirinya sendiri. Namun ia takut nyawa Fahmi terancam.Di samping mereka, Bram yang tadi keluar dari mobil masih berdiri mematung setelah membisikkan sesuatu ke telinga Toni.Toni, si pria bertangan besi itu, tampak tertegun. Matanya menyipit, menatap Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia m
Mereka sampai di lantai bawah, namun langkah mereka terhenti di ruang tamu. Toni, si pria dingin bertangan besi, sudah berdiri di sana dengan dua orang anak buahnya. Ia sedang menyesap sebatang rokok, menatap Fahmi dan Rina dengan pandangan meremehkan."Mau ke mana, Tuan Penulis?" tanya Toni tenang. "Dokter Ervan sudah membayar mahal untuk memastikan Nyonya Rina pulang malam ini.""Minggir!" Fahmi memasang posisi pasang, meski ia tahu ia bukan tandingan pria di depannya."Fahmi, di belakangmu!" teriak Rina.Salah satu anak buah Toni menerjang dari arah dapur. Fahmi menghindar, namun ia terkena pukulan telak di perutnya yang membuatnya tersungkur. Rina berteriak, hendak menolong, namun lengannya ditarik kasar oleh Toni."Lepaskan aku! Dasar binatang!" Rina meronta, mencoba mencakar wajah Toni.Tepat saat keadaan terasa buntu, sebuah lampu sorot mobil tiba-tiba menyala dari arah pintu samping yang tembus ke garasi. Suara deru mesin mobil off-road milik Bram menggelegar. Mobil itu mundur
Dung! Dung! Dung!Suara hantaman tongkat besi Ervan pada pintu kamar kayu itu terdengar seperti lonceng kematian. Setiap dentuman membuat debu-debu halus jatuh dari langit-langit villa, seiring dengan jantung Rina yang serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, mendekap erat kaos oversize yang dikenakannya, seolah kain itu bisa melindunginya dari murka suaminya."Fahmi, buka pintunya!" raung Ervan dari luar. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik pintu ini selamanya? Aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Aku akan menghancurkan tangan yang sudah berani menyentuh istriku!"Fahmi berdiri di depan pintu, kedua tangannya menahan lemari kecil yang ia geser untuk membarikade jalan masuk. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Rina, mencoba memberikan tatapan menenangkan meski tangannya sendiri gemetar hebat."Rin,







