ANMELDENJantung Kirana berdegup tidak karuan, sebuah tangan besar menangkup wajahnya dengan lembut. Tatapan Gio penuh damba pada Kirana.Perasaannya masih sama, masih sama seperti dulu. Cinta yang ditawarkan Gio pada Kirana tidak akan pernah pudar. Selamanya akan seperti itu."Dengar, aku mencintaimu, aku tidak akan pernah berubah untuk lain hal."Gio selalu punya cara untuk membuat Kirana tersipu. Meski hanya sebuah kata, tetapi mampu meluluhlantakkan hati wanita itu."Karena aku yakin sekarang perasaanmu padaku, maka aku akan membawamu pada orang tuaku." Ibu jari Gio mengusap pelan pipi Kirana yang telah memerah.Kirana menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu mengapa perasaannya pada Gio bisa tumbuh begitu besar.Sedari awal, Gio memang ada untuknya. Di saat mantan suaminya sibuk dengan segala hal yang menjadi alasannya, Gio menawarkan kenyamanan yang membuat ia terlena hingga sekarang."Tapi, jika orang tuamu tidak suka padaku bagaimana?" takut Kirana.Kirana sangat sadar diri, ia bukan se
Kirana disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menanti. Wanita itu sesekali masih menyempatkan hobinya menulis. Bahkan novel yang ia garap selalu meledak di pasaran. Meski begitu, Kirana tidak bisa fokus hanya dengan menulis saja. Terkadang ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkan hobinya untuk menulis novel.Jemari wanita itu lincah mengetik di atas papan keyboard. Sedangkan wanita itu tidak tahu jika sedari tadi sepasang mata sedang menatap ke arahnya. “Masih belum selesai?” tahya Gio yang menanti Raka menyelesaikan satu naskah lagi.“Sedikit lagi.” Tanpa menoleh Kirana menjawab pertanyaan dari Gio.Saat ini mereka berada di sebuah kafe yang tidak jauh dari ruang Kirana. Sebenarnya sebelum Gio datang Kirana sudah sampai di kafe lebih dulu. Wanita itu ingin merampungkan satu naskah lagi sebelum ia menyisipkan kata tamat di akhir.Kirana yang sedang fokus pada tulisannya itu pun melirik ke arah Gio. Pria itu menyodorkan makanan di depan mul
Penolakan yang dilakukan Raka sangat ringan, tidak meninggalkan kesan kasar. Namun, dari lubuk hati Adhisti, wanita itu merasakan sesuatu yang menusuk dalam dada.Sebuah penolakan dari pria yang ia cintai membuat luka begitu perih dal hati. Tangan yang tadinya melingkar di pinggang Raka kini dilepas oleh sang pria. Perlahan tangan itu menggantung di sisi tubuh Adhisti. Sang wanita terdiam terpaku miris meratapi.Tidak ingin menyakiti hati Adhisti, pria itu mencoba membenarkan kalimatnya. “Aku memang meninggalkan pekerjaan yang ada di kantor sebelum pernikahan. Karena hari ini ada sedikit waktu aku menyelesaikannya dulu,” ujarnya memberikan penjelasan.Adhisti memaksakan senyum menghiasi bibirnya. “Tidak apa-apa.”“Mau aku temani di rumah kerja?” “Tidak perlu.”Adhisti menghela napas, wanita itu masih mencoba bersabar dengan sikap Raka. Ini hari pertama Adhisti menjadi istri Raka dan ia tidak mau jika dicap istri yang buruk.“Kalau begitu aku tidur dulu.” Adhisti melangkahkan kakinya
Malam telah larut ketika rangkaian acara pernikahan akhirnya berakhir. Para tamu telah pulang satu per satu. Dekorasi bunga yang sejak pagi menjadi pusat perhatian kini perlahan kehilangan pesonanya seiring berakhirnya pesta.Hari yang begitu panjang telah selesai. Raka dan Adhisti telah menyandang status baru mereka. Suami dan istri, sebuah status yang diharapkan oleh keduanya, dulu.Tidak bagi Raka yang sekarang, hatinya masih terpenjara oleh seseorang yang sekarang bahkan tidak suka sekedar melirik saja.Ini bukan kali pertama bagi Raka, pernikahan ini adalah yang kedua bagi dirinya. Tidak ada debaran yang ada di hati. Semua berjalan apa adanya tanpa sebuah arti.Mobil yang membawa mereka melaju menembus jalanan malam yang mulai lengang. Di kursi belakang, Adhisti duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuan. Sesekali perempuan itu melirik pria yang kini resmi menjadi suaminya.Sementara Raka memilih menatap keluar jendela. Tatapan mata yang kosong itu menyiratkan sebuah keh
Gedung pernikahan itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan. Rangkaian bunga putih dan krem menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana megah sekaligus hangat. Para tamu berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa senyum dan ucapan selamat untuk kedua mempelai.Di atas pelaminan, Raka berdiri tegak mengenakan jas hitam yang dijahit khusus untuk hari itu. Wajahnya tampak tampan dan berwibawa seperti biasa. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira pria itu adalah pengantin paling berbahagia di dunia.Namun kenyataannya tidak demikian. Di balik senyum tipis yang terus dipertahankannya sejak pagi, ada kekosongan yang tak mampu ia jelaskan.Ibunya berdiri tidak jauh dari pelaminan, sesekali menyapa tamu yang datang. Senyum wanita itu begitu lebar. Hari yang selama ini ia impikan akhirnya tiba. Adhisti resmi menjadi menantunya.Sementara Raka hanya menjalani semua rangkaian acara seperti seseorang yang sedang menyelesaikan kewajiban.Dulu, keadaan mungkin akan
Perhatian yang selama ini tertuju pada dirinya, kini telah hilang seketika. Kirana, wanita itu bahkan tidak mau melirik ke arahnya. Kesalahan yang ia lakukan memang sangat besar, tetapi tidak adakah sedikit saja ruang untuk dirinya?“Kirana?” panggil Raka sebelum Gio dan Kirana benar-benar pergi dari hadapannya.Gio dan Kirana berhenti di ambang pintu. Mereka berdua membalikkan badannya menatap Raka. “Iya?” Gio yang menjawab.Meski Gio yang berbicara, tetapi kedua mata Raka menatap pada sang wanita yang berdiri di samping Gio. Menyadari tatapan mata Gio yang fokus pada Kirana membuat Gio dengan sengaja melepaskan tautan tangan mereka. Namun, tangan kokoh itu kini bertengger di pinggang ramping sang wanita.Raka mendelik tajam, ia mengumpat di dalam hati.‘Sialan, pasti Gio sengaja,’ batin Raka.“Hati-hati.” Raka tidak tahu apa yang harus ia ucapkan pada wanita yang baru saja ia sebut namanya itu.Kirana menanggapi dengan senyuman dari bibir tipisnya. Wanita itu menjawab, “Pasti. Ada G







