LOGINWaktu sudah semakin malam, tapi Marissa masih berada di basement apartemen sambil mencari benda kecil yang entah ada di mana. Lututnya pun benar-benar sudah terluka dan berdarah karena goresan-goresan ke lantai. "Arghhh!" Inginnya memaki pria yang saat ini masih bersandar di tiang besar sambil melihatnya mencari kunci mobil. Tapi Marissa tidak bisa. Ia hanya bisa marah pada angin malam yang berhembus. Ia pun melampiaskan kekesalannya dengan menendang salah satu mobil yang ada di depannya. "Aish!" DUGGG! Seketika mobil itu berbunyi kencang. Marissa pun menjadi panik. Tanpa berpikir lagi, ia segera berlari seperti pecundang meninggalkan basement dan meninggalkan Danendra yang masih ada di sana. Lalu masuk ke dalam gedung dan segera masuk ke dalam lift. Marissa tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Entah bagaimana reaksi sang pemilik mobil ketika alarm mobilnya berbunyi kencang, dan tidak tahu juga apa yang Danendra lakukan setelah itu. Yang jelas, Marissa sangat kesal
Setelah Luna pergi, Marissa juga berpamitan pada Zain. Ia ingin segera pulang, lalu tidur. "Mana ponselku! Aku mau pulang sekarang!" Marissa mengulurkan tangan ke depan Zain. Ia meminta ponselnya sebelum pergi. "Nanti saja, makanannya belum habis!" balas Zain tanpa mempedulikan permintaan Marissa. Ia pun kembali masuk ke dalam. "Aishhh! Ini sudah pukul sembilan! Aku harus segera pulang! Takutnya Michael tidak bisa tidur karena menungguku!" balas Marissa sambil mengikuti Zain ke ruang keluarga. Marissa tidak duduk. Ia hanya berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Zain sambil meminta ponselnya. "Cepatlah, mana ponselku?" "Ya, sebentar lagi! Habiskan dulu makananmu!" "Aku tidak makan! Perutku masih kenyang! Kau habiskan saja semuanya sendiri!" balasnya yang sudah mulai kesal. Pria itu terus saja mengulur waktu agar dirinya tidak pergi. "Hah? Bagaimana bisa makanan sebanyak ini dihabiskan sendiri? Ayo, kita habiskan bersama!" canda Zain. Ia pun menarik tangan Marissa
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.17, Marissa sudah sampai di depan pintu tempat tinggal Zain. Tanpa membuang waktunya lagi, Marissa menekan beberapa angka—kata sandi—di pintu, lalu bersiap masuk ke dalam. Di tangan kirinya ada kantong berisi beberapa jenis makanan untuk pria itu. Sebelum benar-benar masuk, tiba-tiba Luna membuka pintu miliknya, lalu melihat Marissa. "Eh! Kita bertemu lagi! Bawa apa, itu? Makanan, ya?" tanyanya basa-basi. Dari depannya tercium wangi makanan dari dalam kantong yang Marissa bawa, siapa saja yang menciumnya akan merasa lapar. "Eh, Luna!" sapa Marissa juga. Ia menunjuk kantong yang ada di tangannya. "Ya, ini makanan untuk temanku!" "Kau sendiri, mau pergi ke mana?" tanya Marissa sambil melihat Luna membawa kantong kresek berwarna hitam. Selain ada kresek hitam, di tangannya juga ada ponsel yang terus dipegang. Lensa kameranya mengarah ke arah Marissa. "Ah aku! Aku mau pergi ke bawah! Aku duluan, ya!" pamit Luna. Setelah itu ia pergi dan m
Pukul 7 malam, Ambar sudah pulang. Marissa pun segera mengajak putranya ke unit yang ada di samping. "Ma! Kenapa kita pindah ke sini? Bagaimana dengan Papa Zain? Apa Papa Zain tidak ikut bersama kita?" tanya Michael di kamarnya yang baru. Apartemen ini memiliki 3 kamar tidur yang bisa digunakan untuk Marissa, Fanny, dan juga Michael. Mulai sekarang, anak itu bisa belajar tidur sendiri. "Tidak! Papa Zain masih ada di Ini House Residen, tidak ikut pindah ke sini!" balas Marissa. Setelah itu, ia mengajak Michael pergi ke ruang keluarga. "Bagaimana, apa kau suka dengan kamarnya?" tanya Marissa sambil berjalan bersama menuju ruang keluarga. Marissa pun tahu dari Wilyam, Michael punya kamar sendiri yang sangat bagus dan luas di rumah keluarga Adipraja. Anak itu sangat bahagia walau tanpa ibunya. Jadi sekarang Marissa segera menyiapkan kamar tidur yang tidak kalah bagus dengan kamar yang ada di rumah keluarga itu untuk Michael. "Suka, Ma! Aku sangat suka! Mulai sekarang, aku bis
Ambar terus saja memaksa. Dia ingin Michael ikut dengannya pulang. Padahal di sini ada ibu kandung yang juga sangat merindukan anak itu. "Kita tanya saja anaknya langsung, mau ikut dengan Mama atau ikut dengan Marissa?" "Oke!" Dengan percaya dirinya Ambar menyetujui ide dari Danendra. Ambar sangat yakin, Michael akan memilih dirinya. Karena hidup dengannya sangatlah enak, mau apa pun tinggal bilang. Sekalipun menginginkan barang yang sangat mahal, Ambar pasti akan menuruti. Tanpa membuang waktunya lagi, Danendra segera bertanya, "Sekarang, Michael mau pulang sama Nenek atau Mama?" "Eh!" Michael melihat ibu dan neneknya silih berganti. Seolah dirinya sedang memilih. "Mama! Aku ingin pulang bersama Mama!" jawabnya tiba-tiba. Marissa pun tersenyum. Ia merasa lega karena anaknya sudah memilih ibunya daripada nenek. "Eh, Michael, kenapa tidak pulang bersama Nenek? Bukankah mainan yang Michael beli kemarin masih ada di rumah? Selain itu, ada baju, sepatu di rumah! Sebaiknya
Pukul delapan malam, Marissa masih ada di ruang perawatan seorang diri, karena Danendra pergi ke luar untuk membeli makanan. Saat ini, Michael pun sudah sadar dan sudah bisa bercerita. "Ma! Apa Mama tahu, sekarang aku punya panggilan baru, loh!" ucap Michael dengan lemah. Di tangannya masih ada jarum infus, tapi ia ingin bercerita banyak hal pada ibunya. "Panggilan baru? Apa itu?" tanya Marissa sambil mengelus keningnya yang masih terasa hangat. Marissa pun duduk di samping Michael. "Adik! Panggilan baruku Adik! Kata Nenek, aku lahir paling terakhir, jadi panggilannya harus Adik! Kalau Izela, dia lahir pertama, jadi panggilannya Kakak!" jelas Michael dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia. Michael sangat bahagia punya saudara kembar dan punya keluarga yang lengkap. Sekarang, dirinya sudah sama seperti anak-anak yang lain, punya ayah, punya ibu, kakak, nenek, dan bahkan paman. Semua itu benar-benar membuatnya bahagia. "Apa kau suka dengan panggilan itu?" tanya Mari
Di ruang tidur yang cukup luas dengan desain interior modern yang elegan, Danendra membuka semua pakaian dan melemparnya ke tempat cucian. Ia pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk bersih dari dalam lemari. Walau di luar ada seseorang yang sedang menunggunya, tapi itu tidak membuat Danendr
Pasalnya, momen seperti ini sangat jarang terjadi. Di mana ibunya datang ke Kota A, dan bersedia menginjakan kakinya di rumah sewaannya, juga bersedia menemani Mario di rumah. Walau ini bukan kali pertama Merina datang ke rumah Marissa, tapi terkahir kali dia datang, itu sangat lama. Dan biasanya
Entah mengapa, Danendra, yang selama lima tahun ini selalu bersikap dingin pada semua orang dan tidak pernah tertawa, malah menjadi periang ketika bersama dengan Marissa. Disadari atau tidak, Danendra menjadi lebih hangat dari sebelumnya ketika berhadapan dengan Marissa. Dengan sedikit tersenyum,
"Aish! Kau ini! Yang benar saja! Aku bukan pramusiwinya, tapi pembantunya! Pembantu! Apa kau tahu pembantu? Yang harus melayani dan menyiapkan semua kebutuhannya!" balas Marissa dengan sedikit kesal. "Kenapa begitu?" tanya Fanny penasaran. Raymon yang juga ada di sana menyimak percakapan kedua







